Hampir semua orang di desa itu setuju kalau para mahasiswa dan
mahasiswi yang datang ke desa mereka dalam rangka Kuliah Kerja Nyata
berasal dari kalangan berada, terbukti dengan dandanan dan gaya mereka
yang sangat tidak lazim di tengah-tengah kehidupan penduduk desa yang
rata-rata adalah petani. Dari sekian banyak mahasiswa dan mahasiswi itu,
terdapat enam mahasiswi yang paling cantik di antara yang cantik.
Mereka adalah Asty, Bella, Clara, Lia, Alya dan Fanny. Bisa dilihat
secara kasat mata kalau mereka berenam berasal dari kalangan berada.
Selain wajah mereka yang cantik, tubuh dan kulit merekapun sangat
terawat ditambah dandanan mereka yang selalu bagus dan rapi. Merekapun
rata-rata sudah punya pasangan yang juga berasal dari kalangan kaya.
Kehidupan desa yang sepi dan jauh dari peradaban rupanya tidak cocok
bagi mereka, terbukti setelah sepuluh hari mereka di sana, mereka sudah
banyak mengeluh, mulai dari makanan, air sampai toilet yang jorok.
Apalagi desa itu tampaknya masih terikat tradisi bahwa berdua-duaan
antara pria dan wanita dianggap sebagai pelanggaran adat. Mereka sudah
terbiasa dengan pergaulan bebas tidak tahan menghadapi kehidupan yang
serba terisolir dan terbatas di desa yang sering mereka sebut primitif
itu. Beberapa dari mereka – atau bisa juga semuanya – secara
sembunyi-sembunyi kadang berusaha menemui pacar-pacar mereka dengan
berbagai macam cara.
Pagi itu Asty terlihat berdandan lengkap dengan make-up yang terlihat
rapi membuat wajahnya yang cantik menjadi lebih memesona. Asty bisa
dibilang sempurna untuk ukuran wanita. Tingginya yang 170 cm didukung
dengan bodi ramping tapi padat membuat banyak pria mengaguminya,
rambutnya panjang ikal hitam biasanya dikuncir ekor kuda kali ini
dibiarkannya tergerai dan hanya diberi bando putih, terlihat kontras
dengan rambutnya yang tebal berkilat. Kakinya yang padat dan langsing
terbalut celana panjang jins ketat membentuk lekukan tubuh yang nyaris
sempurna.
“Rapi amat lo,” Tegur temannya yang sedang duduk di ruangan tengah
ketika melihat Asty. “Ada janjian sama Alex ya..?” celetuknya.
“Elo mau tahu aja..” Asty nyengir memamerkan sederet gigi yang rapi
dan putih. “Udah gak tahan nih.. masa gak bisa ngapa-ngapain di sini,
bosan, kan…?”
Temannya hanya mencibir dangan mimik lucu.
“Entar bilang aja Gue ada janji sama Alex..” kata Asty ambil lalu.
Temannya hanya sempat mendengar kata terakhirnya karena Asty sudah
keburu pergi dengan gerakan cepat.
Asty bergegas menuju ke tempat dimana Alex menginap. Beberapa orang
penduduk desa yang lewat menyapanya kalem, meskipun terlihat jelas
beberapa pria memelototi wajah dan tubuhnya yang seksi. Asty hanya
menjawabnya sekilas tanpa memedulikan tatapan mereka. Bersama Alex
pacarnya, Asty pergi berduaan dengan sedapat mungkin menghindari bertemu
penduduk desa. Mereka berjalan menuju ke hutan di pinggiran desa.
Sebuah hutan kecil tapi cukup lebat dan sunyi.
“Udah Lex.. jangan jauh-jauh, entar kita kesasar..” kata Asty setelah
masuk agak ke dalam. “Lagian ngapain sih elo ngajakin gue ke tempat
ini?”
Asty memandang ke sekeliling. Mereka berada di tepi sebuah sungai
kecil yang berair jernih. Sekelilingnya ditumbuhi rumput dan ilalang
tinggi menciptakan sebuah tanah lapang berwarna hijau, memisahkan
deretan pohon dan sungai yang berkelok.
“Di sini nih..” kata Alex sambil tersenyum aneh menatap Asty.
“Di sini apaan..?” Asty bergumam tanpa memandang Alex.
“Tempat yang pas buat pacaran..” Alex tertawa kecil. Dia lalu
berjalan mendekati Asty yang masih memunggunginya lalu perlahan
memeluknya dari belakang.
“Uhmm…” Asty mendesah saat Alex mendaratkan ciuman kecil ke tengkuknya. Udara yang masih dingin membuat kuduk Asty meremang.
“Gimana Sayang..? Tempat ini ideal kan..?” Alex kembali menciumi
tengkuk Asty, lalu menyusuri leher dan pundaknya dengan sentuhan
bibirnya.
“Ohhh..” Asty mendesah. “Elo kalau urusan kayak gini paham banget..”
Asty menggeliat kecil sambil memegangi pinggang Alex. Alex dengan sigap
membalikkan tubuh Asty sehingga mereka berdekapan satu sama lain. Tanpa
menunggu ijin dari Asty, Alex langsung melumat bibir Asty yang merah
segar dengan gerakan ganas. Asty membalasnya dengan ciuman mesra. Selama
hampir satu menit bibir mereka saling beradu seolah dilekatkan oleh lem
yang begitu lengket.
“Oh.. mmh.. gak sabaran amat sih Sayang..” Ujar Asty sambil mendesah
di tengah pergulatan bibir yang seru itu. Dia mencengkeram rambut Alex
dan menekankan wajahnya ke wajahnya sendiri.
“Sudah sepuluh hari nih.. Gue udah ngebet tahu..’ Alex membalas
perlakuan Asty dengan cara yang sama. Pergulatan bibir it uterus
berlanjut sampai keduanya menjatuhkan diri di rerumputan dan bergulingan
sambil tubuh dan bibir masih melekat satu sama lain. Saking serunya
bergumul, mereka tidak menyadari kalau aksi mereka sedang diintip oleh
tiga pasang mata yang melotot sambil panas dingin menahan gejolak
menggebu.
Pergulatan Alex dan Asty makin seru. Mereka bahkan mulai melucuti
pakaiannya masing-masing hingga nyaris telanjang. Ketiga pasang mata
yang mengintip itu langsung melotot ketika melihat Asty yang sekarang
hanya tinggal memakai Bra dan celana dalam saja. Tubuhnya terlihat
begitu mulus dan putih. Payudaranya yang tidak begitu besar terlihat
padat di balik Bra tipisnya sehingga terlihat jelas puting susunya.
Pinggangnya yang kecil berakhir pada pinggul yang bulat terlihat begitu
menggairahkan sementara selangkangannya yang masih tertutup celana dalam
berenda warna putih membayang jelas pada belahan vaginanya.
Alex yang sudah dikuasai nafsu tanpa menunggu langsung mendekap dan
menindih tubuh putih mulus Asty yang setengah telanjang sambil terus
melumat bibir Asty dengan gerakan lembut.
“Wah.. wah.. Wah.. lihat siapa ini..?” terdengar suara bernada mengejek dari atas mereka.
Bak disambar geledek keduanya langsung melompat dan saling menjauh
dengan sekujur tubuh gemetar sebagai campuran reaksi antara kaget,
marah, malu dan takut sekaligus. Betapa terkejutnya mereka, tahu-tahu
tiga orang lelaki bertampang kasar sudah berdiri di dekat mereka. Asty
dan Alex mengenal ketiganya. Ketiganya adalah mantri hutan setempat,
yang satu bernama Pak Arman, pria kekar dan bercambang lebat yang
merupakan Mantri kepala, yang satu lagi bertampang mirip pemadat, kurus
kering dengan wajah pucat menyeringai menyebalkan, sering disapa dengans
sebutan Pak Man, dan yang terakhir bertubuh hitam gemuk agak tua dengan
rambut beruban di banyak tempat, dia Pak Johan. Secara refleks Asty
mendekap bagian dadanya yang hanya berbalut Bra tipis. Sementara bagian
bawahnya yang hanya tertutup celana dalam bebas dipelototi oleh ketiga
mantri hutan itu.
“hehehehe.. orang kota suka seenaknya saja..” kata Pak Arman sambil
melirik ke bagian bawah tubuh Asty yang nyaris telanjang. Asty beringsut
dan mencoba menutupi tubuhnya dengan tangan dengan usaha yang nyaris
sia-sia karena tangannya terlalu kecil untuk menutupi tubuhnya.
“Ma.. maaf Pak.. kami khilaf..” Alex berujar terbata-bata karena takut dan malu.
“Iya Pak.. maafkan kami..” Asty memohon dengan suara memelas.
Wajahnya yang semula putih sekarang berubah kemerahan karena malu dan
takut.
“Heheheh.. soal minta maaf itu mudah, tapi karena kalian sudah
melanggar aturan adat maka kalian harus dihukum,” Pak Arman berujar
lantang dan datar mencoba menyembunyikan kondisi dirinya yang menahan
gejolak melihat tubuh Asty yang putih mulus nyaris telanjang itu.
“Jangan Pak.. jangan hukum kami..” Asty kali ini nyaris menangis saking putus asanya.
“Iya Pak.. jangan hukum kami, kami akan bayar berapapun..” Alex
menambahi dan berharap kata-kata terakhirnya merupakan senjata ampuh
untuk menghindari hukuman. Tapi harapannya langsung menguap saat Pak
Arman menanggapi dingin.
“Dasar orang kaya, kalian pikir semua bisa diselesaikan pakai uang
begitu..?” Pak Arman membentak, membuat tubuh Asty seolah menciut ke
ukuran botol.
“Sekarang ayo ikut kami!” kembali Pak Arman membentak.
Dengan ketakutan kedua orang itu menurut. Asty mencoba memungut
bajunya yang bertebaran, Pak Arman yang melihatnya langsung melotot.
“Siapa yang suruh kamu pakai baju? Kalian tidak boleh pakai baju!”
bentaknya. Asty kaget bukan kepalang. Matanya mulai berkaca-kaca karena
ketakutan. Dilemparkannya kembali bajunya ke atas rerumputan. Lalu
dengan keadaan nyaris bugil, Anie dan Alex digiring masuk lebih jauh ke
dalam hutan. Mereka sengaja diajak berjalan berputar-putar supaya
bingung kalau mencoba melarikan diri.
Rasanya sudah berjam-jam mereka masuk ke dalam hutan. Rasa takut,
ditambah haus dan lapar membuat Asty dan Alex makin tersiksa, apalagi di
sepanjang perjalanan berkali-kali tangan usil para mantri hutan itu
juga sibuk meraba dan mencubiti bagian-bagian tubuh Anie yang terbuka.
Pantat Asty yang mulus dan sekal menjadi bagian yang paling favorit bagi
tangan para mantri hutan itu. Diperlakukan demikian Asty hanya bisa
menahan tangis dan rasa ngerinya.
Mereka kemudian sampai di sebuah pondok kayu kecil, tapi kokoh karena
terbuat dari kayu-kayu gelondongan. Anehnya mereka tidak mambawa Asty
dan Alex masuk ke dalam pondok kayu itu. Mereka justru mengikat Alex
pada sebuah pohon. Alex berusaha meronta tapi menghadapi tiga pria yang
jauh lebih kuat darinya perlawanannya hanyalah usaha yang sia-sia.
“Nah.. Nona yang cantik.. sekarang waktunya kalian harus menerima
hukuman dari kami..” ujar Pak Arman sambil matanya menyapu ke sekujur
tubuh putih mulus Asty yang berdiri hanya mengenakan Bra dan celana
dalam.
Asty diam saja seolah menunngu vonis yang akan dijatuhkan.
“Hmm.. hukumannya apa ya..” Pak Arman bergumam tidak jelas seolah bertanya pada dirinya sendiri.
“Ah iya… Nona Asty, hukuman buat Nona yang pertama adalah menari buat
kami.. tapi dengan catatan, sambil menari, Nona harus buka kutang sama
celana dalam Nona…” kata Pak Arman datar, nyaris tanpa emosi. Asty
tersentak, seketika tubuhnya gemetar..
Asty terkesiap, dia tidak mengira akan dipaksa melakukan tarian
telanjang. Tubuhnya gemetar karena shock, dia hanya menggelengkan
kepalanya sambil menahan tangis yang setiap saat siap meledak.
“Jangan!” Bukan Asty yang berteriak tapi Alex yang masih terikat di pohon. “Asty cepat lari! Cepat lari!”
“Diam tolol!” Pak Johan yang berdiri di dekat Alex langsung meninju
perut Alex. Pak Johan lalu menyumbat mulut Alex dengan secarik kain
kotor.
“Heheheh.. Kamu juga boleh melihat kok pacar kamu menari bugil, kamu pasti senang deh..” Pak Johan menyeringai licik.
“Hehehehe.. “ Pak Arman menyeringai. “Kalau mau lari juga tidak
apa-apa, paling-paling Nona hanya akan bertemu macan di sekitar sini.
Lagipula tidak ada yang tahu tempat ini selain kami.”
Asty gemetar ketakutan, bendungan air matanya yang sedari tadi
bertahan akhirnya jebol, sebutir kristal bening mulai mengaliri pipinya
yang mulus. Asty tahu dia tidak punya pilihan lain, dia memang tidak
tahu jalan pulang, ditambah kemungkinan benar ucapan Pak Arman tentang
harimau yang masih berkeliaran. Asty menggelengkan kepalanya kuat-kuat
mencoba pasrah.
“Bagaimana Non..?” Pak Arman bertanya datar. Asty diam sesaat sebelum
akhirnya mengangguk. Tawa ketiga mantri hutan itu langsung meledak
penuh kemenangan.
“Horee.. Asiik.. hari ini kita bakal dapat tontonan bagus, jarang lho
ada cewek kota secantik Non mau menari bugil buat kami,” kata Pak Man –
yang dari tadi diam saja – dengan nada dibuat-buat.
Asty menunduk sambil menggigit bibirnya menahan malu dan takutnya yang makin memuncak.
“Tunggu dulu, pakai musik dong..” kata Pak Arman, dia lalu masuk ke pondokan dan keluar lagi membawa sebuah tape recorder kecil bertenaga batere. Ketika disetel, alunan musik dangdut mulai bergema di sekitar tempat itu.
“Nah.. ayo dong Non.. mulai goyangnya..” kata Pak Arman mengimbangi suara musik yang lumayan keras.
Asty mencoba tersenyum. Dia lantas mulai menggoyangkan tubuhnya yang
setengah bugil itu dengan gerakan gerakan erotis. Tangannya diangkat ke
atas lalu pinggulnya digoyang-goyangkan membuat seluruh tubuhnya
berguncang. Seketika mereka bertiga bersuit-suit melihat goyangan
pinggul dan pantat Asty.
“Buka kutangnya! Buka! Kami mau lihat pentilnya,” teriak mereka
sambil terus memelototi Tubuh Asty yang bergoyang erotis. Asty lalu
perlahan mulai melepas Bra yang menutup payudaranya lalu melemparkannya
ke tanah. Payudara Asty sekarang tergantung telanjang begitu putih
mulus dan kencang. Payudara itu berguncang seirama gerakan Asty. Melihat
payudara yang begitu mulus itu telanjang, Ketiga mantri hutan itu
makin liar dan berteriak meminta Asty membuka celana.
Asty dengan sesenggukan mulai memelorotkan celana dalamnyanya dan
melemparkannya ke tanah, Sekarang Asty sudah sempurna telanjang bulat di
hadapan ketiga mantri hutan yang memelototinya dengan penuh nafsu, Asty
meneruskan tariannya dengan berbagai gaya yang diingatnya. Ketiga
mantri hutan itu paling suka saat Asty melakukan goyang ngebor ala Inul
dan goyang patah-patah. Pantatnya yang montok dan mulus bergoyang-goyang
secara erotis. Sesekali Asty juga berpura-pura melakukan onani dengan
meremas payudaranya sendiri sambil merintih-rintih dan mendesah-desah
seperti orang yang terangsang nafsu seksualnya.
Selama hampir satu jam Asty menghibur ketiga mantri hutan itu dengan
tarian bugilnya, tubuhnya sampai basah karena keringat membuat tubuh
yang putih mulus itu terlihat berkilat-kilat. Acara itu baru selesai
setelah Pak Arman menyuruhnya berhenti.
“Hehehehe… Ternyata Nona pintar juga narinya.. kami jadi terangsang lho..” kata Pak Arman sambil tersenyum keji.
“Sudah cukup Pak, saya sudah menuruti permintaan Bapak, sekarang
lepasin kami..” pinta Asty sengan memelas sambil setengah mati berusaha
menutupi payudara dan vaginanya yang telanjang.
“Cukup..?” Pak Arman tertawa. “Hukuman kalian belum lagi dimulai.”
Asty merasa mual mendengar ucapan itu, kalau yang tadi belum apa-apa,
Asty ngeri membayangkan apa yang akan mereka minta berikutnya.
“Hukuman selanjutnya, sekarang Non berdiri sambil ngangkang, lalu
angkat tangan Non ke belakang kepala!” Pak Arman memerintah dengan
jelas.
Asty tersedu sesaat, lalu dia mulai membuka kakinya lebar-lebar
membuat bagian selangkangannya terkuak, tangannya diangkat dan
jari-jarinya ditumpukan di belakang kepalanya membuat payudaranya yang
putih dan kenyal sedikit terangkat. pose tersebut membuat bagian
selangkangannya terbuka lebar sehingga memperlihatkan vaginanya dengan
jelas. Vagina Asty terlihat terawat dengan baik, ditumbuhi rambut-rambut
halus dan rapi, Asty selalu merawat bagian genitalnya dengan sangat
cermat. Sementara dengan tangan di belakang kepala membuat payudaranya
makin membusung dan mencuat menggemaskan.
“Nah, sekarang boleh nggak kami meraba tubuhnya Neng?” tanya Pak Arman..
Asty tidak bisa berbuat apa-apa selain menuruti permintaan itu.
“I.. iya Pak, boleh..” Asty meneguk ludah.
“Sekarang kita mulai ya..” kata Pak Arman, Asty hanya mengangguk,
dia merasakan sentuhan tangan Pak Arman bergerilya di wajahnya.
“Uhh.. wajahmu mulus sekali Non..” Pak Arman lalu mencium pipi Asty,
antara geli dan jijik Asty memajamkan mata. Lalu Pak Arman mulai
menelusuri bibir Asty yang merah dan mulai melumatnya dengan gerakan
lembut. Pak Arman terus berusaha mendesakkan bibirnya mengulum bibir
Asty, lidahnya mencoba menerobos masuk ke mulut Asty, sementara
tangannya juga bergerilya meraba-raba dan meremas payudara Asty. Asty
menggelinjang mendapat perlakuan itu. Sambil bibirnya terus mengulum
bibir Asty, tangan Pak Arman juga memelintir-melintir puting payudara
Asty dengan gerakan kasar. Asty meringis kesakitan tapi perlahan
perlakuan Pak Arman justru menimbulkan sensasi aneh dalam dirinya, tubuh
Asty menegang saat sensasi itu melandanya, tanpa sadar Asty mulai
mendesah.
“Ayo, kalian juga boleh ikut..?” Pak Arman memanggil kawan-kawannya.
Asty makin menderita mendengar ucapan itu, kali ini tiga orang yang
mengerubutinya, mereka meraba-raba ke sekujur tubuhnya. Pak Man yang
berangasan bahkan meremas-remas payudara kiri Asty dengan kasar,
sementara sebelah tangannya meraba dan meremas pantat Asty yang sekal.
“Uohh.., Pentilnya dahsyat, pantatnya juga nih.. kayaknya enak nih
kalo ditidurin,” kata Pak Man. Sementara Pak Johan sedang asyik berkutat
dengan payudara Asty sebelah kanan. Dia menjilati dan menyentil puting
payudara Asty dengan lidahnya.
“Ohh.. baru tahu ?” Pak Arman tertawa di tengah usahanya menjilati
payudara Asty. Asty hanya bisa merintih pasrah. Apalagi saat Pak Arman
mulai menggerayangi vaginanya.
“Ohh.. tempiknya bagus banget nih Pak Man..” Pak Arman
menggesek-gesekkan jarinya di bibir vagina Asty, sementara Pak Man dan
Pak Johan kali ini sibuk menciumi dan menjilati payudara Asty sementara
tangannya membelai-belai perut Asty yang licin.
“Ohh..” Asty menjerit kecil saat saat Pak Arman mencoba memasukkan jari-jarinya ke vagina Asty.
“Jangan Tuan..” Asty merintih, tapi rintihan Asty ibarat perangsang
bagi Pak Arman dan kawan-kawannya, dia makin liar menggesekkan jarinya
ke selangkangan Asty bahkan dia juga meremas-remas gundukan vagina Asty.
Asty merintih. Tubuhnya mengejang mendapat perlakuan itu.
“Hei Pak Arman.. kayaknya Nona ini sudah mulai terangsang nih..tuh
lihat dia mulai merintih, keenakan kali ye..?” ujar Pak Johan diiringi
tawa, Asty makin sakit hati dilecehkan seperti itu, tapi memang dia
tidak bisa mungkir kalau dirinya mulai terangsang oleh perlakuan mereka.
“Janganhh..ohh…” Asty mulai meracau tidak karuan saat Pak Arman mulai
menjilati vaginanya. Asty menjerit saat lidah Pak Arman bermain di
klitorisnya. Lidah Pak Arman mencoba mendesak ke bagian dalam vagina
Asty sambil sesekali jari-jarinya juga ikut mengocok vagina itu.
“Ahkkhh.. ohh.. janganhh..” Asty menggeliat. Semantara Pak Man dan
Pak Johan kali ini berdiri di belakang Asty sambil mendekap tubuhnya dan
meremas-remas kedua payudara Asty dengan gerakan liar. Sesekali puting
payudara Asty dipilin-pilin dengan ujung jarinya seperti orang sedang
mencari gelombang radio. Asty mengejang, sebuah sensasi aneh secara
dahsyat mengusir akal sehatnya. Dia mendesah-desah dengan gerakan liar,
hal ini membuat kedua penjahat itu terlihat makin bernafsu.
Alex tidak bisa berbuat apa-apa melihat kekasihnya diperlakukan
dengan biadab seperti itu, bahkan diam-diam dia juga terangsang melihat
adegan gadis secantik Asty dikeroyok tiga orang pria kasar. Dalam
batinnya diapun sebenarnya ingin ambil bagian dalam adegan pengeroyokan
itu.
“Ayo terus..sebentar lagi dia nyampe..” Pak Man berteriak-teriak
kegirangan seperti anak kecil sambil terus menerus meremas payudara Asty
sementara Pak Arman masih menelusupkan wajahnya ke selangkangan Asty.
Lidahnya terus menyapu bibir vagina Asty dan sesekali menyentil
klitorisnya. Asty menjerit kecil setiap kali lidah Pak Arman menyentuh
klitorisnya, semantara tangannya juga bermain meremasi pantat Asty.
Tubuh Asty sudah basah oleh keringat, sekuat tenaga dia menahan desakan
sensasi liar di dalam tubuhnya yang makin lama makin kuat sampai membuat
wajahnya merah padam. Tapi Asty akhirnya menyerah, tubuhnya mengejang
dahsyat dan tanpa sadar dia mendorongkan vaginanya sendiri ke wajah Pak
Arman dan menggerakkannya maju mundur dan bergerak liar
menyentak-nyentak. Asty tidak dapat menahan diri lagi. Tubuhnya
menggeliat dan menegang.
“OOHHHKKHHHH…. AHHHH…” Asty mengerang kuat-kuat seperti mengejan. Dan
seketika itu pula “Crt… crt… crt…” cairan vaginanya muncrat keluar.
Tanpa sadar Asty mengalami orgasme untuk pertama kali, dan kemudian
tubuhnya melemas lalu terpuruk, Pak Man dan Pak Johan menahan tubuh Asty
supaya tidak jatuh. Pak Arman tertawa senang melihat bagaimana Asty
mengalami orgasme dengan begitu dahsyat.
“Hehehehe…” Pak Arman tertawa seperti orang sinting. “Enak ya Non..?
galak juga kalau lagi orgasme..” sindirnya. Asty hanya diam saja,
tubuhnya masih lemas setelah mengalami orgasme yang begitu hebat,
sekujur syaraf seksualnya seolah digetarkan dengan begitu kuat seperti
dihimpit oleh truk raksasa membuat dorongan seksualnya entah bagaimana
menggelegak hebat membuatnya serasa ingin disetubuhi.
“Nah.. sekarang hukuman ketiganya..” Pak Arman memberi isyarat pada
Pak Johan. Pak Johan segera bergegas masuk ke dalam pondok dan keluar
dengan mengusung sebuah kasur busa usang yang berbau lembab lalu
menghamparkannya di tanah begitu saja.
“Nah.. Nona sekarang tiduran di situ ya.. “ Pak Arman menunjuk ke
arah kasur bau itu. Asty hanya mengangguk, didorong oleh gejolak
seksualnya yang menggelora dia merebahkan dirinya terlentang di atas
kasur, kemudian membuka kaki lebar-lebar, sehingga posisi Asty telentang
di atas karpet dengan kaki mengangkang lebar. Ketiga mantri hutan itu
terkagum-kagum melihat Asty yang sangat cantik siap untuk disetubuhi.
Sementara Alex yang terikat hanya bisa pasrah melihat kekasihnya
sebentar lagi akan diperkosa.
Pak Arman kemudian membuka seluruh bajunya dan langsung menindih
tubuh Asty sambil mengarahkan penisnya yang besar itu ke vagina Asty.
“Sudah siap kan Neng..?” Pak Arman berkata lirih. Dia lalu mendorongkan penisnya ke dalam vagina Asty.
“Aagghh…, ” Asty merintih ketika penis besar Pak Arman mulai memasuki
vaginanya. Pak Arman dengan kasar langsung memasukkan penisnya sampai
mentok ke dalam vagina Asty yang sudah basah itu. Karena besarnya
diameter penis Pak Arman, vagina Asty terlihat tertarik dan penuh dan
menjadi berbentuk bulat melingkar ketat di penis Pak Arman. Meskipun
Asty sudah tidak perawan lagi, tapi baru kali ini vaginanya dimasuki
penis sebesar penis Pak Arman. Asty meringis menahan sakit sambil
mengigit bibirnya.
Pak Arman mulai memompa penisnya dengan cepat keluar masuk vagina
Asty. Asty yang belum pernah vaginanya dipompa oleh penis sebesar penis
Pak Arman hanya bisa mengerang-erang dengan mata tertutup dan mulut
sedikit terbuka.
“AAAHHH… .UUUUHHHH… … OOOHHHH” teriak Asty sambil
menggelinjang-gelinjang dan kedua tangganya meremas-remas kasur yang
cukup tebal itu.
Pak Arman semakin cepat memompa vagina Asty dengan penisnya. Kaki
Asty terangkat ke atas memberikan kesempatan kepada Pak Arman untuk
terus memompa vaginanya dengan lebih cepat lagi.
“Aaahh… enak… terus… ooh… .” Asty mulai meracau dengan mata tertutup dan tanggannya semakin keras meremas-remas kasur.
Setelah 20 menit disetubuhi Pak Arman, tiba-tiba badan Asty
mengejang, kedua kakinya dirapatkan menjepit pinggang Pak Arman,
tangannya memeluk erat leher Pak Arman.
“AAAAGGHHH… … .” erang Asty mencapai orgasme yang sangat tinggi.
Kemudian badan Asty melemah, pelukan tangannya lepas dari leher Pak
Arman, kakinya yang tadinya memeluk pinggang Pak Arman jatuh ke kasur,
vagina Asty yang tersumpal rapat oleh penis Pak Arman terlihat
mengeluarkan cairan sampai membasahi karpet. Setelah beberapa lama
persetubuhan itu berlangsung. akhirnya si mantri hutan kasar itu pun
menyemprotkan spermanya dengan sodokan yang keras ke dalam kemaluan
Asty. Spermanya keluar sangat banyak hingga tak tertampung oleh vagina
Asty. Rembesannya keluar membasahi kasur itu. Di saat yang bersamaan,
rupanya Asty pun kembali mengalami orgasme. Kali ini tubuhnya
menggelinjang hebat tak terkendali. Sementara Pak Arman yang
mengetahuinya, segera mendekap tubuh wanita itu seerat-eratnya.
Pinggulnya terus mendorong-dorong kemaluannya seakan ingin mendekam dan
bersarang di kemaluan Asty. Lalu diciuminya seluruh wajah Asty.
dikulumnya dalam-dalam bibir wanita itu. Asty yang sudah kecapaian tak
kuasa menolaknya. Dia mambiarkan bibirnya dilumat oleah Pak Arman dengan
kasar.
Setalah menuntaskan segala kepuasannya, Pak Arman berdiri
meninggalkan tubuh Asty yang lemas telanjang di atas kasur. Tubuh putih
itu sekarang berkilau basah oleh keringat, pada vaginanya terlihat
mengalir cairan sperma kental berwarna putih susu.
“Ohhhh..” Pak Arman mengejang penuh kepuasan. Baru kali ini dia
merasakan nikmatnya menyetubuhi seorang gadis kota yang sangat cantik.
Berbeda sekali dengan pelacur-pelacur yang pernah dipakainya selama ini.
Asty hanya bisa menangis meratapi nasibnya diperkosa oleh Pak Arman,
tapi dalam hatinya sebetulnya dia menikmati saat dirinya disetubuhi oleh
Pak Arman. Rasa yang sangat berbeda dari yang pernah didapatnya dari
Alex, bahkan Asty merasa Alex tidak ada apa-apanya dibandingkan Pak
Arman. Karena itu ketika Pak Man mendekatinya dia hanya diam saja,
menunggu persetubuhannya yang kedua.
“Nah.. sekarang giliran Gue..” kata Pak Man tenang sambil melepas
pakaiannya satu-persatu, dia menyeringai kegirangan mirip anak kecil
yang diberi permen. “kita ganti gaya ya Neng” kata Pak Man kalem.
Mungkin karena saking terangsangnya, Asty menurut saja apa yang
dimintanya, Pak Man membalikkan tubuh Anie dengan pantat agak
ditunggingkan, tangan dan lutut Asty bertumpu di kasur dengan gaya
nungging. Pak Man membelai pantat Asty yang mulus telanjang itu sambil
sesekali menamparnya ringan dan mencubitinya.
“Buseet.. pantatnya, guede, putih, mulus lagi…” kata Pak Man
kegirangan. Lalu penis Pak Man mulai memasuki vagina Asty dari belakang.
“Oohh.. gile..” Pak Man mengejang ketika penisnya amblas sepenuhnya
di dalam vagina Asty. “Tempiknya Neng masih seret aja..” Pak Man
berujar. Asty hanya diam saja sambil memejamkan mata kaerna kesakitan
sekaligus merasakan nikmat pada dinding vaginanya sebelah dalam.Dalam
posisi demikian, Pak Man memaju-mundurkan pinggulnya sambil berpegangan
pada pantat Asty. Asty serasa melayang, sekonyong-konyong dia tidak
merasa diperkosa karena turut menikmatinya. Pak Man lalu menjambak
rambut Asty dan ditariknya hingga wajahnya terangkat memperlihatkan
ekspresi kesakitan tapi penuh kenikmatan setiap kali Pak Man
menggenjotkan penisnya.
“Ahhh… ahhhh…. oohhhhh… oohhhh…” Asty mengerang setiap kali Pak Man
menyodokkan penisnya, di lain pihak, Pak Arman dan Pak Johan ikut
memberi semangat setiap kali Pak Man menyodok vagina Asty.
“Ayoo.. terusss.. teruss Nona … yeahh… oohhh… baguss..” Pak Johan
memberi semangat pada Asty. Asty yang sudah dikuasai nafsu birahi
mengerang-erang kuat setiap kali sentakan penis Pak Man menyodok bagian
dalam vaginanya.
Menit demi menit berlalu, Pak Man masih bersemangat menggenjot Asty.
Sementara Asty sendiri sudah mulai kehilangan kendali diri, dia kini
sudah tidak terlihat sebagai seseorang yang sedang diperkosa lagi,
melainkan nampak hanyut menikmati ulah Pak Man. Kemudian Pak Man
mengganti gaya lagi, kali ini ditelentangkannya lagi tubuh Asty, lalu
diangkatnya kedua paha Asty dan disampirkannya ke pundaknya, lalu kedua
tangannya mencengkeram pergelangan tangan Asty, dan menariknya
kuat-kuat, kemudian Pak Man kembali mendesakkan penisnya ke vagina Asty
dan menggenjotnya. Asty menggeliat antara sakit bercampur nikmat, Di
ambang klimaks, tanpa sadar saat Pak Man melepaskan pegangannya dan
kembali menindih tubuhnya, Asty memeluk Pak Man dan memberikan ciuman
di mulutnya. Mereka berpagutan sampai Asty mendesis panjang dengan tubuh
mengejang, tangannya mencengkeram erat-erat lengan Pak Man. Tapi Pak
Man belum terpuaskan, maka setelah jeda beberapa menit dia kembali
menggerakkan penisnya maju mundur di dalam vagina Asty.
“Uugghh…oohh !” desah Asty dengan mencengkeram kasur dengan kuat saat
penis itu kembali melesak ke dalam vaginanya, cairan yang sudah
membanjir dari vagina Asty menimbulkan bunyi berdecak setiap kali penis
itu menghujam. Suara desahan Asty membuat Pak Man semakin bernafsu
sehingga meraih payudara Asty dan meremasnya dengan gemas seolah ingin
melumatkan tubuh mulus itu.
Limabelas menit lamanya Pak Man menyetubuhinya sampai akhirnya Pak
Man menggeram dan merasakan sesuatu akan meledak dalam dirinya.
“Crtt…crt…crt….,” sperma Pak Man menyembur membasahi rahim Asty
dengan sangat deras. Pak Man merasakan sekujur syaraf seksualnya
meledak saat itu, bagai seekor binatang ganas yang keluar mengoyak
tubuhnya dari dalam. Tubuh Pak Man menegang selama beberapa detik
merasakan kenikmatan yang diperolehnya sebelum akhirnya melemas kembali
dan tergolek mendekap tubuh mulus Asty. Lalu setelah puas dia segera
bangkit. Dibiarkannya Asty terkapar di ranjang itu, wajahnya tampak
sedih dan basah oleh keringat, cairan sperma yang sangat banyak
mengalir keluar dari vaginanya.
Pak Johan yang mendapat giliran terakhir maju sambil
bersungut-sungut, dia yang sedari tadi sudah telanjang hanya bisa
mengocok penisnya sendiri sambil memelototi adegan persetubuhan kedua
temannya dengan gadis yang sangat cantik dan seksi itu.
“Jangan tiduran saja di situ Nona cantik..” Pak Johan lalu menarik
tangan Asty dengan kasar membuat Asty tersentak ke depan. Diangkatnya
wajah Asty yang tertunduk, ditatapnya sejenak dan disekanya air mata
yang mengalir sebelum dengan tiba-tiba melumat bibir mungil itu dengan
ganas.
Mata gadis itu membelalak menerima serangan kilat itu, dia
menggeleng-gelengkan kepalanya sambil mendorong dada Pak Johan, namun
sia-sia karena Pak Johan memeluknya begitu kuat dengan tangan satunya
memegangi kepalanya. Ciuman Pak Johan makin merambat turun ke leher
jenjangnya lalu dia membungkukkan badan agar bisa menciumi payudaranya.
Dari leher mulut Pak Johan turun lagi ke dadanya, dia membungkuk agar
bisa menyusu dari payudara berukuran 32B yang montok itu. Dijilatinya
dengan liar hingga permukaan payudara itu basah oleh ludahnya, terkadang
dia juga menggigiti putingnya memberikan sensasi tersendiri bagi Asty.
Tangan satunya turun meraba-raba kemaluannya dan memainkan jarinya
disitu menyebabkan daerah itu makin berlendir.
“Pak…Pak……oohh…. aaah !” desahnya antara menolak dan menerima. Pak
Johan diam saja, lalu kembali dilumatnya bibir Asty, lalu pelan-pelan
Pak Johan merebahkan tubuh Asty kembali ke kasur dan menekan penisnya ke
liang vagina Asty.
“Sshhh…sakit, aawhhh…!!” rintih Asty ketika penis Pak Johan yang
besar itu menerobos vaginanya. Sementara Pak Johan terus berusaha
memasukkan penisnya sambil melenguh-lenguh.
“Ough…..aduhhhh… Pakkkkk !!!! pelannnn…..!!!!!! ahhh……… auggghhhh….”
jerit Asty sambil mendorong tubuh Pak Johan menjauh. Namun Pak Johan
tetap tidak peduli. Iapun terus mendorong penisnya masuk perlahan.
Gesekan yang ditimbulkan batang penis dan dinding rahim Asty membuat
Asty merasakan kesakitan di selangkangannya. Apalagi ia harus menahan
bobot tubuh Pak Johan yang terbilang agak berat itu. Mengetahui kondisi
dan tidak ingin terlalu membuat Asty tersiksa Pak Johanpun mendorongnya
dengan kekuatan penuh. Hingga akhirnya amblas semuanya. Kedua tangannya
memegang pinggul Asty dan agar tidak terlepas dari liang itu.
Pak Johan pun menarik penisnya yang masih tertancap di vagina yang
sempit itu. Gerakan maju mundurnya membuat Asty mengigit bibir bawahnya
seolah rasa perih mulai hilang diganti rasa nikmat karena gesekan kulit
daerah organ vital mereka berdua. Goyangan maju mundur Pak Johan terus
menerus seolah ingin menancapkan penisnya sedalam mungkin Cukup lama ia
melakukan gerakan menekan dan memutar liang itu. Beberapa menit berlalu
sebuah erangan panjang keluar dari mulut Asty.
“Ooooughhhhhhh….. ough…. ooooohhhhhhhhh….. Paaak……“ Tubuhnya
mengejang, kakinyapun menekan pinggul Pak Johan. Cengkeraman kukunya di
lengan Pak Johan menandakan ia telah orgasme untuk kesekian kalinya,
setelah dua kali diperkosa, tiada lagi daya dalam diri Asty untuk
mengimbangi Pak Johan. Melihat kejadian itu Pak Johanpun lalu
mempercepat gerakannya, Pak Johan meningkatkan tempo goyangannya, penis
yang besar dan berurat itu menggesek dan menekan klitoris Asty ke dalam
setiap kali menghujam. Kedua payudaranya yang membusung tegak itu ikut
berguncang hebat seirama guncangan badannya. Pak Johan meraih yang
sebelah kanan dan meremasnya dengan gemas. Gairah Asty mulai bangkit
lagi, dia merasakan kenikmatan yang berbeda dari biasanya, yang tidak
didapatnya saat bercinta dengan Alex, tanpa disadari dia juga ikut
menggoyangkan pinggulnya seolah merespon gerakan Pak Johan. Tapi Belum
lagi sempat Asty menarik napas, Pak Johan dengan kasar mengangkat dan
membalikan tubuh Asty, Pak Johan membuat Asty sekarang dalam posisi
menungging. Pantat Asty terangkat tinggi, sedangkan kepalanya tertunduk
ke kasur dan badannya bertumpu pada kedua lutut dan tangannya. Tiba-tiba
Pak Johan dengan kasar dan dalam tempo yang cepat mulai kembali memompa
vagina Asty.
“Aaaaghh… egghhhh… ..sakiiit… .” teriak Asty mendapat perlakuan kasar dari Pak Johan.
Mendengar itu Pak Johan malah semakin bersemangat dan semakin keras
menghajar vagina Asty dengan penisnya dari belakang. Tangan Pak Johan
memegang pinggang Asty dan mulai menarik maju mundur badan Asty,
sehingga pompaan penisnya dalam vagina Asty semakin keras dan cepat.
Mendapat perlakuan demikian, Asty hanya bisa mengerang-erang keras,
tangannya kembali meremas-remas kasur. Badan Asty maju mundur mengikuti
pompaan keras penis Pak Johan. Setiap kali Pak Johan memasukkan penisnya
sampai mentok ke vagina Asty, terdengar teriakan Asty.
“AAHGHH… ..AAGHHHH… .AGHHH… ” teriak Asty berulang-ulang. Semakin
cepat lagi Pak Johan memompa penisnya semakin keras erangan Asty.
Kemudian Pak Johan merubah posisinya yang tadinya berlutut menjadi
berjongkok di belakang Asty. Posisi itu membuat Pak Johan dapat makin
cepat lagi memompa vagina Asty dari belakang dan membuat penisnya dapat
makin keras menekan vagina Asty, meskipun sebenarnya penis yang besar
itu sudah mentok di dalam vagina Asty. Pak Johan tidak mengurangi
kecepatan pompaan penisnya dan tetap menjambak rambut Asty.
“Aaaaahh… uuuuhh… … ..aaaaahhhh… .eeeeehhhgggh….” teriak Asty makin
keras menggema di tengah hutan itu. Penis Pak Johan yang besar terlihat
makin cepat keluar masuk vagina Asty yang masih sempit itu. Tangan kanan
Pak Johan makin keras menjambak rambut Asty.
Asty dalam posisi demikian tidak dapat berbuat apa-apa selain
mengikuti irama permainan Pak Johan. Mengikuti apa maunya Pak Johan,
beberapa menit bermain cepat, kemudian melambat dan menjadi cepat lagi.
Wajah Asty yang terdongak karena jambakan Pak Johan pada rambutnya
menunjukkan betapa Asty sebenarnya menikmati perlakuan kasar Pak Johan.
Mata Asty merem melek dan mulutnya terbuka lebar menikmati serbuan penis
Pak Johan dari belakang. Tangan Asty makin keras meremas-remas kasur,
payudaranya yang padat bergantung dan bergoyang keras ke depan dan ke
belakang, vaginanya sudah sangat basah, cairan vaginanya yang bercampur
sperma bukan saja meleleh banyak di kedua paha bagian dalamnya tapi
sedikit-sedikit mulai menetes ke kasur yang dijadikan alas.
Setengah jam lamanya Pak Johan menyetubuhi Asty. Dan diperlakukan
demikian, sudah tidak terhitung berapa kali Asty mencapai orgasme.
Cairan kewanitaannya semakin deras membasahi kedua paha dalamnya,
kakinya sudah mulai bergetar karena terlalu letih dan orgasme yang
berulang-ulang. Sementara Pak Johan masih saja terus menggenjotkan
penisnya seolah tidak akan berhenti, sampai akhirnya ketika Asty orgasme
lagi, Pak Johan mengejang kuat-kuat. Sambil menyentakkan penisnya ke
dalam vagina Asty kuat-kuat, Pak Johan melenguh keras.
“AAAAHHHHKKKHHHH…!” Pak Johan merasakan kenikmatan yang luar biasa
menghantam sekujur tubuhnya, dan seketika itu pula spermanya menyembur
dengan sangat deras di dalam rahim Asty. Seketika didorongnya tubuh Asty
sehingga tertelungkup di kasur, sementara dia sendiri terkapar
terengah-engah merasakan kenikmatan yang luar biasa menyetubuhi gadis
yang begitu cantik dan seksi seperti Asty.
Dan selama sehari semalam, ketiga orang mantri hutan itu
memperlakukan Asty tidak lebih dari budak nafsu yang harus siap melayani
nafsu seksual mereka bertiga. Selama sehari semalam mereka tidak
mengijinkan Asty untuk berpakaian barang selembarpun. Mereka juga
memaksa Asty untuk menjadi pelayan di pondokan mereka, tentunya dengan
tetap telanjang bulat. Dan semalaman, mereka bertiga memaksa Asty untuk
melakukan hubungan seksual dengan berbagai gaya dan cara yang bisa
mereka praktekkan pada tubuh Asty. Mereka baru menyudahi pesta seksual
tersebut sekitar jam 4 pagi setalah Asty benar-benar tidak kuasa lagi
bergerak. Mereka berempat kemudian tertidur di lantai beralas karpet
usang tanpa busana. Pak Johan tidur sambil menggenggam payudara Asty,
Pak Arman dan Pak Man tidur di sebelahnya. Sementara Alex dibiarkan saja
masih terikat di luar ruangan, hanya mengenakan selembar celana dalam,
menahan dingin, lapar dan haus.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar