Black Note 4

Grill chicken al horno. Masakan lezat terbuat dari fillet ayam yang dipanggang dan dicampur dengan white wine ataupun lemon. Dari aromanya saja , kelezatannya sudah terbayang dan memancing selera makan. Apalagi jika yang membuatnya adalah chef Farrah Quinn yang bukan hanya jago memasak , tapi juga mempunyai body yang indah dipandang. Dan meskipun Farah membuat masakan ini dengan wajah ditekuk dan cemberut , namun tetap tak mengurangi kelezatan masakannya. Padepokan Satrialoka adalah  tempat Farah Quinn berada sekarang. Di dapurnya yang mewah, bersih dan lengkap, Farah menyiapkan makanan yang diinginkan sang pemilik padepokan ini untuk menjamu makan malam dua tamu ‘istimewanya’. Padepokan Satrialoka resminya adalah sebuah perguruan silat tenaga dalam yang dipimpin oleh seseorang yang menamakan dirinya Datuk Banteng, entah siapa nama aslinya tak ada seorangpun yang tahu. Belakangan padepokan ini berkembang bukan hanya menjadi tempat latihan silat, tetapi juga membuka klinik pengobatan alternatif dan beberapa bisnis publik seperti perkebunan, perdagangan, dll. Padepokan ini juga kemudian menjadi sentra pengatur jaringan bisnis milik Datuk Banteng yang ternyata sudah luar biasa maju pesat. Fasilitas di padepokan Satrialoka semuanya serba lengkap dan mutakhir. Datuk Banteng rupanya tak setengah setengah dalam membangun ‘kerajaan’ kecilnya ini. Dan dapur adalah salah satu diantaranya. Apapun yang dibutuhkan Farrah, baik itu peralatan masak ataupun bahan makanan semuanya tersedia. Kalaupun tidak, Datuk Banteng hanya tinggal tunjuk tangan, anak buahnya akan segera mencarikannya dalam waktu relatif cepat. Dengan fasilitas selengkap itu, seharusnya tak ada masalah bagi Farrah untuk membuat masakan apapun yang dia mau atau yang diinginkan Datuk Banteng. Namun bagi Farrah, semua itu tak ada bedanya. Seandainya saja ia berada disini atas kemauan sendiri mungkin ceritanya akan lain. Datuk Banteng telah ‘menculiknya’ ke tempat ini, menjadikan dirinya ‘budak’, baik di dapur ataupun tempat tidur. Melawan bukanlah pilihan yang bijak, konsekwensinya lebih berat. Ia tak mau apa yang terjadi pada Sandra Dewi juga menimpa dirinya dan kepatuhan pun mejadi satu satunya pilihan yang logis.
Yang terberat dari semua ini bukanlah pada memasak atau mengolah makanannya. Sebagai koki yang mempunyai acara masak sendiri di televisi, tentunya hal tersebut bukan masalah bagi Farrah Quinn. Yang menjadi masalah berat baginya, ia harus memasak hanya memakai celemek dapur alias apron saja, tanpa memakai pakaian apapun di baliknya, tidak juga pakaian dalam sekalipun. Farrah Quinn mempunyai bentuk tubuh yang sexy terutama bagian dadanya yang menonjol besar. Bisa dibayangkan bagaimana sebuah apron sebenarnya tak terlalu efektif menutup tubuhnya. Apalagi bagian belakang apron sama sekali tak tertutup, hanya ada tali tali dan sabuk kecil. Punggung mulus dan pantat montok Farrah terbuka bebas. Farrah Quinn memasak dengan hanya ber-apron, sungguh pemandangan yang menggoda mata pria manapun yang melihatnya. Dan malam ini yang beruntung bisa menyaksikan pemandangan indah tersebut adalah Dzulkfli alias Bajul, anak buah Datuk Banteng yang ditugaskan mengawasi Farrah. Dan rupanya Bajul tak menyia-nyiakan kesempatan emas ini. Selama Farrah sibuk memasak, Bajul ikut ikutan ‘sibuk’ menggerayangi tubuh koki cantik tersebut terutama buah dadanya yang tak bosan bosan ia remas. Bahkan pada satu kesempatan, selagi menunggu masakan matang, Bajul menyuruh Farrah untuk mengulum penisnya yang sangat  terpaksa Farrah lakukan.
“Minggir , udah matang nih….” ujar Farrah ketus sambil memukulkan spatulanya pada tangan yang sedang meremas remas dadanya.
“aduuhhh….!!! Galak amat sih ….” kata Bajul mundur sambil mengelus elus tangannya yang sakit.
Farrah mengeluarkan masakannya dari oven, mendinginkannya sejenak, lalu memindahkannya  ke atas piring. Hidangan terakhirnya sudah siap dan tinggal membawanya ke ruang makan.
“jangan lama lama yang neng…abang udah gak tahan nih..hehehehe…” kata Bajul dengan noraknya sambil mengelus elus selangkangannya.
Farrah hanya mendengus kesal sambil berlalu menuju ruang makan. Di meja makan, Datuk Banteng sudah menunggu. Sosok pria setengah baya , bertubuh tegap , rambut tersisir rapi , wajahnya menunjukan karakter yang keras dengan sorot mata yang licik. Sekilas sosok Datuk Banteng ini agak mirip dengan aktor antagonis Torro Margens. Berpakaian serba hitam bergaya Melayu. Datuk Banteng duduk di ujung meja makan berbentuk persegi panjang. Dua ‘tamunya’ duduk di sisi kiri kanan meja. Farrah mengenali wajah mereka, begitupun sebaliknya, mereka juga mengenali Farrah.
Di sisi kiri adalah artis cantik berdada besar , Magdalena. Dengan gaun malam –yang disiapkan Datuk Banteng- melekat ketat membungkus tubuhnya , penampilan Lena malam ini sungguh luar biasa cantik, sexy, sekaligus elegan. Wajahnya yang murung, tak membuat kecanTikannya berkurang. Di sisi kanan adalah seorang penyanyi belia yang sedang beranjak remaja, dan sedang menikmati puncak popularitasnya, Gita Gutawa. Dengan pink dress sedikit terlihat bahu, Gita malam ini begitu cantik, cute, young and innocence. Meski sama sama murung, Gita terkesan lebih tertekan dari Magdalena. Gita bahkan terlihat semakin tertekan bahkan hampir menangis saat Farrah muncul hanya ber-apron saja. Gita sadar bahwa hanya masalah waktu saja ia mengalami hal yang sama seperti Farrah, sebuah pelecehan seksual. Sedangkan Lena lebih bisa menahan diri, meski sorot matanya terlihat gelisah dan cemas.
“ahhh , ini dia …..dinner ala chef Quinn….” kata Datuk Banteng dengan suaranya yang berat dan serak.
Jika dibuat sinetron atau film, sepertinya Torro Margens akan cocok memerankan karakter Datuk Banteng ini. Farrah tak menggubris sambutan Datuk Banteng. Ia menata hidangan di atas meja makan, tanpa bicara, tanpa senyum. Ia pun tak bereaksi apa apa saat pantatnya ditepuk dan diremas datuk cabul itu. Yang bereaksi justru Gita Gutawa. Wajahnya semakin terlihat cemas, matanya mulai berkaca-kaca. Lena memandang kasihan pada Gita Gutawa. Meski sama sama menjadi korban, namun beban terberat sepertinya memang akan dirasakan oleh Gita. Pelecehan seksual tentunya merupakan pukulan yang sangat berat bagi gadis sebelia Gita. Tapi apa mau dikata, tak akan ada yang bisa menolongnya disini, bahkan Lena sendiri tak tahu nasibnya akan seperti apa.
“silahkan…” kata Farrah Quinn datar lalu segera kembali ke dapur.
Tadinya ia merasa lega karena tugasnya malam ini sudah selesai dan sepertinya Datuk Banteng pun tak akan memintanya untuk menemani tidur karena sudah punya ‘mainan’ baru. Namun saat tiba di dapur, tubuh Farah sontak serasa melemas. Bajul sudah menunggunya tanpa pakaian. Pria itu nyaris melompat kegirangan saat Farrah muncul. Dengan tak sabar ia menarik tangan Farrah, menyuruhnya membungkuk sambil bertumpu pada bak cuci piring.
“buka kakinya yang lebar….”
Farrah membuka kakinya, memejamkan mata, menunggu penis Bajul menembus vaginanya.
***NAGA_LANGIT PRODUCTION***

Imron, nama itu tentu tak asing lagi bagi penggemar Kisahbb. Dia adalah tokoh fiktif dari cerita  berseri nightmare campus, seorang janitor yang beruntung karena bisa memeras dan menguasai beberapa mahasiswi dan dosen cantik untuk dijadikan budak nafsunya. Imron kemudian menjadi ikon dari blog Kisahbb. Tapi polisi tidak tahu itu. Saat Imron muncul menjadi berita ketiga yang menghebohkan (dua sebelumnya adalah kematian mantan jaksa Urip di penjara dan kematian Artalita Suryani –Ayin- yang pesawatnya jatuh di Selat Sunda), polisi mengira nama Imron adalah sosok nyata yang mencoba membuat kekacauan dengan apa yang disebut mereka sebagai ‘terorisme gaya baru’. Semua nama dari jaringan terorisme dan juga nama nama para buronan dan residivis, dikumpulkan polisi untuk mencari, melacak dan menghenTikan teror ‘Imron’. Tak ada satupun yang menyadari atau mungkin tak ada seorang pun yang benar benar tahu, jika ‘Imron’ yang dimaksud hanyalah nama samaran dari Kisahbb. Mencatut nama dari ikon blog Kisahbb, Doni mengirim statement ke seluruh media yang isinya kurang lebih menyatakan jika Imronlah yang bertanggung jawab atas kematian Urip, Ayin , dan beberapa kematian misterius sebelumnya.
Alasannya adalah bahwa mereka adalah virus virus yang membuat negeri ini ‘sakit’ dan harus disingkirkan agar tidak menulari yang lainnya, agar membuat negeri ini sehat kembali. Tak cukup sampai di situ, Doni juga menyertakan daftar nama dari orang orang yang akan menjadi target berikutnya lengkap dengan waktu kematiannya. Imron/Doni ingin menunjukan jika ia punya kuasa untuk menyingkirkan siapa saja yang tak berkenan baginya, sekaligus menjadi shock therapy bagi para ‘public enemy’ lainnya. Sempat dikira hanya lelucon , orang-orang baru mulai cemas saat kematian itu benar benar terjadi. Apalagi beberapa nama dalam daftar tersebut adalah nama yang meski terkadang cenderung kontroversial namun mempunyai basis massa pendukung yang signifikan dan secara langsung atau tidak akan berpengaruh pada dinamika sosial politik di negeri ini. Kematian tak wajar akan membuat pendukungnya bergejolak dan bergerak. Jika tak diwaspadai akan menimbulkan gesekan yang berpotensi menyulut kerusuhan besar. Polisi pun pada akhirnya menemui jalan buntu, tak bisa mengetahui apalagi menemukan siapa dan dimana Imron sebenarnya. Sama sekali tak ada petunjuk. Doni tentu tak bodoh dengan meninggalkan petunjuk sekecil apapun yang bisa mengarahkan Imron pada dirinya. Saat polisi nyaris putus asa karena tak berhasil melacak Imron , mendadak terror kematian tersebut berhenti. Tak ada lagi yang mati dari nama nama dalam daftar tersebut. Tak ada yang tahu kenapa, tak ada juga yang bisa memastikan apakah semua ini sudah berakhir atau belum. Dan tak ada yang menyadari jika sebuah kejadian di hotel Trigana Bogor, berhubungan dengan semua itu. Saat polisi mengevakuasi dua mayat yang tergeletak di tempat parkir hotel tersebut. Saat Rizuki dan Franda dengan sembunyi sembunyi keluar dari hotel menghindari wartawan dan polisi.
Salah satu dari mayat tersebut adalah Doni.
***NAGA_LANGIT PRODUCTION***
FLASHBACK 1

Malam yang begitu gelap , kelam , dan sepi. Angin dingin berhembus kencang , menerpa seorang gadis cantik yang menggigil di depan pintu gudang sebuah villa tua. Pintu gudang terbuka dengan deritnya yang menyeramkan, memecah kesunyian malam. Artis cantik Tika Putri melangkah masuk dengan senter menyala di tangan. Wajahnya begitu cemas dan ketakutan saat ia mengarahkan senternya ke berbagai arah.
“Lun…Luna….kamu dimana….???”
Hanya  derik suara jangkrik yang menjawab panggilan Tika.
“Luna , please….aku takut nih……” suara Tika bergetar.
Tubuhnya bergidik karena hawa dingin dan juga suasana gudang yang menyeramkan. Tika Putri melangkah perlahan , memasuki area gudang lebih jauh lagi untuk mencari luna. Tiba tiba saja dari kegelapan muncul seorang pria yang langsung menyergapnya.
“aawww……toolooongg….!!!!” Teriakan Tika menggema ke penjuru gudang.
Tika Putri dan penyerangnya sama sama terjatuh di lantai gudang, mereka pun bergumul seru. Senter di tangan Tika terlepas dan menggelinding menjauh. Tika tak henti bergerak dan meronta saat pria itu mencoba menciumnya dan melepas pakaiannya.
“tooloongg……toolooonngg…..”
Tika terus berteriak sementara pria itu tak bersuara sedikitpun kecuali deru nafasnya yang memburu. Tangan pria itu bergerak menyentuh buah dada Tika , yang dengan cepat ditepis oleh gadis cantik itu. Selama pergumulan itu, beberapa kali tangan pria itu mampir ke buah dada Tika , yang juga selalu dengan cepat ditepiskannya. Dan saat untuk kesekian kalinya , pria itu menyentuh buah dadanya , teriakan minta tolong Tika sontak berubah.
“stop…!!! Stop…!!!! Cut…!!! Cut….!!!”
Lampu-lampu menyala , gudang menjadi terang benderang. Galih Permana –sutradara film- , memukulkan gulungan kertas scenario ke pegangan kursi , kesal karena pengambilan gambar di-cut diluar komandonya. Beberapa crew lainnya pun terlihat kesal. Mereka sudah lelah seharian bekerja , dan berharap syuting malam ini cepat selesai.
“kurang ajar kamu ya…!!! Dasar brengsek….!!!” Tika memaki lawan mainnya tadi.
“lho , emangnya kenapa mbak…??” Tanya pria itu berlagak polos
“alah….jangan pura pura deh….kamu sengaja kan megang dada gue….!!!”
“yah..i-itu sih gak sengaja mbak….” Jawab pria itu dengan gugup.
“gak sengaja kok sering….!!!”
Tika Putri
Tika Putri
“ada apa Tika…???” galih sang sutradara datang menghampiri
“ini nih mas ….cari cari kesempatan megang megang dada gue…..pake sok gak sengaja lagi……gak sengaja kok keras bener megangnya….!!!”
Galih langsung melotot pada pria itu, beberapa crew lain juga menatapnya sambil menggerutu.
“ah , udahlah….gue udah gak mood lagi main….capek gue….!!!” kata Tika lalu segera pergi meninggalkan gudang tanpa ada yang berusaha mencegahnya.
Sepeninggalnya Tika , pria itu disemprot habis habisan oleh sutradara dan asisten sutradara. Belum lagi celetukan celetukan marah crew lainnya. Pria itu pun hanya terdiam dan tertunduk malu.
Dia adalah Maman. Pekerjaan aslinya adalah penjaga toilet mall. Dulu saat Doni pertama kali menguji cobakan ‘black note’ pada SPG bernama Ina, Maman menjadi orang yang beruntung menikmati tubuh gadis cantik itu di toilet mall.
“ok deh semua , kita break…!!! Mulai syuting besok pagi jam enam , tepat…!!!!” Galih memberi insturksi, “ dan buat kamu Maman…kalo kejadian tadi terulang lagi , kamu keluar …paham..???”
Maman mengangguk paham. Ia kemudan mengambil jatah konsumsinya plus kopi hangat dalam cup plastik, lalu duduk menyendiri di pinggir sebuah kolam ikan menikmati makanannya. Maman mengunyah roti coklat sambil memandang kosong pada ikan ikan yang sedang berenang. Pikirannya melayang pada saat pertama kali ia terlibat produksi film ini. Waktu itu ia seperti biasa bertugas menjaga toilet, saat seorang talent scout tanpa sengaja melihatnya dan merasa jika Maman cocok menjadi penjahat dalam proyek film terbarunya.  Ia pun menawarkan Maman untuk ikut audisi. Sempat ragu karena hanya punya pengalaman acting di panggung 17-an, akhirnya Maman memberanikan diri datang ke tempat audisi. Siapa sangka, Maman berhasil mendapatkan peran tersebut. Ternyata meski hidup pas-pasan dengan wajah yang memang cocok jadi penjahat , Maman punya kemampuan acting yang baik. Setelah mendapat izin dari boss-nya , Maman pun mulai mengikuti syuting yang berlokasi di sebuah villa bergaya colonial di kawasan Cipanas Bogor.
Maman pun semakin kegirangan saat perannya ternyata adalah memperkosa peran utama yang dimainkan oleh Tika Putri. Tak heran saat adegan tadi, ia curi-curi kesempatan memegang buah dada artis cantik itu. Namun setelah kejadian tadi, ia tak tahu apakah besok masih bisa ikut syuting atau tidak.
“sendirian aja mas….???”
“oh..eh….i-iya….” Maman agak kaget saat seorang pria menyapanya , ia menoleh pada pria itu. Kalau tak salah ingat, pria ini adalah pemilik villa yang dipakai syuting malam ini.
“boleh saya duduk disini…???”
“ooh..iya silahkan….” Kata Maman sambil dengan cepat membersihkan bekas makanannya.
“saya Doni….”
“Maman….”
Keduanya berjabat tangan. Doni pun sebenarnya masih ingat siapa Maman.
“beres syutingnya mas…???” Tanya Doni
“iya , besok mulai lagi jam enam pagi….”
“emang materinya masih banyak ya mas..???”
“ah , saya sih gak tahu mas….saya kan cuma pemain figuran, mana tahu yang kayak gituan…..”
“ya kali aja tahu….” kata Doni sambil mengeluarkan sebungkus rokok dari sakunya dan menawarkannya pada Maman.
“terima kasih….” kata Maman sambil mengambil dua batang rokok. Satu ia nyalakan , satu lagi ia masukan saku.
Untuk beberapa saat tak ada yang saling bicara, Doni dan Maman asyik menikmati rokoknya masing masing.
“ngomong-ngomong tadi kenapa mas…kok si Tika kayaknya marah marah gitu…..”
Ditanya seperti itu, Maman gugup dan terbatuk batuk. Doni pun tersenyum geli  melihatnya. Doni sebenarnya tahu apa yang terjadi tadi.
“nyantai lah mas….gak usah segitu gugupnya…..hehehehe….” kata Doni tak bisa menahan tawa melihat reaksi Maman.
Wajah Maman memerah dan matanya berair saat berusaha menghentikan batuknya. Rokoknya yang masih setengah batang lagi, ia lemparkan begitu saja.
“wahhh …sayang tuh rokok mas ….masih panjang tuh….” Doni kembali menyodorkan bungkus rokoknya ke Maman ,  “ lagi….???”
Maman menolak dengan tangan. Ia masih belum bisa bicara karena sisa batuknya masih ada , meski tak sehebat sebelumnya.
“saya tahu kok tadi kenapa…hehehe…., nyantai aja mas, apa yang terjadi tadi itu wajar kok….” kata Doni setelah Maman kembali tenang.
Maman memandang Doni dengan heran.
“iya..maksudnya, kalo saya dapat peran memperkosa Tika Putri, ya pastinyalah agak sedikit colek colek juga…hehehehe…” kata Doni sambil mengedipkan mata.
Maman tersenyum hambar dengan wajah gundah.
“iya sih…tapi sekarang Tika Putrinya ngambek mas….” kata Maman lesu
“kalo soal itu sih gak usah khawatir …saya kenal Tika Putri, ada caranya supaya dia gak ngambek lagi…” kata Doni berbohong, ia sama sekali tak kenal dengan Tika Putri, tapi toh  Maman tak tahu itu dan mempercayainya.
“gimana caranya mas…???” Tanya Maman penuh harap
“minta maaf….”
Maman langsung menghela nafas kecewa.
“yah , mas…nenek nenek nungging juga tahu, kalo salah ya harus minta maaf….”
“maksud saya , mas Maman pergi ke kamarnya sekarang terus minta maaf….”
“sekarang..??? malam ini..??? ke kamarnya…???”
“iyalah, masa mau malam takbiran…masih lama dong….”
“gak berani mas , ah. Sekarang kan dia masih kesal …mendingan besok pagi aja deh…”
“justru klo besok pagi percuma. Saya kenal baik Tika Putri, dia itu paling suka kalo ada yang bikin salah sama dia, minta maafnya saat itu juga….percaya deh…..”
Maman terdiam, mempertimbangkan kemungkinan yang ditawarkan Doni. Ia masih ragu , dan khawatir Tika malah semakin marah padanya.
“gini aja deh…” kata Doni lagi , “ kalo misalnya dia marah atau ada siapapun yang marahin mas Maman, bilang aja saya yang suruh, Doni yang punya villa…..”
“serius nih , kalo ada apa apa, mas Doni yang tanggung jawab…???”
Doni mengangkat dua jempol sambil tersenyum.
“ok deh mas…saya coba , mudah mudahan berhasil…”
Maman bangkit, terdiam sejenak mengatur nafas, meyakinkan diri dan membulatkan tekad, kemudian melangkah pasti menuju kamar Tika Putri. Doni memperhatikan dari kejauhan saat Maman mengetuk pintu kamar Tika. Doni Sebenarnya agak terkejut, tak menyangka jika Maman ada di antara cast and crew film yang menyewa villa milik keluarganya ini. Tadinya target Doni hanyalah Tika Putri saja, tapi saat melihat Maman, muncul sebuah ide lain yang lebih besar. Ide yang tak hanya melibatkan Maman dan Tika Putri, tapi juga magician cantik Rizuki dan presenter olahraga Franda. Dan rencana Doni sepertinya berhasil. Tika mempersilahkan Maman masuk ke kamarnya, dan sudah hampir satu jam tak ada seorangpun yang keluar, baik Tika maupun Maman. Doni tersenyum sambil menghubungi seseorang lewat Hp-nya .
“halo friend ….gimana jum’at malam jadi kan……???? ……….oh , gue sih beres , tenang aja , don’t worry be happy lah pokoknya………….iya , gue bakal bawa Rizuki……….serius bro ………and nanti dia bakal nunjukin satu genre sulap baru , ‘striptease magic’…hehehehehe…..”
***NAGA_LANGIT PRODUCTION***
FLASHBACK 2
Mengawali langkahnya dengan yakin , saat semakin mendekati kamar Tika, Maman justru merasa langkahnya serasa makin berat. Kepercayaan diri yang besar saat masih bersama Doni tadi perlahan mulai menyurut.
“aduhh..kalo gue didamprat lagi, mampus gue nih…..”
Walau tadi katanya Doni akan bertanggung jawab jika terjadi sesuatu, tapi malu tetaplah malu jika Maman kembali didamprat Tika Putri, apalagi di depan banyak orang. Maman sempat akan mengurungkan niatnya meminta maaf, tapi entah hanya perasaannya saja atau kenyataannya begitu, kaki Maman seolah punya pikiran sendiri dan terus melangkah, enggan untuk diajak berhenti apalagi berbalik, hingga akhirnya ia pun tiba di depan pintu kamar Tika. Terdiam sejenak, Maman lalu menghela nafas yakin, dan mengetuk pintu.
“ya..sebentar…..”
Pintu terbuka sedikit, Tika melongokkan kepalanya dari balik pintu dan langsung mengerutkan kening saat melihat Maman yang datang.
“oh , kamu….ada apa…???” Tanya Tika datar.
“eh…mmm..anu…eh…s-saya m-mau minta ma-maaf , soal kejadian tadi…..” kata Maman terbata bata.
Tika menatap Maman dengan mata menyipit. Agak lama ia melakukan itu sampai sampai Maman salah tingkah.
“masuk…” kata Tika sambil membuka lebar pintu kamarnya.
“eh..ke dalam mbak…???” Maman kaget , tak menyangka akan disuruh masuk.
“iya , katanya mau minta maaf ….bicaranya di dalam aja……”
Maman masuk ke kamar Tika dengan tanda tanya besar di benaknya. Apa tak salah, Tika menyuruhnya masuk hanya untuk sekedar meminta maaf, bukankah di luar pintu tadi juga sudah cukup. Namun kemudian Maman melihat ekspresi wajah dan bahasa tubuh Tika. Ia pernah melihat ekspresi seperti itu sebelumnya, dulu pada SPG bernama Ina .
“duduk…” kata Tika sambil menunjuk pada tempat tidur.
Di kamar itu memang tak ada kursi. Tika berjalan mendahului menuju tempat tidur. Dan Maman pun semakin yakin saat melihat cara berjalan Tika yang juga sama seperti Ina dulu. Tika memang merasakan keanehan pada tubuhnya sesaat setelah ia kembali ke kamar. Udara dingin dan angin malam yang menerpa tubuhnya seolah membentuk tangan tangan tak terlihat yang bertiup menelusup masuk ke balik pakaiannya mengelus tubuhnya sedemikian rupa memancing birahinya untuk muncul.
Seluruh bagian sensitif tubuhnya terasa ‘gatal’, berbagai adegan sex muncul bagai sebuah kolase foto di kepalanya. Dan entah mengapa, Tika jadi teringat kembali pada adegan pemerkosaan yang tadi ia mainkan. Bedanya dalam benak Tika pemerkosaan itu terus berlanjut. Pakaiannya dirobek Maman, buah dadanya diraba dan diremas ganas oleh Maman, bibirnya dengan penuh nafsu dikulum Maman, vaginanya dengan keras ditembus penis Maman. Tika tak mengerti kenapa bisa begitu, yang pasti perlahan birahinya mulai menguasai diri dan semakin diperparah ketika tiba tiba Maman muncul di depan pintu kamarnya. Maman duduk dengan gugup, matanya memandang penuh minat pada Tika di sebelahnya. Gadis itu sudah berganti pakaian. Ia sekarang memakai kaos yang agak longgar dengan bagian leher sedikit turun hampir mencapai perbatasan belahan dadanya, dan celana pendek yang seolah menjadi ‘bingkai’ pemanis untuk keindahan dan kemulusan pahanya. Maman menelan ludah, posisi duduknya mulai terasa tak nyaman.
“terus ..mau apa tadi…???” tanya Tika datar dengan ekspresi wajah yang ‘aneh’
“ehh..iya..emm..anu…gini…..saya..saya..emmm..m-mau minta maaf soal kejadian tadi..emm..terus…mm…..”
Maman mencoba meminta maaf dengan terbata bata, menggunakan kalimat yang panjang, bertele-tele, dan berputar-putar tak jelas hingga Tika Putri pun terpaksa memotongnya.
“ok..ok…cukup, saya ngerti…saya ngerti, ok..???”
“eh..i-iya mbak….” jawab Maman malu malu
“ok..kali ini saya maafkan….tapi ingat ya , klo sampai kejadian tadi terulang lagi…awas aja…!!!”
“i-iya mbak…siap mbak….”
 Kemudian untuk beberapa saat keduanya terdiam tak ada yang bicara. Suasananya jadi agak aneh dan terkesan canggung. Maman tak beranjak pergi, begitupun Tika tak menyuruh Maman segera keluar. Maman memandangi Tika penuh selidik. Ia yakin jika apa yang terjadi pada Ina dulu, kini terjadi juga pada Tika Putri. Maman tak tahu apa itu atau kenapa, namun Maman memutuskan untuk dengan nekad mencoba keberuntungannya.
“emm…mbak…kayaknya agak kurang sehat ya…???”
“gak tau nih…” jawab Tika sambil memegang tengkuk dan menggoyang-goyang kepalanya, “mendadak jadi gak enak badan kaya gini….”
“kecapean kali mbak….”
“kali…tau deh….”
“ehmm…kalo mau…tapi maaf ya mbak sebelumnya, kalo mau….saya bisa mijit kok…dijamin seger deh….” kata Maman penuh harap
Tika menoleh menatap Maman dengan tajam. Semula Maman mengira, Tika akan kembali marah, ternyata tidak. Ia malah membelakangi Maman dan berkata,
“ya udah…tolong ya….”
Bibir Maman mengucap ‘yes’ tanpa suara. Sekali lagi, Maman berpikir entah setan apa yang membuatnya seberuntung ini. Yang pasti malam ini akan menjadi malam yang sangat indah sekali. Memulai pijitan di pundak Tika, Maman melakukannya dengan baik dan benar, secara perlahan dan ritmis. Sepertinya Tika menikmati pijatan Maman dan merasa nyaman, ia memejamkan mata sambil menggigit bibir seolah sedang meresapi sentuhan lelaki yang justru beberapa saat lalu baru ia damprat karena berani menyentuhnya. Semakin lama ritme pijatan Maman semakin ngawur. Ia sepertinya tidak lagi sedang memijit, tapi lebih seperti mengelus elus pundak Tika. Kaos Tika yang longgar sesekali ia tarik, sepertinya Maman bermaksud menurunkannya lewat pundak. Entah sadar atau tidak, tapi Tika membiarkan Maman melakukan itu. Bahkan ketika kaosnya benar benar diturunkan hingga setengah badan, tak sedikitpun ia protes atau marah. Di balik kaosnya, Tika ternyata tak memakai apa apa lagi. Tangan Maman pun dengan perlahan merayap turun menuju buah dada Tika Putri yang telah terbuka. Maman meremas buah dada Tika dengan gemas, putingnya ia pijit dan pilin pilin dengan lembut. Bibir dan lidahnya ikut aktif menciumi dan menjilati leher dan tengkuk Tika.
“uuhhh…oohhh…..” Tika menggelinjang sambil memegangi tangan Maman.
Awalnya Maman mengira Tika hendak menepis tangannya, tapi yang terjadi justru Tika meminta Maman meremas buah dadanya lebih keras lagi. Permintaan yang jelas dengan begitu semangat Maman lakukan. Setelah beberapa saat asyik meremas dada Tika, Maman membalikan tubuh gadis itu. Maman langsung menghela nafas melihat mahluk cantik dan sexy di hadapannya ini, apalagi matanya begitu sayu dan pasrah. Buah dadanya bahkan lebih indah lagi. Bulat , kencang dengan putingnya yang kecoklatan
Dengan tak sabar Maman mencaplok sebelah dada Tika dan meremas yang satunya.
“ooohh…..” reaksi Tika hanya mengerang lirih.
Maman begitu bernafsunya melumat buah dada Tika, bergantian kiri dan kanan. Ia bahkan menyedot dengan kuatnya, hingga pipinya kembung kempot. Lidahnya pun ikut menari nari menyentil puting Tika yang semakin mengeras karena permainan mulutnya.
“aahhohh….ooohhh…..” Tika secara naluriah membusungkan dadanya, membuat Maman semakin leluasa memainkannya.
Kedua puting Tika dijilati dengan lidah dan bibirnya, sesekali juga puting ia kulum seperti bayi yang menyusu pada ibunya. Penis di balik celana Maman berdenyut tak sabar dan ‘memaksa’ Maman untuk menghentikan aksinya di dada Tika dan berlanjut ke level selanjutnya. Celana pendek Tika dengan mudah ia turunkan, begitu pula dengan celana dalamnya. Dan Maman pun terpana melihat keindahan belahan vagina Tika Putri yang begitu sempurna di matanya. Maman merendahkan tubuhnya, wajahnya tepat menuju lubang vagina yang begitu harum dan semakin merangsang birahinya.
“ahhh..mm-mann..ahhhh……”  Tika mendesah halus saat lidah Maman bergerak liar dan lincah menyapu kemaluannya, sebuah sensasi kenikmatan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya menyebar ke setiap lekuk tubuhnya. Ini bukan kali pertama Tika berhubungan sex, tapi kenikmatan seperti ini belum pernah ia dapatkan dari kekasihnya dulu. Tika pun tak ragu mengekspresikannya dengan desahan desahan lirih. Desahan desahan itu membuat lidah Maman semakin liar saja. Dengan ‘berani dan nakal’ lidah itu menyeruak masuk menyentuh langsung klitoris Tika. Tubuh gadis itu sontak mengejang bagai terkena aliran listrik, posisinya yang semula duduk kini telah terbaring di kasur. Maman jelas semakin leluasa. Kaki Tika ia buka semakin lebar. Tak hanya lidah, bahkan kini jari telunjuknya ikut menari nari di lubang vagina Tika.
“uuuhhhh….uu-udahhh..ahhhhh..udahh……” Tika mulai merasa tak tahan dengan rangsangan Maman.
Ada sesuatu dalam tubuhnya seolah bergejolak ingin keluar. Maman yang tahu jika Tika hanya sedikit lagi menuju orgasme, semakin mengintensifkan permainan lidah dan jarinya. Dan benar saja. Sesaat kemudian ‘cairan kenikmatan’ tak bisa lagi Tika tahan keluar dari vaginanya. Ia pun mengerang panjang, saat tubuhnya menegang, menggelinjang untuk kemudian melemas. Sambil memandangi tubuh Tika yang terbaring lemas dengan nafas terngah engah, Maman melepas pakaiannya satu persatu. Penisnya yang sedari terkungkung langsung melompat keluar dengan tak sabar.
Tadinya Maman hendak langsung melakukan penetrasi ke vagina Tika. Namun tak diduganya, Tika bangkit, meraih penisnya dan tanpa ragu memasukannya ke mulutnya yang mungil. Bagai sebuah permen besar, penis Maman meluncur masuk ke mulut Tika tanpa hambatan. Mulutnya mengulum dan menghisap penis itu dengan lembut, sesekali pula Tika menyelinginya dengan kocokan tangannya yang halus dan lembut. Sepertinya Tika sudah berpengalaman dalam hal oral sex atau mungkin juga ini karena memang pengaruh dari ‘black note’ Kini giliran lidah Tika yang bermain dan menari nakal di kemaluan Maman. Lidahnya bergerak memutar dan menyamping, bahkan hingga turun ke zakarnya lalu kembali mengulum dan menyedotnya begitu rupa membuat Maman merasa melayang layang.
“uuhh..gila….enak mbak….ooohh……”
Bibir Tika terus aktif mengulum, lidahnya terus menjilat. Maman mengelus kepala Tika sejenak, sebelum mendorongnya menyuruh Tika mengulum semakin dalam dan bergerak semakin cepat.
Kepala Tika bergerak maju mundur dengan cepat memberi efek kocokan yang begitu dahsyat. Jika diteruskan, maka penis Maman akan ‘meledak’ saat itu juga, dan itu artinya permainan selesai. Maman tak menginginkan itu. Maman menarik keluar penisnya dari mulut Tika, mendorong gadis itu hingga kembali terbaring di kasur dan ia segera mengarahkan penisnya ke lubang vagina Tika.
Maman tak langsung melesakkan penisnya masuk seolah hendak menggoda birahi Tika, ia menggesek gesekan penisnya terlebih dahulu pada permukaan vagina Tika. Tika memandang Maman dengan tatapan sayu dan memohon. Birahi yang membuncah dalam tubuhnya sudah semakin parah dan tak sabar menanti pelampiasan.
“aaaahhhkkhhh…..”
Tubuh Tika sedikit tersentak dan terangkat saat penis Maman mulai menyeruak masuk.
“ooouuhhh….ahhh…..”
Satu hentakan lagi, penis Maman semakin dalam tertanam di vagina Tika Putri. Dengan gerakan perlahan Maman menarik penisnya lalu ditekan ke dalam lagi seakan ingin menikmati dulu gesekan-gesekan pada himpitan lorong sempit yang bergerinjal-gerinjal itu. Tika  ikut menggoyangkan pinggul dan memainkan otot vaginanya mengimbangi sodokan Maman.
Hentakan tubuh Maman pun  semakin menggila, penisnya semakin lama menyodok semakin kasar saja, kedua buah dada Tika jadi ikut terguncang-guncang dengan kencang. Maman menurunkan tubuhnya, dan Tika pun menyambutnya. Tubuh Maman ia peluk erat, kedua tungkainya melingkar menjepit pinggang pria itu. Sementara penisnya terus mengaduk aduk vagina Tika, Maman menciumi dan menjilati tubuh gadis itu. Sambil terus menggenjot, mulut Maman menggigit dan menarik narik puting Tika. Agak sedikit sakit, tapi ada kenikmatan yang Tika rasakan di sana. Maman kembali menegakan tubuhnya, genjotannya semakin cepat dan intens. Tubuh Tika pun semakin kuat terguncang, buah dadanya yang basah ikut bergoyang goyang, rintihan demi rintihan meluncur deras dari bibir manis Tika. Dan akhirnya saat itu tiba. Maman merasakan desakan yang kuat dari dalam tubuhnya, ia hampir mencapai klimaks. Sesaat sebelum spermanya menyembur, Maman menarik keluar penisnya dan mengarahkan ke wajah Tika. Cairan putih kental dengan deras membasahi wajah cantik Tika Putri, mengalir di pipinya yang memerah melintasi bibirnya yang sexy.
“oooughhh….” Maman menggeram nikmat saat mengeluarkan residu nafsunya itu.
Dan sebagai penutup, Maman meminta Tika membersihkan penisnya dengan mulut. Dengan wajah yang masih berleleran sperma, Tika mengulum dan menjilati penis Maman membersihkan sisa sisa sperma di batang itu. Setelah itu ia terbaring lemas di kasur dengan dada naik turun saat berusaha mengatur kembali nafasnya. Maman teringat, dulu Ina keluar dari toilet dalam keadaan bingung, yang artinya apapun yang telah mempengaruhi Ina sebelumnya, efeknya telah hilang. Maman tak mau saat hal yang sama terjadi pada Tika Putri, ia masih disini. Maka tanpa banyak bicara, ia segera berpakaian , memandang sejenak Tika yang masih terengah di kasur, lalu dengan cepat keluar dari kamar itu. Dan Maman terkejut karena Doni sudah menunggunya diluar.
***NAGA_LANGIT PRODUCTION***
Tewasnya Doni menjadi masalah baru bagi ‘K’. Ia dan dua anak buahnya , “Seven’ dan ‘Eleven’ , sebenarnya sudah tahu jika black note ada di tangan Doni. Alasan mereka tidak langsung bergerak adalah karena Joker ada disana. ‘K’ tahu betul bagaimana cerdik dan liciknya Joker. Jika ia bertindak gegabah, justru ia akan masuk perangkapnya. Butuh strategi dan rencana yang matang untuk merebut ‘black note’ dari tangan Doni. Sayang sebelum itu terjadi Doni keburu mati. Ada sebuah aturan yang tak tertulis tentang ‘black note’ dan hanya diketahui oleh para penjaga buku tersebut. Jika seandainya pemegang ‘black note’ – the holder – mati , maka ‘black note’ akan secara ‘otomatis’ kembali pada sang penjaga – the keeper – , yang dalam hal ini adalah ‘K’ , dengan catatan kematian ‘the holder’ tidak disebabkan oleh ‘the keeper’. Doni mati, tapi ‘black note’ tak kembali pada ‘K’. itu artinya ada dua kemungkinan, ‘black note’ telah diserahkan pada orang lain, atau ada seseorang yang mengambil ‘black note’ sesaat setelah Doni tewas. ‘K’ lebih cenderung pada kemungkinan kedua. Pertanyaannya adalah siapa. Meski dengan berat hati , ‘K’ harus mengakui kekalahannya dari Joker. Beberapa kali ia kalah langkah dari musuh abadi ‘black note’ tersebut. Apalagi usaha ‘K’ mendapatkan kembali ‘black note’ sempat teralihkan oleh pesan rahasia Joker yang diselipkan di blog Kisahbb. Nama ‘Imron’ yang dipakai Doni saat mengirim statement ke stasiun TV , ternyata mengingatkan ‘Seven’ akan blog Kisahbb. Rupanya diam-diam ia salah satu penggemarnya juga. Entah kenapa ia punya firasat ada sesuatu dalam blog ini. Dan firasatnya benar. Entah apakah Doni tahu atau tidak, Joker menyimpan pesan rahasia yang diselipkan tersebar dibeberapa cerita. Pesan pertama diselipkan pada cerita Nightmare Campus 1, selipan berupa anagram yang selalu ditandai dengan kata kata yang ‘aneh’ dan terkesan tak sinkron dengan kata sebelumnya, atau kata kata yang sepertinya salah ketik. Di akhir pesan tertulis juga dimana pesan selanjutnya berada. (mohon maaf , demi keselamatan bersama , detail pesan tersebut tidak bisa diuraikan disini). ‘K’ bersama juga ‘Seven’ dan ‘Eleven’, mencoba memecahkan anagram Joker tersebut. Saat seluruh pesan rahasia itu terpecahkan dan tersusun, ternyata pesan itu adalah langgam pemanggil Mantrakala. Mantrakala sendiri sebenarnya adalah pasangan dari ‘black note’. Sejarahnya dulu , pada pertengahan abad ke-13 , Tunggul Ametung memimpin wilayah Tumapel dengan semena mena. Para pandhita/ begawan yang sakit hati karenanya, kemudian sepakat membuat dua buah pusaka untuk melawan atau menggulingkan Tunggul Ametung. Sebenarnya, tujuan utama pembuatan pusaka tersebut bukan semata untuk melawan Tunggul Ametung, tetapi juga untuk meretas jalan menuju kejayaan Nusantara seperti yang diramalkan Jayabaya akan menjadi pusat dunia. Jatuhnya Tunggul Ametung hanyalah titik awal saja. Pusaka itu adalah Seratjiwa dan Mantrakala. Seratjiwa kemudian diserahkan pada Ken Arok, orang yang diyakini mempunyai wangsit sebagai ‘pembuka’ jalan sejarah menuju kejayaan nusantara. Sementara Mantrakala diserahkan pada seorang pendekar bernama Jaka Nagaprana. Dia menjadi ‘the keeper’ pertama dari Seratjiwa ( black note ).
Seratjiwa dan Mantrakala mempunyai kekuatan yang berbeda. Mantrakala yang dipegang oleh Jaka Nagaprana, diharapkan bisa menjadi ‘counter’ seandainya terjadi sesuatu yang tak diinginkan karena penggunaan Seratjiwa yang sembrono atau tak semestinya. Setidaknya itu tujuan semula dibuatnya Mantrakala. Sayangnya, sebuah insiden terjadi. Seseorang berusaha mencuri seratjiwa. Usahanya memang tak berhasil. Seratjiwa tetap utuh tak tergores sedikitpun di tempatnya. Namun akibat kejadian tersebut, Jaka Nagaprana terluka sangat parah dan Mantrakala yang dipegangnya hilang. Selama ratusan tahun mantrakala hilang dan baru muncul kembali sekarang. Dan malam terjadinya usaha pencurian Seratjiwa, menjadi malam pertama kemunculan musuh abadi yang selalu membayangi keberadaan ‘black note’. Musuh yang saat ini menyebut dirinya Joker. ‘K’ menatap kesal layar laptopnya yang sedang menampilkan blog Kisahbb. Langgam pemanggil Mantrakala sudah utuh disusunnya, namun saat ia coba, Mantrakala tak muncul. Dan itu artinya sudah ada yang lebih dulu mendapatkannya. Ini kekalahannya yang kedua dan ‘K’ tidak suka ini.
“boss ‘K’ …apa rencana kita selanjutnya….” tanya ‘Seven’.
‘K’ memberikan selembar kertas pada ‘Seven’. Disana tertulis nama nama para penulis aktif dari blog Kisahbb.
‘Seven’ menerimanya , membacanya sejenak lalu menatap ‘K’ menunggu penjelasan lebih lanjut.
“kita memang sudah tahu jika ‘mr Shusaku’ bukan nama baru yang dipakai Joker, mereka dua orang yang berbeda. Tapi dengan keberadaan ‘black note’ dan mantrakala di luar sana, entah pada siapa, tetap membuat blog ini menjadi ancaman…..” papar ‘K’
“boss ‘K’ yakin , jika dua pusaka itu setidaknya ada di salah satu dari penulis ini….???”
“mungkin….atau mungkin juga tidak. Tapi tetap saja , kita harus melakukan sesuatu. Akan sangat berbahaya jika dua pusaka itu berada di tangan orang berimajinasi tinggi seperti mereka… jangan sampai blog Kisahbb menjadi ‘black note’ kedua….”
‘Seven’ mengangguk paham.
“kita telah kalah dua kali , jangan sampai kita kalah untuk ketiga kalinya….”
“paham , boss ‘K’…..”
“dan sebaiknya antisipasi kita dimulai dari si pembuat blog ini , ‘mr shusaku’…..kamu tahu kan apa yang harus kamu lakukan…..???”
“siap , boss ‘K’…..”
‘Seven’ pun segera pergi untuk menjalankan misinya. ‘K’ menyandarkan tubuhnya ke sofa sambil menghela nafas. Ia berharap kali ini tidak kalah langkah lagi , terutama ia berharap, mantrakala belum memakan banyak korban.

***NAGA_LANGIT PRODUCTION***
TEROR MANTRAKALA

Hampir jam sembilan malam di sebuah stasiun TV swasta nasional. News presenter, Shara Aryo sudah bersiap akan pulang. Di Lobby, ia tidak langsung keluar gedung tetapi berbelok ke arah koridor kiri, melewati lorong yang dihiasi poster poster acara unggulan stasiun TV tersebut berpapasan dengan beberapa orang crew TV, lalu ia memasuki toilet. Di depan cermin besar , Shara memeriksa sejenak make-up di wajahnya, lalu ia masuk ke salah satu bilik WC. Lima menit kemudian, Reni, salah seorang crew, masuk ke toilet yang sama. Baru juga melangkah masuk, entah kenapa ia merasakan sebentuk hawa aneh yang membuatnya merinding.
“iihh..kenapa ya…kok aku jadi merinding gini……???” gumamnya sendiri.
Reni memperhatikan ke sekeliling toilet, tak ada siapa siapa disana. Begitu juga di bilik WC, semuanya kosong. Reni tak bisa menemukan apa yang membuatnya menjadi merinding seperti ini. Adegan adegan film horror lokal mulai bermunculan di pikirannya.
“hiiiii…..” Reni bergidik ngeri, lalu bergegas keluar toilet dengan setengah berlari.
Kurang dari satu menit Reni keluar, dari dalam toilet terdengar isak tangis perempuan. Shara Aryo berdiri di depan cermin, menangis sambil menutup mulutnya dengan satu tangan. Matanya basah dan sembab seakan ia sudah cukup lama menangis. Bajunya acak acakan. Dari raut wajahnya, Shara Aryo masih terlihat shock. Ia shock karena baru saja diperkosa.
***NAGA_LANGIT PRODUCTION***
Di kamar tidurnya yang nyaman, Sandra Dewi baru saja selesai mandi. Di depan cermin rias, ia sedang mengeringkan rambutnya dengan hairdryer. Bathrope masih membungkus tubuh indahnya. Musik smoth jazz mengalun lembut membuat suasana malam di ruangan itu terasa relax. Sandra dewi merasakan tubuhnya kembali segar setelah beraktivitas seharian. Namun tiba tiba sandra mendengar ada suara suara aneh dari kamar mandinya. Ia menoleh ke belakang, menatap pintu kamar mandi yang setengah terbuka. Lampunya masih menyala, dan di antara suara tetesan air bekas ia mandi, suara suara aneh itu terdengar. Dengan ragu-ragu, Sandra bangkit dari tempat duduknya. Melangkah hati hati dan perlahan, ia masuk ke kamar mandi untuk memeriksa sumber suara suara aneh tersebut. Lima menit kemudian Sandra keluar tanpa bathrope, tubuhnya yang semula segar kini terlihat kuyu dan lesu. Ada bekas sedikit bekas merah di beberapa bagian tubuhnya, bekas pemerkosaan yang baru saja dialaminya.
***NAGA_LANGIT PRODUCTION***
Hotel Azteria, Anyer, Banten. Di salah satu kamar, dua orang kakak beradik selebritis, Shireen Sungkar dan Zaskia Sungkar duduk berpelukan di tepian tempat tidur, menangis.
“kak…kita harus melaporkan kejadian ini ke polisi….harus….!!!” kata Shireen dengan histeris dan panik.
Zaskia menghela nafas dan memeluk adiknya semakin erat , “terus kita mau bilang apa ke polisi….nggak akan ada yang percaya…siapa yang akan percaya….???”
Shireen pun menangis semakin keras di pelukan kakaknya. Perkataan kakaknya memang benar, siapa yang akan mempercayai peristiwa pemerkosaan yang baru saja mereka alami. Terlalu mustahil dan sangat tidak masuk akal.
***NAGA_LANGIT PRODUCTION***


Datuk Banteng makan dengan lahap. Tak mengherankan tentunya, masakan Farrah Quinn pastinya tak diragukan lagi kelezatannya. Namun begitu, berbeda dengan Magdalena dan Gita Gutawa, mereka makan dengan tak bersemangat, walaupun sebenarnya perut mereka lapar dan aroma hidangan di atas meja begitu menggoda hidung. Selezat apapun makanan yang dibuat chef Farrah malam ini, selera makan Lena dan Gita langsung hilang jika teringat apa yang akan terjadi setelah makan malam selesai. Gita Gutawa terlihat yang paling tertekan karenanya. Wajar saja, di usianya yang baru 16 tahun, belum pernah ada seorang pria pun yang pernah menyentuh tubuhnya, bahkan berciuman pun tidak. Kehilangan kehormatannya dengan cara seperti ini, tentu bukanlah hal yang diharapkan atau terbayangkan oleh Gita. Gita berhenti makan. Sendok dan garpunya ia taruh terbalik di atas piring, lalu ia duduk diam termangu dengan mata berkaca kaca. Lena pun kemudian berhenti makan, sendoknya ia sengaja taruh dengan keras di atas piring membuat suara nyaring sekedar melepas kekesalannya. Suara sendok Lena rupanya menarik perhatian Datuk Banteng. Ia memandang bergantian pada Lena yang terlihat marah dan pada Gita yang hampir menangis. Datuk Banteng tersenyum, wajahnya semakin terkesan menyebalkan di mata kedua artis cantik itu. Ia mengambil gelas minumnya dan meneguk habis isinya.
“aaahhh….makan malam yang istimewa…hahaha…..bukan begitu , sayang……????” kata Datuk Banteng sambil menaruh kembali gelasnya.
“hmmm….nah….sekarang saatnya untuk ‘cuci mulut’….hehehehe…..” Datuk Banteng memandang dua ‘mangsanya’ dengan penuh nafsu, membuat Lena dan Gita sama sama cemas dan ketakutan. Ini dia, mimpi buruk itu akhirnya tiba.
 “sekarang kalian berdua….buka pakaian masing masing…ayo….”
Perintah Datuk Banteng bagaikan sambaran petir yang telak menerpa Lena dan Gita. Wajah Lena memerah menahan emosi, tangannya mengepal menggambarkan hati yang panas. Lain lagi dengan Gita yang terlihat shock dengan perintah itu. Ia menggelengkan kepala, menutup wajah dengan dua tangan, menangis. Terdengar diantara isak tangisnya, gumaman tak jelas kata ‘gak mau’. Lena merasa prihatin dan kasihan melihatnya. Ia segera menghampiri Gita dan memeluknya, mencoba menenangkannya, setidaknya membesarkan hati gadis belia itu. Dan tangisan Gita pun makin menjadi di pelukan Lena.
Lena menoleh pada Datuk Banteng , dan berkata dengan marah , “ anda benar benar mahluk rendah….!!! bajingan tak berperikemanusiaan….!!! Teganya anda akan merusak anak kecil seperti dia…..!!!”
Datuk Banteng mengangkut bahu, senyum menyebalkan masih menghias wajahnya,
“ hmmpp…..anak kecil katamu..??? hei….kamu pikir saya ini siapa, Syekh Puji…??? Maaf saja ya….dia itu sudah enam belas tahun ….sudah cukup dewasa buat mengenal laki laki…bukan begitu Gita sayang..????, hhehehehe……”
Gita menjawabnya dengan isak tangisnya yang semakin kentara.
“enam belas ..lima belas…apa bedanya…??? Anda tetap akan merusak masa depannya. Anda benar benar biadab…..!!!!!” nada suara Lena semakin meninggi.
“ahh..sudahlah….!!!” Datuk Banteng mengibaskan tangan tak sabar ,”jangan banyak bicara…!!! Ingat, selama kalian disini, kalian harus patuh pada semua perintahku, perintah Datuk Banteng…!!! Atau mungkin….kalian lebih memilih berurusan dengan mantrakala..???”
Mantrakala. Apapun itu yang pasti, Lena dan Gita sama sama tercekat cemas mendengarnya. Bahkan Gita pun dengan susah payah mencoba menghentikan tangisannya. Datuk Banteng kembali tersenyum, dua wanita cantik di hadapannya ini sudah kembali berada dalam genggamannya. Perlahan meski masih menyisakan isakan, tangisan Gita mulai mereda. Begitupun dengan Lena yang semula memasang wajah marah, mulai mengendur, berganti kecemasan dan kepasarahan.
“nahhh..begitu kan lebih baik….hehehehe…” kata Datuk Banteng , “ sekarang , ayo….buka pakaian kalian masing masing….atau, tunggu….sebaiknya kalian saling membuka pakaian ..hmmm..???”
Lena dan Gita saling berpandangan, sama sama pasrah. Keduanya sadar, tak ada pilihan lain bagi mereka. Antara Datuk Banteng dan Mantrakala, pilihan terbaik dari yang terburuk adalah Datuk Banteng. Dengan gontai, Lena menurunkan resleting gaun Gita di belakang punggung dan Gita membuka pakaian Lena. Mereka saling melepas pakaian dengan tempo yang lambat, tak menyadari jika dengan begitu justru menjadi tontonan yang mengasyikan bagi Datuk Banteng. Dan akhirnya kedua gadis cantik itupun telanjang bulat. Magdalena jelas mempunyai bentuk tubuh paling indah. Putih, mulus, dada besar, semuanya sempurna. Tubuh Gita mungkin belum terbentuk seindah Lena, namun ia mempunyai potensi kesana. Di usianya yang baru enam belas, ia mempunyai tubuh yang sama mulus, bersih, dan buah dadanya sudah mulai cukup menonjol, setidaknya sudah cukup layak untuk diremas remas. Satu kelebihan dari seorang Gita Gutawa, dia masih ‘fresh from the oven’, belum tersentuh lelaki manapun. She is still a virgin.
Dengan isyarat jari, Datuk Banteng  menyuruh keduanya mendekat. Datuk Banteng lalu mengambil sebuah pisang raja berukuran besar, mengupasnya dan memberikannya pada Gita.
“ini…buat pemula seperti kamu, sebaiknya latihan dulu dengan ini…..”
Gita menerima pisang itu dengan heran, tak mengerti maksud Datuk Banteng.
“dan buat kamu Lena, kamu akan mendapatkan ‘pisang’ yang sebenarnya….” kata Datuk Banteng.
Kursinya ia dorong mundur, celananya ia buka dan turunkan, mengeluarkan penisnya yang sudah tegang mengeras bagai pentungan. Lena menghela nafas, ia sangat paham apa maunya Datuk cabul di depannya ini. Tanpa banyak bicara, ia pun berlutut di antara kedua kaki Datuk Banteng.
“kamu Gita ….ikuti apa yang dilakukan Lena  dengan pisang itu….” kata Datuk Banteng sambil mengelus kepala Lena, “ awas ya….kalau pisang itu rusak, patah, apalagi sampai dimakan….kamu akan mendapat hukuman, paham???”
Gita mengangguk paham dan pasrah.
“bagus….tapi sebaiknya kamu lakukan itu sambil duduk….” Datuk Banteng menunjuk ke kursi yang tadi diduduki Gita, “tarik kursi itu kemari…..”
Gita menarik kursinya lalu duduk di dekat Datuk Banteng.
“ooo..oo…duduknya jangan rapat gitu dong…ayo, kakinya dibuka….”
Gita membuka sedikit kakinya.
“yang lebar…..ya…terus…kurang , ayo buka lagi…..nahhh..begitu kan lebih enak dilihat…hehehehe….”
Muka Gita memerah malu dan risih , karena posisi duduknya mengangkang, memperlihatkan vaginanya yang masih ‘tersegel’.
“bagus….bagus…..sekarang ayo kita mulai…..” Datuk Banteng bertepuk penuh antusias.
Lena menggenggam penis Datuk Banteng, mengocoknya sejenak, lalu kemudian dijilatinya. Dimulai dari ujung kepalanya, lidah Lena lincah bergerak melingkar dan memutari kepala penis tersebut. Lidahnya lalu perlahan bergerak turun, menyusuri batang keras hingga ke bawah lalu naik lagi juga dengan perlahan, mengulum kepalanya lagi, lalu bergerak turun dan naik lagi. Basah, hangat, dan nikmat.
Gita mengikuti apa yang dilakukan lena menggunakan pisang di tangannya. Dengan malu malu, ia menjilati pisang itu dari ujung yang terbuka, turun hingga ujung yang masih berkulit, lalu menjilat lagi naik, dan mengulum hati hati ujung pisangnya agar tak rusak. Karena medianya berbeda, apa yang dilakukan Gita, malah lebih mirip seperti sedang menjilati es krim yang mencair. Tapi itu bukan masalah besar buat Datuk Banteng. Ia tetap menikmati tontonan Gita menjilati batang pisang raja tersebut.
“ujungnya , say…jilati ujungnya…ya..oouhh…..”
Datuk Banteng menyuruh Gita menjilati pisang itu tepat di ujungnya. Gita melakukan itu dan secara sugestif menambahkan sensasi rasa geli pada penis Datuk Banteng yang sedang dikulum Lena. Di bawah, penis Datuk Banteng sudah masuk ke mulut Lena seluruhnya. Gadis cantik itu, menggerakan kepalanya maju mundur teratur.
“oouhhghh…yeeahh….teruss…ughh..teruss…yaaahh….” Datuk Banteng menggeram dengan nikmatnya.
Hisapan mulut Magdalena dan juga gelitikan lidahnya memang sungguh luar biasa. Datuk Banteng memegang dan mendorong kepala Lena, menyuruhnya untuk bergerak lebih cepat lagi. Lena memang mengeluarkan segala teknik yang ia tahu tentang oral sex untuk memuaskan pria ini. Bukan karena ia menyukainya, tapi lebih karena ia ingin semua ini cepat selesai. Tak hanya mulutnya yang sibuk mengulum, menjilat dan menghisap, tangan Lena pun ikut aktif mengocok batangnya atau memijat buah pelirnya. Tentu saja Datuk Banteng semakin keenakan. Gita pun melakuan hal serupa dengan pisang. Ia kulum, ia hisap dan ia jilati, meski pun rasanya risih dan aneh. Air mata mengalir di wajah cute-nya, tapi Gita telah berusaha sebisanya untuk tidak lagi menangis. Ia sadar, tangisan hanya membuang energinya sia sia. Sambil tetap mendorong kepala Lena, datuk menoleh pada Gita yang sedang mengulum pisang dan duduk mengangkang di dekatnya.Datuk Banteng mengangkat kakinya, menggelitiki vagina Gita Gutawa.
“oohh…j-jangan….jangaan…” Gita berusaha mendorong turun kaki Datuk Banteng.
Tapi percuma saja, Datuk Banteng malah melotot padanya, tanpa kata kata menyuruhnya untuk   kembali mengulum pisang itu.
Dengan vaginanya, digelitiki kaki Datuk Banteng, Gita tak bisa mengulum pisang itu setenang sebelumnya. Rasa geli yang dirasakannya membuat tubuh Gita terus menggeliat geliat, matanya pun terpejam merasakan kegelian yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Dan akibatnya pisang di tangannya pun tergigit patah.
“oohh….” Gita terpekik ngeri. Wajahnya pucat membayangkan hukuman seperti apa yang akan diberikan Datuk Banteng.
Datuk Banteng tak bicara apa apa, tapi air mukanya berubah datar, lalu kemudian tersenyum jahat.
Ia mendorong Lena menjauh, lalu bangkit dari kursinya, pergi menuju dapur. Ia tak berkata sepatah kata pun. Dan itu membuat Lena, apalagi Gita ketakutan.
“kak…sa—saya akan diapakan….???” tanya Gita cemas
Lena hanya menatap prihatin dan menggelengkan kepala. Apapun itu pastinya bukan sesuatu yang bagus. Tak lama kemudian , Datuk Banteng kembali. Ia tak sendiri , Bajul yang hanya bercelana dalam saja ikut bersamanya sambil menjinjing sebuah tas kecil
“hehehehe….seperti kataku tadi…kamu akan dihukum…!!! “ kata Datuk Banteng dengan nada mengintimidasi pada Gita Gutawa.
Gadis itu bergidik takut, memandang pada Lena, berharap sebuah pertolongan. Bajul menaruh tasnya di meja, lalu mengeluarkan segulung tali dari dalamnya.
“j-ja-jangan…s-saya mau diapakan..jangan…jangan…” Gita memohon ketakutan saat Bajul dan Datuk Banteng mengikatnya kedua tangannya di belakang kursi.
Gita berusaha berontak, namun tentu saja ia kalah tenaga. Setelah mengikat kuat Gita di kursi, selanjutnya Bajul mengeluarkan selotip lakban, gunting, dan dua buah ‘bullet vibrator’ yang bisa dinyalakan menggunakan remote kecil.
“oohh..j-jangan…jangan…..” Gita menggerakan tubuh dan menghentakan kakinya panik, saat ujung vibrator berbentuk peluru kecil itu, ditempelkan di kedua putingnya. Datuk Banteng tertawa tawa melihat kepanikan Gita, sedangkan Lena hanya bisa melirik kasihan tanpa berkata apa apa.
“hehehehe…nah , sekarang kita mulai hukuman kamu, anak nakal…hehehehe….”
Datuk Banteng memijit tombol on pada remote vibrator tersebut.
“aaaaahhh….aaahhhh…..j-j..aahhhh.www…..” Gita menjerit dan menggeliat geliat, tak tahan dengan getaran langsung vibrator di putingnya.
Ada sebuah perasaan geli yang aneh yang dirasakannya. Pikirannya seakan terbagi antara menikmatinya atau tersiksa karenanya. Beberapa saat Datuk Banteng menikmati memijit mijit tombol vibrator dan melihat tubuh Gita yang menggeliat geliat seperti itu. Apalagi kini gadis itu pun sudah kembali menangis. Penis Datuk Banteng pun semakin berdenyut tak sabar.
Remote vibrator ia lemparkan pada Bajul , “Jul…kamu urus dia ya….kasih dia sedikit ‘pelajaran’ dan ‘latihan’…hehehehe…”
“beres datuk….” kata Bajul sambil menangkap remote itu.
Ia lalu menurunkan celana dalamnya dan menyorongkan penisnya ke wajah Gita.
“buka mulut!” perintah Bajul
Wajah Gita semakin pucat. Mulutnya ia tutup rapat seraya menggeleng. Seandainya tangannya tak terikat, ia akan menutup mulutnya dengan tangan.
“hmmm…terserah kalo gitu….” kata Bajul sambil menyalakan kembali vibrator yang menempel di puting Gita.
“aaaaahh…hhhapppmmmhhh…”
Saat Gita membuka mulut karena tak tahan dengan getaran vibrator itu, Bajul dengan cepat menyusupkan penisnya masuk ke mulut Gita. Penis yang besar, tak sebanding dengan mulut yang kecil, pipi Gita pun terlihat menggembung saat Bajul mulai menggerakan pinggulnya mendorong penisnya maju mundur di dalam mulut penyanyi cantik Gita Gutawa. Datuk Banteng kini beralih pada Lena. Ia membawa gadis itu ke sebuah sofa merah besar di dekatnya. Sambil melepas pakaiannya sendiri, Datuk Banteng  memberi instruksi  apa yang harus dilakukan Lena. Lena kembali mengambil posisi berlutut di antara kedua kaki Datuk Banteng melanjutkan kembali oral sex-nya yang sempat tertunda nikmatnya seperti apa. Mungkin hanya Datuk Banteng yang tahu. Tapi dilihat dari ekspresi wajahnya, sepertinya sungguh luar biasa.
 “ayo , lebih semangat dong….jangan loyo begitu…..” kata Datuk Banteng  sambil meraih buah dada Lena dan meremasnya, memainkan putingnya.
Lena mendelik tak suka pada Datuk Banteng, walaupun kemudian kepalanya bergerak lebih cepat lagi menyuarakan suara decapan basah yang kian kentara.
“Lena , cukup …..kamu naik sini!!” Datuk Banteng menyuruh Lena naik ke pangkuannya.
Lena membuka pahanya dan dengan patuh duduk di pangkuan Datuk Banteng. Tangan Datuk itu mulai beraksi dari mulai mengelusi paha mulus Lena hingga merambat naik meremasi dengan gemasnya bukit kembar Lena yang begitu menonjol sempurna. Puting Lena semakin mengeras saat jari jari kasar Datuk Banteng memilinnya.
Mulut Datuk Banteng mendekati buah dada kiri dan menciuminya, menghisapnya bagai sedang bayi yang sedang lapar menyusu pada ibunya. Tangan kanannya turun menggelitiki bibir vagina Lena.
“ohh…eehmmmm…..” Lena tak bisa menahan erangannya saat buah dadanya dan vaginanya diserang sekaligus.
Mulut Datuk Banteng bergantian melumat buah dada kiri dan kanan Lena, buah dada yang menjadi banyak impian kaum pria. Tangannya yang menggelitiki vagina Lena mulai terasa basah.
“oouhhh…aahh….shhaah…..” Lena semakin mendesah tak tertahan sambil memegangi kepala Datuk Banteng.
Lena berusaha memalingkan wajah saat Datuk Banteng berusaha menciumnya, namun  pria itu semakin mempererat pelukannya. Dan ketika Datuk Banteng berhasil menciumnya, giliran tubuh Lena yang meronta. Tapi tentunya sia sia saja. Bibir sexy Lena dijilati Datuk Banteng dengan bernafsu, lidah pria itu memaksa untuk masuk lalu meliuk liuk di rongga mulutnya. Secara naluriah Lena membalas permainan lidah Datuk Banteng. Lidah mereka saling bertautan, desahan tertahan terdengar diantara percumbuan yang makin panas itu. Suka atau tidak, ciuman Datuk Banteng dan gelitikan di vaginanya membuat birahi Lena ikut naik. Tanpa sadar tangannya memeluk Datuk Banteng. Lena mengerang semakin lirih saat jari jemari pria itu bergerak keluar masuk vaginanya. Apalagi saat ciuman Datuk Banteng kian turun ke lehernya yang jenjang dan menghisap kulit putihnya yang mulus. Lena semakin mendesah, pipinya bersemu merah ketika merasakan lidah pria itu yang basah pada telinganya, menggelitik dan memancing gairahnya.
“oohhh…oohuhhh…aaahhhhhh…shhh…aauhhhh…hhaahhh…ahhhh” Lena  mengerang dan menggeliat merasakan tangan kasar menjamah bagian tubuhnya yang sensitif membuat birahinya semakin meledak-ledak.
Apalagi Datuk Banteng sekali lagi  dengan ganas mulai menjilati dan mengenyot payudara Lena. Terkadang Datuk Banteng juga menggigit-gigit puting payudara itu dengan bibirnya dan menyentil-nyentil puting buah dada Lena dengan lidahnya membuatnya mendesah merasakan kenikmatan seks yang makin menggelora.
“Ogh.. oohh…… ohh.. oohh..” Lena mendesah, antara mau dan tidak mau menerima perlakuan Datuk Banteng.Hal itu membuat pria itu kian bernafsu. Buah dada Lena dicengkeramnya dengan kasar seolah ingin membetot lepas payudara mulus yang membusung indah itu. Terus-menerus mendapat rangsangan hebat seperti itu akhirnya membuat pertahanan Lena akhirnya jebol juga.
“aaahaaaaaaahhhhh……” akhirnya, karena tak tahan lagi, Lena mengalami orgasme yang tak bisa ia tahan lagi.
Tubuh Magdalena melemas di dalam dekapan Datuk Banteng Kenikmatan luar biasa yang dialaminya membuat Lena pasrah menerima perlakuan Datuk Banteng selanjutnya. Datuk Banteng merebahkan tubuh Lena di sofa, kaki gadis itu ia buka lebar.
“j-jangan…..” kata Lena lirih namun tanpa perlawanan yang berarti.
“aaughh….awwww….” erang Lena dengan tangan terkepal saat penis Datuk Banteng mulai menyeruak masuk.
“aahhh…aahhhh…..” jeritan Lena semakin keras , tiap kali penis pria itu tertancap semakin dalam.
Datuk Banteng menggerakan pinggulnya maju mundur dengan ritmis dan teratur. Kadang pelan, kadang keras, kadang perlahan, kadang cepat. Ia sangat menikmati gesekan dan jepitan dinding vagina Lena yang terasa sempit meski bukan virgin. Respon Lena yang sesekali ikut menggoyangkan pinggulnya, membuat hentakan tubuh Datuk Banteng semakin menggila, membuat buah dada Lena yang menonjol sempurna ikut bergoyang goyang menggoda seirama. Tempo gerakan pinggul Datuk Banteng kemudian berubah pelan. Ia perlahan mendorong penisnya hingga amblas seluruhnya, lalu ditariknya sedikit dan didorong lagi. Setiap gesekan penis Datuk Banteng selalu direspon dengan desahan dan erangan kenikmatan oleh Magdalena. Datuk Banteng kembali melakukan genjotan dari perlahan hingga makin cepat. Tubuh Lena terguncang guncang, kepalanya mendongak ke atas, buah dadanya bergoyang goyang begitu menggoda, begitu erotis.
“aahh..ahhh….ooohh….aaahhhh…”
Desahan dan erangan keluar dari mulut Lena. Ia pun menjadi kian bernafsu, pinggulnya ikut bergoyang mengimbangi gerakan Datuk Banteng. Tubuh mulus Lena  kini basah oleh keringat, genjotan pria itu  kian lama kian gencar.
“aahh…oohhh…ahhh….sssh….aahhhh….”
Akhirnya setelah beberapa lama, Lena  mencapai puncak kenikmatan. Tubuhnya melengkung , kakinya menendang nendang bagai bayi, vaginanya berdenyut denyut. Dan tak lama berselang, Datuk Banteng mencapai orgasme juga, semburan sperma dengan deras menyembur mengisi rahim Lena.
“aahhhh……nikmatnya…..aaahhh…….” Datuk Banteng terlihat sangat puas sekali.
Ia lalu bangun meninggalkan tubuh Lena yang masih agak bersemu merah, lemas, dan berkeringat. Nafasnya masih putus putus.
“Bajul…..nih , bagian kamu…..mau gak…???”
“wahhh..dengan senang hati , datuk….” jawab Bajul lalu bergegas menghampiri Magdalena , dan langsung menindihnya, tak peduli gadis itu masih kelelahan.
“dan..untuk kamu , Gita sayang…..” Datuk Banteng tesenyum penuh misteri, “ ada kejutan buat kamu….hehehehehe…..”
Gita pun semakin pucat ketakutan.
 ***NAGA_LANGIT PRODUCTION***
HOTEL TRIGANA
Doni berjalan santai di halaman hotel, bersiul siul sambil memainkan kunci mobilnya. Hatinya sedang gembira, satu lagi skenario ‘black note’ telah berjalan mulus. Berawal dari Tika Putri saat syuting dulu, kini telah berlanjut pada Rizuki dan Franda di salah satu kamar hotel ini sedang menampilkan sebuah pertunjukan khusus yang Doni sebut ‘striptease magic’. Setelah ini Doni akan kembali fokus pada ‘Imron’dan misinya menghabisi ‘virus’ busuk negeri ini. Saat tiba di mobilnya, Doni mendengar langkah langkah ringan di belakangnya.sepertinya langkah kaki perempuan. Doni menoleh dan terkejut. Perempuan di belakangnya adalah Dita Anastasia, salah satu korban dari ‘black note’. Yang lebih mengejutkan ,Dita menangis terisak sambil menodongkan pistol ke arah Doni.
“D-dita…kamu…apa apaan nih….???”
“brengsek kamu Don….!!!! Hari bahagia aku berantakan gara gara kamu !!! masa depan aku hancur gara gara kamu….!!!!”
Doni tentu tak akan lupa dengan peristiwa hari pernikahan Dita yang telah dibuatnya kacau. Di bawah pengaruh ‘black note’ ,Dita tiba tiba mencium salah satu tamu prianya, lalu berlari keluar meninggalkan ruang resepsi dan menghilang entah kemana selama beberapa hari. Hanya masalahnya sekarang apa mungkin Dita mengetahui soal Black Note ??? rasanya tidak mungkin, darimana juga dia bisa tahu…..
“apa maksud kamu , dit..???”
“jangan pura pura Don…..aku udah tahu semuanya….aku tahu soal ‘black note’….!!!!”
Doni tak bisa menyembunyikan keterkejutannya ,”darimana kamu tahu…soal….black note…???”
“gak penting…..!!! yang jelas kamu sudah merusak masa depanku….impianku…!!!! sekarang kamu terima balasannya….!!!!”
Dita menarik pelatuknya tiga kali, mengirimkan tiga peluru ke dada Doni dan membuatnya jatuh ke tanah bersimbah darah. Sesaat setelah Doni roboh, sambil menangis sesenggukan, Dita mengarahkan pistol itu ke kepalanya sendiri. Ia memejamkan mata, menarik nafas dan menahannya, lalu menembakannya. Dita pun langsung roboh tak bernyawa. Sementara Doni, meski terkena tembakan tiga kali, ia tak langsung tewas. Untuk beberapa detik, ia sekarat meregang nyawa. Setidaknya cukup waktu bagi Doni untuk merasakan jika ada seseorang yang berusaha mengambil ‘black note ‘ yang disimpannya di balik saku dalam jaketnya. Dan di detik detik terakhirnya ia masih sempat melihat siapa orang yang mengambilnya. Dan Doni pun tewas dengan kepenasaran yang tak terjawab. Tak sedikitpun ia terpikir jika orang itu punya niat untuk mengambil ‘black note’ di tangannya.
 ***NAGA_LANGIT PRODUCTION***
****************

Tidak ada komentar:

Posting Komentar