Di antara rombongan itu, Alya adalah gadis yang paling pendiam.
Sifatnya itu membuat dirinya terlihat begitu anggun dan berwibawa, tanpa
terkesan angkuh. Padahal kalau mau jadi angkuhpun orang menganggap hal
itu tidak terlalu berlebihan kerena Alya punya semua hal yang bisa
dibanggakan. Alya adalah anak seorang pengusaha kaya, selain itu dia
sendiri juga sangat cantik dan menawan. Wajahnya yang bulat telur
ditambah hidungnya yang mancung menegaskan kecantikannya yang tidak
kalah jika dibandingkan dengan artis sinetron atau fotomodel. Yang
paling disukai dari diri Alya adalah matanya yang sangat bening dan
bercahaya dan giginya yang gingsul di sebelah kiri yang jika tersenyum
akan menampakkan deretan gigi yang seputih mutiara. Rambutnya yang hitam
legam dimodel shaggy sebatas pungung, bisanya selalu dibiarkan
tergerai.
Sore itu, Alya terlihat segar setelah mandi. Tubuhnya yang langsing
tapi padat setinggi 167 cm terlihat seksi terbalut baju berleher rendah
lengan panjang warna biru muda. Kakinya yang sekal terbalut celana jins
ketat biru.
“Rapi amat,” tegur salah satu teman pria satu pondokannya. “Mau pergi ke mana?”
Alya menoleh sesaat menatap temannya.
“Mau ke tempatnya sekretaris desa.” Jawab Alya ringan. “Soalnya tadi
siang aku mau ngambil data di balai desa tapi datanya disimpan sama
Sekdes itu.”
“Kalau gitu kamu bawa kunci nih.” Temannya melemparkan sebuah kunci
pintu. ”Soalnya semua juga pada pergi sampai besok. Jadi malam ini kamu
sendirian di sini.”
“Sendiri?” Alya keheranan. “Kalian pada mau kemana?”
“Ada urusan ke kota sebentar.” Jawab temannya sambil tersenyum.” Nggak lama kok. Jadi jangan takut ya tidur sendiri.”
Alya mencibir sambil berlalu, diiringi tawa kecil temannya. Dia
bergegas pergi sebelum hari menjadi gelap, dia tahu kalau hari sudah
gelap akan sulit baginya untuk pulang. Dia berjalan dengan agak
tergesa-gesa. Beberapa penduduk yang menyapanya hanya dibalasnya
sekilas.
Rumah Sekretaris desa sebenarnya tidak terlalu jauh dari pondokan KKN
tempatnya menginap. Tapi rumah itu menjorok ke dalam ditutupi oleh
kebun dan pohon yang sangat lebat membuatnya tidak terlihat dari jalan.
Apalagi rumah itu juga terpisah agak jauh dari rumah yang lain. Masuk ke
pekarangan tumah itu membuat Alya serasa masuk ke sebuah pemakaman tua.
Bau daun lembab terasa begitu kental di sekitarnya. Saat melangkahkan
kakinya di atas tanah yang tertutup daun-daun kering itu sebenarnya
perasaan Alya sudah mulai tidak enak. Dalam hatinya dia menyesal kenapa
dia harus ke rumah seseram ini seorang diri, tapi Alya juga tidak dapat
menyalahkan teman-temannya.
Alya berdiri ragu-ragu di depan rumah itu. Rumah separo kayu separo
batu itu terlihat kusam dan tua. Lumut yang tumbuh di tembok-temboknya
makin mengesankan kalau rumah itu mirip sekali dengan pemakaman tua
seperti yang biasa dilihatnya dlam film-film horor.
Alya mengetuk pintu rumah yang terbuat dari lembaran kayu kokoh itu
beberapa saat. Tak berapa lama pintu itu terbuak. Seorang pria tua
berdiri di depan Alya. Pria itu bertubuh gemuk dan pendek, jauh lebih
pendek dari Alya sehingga terkesan Alya berdiri bersama orang cebol.
Kepalanya sudah nyaris botak, hanya sebagian rambut di dekat telinga
saja yang masih ada, itupun semuanya sudah memutih. Sebuah kumis sebesar
pensil melintang di wajahnya yang gemuk dan berminyak. Dialah Sarta,
sekretaris desa.
“Neng Alya kan..?” kata Pria tua itu mengagetkan Alya yang dari tadi terkesima dengan penampilannya.
“Eh.. iya Pak Sarta..” jawab Alya tergagap. Dalam hatinya Alya juga
bertanya kenapa tiba-tiba dirinya dilanda kegugupan yang luar biasa. Pak
Sarta itu mempersilakan Alya masuk ke rumahnya. Alya tertegun menatap
ruang depan tempat sekarang dia dan Pak Sarta duduk. Ruangan itu tidak
terlalu besar, didominasi oleh meja dan kursi kayu tua yang sekarang
mereka duduki. Tidak ada hiasan apa-apa di dinding rumah sebagian
terbuat dari kayu itu, kecuali sebuah tengkorak kerbau besar dengan
tanduknya yang sangat panjang melengkung mencuat ke atas.
“Maaf ya Neng, rumahnya kotor.” Kata Pak Sarta pelan. “Soalnya istri
sama anak saya pergi ke rumah orang tuanya, sudah seminggu lebih. Jadi
saya sendirian di sini.”
Alya hanya menjawabnya dengan ‘O’ pendek karena tidak tahu harus ngomong apa.
“Saya sudah siapkan semua Neng.” Pak Sarta menunjuk ke tumpukan map
dan kertas yang ada di meja. “Sesuai dengan permintaan Neng Alya.”
Pak Sarta lalu membuka map di depannya satu-persatu dan menyerahkannya pada Alya.
“Yang ini data penduduk, yang ini data tanggal kelahirannya, yang ini
data kepemilikan harta benda…” Pak Sarta memilah-milah kertas yang tadi
tersusun rapi sehingga sekarang semuanya bertebaran di atas meja.
Keduanya mulai terlibat pembicaraan serius mengenai data-data desa yang
ada di meja. Alya mendengarkan setiap penjelasan Pak Sarta dengan serius
sambil sesekali menunduk melihat data yang dimaksudkan. Tanpa
disadarinya, setiap kali dia menunduk, bajunya yang berleher rendah
terjuntai ke bawah membuat sebuah celah lebar yang memungkinkan siapapun
yang ada di depannya untuk melihat ke dalamnya. Pak Sarta tertegun tiap
kali menatap apa yang ada di balik baju itu. Sepasang payudara putih
mulus yang terbungkus BH warna putih tipis berenda begitu jelas terlihat
menggantung seperti buah melon lunak yang siap dimakan. Disengaja atau
tidak, gejolak birahi Pak Sarta yang sudah seminggu lebih ditinggal
istrinya mudik langsung melonjak tinggi membuat tubuhnya panas dingin
dan gemetar. Celakanya, sampai sekian lama dipelototi, Alya tidak juga
sadar kalau cara berpakaiannya membuat Pak Sarta blingsatan menahan
dorongan seksualnya yang setiap saat siap meledak.
Alya sendiri kemudian mulai memperhatikan kalau pandangan Pak Sarta
mulai tidak fokus lagi. Dilihatnya Pak Sarta kelihatan gelisah seperti
sedang menyembunyikan sesuatu.
“Pak..” Alya menegur pelan. “Pak Sarta nggak apa-apa kan?”
Untuk beberapa detik Pak Sarta seperti melamun seoah pikirannya
berada di tempat lain. Baru setelah Alya mengulangi pertanyaannya agak
keras Pak Sarta langsung tersadar.
“Eeh.. iya.. A.. apa tadi..?” tanyanya gugup menyembunyikan keadaan dirnya yang sesungguhnya.
“Bapak nggak sakit kan..?” tanya Alya lagi. “Dari tadi saya lihat Bapak gelisah sekali.”
“Eh.. tidak.. um.. yah.. “ Pak Sarta menjawab kebingungan. “Memang..
tadi sih Bapak agak tidak enak badan.” Jawabnya berbohong. Sesekali
pandangannya melirik ke tubuh Alya.
“Wh.. saya jadi nggak enak sudah mengganggu istirahat Bapak.” Kata Alya.
“Oh.. nggak.. nggak apa-apa kok Neng.” Pak Sarta menjawab cepat.
“Saya senang bisa membantu Neng Alya.” Katanya tenang meskipun pada saat
yang sama, otaknya mulai sibuk memikirkan sebuah siasat. Maka setelah
mambulatkan tekadnya, Pak Sarta berdiri dari duduknya.
“Tunggu sebentar ya Neng, Bapak ambilkan minum dulu.” Kata Pak Sarta
sambil berlalu. Alya sempat mencegah, tapi Pak Sarta sudah terlanjur
masuk ke ruangan sebelah dalam.
Hampir sepuluh menit lamanya Pak Sarta di ruangan dalam, terdengar
suara berkelontangan seperti benda logam jatuh ke lantai. Pak Sarta
kemudian keluar sambil membawa dua buah gelas berisi teh hangat yang
masih mengepulkan uapnya.
“Jadi ngerepotin nih Pak..” Alya tersenyum malu sambil menerima gelas yang disodorkan padanya.
“Ah.. cuma air teh ini..” jawab Pak Sarta sambil tersenyum aneh. “Diminum Neng.”
“Eh.. iya Pak..” kata Alya yang tidak menaruh curiga sedikitpun. Dia
memang sebenarnya sudah haus karena obrolan panjang lebar tadi.
Diminumnya seteguk air teh dari gelasnya, rasa hangat mengalir di dalam
tenggorokannya. Tanpa disadari, Pak Sarta tersenyum memandang setiap
gerakan Alya. Alya kemudian minum beberapa teguk lagi membuat isi
gelasnya berkurang separuh.
Mereka kemudian meneruskan membahas data-data desa, tapi perlahan
Alya mulai merasakan ada yang salah dengan dirinya. Matanya sekarang
mulai menjadi berat sekali, tubuhnyapun mendadak menjadi lemas dan
pandangannya mulai mengabur membuat pemandangan yang ada di
sekelilingnya menjadi bayangan abu-abu samar. Dalam keadaan itu, Alya
sempat melihat Pak Sarta terenyum lebar padanya sebelum akhirnya Alya
terkulai pingsan di meja.
Alya tidak tahu apa yang dilakukan oleh Pak Sarta di dalam. Pak
Sarta, yang didorong oleh keinginan nafsu liarnya, mencampurkan obat
tradisional yang tidak berbau dan berasa ke dalam minuman Alya.
Pemandangan payudara Alya yang indah yang dilihatnya lewat kerah baju
Alya yang menjuntai membuat dorongan seksualnya bangkit dengan sangat
menggebu, hal itu yang membuatnya nekad melaksanakan rencana dadakan
yang disusunnya dalam sekejap.
Perlahan Alya membuka matanya, kepalanya masih terasa berat,
pandangannya masih kabur, membuatnya tidak bisa melihat dengan begitu
jelas. Alya hanya merasa keadaannya sekarang menjadi tidak biasa. Dia
merasa saat ini sedang terbaring terlentang di atas sesuatu alas yang
agak keras, semacam kasur tua yang sudah tidak bisa menahan berat badan
secara sempurna. Dirasakannya pula posisi tangan dan kakinya seperti
terlentang ke empat arah yang berbeda. Saat kesadarannya pulih
sepenuhnya barulah Alya terkejut bukan main. Dia berada dalam sebuah
kamar tertutup. Tubuhnya terbaring di atas sebuah ranjang kayu beralas
kasur tua dengan posisi tangan dan kaki terpentang ke empat penjuru
membuat tubuhnya seperti membentuk sebuah huruf X di atas kasur. Alya
mencoba menarik tangan dan kakinya tapi tidak bisa. Dia baru sadar kalau
kaki dan tangannya diikat oleh seutas tali yang ditambatkan pada
pingiran ranjang. Tali itu meregang kuat sekali merentangkan tangan dan
kakinya sehingga membuat Alya nyaris tidak bisa bergerak. Alya perlahan
merasakan hembusan angin seperti membelai langsung pada kulit pahanya.
Seketika dia menjerit. Celana panjangnya ternyata sudah lepas dari
kakinya. Dia hanya memakai baju longgar dan pakaian dalam.
Alya meronta kuat-kuat mencoba menarik tali yang mengikat tangan dan
kakinya, tapi sia-sia, tali itu terlalu kuat untuk tenaganya yang
terbatas.
“TOLONG!” Alya menjerit sekuat tenaga.dengan harapan ada yang akan datang menolongnya.
“TOLONG!” Alya kembali berteriak sekuatnya sampai tenggorokannya
seakan pecah. “To……” Sekali ini teriakan Alya berhenti di tengan jalan
ketika dilihatnya Pak Sarta masuk ke kamar dan menutup pintunya pelan
nyaris tanpa suara.
“Eh.. sudah bangun ya Neng..” katanya seolah tidak terjadi apa-apa pada Alya.
“Apa maksudnya ini Pak..? Kenapa saya dibeginikan..?” Alya bertanya
dengan nada bergetar. Rasa takut mulai menjalari tubuhnya membuat
badannya gemetar.
Pak Sarta dengan santainya duduk di tepi ranjang tepat di samping Alya.
“Tidak apa Neng, Bapak tidak akan menyakiti Neng Alya kalau Neng Alya
tidak melawan.” Kata Pak Sarta kalem sambil menyeringai seperti seekor
srigala lapar menghadapi mangsanya. “Bapak cuma minta sesuatu dari Neng
Alya.”
Tubuh Alya seperti disengat listrik, Pak Sarta berkata demikian
sambil membelai-belai pahanya yang putih dengan gerakan lembut, seolah
sangat menikmati setiap jengkal kulit paha Alya yang mulus.
“Jangan Pak.. jangan.. atau saya akan teriak.” Alya mencoba mengancam.
“Teriak saja Neng. Bapak tidak keberatan kok..” Pak Sarta berkata
kalem. “Tapi Bapak yakin tidak ada yang mendengar Neng teriak.”
“TOLONG!” Alya melaksanakan ancamannya. “TOLONG SAYA!”
Tapi setelah berkali-kali berteriak sampai serak, tidak ada
sesuatupun yang terjadi, tidak ada yang datang untuk menolongnya.
Jangankan manusia, hewanpun tidak ada yang lewat di sekitar situ. Alya
makin putus asa. Benar kata Pak Sarta, sampai suaranya habis tidak ada
satupun yang menolongnya. Perlahan Alya mulai tegang dan ketakutan, air
matanya meleleh karena putus asa.
“Benar kan Neng.. tidak ada yang dengar..” kata Pak Sarta penuh
kemenangan. “Saya ini Sekretaris Desa Neng, orang kedua setelah Pak
Kades, jadi saya punya pengaruh di sini, warga di sini tahu siapa saya,
karena itu mereka tidak akan berani ikut campur apapun yang terjadi di
rumah saya.”
Kata-kata itu bagai vonis kematian bagai Alya. Ketakutannya makin
menjadi-jadi, dia makin putus asa sehingga tidak bisa lagi berpikir
jernih.
“Jangan Pak.. Ampun… jangan sakiti saya.” Alya hanya bisa menohon dengan nada memelaskan.
“Bapak kan sudah bilang Neng, kalau Neng menurut, Bapak nggak akan
menyakiti Neng.” Kata Pak Sarta sambil pelan-pelan membelai rambut dan
wajah Alya. “Bapak sudah seminggu lebih ditinggal istri Neng, Bapak cuma
minta Neng mau Bapak ajak begituan.” Katanya sambil menunjuk ke arah
selangkangan Alya.
“Jangan Pak.. Jangan.. Jangan lakukan itu.. saya mohon..” Alya
menangis sejadi-jadinya. Tapi Pak Sarta yang sudah kehilangan akal
sehatnya makin tidak sabar menghadai Alya yang melawan. Maka dia segera
naik ke atas ranjang. Dengan gerakan pelan dia mulai membuka kancing
baju Alya satu persatu dan menyingkapkannya ke samping. Seketika itu
payudara Alya yang masih terbungkus BH putih tipis mencuat menggemaskan.
Alya terbaring dengan tubuh hanya tertutup BH dan celana dalam tipis.
“Ohh.. pentil yang baguss..” kata Pak Sarta tanpa menghiraukan
tangisan Alya. Perlahan diremasnya payudara Alya dari luar. Alya
menegang merasakan sentuhan tangan Pak Sarta yang kasar pada kedua belah
payudaranya. Selama ini hanya pacarnya saja yang pernah menyentuh
payudaranya. Sekarang seorang tua buruk rupa dan tidak tahu diri yang
melakukannya.
“Ohhh.. pentil yang lembut.” Ujar Pak Sarta dengan ekspresi begitu
menikmati setiap jengkal payudara Alya. Lalu tangannya merogoh ke dalam
mangkuk BH Alya dan meremas payudara itu dengan lembut.
“Oohh….” Alya merintih lirih saat tangan Pak Sarta benar-benar
menyentuh payudaranya. Sebuah sensasi menyenangkan segera menjalari
tubuhnya yang menegang.
“Ohh.. lembut sekali..” Pak Sarta mengomentari payudara Alya. “Mimpi
apa ya semalam, bisa dapat pentil sebagus dan selembut ini?” gumamnya
tidak jelas. Alya hanya bisa menangis mendapat perlakuan buruk itu.
Remasan tangan Pak Sarta pada payudaranya terasa menyakitkan, tapi
herannya Alya juga merasakan sebuah perasaan aneh. Perasaan yang
mengatakan sentuhan tangan ini berbeda dengan sentuhan tangan pacarnya,
karena itu meskipun mulutnya menolak, tapi tubuh dan pikirannya berkata
lain. Perasaan itulah yang menyebabkan Alya membiarkan perlakuan Pak
Sarta pada payudaranya.
“Ohh.. sekarang kutangnya dibuka ya Neng..” kata Pak Sarta pelan.
Alya hanya diam saja mendengarnya. Sebagian pikirannya sudah mulai
dirasuki nafsu birahi yang perlahan meninggi. Melihat hal itu Pak Sarta
makin bersemangat, dengan satu sentakan kasar, BH Alya ditariknya sampai
putus. Sekarang payudaranya mencuat telanjang, begitu putih, mulus dan
kenyal siap untuk dinikmati oleh Pak Sarta.
“Ohhh.. “Pak Sarta terpesona mengagumi bentuk payudara Alya yang
indah. “Ini baru yang namanya pentil.. sudah montok, putih, mulus
pula..” Lalu pelan-pelan dirabanya kedua belah payudara mulus itu,
kemudian dengan gerakan seperti orang mencuci baju, payudara Alya
diremasnya dengan kekuatan penuh.
“Ahhk..” Alya menegang, tubuhnya melengkung ke atas membuat
payudaranya makin membukit, hal itu tidak disia-siakan oleh Pak Sarta,
dia makin gencar eremas-remas payudara Alya. Lalu pelan-pelan giliran
bibirnya yang berkumis tebal yang maju, dengan gerakan lambut,
dijilatinya kedua puting payudara Alya dengan lidah dan bibirnya,
sesekali dikulumnya puting payudara itu seperti gerakan bayi yang minum
susu ibunya. Gerakannya sangat lembut membuat Alya terlena. Perlahan
desahan nafasnya mulai tidak teratur, gerakannya juga mulai liar.
Beberapa kali Alya melenguh penuh perasaan saat bibir Pak Sarta mengulum
puting payudaranya.
Perlahan Pak Sarta mulai mengarahkan sentuhan tangan dan bibirnya ke
bagian bawah tubuh Alya menyusuri perut Alya yang licin dan berhenti di
selangkangan Alya yang terkuak lebar. Perlahan digosoknya begian
selangkangan Alya dengan jarinya, sentuhan jari pada bibir vaginanya
membuat Alya menjerit tertahan.
“Bapak pingin tahu nih gimana sih bentuknya tempik cewek kota.” Maka
dengan gerakan kasar, Pak Sarta merobek celana dalam Alya, celana itu
sangat tipis dan nyaris transparan sehingga tidak perlu tenaga besar
untuk merobeknya. Skeran Alya sudah sempurna bertelanjang bulat.
“Uoohh..” Pak Sarta terpana melihat belahan bibir vagina Alya yang
masih sempurna, tidak ada sedikitpun rambut di sana karena Alya rajin
mencukur rambut kemaluannya. “Tempiknya bagus bangeet.. Neng pasti belum
prnah ngentot ya.. tempiknya masih bagus nih..”
Alya menggeleng ketakutan, dia memang belum pernah melakukan hubungan
badan. Paling jauh, dia dan pacarnya yanga melakukan petting, itupun
masih dengan celana dalam terpasang.
“Belum pernah ngentot? Kalau bagitu bapak beruntung bisa memperawani
cewek kota yang secantik Neng.” Kata Pak Sarta dengan senyum puas. Dia
lalu menunduk menempatkan wajahnya tepat di depan liang vagina Alya yang
terbuka. Matanya menatap tajam kearah kemaluan yang sudah basah itu,
hembusan nafasnya makin terasa bersamaan dengan wajahnya yang makin
mendekat.
“Aahhh…Pak !” desahan halus keluar dari mulut Alya saat Pak Sarta
menyapukan lidahnya pada bibir kemaluannya. Gerakan lidah Pak Sarta
seperti ular yang menggeliat menyabu seluruh permukaan bibir vagina
Alya. Alya merintih merasakan tubuhnya seperti didesak oleh kekuatan
dari dalam, seperi gunung berapi yang tersumbat. Hal itu membuatnya
makin tidak terkendali, desahannya sudah berubah dari desaha ketakutan
menjadi desah nikmat.
Lidah Pak Sarta semakin liar saja, sadar kalau korbannya sudah mulai
goyah, kini lidah itu memasuki liang vagina Alya dan bertemu dengan
klitorisnya. Badan Alya bergetar seperti tersengat listrik dengan mata
merem-melek Bukan saja menjilati, Pak Sarta juga memutar-mutarkan
telunjuknya di liang itu, sementara tangan lainnya mengelusi paha dan
pantatnya yang mulus.
Permainan mulut Pak Sarta pada daerah yang paling pribadinya itu mau
tidak mau membawa perubahan pada dirinya. Geliat tubuhnya sekarang tidak
lagi menunjukkan perlawanan, dia nampak hanyut menikmati perlakuan Pak
Sarta, hati kecilnya menginginkan Pak Sarta meneruskan aksinya hingga
tuntas. Dibawah sana Pak Sarta makin meningkatkan serangannya menjilat
dan mengisap vaginanya.
“Mmmhh…tempiknya Neng emang hebat banget, rajin dirawat yah ?” gumam
Pak Sarta ditengah aktivitasnya. Alya tidak mendegarkan ocehan Pak
Sarta, seluruh perasaannya kini tertumpah pada sensasi yang
didapatkannya dari perlakuan Pak Sarta. Sepuluh menit kemudian, tanpa
dapat ditahan lagi cairan pelumas membanjir keluar dari vaginanya
diiringi erangan panjang, tubuhnya menggelinjang dan menegang tak
terkendali.
“AHHHKKHHH…” diirngi jeritan tertahan, Alya mengalami orgasmenya yang
pertama, perasaannya bagaikan gunung berapi yang sumbatnya telah lepas,
meledak dengan begitu dahsyat melontarkan apa yang sedari tadi
ditahannya.
Tubuh Alya kembali lemas dengan nafas terengah-engah, sensasi
orgasmenya benar-benar membuat tubuhnya seperti melayang di angkasa.
Melihat itu Pak Sarta makin yakin kalau Alya sudah sepenuhnya ada di
dalam genggamannya. Maka dia mulai membuka pakaiannya sampai telanjang,
dn penisnya yang sedari tadi memang sudah menegang sekarang mengacung
begitu sangar di hadapan Alya. Perlahan Pak Sarta mulai menindih tubuh
mulus Alya yang basah olah keringat. Aroma parfum mahal yang dipakai
oleh Alya membuat nafsu Pak Sarta makin menggelora. Perlahan diciumnya
bibir Alya dengan lembut beberapa kali, lalu dipeluknya tubuh mulus itu
sambil berusaha mendesakkan penisnya di kemaluan Alya.
“Oohhh…..” Alya merintih menahan nyeri saat penis besar itu menyeruak
ke dalam kemaluannya yang sempit, demikian juga Pak Sarta meringis
menahan sakit merasakan penisnya tergesek dinding vagina Alya. Dengan
beberapa kali gerakan tarik dorong yang keras maupun lembut, penis itu
akhirnya terbenam seluruhnya di dalam vagina Alya. Mata Alya sudah basah
oleh air mata, tangisan yang disebabkan rasa putus asa, nyeri, dan
ketidakberdayaannya dalam pelukan seorang pria tua.
“Ohh.. masuk juga akhirnya..” Pak Sarta mendengus lega. “Gila, tempiknya Neng Alya seret banget lho..”
Lalu Pak Sarta mulai menggerakkan pinggulnya maju mundur, mula-mula
pelan, tapi setelah beberapa saat setelah dirasakannya vagina Alya
terbiasa menampung penisnya, gerakan Pak Sarta makin teratur, Vagina
Alya yang masih sempit mulai licin dan lancar meskipun masih sangat
menjepit. Pak Sarta melakukan persetubuhan dengan gerakan yang liar,
kadang pelan dan lembut, kadang kasar dan sangat cepat seperti dikejar
setan. Gerakan-gerakan liar itu membuat Alya makin tersapu oleh sensasi
liar di dalam tubuhnya. Setelah mengalami orgasme, desakan seksualnya
menjadi makin liar mambuatnya terlihat sangat menikmati persetubuhannya
dengan Pak Sarta.
Setelah hampir sepuluh menit mereka bersatu, Alya tidak tahan lagi,
dorongan nafsu seksualnya sudah mangalahkan akal sehatnya, diapun
mengerang dan mendesah seirama gerakan penis Pak Sarta yang menggenjot
vaginanya.
“AAAAhhhhhh…..”Alya mengerang keras, dia kembali mengalami orgasme,
meskipun tidak sehebat yang pertama, tapi cukup kuat untuk membuat
vaginanya berdenyut kencang. Pak Sarta merasa penisnya seperti
dicengkeram tangan baja yang membetotnya seperti mau dicopot dari
badannya. Sensasi jepitan vagina Alya yang begitu kuat membuatnya tidak
tahan lagi.
“AAAAhhh mau keluar nih, aaaahhhhh… Bapak mau keluar nih…..” erang
Pak Sarta kuat-kuat, dijambaknya rambut Alya, lalu dengan satu dorongan
terakhir yang membuat penisnya membenam total di dalam vagina Alya, Pak
Sarta melepaskan orgasmenya, menyemburkan sperma yang begitu banyak ke
dalam rahim Alya.
Tubuh-tubuh telanjang itu terkulai lemas saling bertumpuk,
menciptakan pemandangan yang sangat menggairahkan dimana sosok Alya yang
putih mulus dan bagitu ramping ditindih oleh tubuh gendut dan hitam Pak
Sarta.
Setelah puas mereguk kenikmatan birahi dari tubuh Alya yang sexy itu,
Pak Sarta kemudian bangkit dari ranjang. Diliriknya tubuh telanjang
Alya yang terikat dan tergolek tanpa daya di ranjang. Pak Sarta tertegun
sambil sekaligus senang ketika dia melihat bercak darah di sekitar
selangkangan Alya. Berarti Alya memang benar-benar masih perawan sebelum
diperkosa olehnya. Karena itulah Pak Sarta kemudian mencium kening Alya
sambil berujar, “Terima kasih Neng sudi memberikan keperawanannya sama
Bapak.”
Alya hanya bisa menangis mendengarnya, kesadarannya perlahan pulih,
membuat dirinya merasa diperlakukan secara hina. Tapi dalam keadaan
seperti ini, Alya benar-benar tidak sanggup melawan keinginan Pak Sarta.
Pak Sartapun yakin kalau Alya tidak akan melawannya lagi, karena itulah
dia memutuskan untuk melepaskan tali yang mengikat tangan dan kaki
Alya. Alya sendiri tidak berbuat apa-apa meskipun dirinya sudah tidak
terikat. Dia hanya bisa tergolek di atas ranjang, menunggu nasib
selanjutnya.
Melihat tubuh yang mulus dan telanjang itu tidak berdaya di atas
ranjang rupanya membuat birahi Pak Sarta kembali meninggi. Masih dalam
keadaan bugil, Pak Sarta mengocok-ngocok penisnya sendiri, lalu dia
kembali menaiki ranjang. Ditariknya tangan Alya sehingga Alya sekarang
tersimpuh di ranjang. Tiba-tiba Pak Sarta menyorongkan penisnya yang
setengah berdiri ke wajah Alya.
“Sekarang Neng Alya tolong emut punya Bapak dong..” kata Pak Sarta
sambil menyodorkan penisnya yang hitam ke wajah Alya dengan gaya santai.
Alya menggelengkan kepalanya dengan ekspresi jijik melihat penis yang legam itu seperti pistol yang menodong wajahnya.
“Jangan takut Neng, entar juga enak kok..” kata Pak Sarta masih
dengan gaya santai, seolah menyodorkan permen kepada anak kecil. Alya
kembali meneteskan air mata menggeleng, hal itu membuat Pak Sarta tidak
sabar, ditariknya rambut Alya sampai wajahnya mendongak, lalu
digesek-gesekkannya penisnya ke wajah Alya. Alya pelan-pelan menurut,
dibukanya mulut mungilnya dangan enggan, lalu seperti menelan permen
besar, penis Pak Sarta meluncur masuk ke mulutnya. Terasa ada cairan
sedikit pada ujungnya, kemudian dihisap dan dikulumnya penis itu dengan
lembut, sesekali Alya mengocok-ngocok penis itu dengan tangannya juga,
lama kelamaan Alya mulai terbiasa dengan penis Pak Sarta dan mulai dapat
menyesuaikan diri, Alya menjilati samping-sampingnya hingga ke buah
pelirnya, Alya bahkan memainkan ludahnya sedikit di penis itu, kemudian
Alya kembali memasukkan kepala penis itu ke mulutnya. Pak Sarta mendesah
merasakan kehangatan mulut Alya, sentuhan lidahnya memberi sensasi
nikmat padanya.
“Uuhhh…gitu Neng, enak…mmmm !” gumamnya sambil memegangi kepala Alya
dan memaju-mundurkan pinggulnya. Alya merasakan wajahnya makin tertekan
ke selangkangan dan buah pelir Pak Sarta yang berbulu lebat itu, penis
di dalam mulutnya semakin berdenyut-denyut dan sesekali menyentuh
kerongkongannya.
Pak Sarta yang merasakan kehangatan dari bibir dan mulut Alya makin
meledak, lalu dengan menahan kepala Alya diselangkangannya menggunakan
kedua tangannya, dengan kasarnya Pak Sarta menggerakkan pinggulnya maju
mundur sehingga penis itu menggenjot mulut Alya.
“Aggh..aggh… .” suara Alya terdengar tersedak oleh penis Pak Sarta.
Tangan Alya berusaha menahan pinggul Pak Sarta agar tidak bisa memompa
penis besar itu ke dalam mulutnya. Tapi usaha Alya sia-sia saja, Pak
Sarta dengan kuat mencengkeram kepala Alya dan mennyodok-nyodokkan
penisnya dengan kasar membuat Alya menggelepar berusaha untuk bernafas
dengan baik
Sekitar sepuluh menit lamanya dia harus melakukan hal itu, sampai
Pak Sarta menekan kepalanya sambil melenguh panjang. dirasakan
sebelumnya. Pak Sarta masih terus menggenjotnya selama beberapa menit ke
depan, dan akhirnya dia pun mencabut penisnya lalu buru-buru mendekati
wajah Alya.
“Arrghhh… Oohhhh…” Pak Sarta kembali melenguh bagai banteng terluka,
seketika Aly amerasakan wajahnya tersiram oleh cairan hangat yang kental
dan lengket dan berbau. Pak Sarta menyemprotkan spermanya ke wajah Alya
dengan deras. Cairan putih kental pun berceceran membasahi wajah dan
rambut gadis itu.
“Ohhhh..” lenguh Pak Sarta yang kali ini benar-benar puas telah
berhasil melepaskan keinginan seksualnya pada gadis cantik itu. Pak
Sarta akhirnya terkapar di ranjang karena kelelahan, dibiarkannya Alya
yang terdiam sambil menangis.
Akhirnya, dengan tubuh gemetar kerena sakit dan kelelahan, Alya
mencoba bangkit dari ranjang,dia mencoba mencari pakaiannya, tapi
satu-satunya yang ada hanyalah bajunya yang longgar, itupun dalam
keadaan berantakan, celana panjangnya hilang entah kemana sementara
pakaian dalamnya sudah menjadi cabikan-cabikan kain yang tidak mungkin
bisa dipakai lagi. Dengan tertatih-tatih Alya menuju ke kamar mandi, di
sana dia membersihkan bekas-bekas perkosaan yang baru saja dialaminya.
Tangisnya kemudian meledak di kamar mandi. Dirinya merasa sangat hina,
apalagi membayangkan kalau dia hamil akibat perkosaan ini. Alya tidak
bisa membayangkan dirinya yang anak orang kaya dihamili oleh orang yang
status sosialnya teramat jauh darinya. Alya lalu mencoba keluar dari
rumah Pak Sarta, tapi seluruh jalan keluar sudah dikunci oleh Pak Sarta.
Akhirnya Alya hanya bisa duduk di sudut ruang tengah sambil memeluk
lututnya, kemudian karena kelelahan dia akhirnya tertidur.
Tapi belum lama Alya tertidur, sebuah usapan halus pada rambutnya
membuat Alya terbangun, dilihatnya Pak Sarta yang hanya bercelana kolor
berdiri di depannya. Alya merapatkan tubuhnya ke tembok batu dingin di
belakangnya dengan ekspresi ketakutan.
“Nggak apa-apa Neng, Bapak Cuma mau ngajak Neng Alya makan,” kata Pak
Sarta lembut, entah kelembutannya benar-benar tulus atau sekedar
pura-pura. Alya yang memang lapar akhirnya menurut dibimbing Pak Sarta
ke meja makan. Makanan yang hangat terhidang di atas meja membuat perut
Alya mendadak berkeruyuk. Diapun mulai makan tanpa mempedulikan apa-apa.
Seperti ada tenaga baru yang mengaliri tubuh Alya yang lemas setelah
persetubuhannya dengan Pak Sarta begitu dia makan. Entah apa bumbu yang
dimasukkan oleh Pak Sarta di dalam makanan yang mereka makan, rasanya
seperti ada yang menyalakan api unggun di dalam tubuh Alya membuat tubuh
Alya menjadi berkeringat. Api besar di dalam tubuh Alya makin
menari-nari dengan liar saat Pak Sarta tanpa disadari sudah berdiri di
belakangnya dan memeluknya dari belakang. Alya mendesah saat tangan Pak
Sarta meluncur masuk ke balik bajunya melalui kerah lebarnya dan
bergerak meraba payudaranya yang tidak memakai BH.
“Ahh…” Alya mendesah pelan, Pak Sarta melancarkan ciuman-ciuman
ringan di pipi dan leher Alya membuatnya menggeliat. Tanpa sadar Alya
memalingkan wajahnya hingga berhadapan dengan wajah Pak Sarta yang
hitam. Pak Sarta tanpa ragu mulai mencium bibir Alya dengan lembut.
Bibir tebal itu kemudian mengulum dan melumat bibir Alya yang lembut.
Perlahan Alya mulai merespon dengan ciuman lembut pula. Untuk beberapa
menit sepertinya kedua orang berbeda jenis itu seperti saling gigit.
“Ohh… jangan Pak.. “ Alya mendesah saat Pak Sarta mulai membuka baju
longgarnya sambil terus menciumi bibirnya yang merah merekah itu.
“nggak apa-apa Neng..” kata Pak Sarta lirih di telinga Alya .
Hembusan nafasnya di telinga Alya membuat tubuh Alya meremang. Alya
kembali terperangkap oleh permainan Pak Sarta yang membuat gairahnya
kembali bangkit, hingga dia tidak menyadari baju yang dipakainya sudah
berhasil ditanggalkan oleh Pak Sarta sehingga dia sekarang kembali
telanjang bulat. Pak Sarta kini memposisikan dirinya menghadapi Alya
sambil mengagumi keindahan payudara Alya yang memang lembut itu.
Perlahan diremasnya payudara itu, lalu diciuminya dengan lembut sambil
putingnya dijilat-jilat dan dikulum. Sesekali Pak Sarta menggigit puting
payudara Alya dengan bibirnya membuat Alya tersentak menahan desakan
birahinya.
“Ohhh… “ Alya merintih, dia memegangi sandaran kursi yang didudukinya
dengan kuat saat tubuhnya mulai menegang. Pak Sarta makin gencar
membelai dan meremas-remas payudara mulus Alya mulai dari gerakan paling
lembut sampai gerakan kasar seperti orang meremas pakaian basah. Cara
Pak Sarta meremas payudara Alya membuat Alya makin tidak berdaya menahan
desakan birahinya, apalagi kemudian Pak Sarta mulai meraba bagian
selangkangan Alya, sentuhan-sentuhan jari Pak Sarta pada klitoris Alya
membuat birahinya makin cepat terbangkitkan. Alya tidak tahan lagi, dia
merasa tubuhnya mau pecah dihimpit desakan orgasme. Akhirnya hal itu
terulang lagi. Tubuh Alya menegang dengan begitu kuat melengkung ke
belakang sampai kepalanya terjuntai ke belakang.
“Ohhhkkkkhhhh……… Aaaaahhhhhhhhhhh..” kembali Alya mengerang kuat, dan
vaginanya kembali mengucurkan cairan, orgasmenya meledak tanpa
tertahankan. Beberapa detik tubuh Alya mengejang sebelum akhirnya
terkulai lemas.
Orgasmenya itu membuat Alya tak bersuara ketika Pak Sarta
membungkukan tubuhnya ke meja yang masih ada sisa makanan di sana,
hingga sekarang mulai pinggang hingga kepala Alya terbaring menelungkup
di atas meja makan, semetara kakinya masih di lantai. Alya tidak
sekalipun melihat ke arah Pak Sarta, dia hanya berdiri, dengan setengah
tubuhnya terbaring di meja, buah dadanya menjadi bantalan bagi tubuh
Alya di meja, menempel pada meja kayu itu.
“Pantatnya Neng benar-benar indah..”, kata Pak Sarta sambil meraba
dua bulatan pantat Alya. Alya memang punya pantat yang sempurna, apalagi
kalau dibandingkan dengan tubuhnya yang ramping, bentuknya sempurna,
penuh, lembut, halus dan tanpa noda. Pak Sarta meraba, meremas dan
menarik pantat Alya, membuat Alya melonjak di meja. Pak Sarta segera
melucuti celana kolornya sehingga dia kembali bugil, sambil terus
memandang pantat Alya yang luar biasa itu. Penis Pak Sarta langsung
mengacung keluar, dan Pak Sarta siap memasukkan semuanya ke tubuh Alya.
Alya mengangkat kepalanya dan menoleh ke belakang sehingga di bisa
melihat Pak Sarta telah siap kembali untuk menyetubuhi dirinya , wajah
Alya berkilat karena air mata. Perlahan Pak Sarta membuka kedua belah
paha mulus Alya lebar-lebar, lalu diarahkannya penisnya ke liang vagina
Alya.
Wajah Alya mengernyit dan gemetar, erangan keluar dari mulutnya pada
saat penis besar itu meluncur masuk tanpa kesulitan ke dalam liang
vaginanya. Pak Sarta juga mengerang, setelah itu terdengar suara daging
bergesekan dengan daging, Bibir Alya bergetar, air mata mengalir lagi
dari matanya ketika terdengar suara tubuh berbenturan dengan tubuh yang
lain, terus berulang-ulang.
Pak Sarta mendesakkan penisnya kuat-kuat dengan genjotan bertenaga,
gerakannya tidak teratur membuat Alya terbanting-banting di meja,
erangannya makin terasa memelaskan, tapi erangan itu justru membuat Pak
Sarta makin liar menyetubuhinya.
“Gimana Neng, suka?” tanya Pak Sarta ditengah-tengah usahanya
menyetubuhi Alya. Alya hanya mengangguk sambil memandang Pak Sarta
dengan tatapan sayu dengan wajah bersimbah air mata.
Alya semakin larut dengan permainan Pak Sekdea pada vaginanya. Pak
Sekded memompa vagina Alya dengan cepat kemudian melambat dan cepat
lagi, begitu seterusnya. Hal ini membuat Alya semakin mendesah-desah
kenikmatan, lelehan cairan kewanitaannya sudah keluar dan membasahi
kedua paha bagian dalam Alya. Saking larutnya dalam permainan, dengan
tidak sadar Alya yang menggerakan pinggulnya apabila Pak Sarta dengan
sengaja menghentikan genjotan panisnya pada vagina Alya.
15 menit diperlakukan demikian, tiba-tiba badan Alya mengejang keras,
kakinya kembali menjinjit, tangannya memegang keras tepian meja,
matanya terpejam erat dan mulutnya sedikit terbuka menandakan Alya
semakin mendekati orgasme.
“Aaaaaaaaaahhhhhhh… … ” teriak Alya keras sambil mengeraskan
pegangannya. Alya mengalami orgasme yang sangat tinggi, kedua pahanya
dirapatkan dan badannya mengejang keras untuk beberapa menit. Untuk
beberapa saat, Pak Sarta tetap membiarkan penisnya terbenam di vagina
Alya. Alya yang masih merapatkan kedua pahanya tersebut, terlihat sekali
menikmati orgasme yang baru dialaminya. Meski begitu Pak Sarta belum
puas. Segera dia menarik penisnya dari jepitan vagina Alya, lalu dengan
gerakan cepat tubuh Alya dibalikkan dan diangkat ke atas meja sampai
terlentang, sementara kakinya masih menjuntai ke bawah. Sekarang di atas
meja tersebut tubuh gadis berkulit putih itu terbaring telanjang bulat,
payudaranya mencuat hingga membentuk gundukan mulus. Perlahan Pak
Sarta memeluk kedua paha gadis itu dan menyampirkannya di pundak kiri
kanannya. Dan sekali lagi Pak Sarta mendorongkan penisnya ke liang
vagina Alya, membuat Alya meringis.
Kemudian kembali Pak Sarta membuat gerakan maju mundur mendesakkan
penisnya ke dalam vagian gadis cantik itu. Alya yang sudah dipengaruhi
orgasmenya tidak kuasa melawan, dia bahkan menikmati genjotan penis Pak
Sarta di dalam vaginanya.
“Ooohh…… akkhh… ooohhh…….” Alya mendesah-desah sambil mengejang,
tangannya mencengkeram keras pingir-pinggir meja, desahannya perlahan
mulai taratur seirama dengan genjotan Pak Sarta pada vaginanya. Pak
Sarta terus memompa batang kemaluannya masuk ke dalam liang vagina Alya.
Pak Sarta kemudian melebarkan kaki Alya sehingga berbentuk huruf V, dan
terus memompa masuk dengan buas sambil tangannya meremas-remas payudara
Alya. Alya makin terangsang dengan perlakuan Pak Sarta yang liar itu,
kepalanya menoleh ke kiri dan ke kanan sambil menggeliat-geliat penuh
kenikmatan. Kocokan demi kocokan terus menghujam vaginanya sampai sampai
terlihat seperti ada busa yang mengalir keluar dari vaginanya. Cairan
vagina Alya terkocok sampai tuntas dan mengucur membanjiri
selangkangannya. Dengan penuh nafsu Pak Sarta mempercepat genjotannya
pada vagian Alya, sesekali dia kembali menghentikan pompaannya, dan
secara refleks kembali Alya ganti menggoyangkan pantatnya maju mundur.
Hal itu terjadi berkali-kali, bahkan saat Pak Sarta mendorong tubuh Alya
hingga batang kemaluannya keluar dari liang kemaluan Alya. Secara
refleks diluar kemauan Alya, dia menggerakkan pantatnya sendiri.
Setelah hampir duapuluh menit, tampak tubuh Alya berkelonjotan dan
menegang, kedua kakinya mengacung lurus dengan otot paha dan betisnya
mengejang, jari-jari kakinya menutup, dan nafas Alya menjadi tak teratur
sambil terus merintih keras dan panjang,
“Ohhh… Akkkhhh… Ooohhh…!” Alya mengerang keras membuat Pak Sarta
semakin mempercepat gerakannya hingga akhirnya membuat Alya merintih
panjang, seluruh tubuh Alya kembali menegang dan menggelinjang selama
beberapa detik dan Pak Sarta menyadari Alya sedang mengalami orgasme
dahsyat dan kenikmatan luar biasa. Bersamaan dengan itu Pak Sarta juga
menekan keras penisnya ke dalam vagina Alya.
“Ahhhhhhhhhhhgghhhhh..” Pak Sarta mengerang keras sambil
memuncratkan spermanya ke dalam vagina Alya. Sesaat tubuhnya juga
menegang sebelum akhirnya melemas kembali.
Pak Sarta yang masih berada di atas tubuh Alya sesaat menekan
penisnya dalam-dalam di vagina Alya menikmati cengkeraman vagina Alya
sampai tuntas. Dipandanginya wajah cantik yang basah oleh keringat dan
air mata itu. Lalu perlahan Pak Sarta kembali mencium pipi dan bibir
Alya dengan kecupan-kecupan lembut, seolah ingin mengucapkan terima
kasih atas kenikmatan seksual yang diberikan oleh Alya kepadanya. Lalu
perlahan dia menarik tubuh Alya berdiri di dalam dekapannya. Dipeluknya
tubuh putih mulus itu dengan erat sambil sesekali bibirnya menciumi
bibir Alya seolah tidak pernah puas merasakan sentuhan bibir merah Alya.
Pak Sarta kemudian membawa Alya masuk ke dalam kamarnya. Di dalam kamar
itulah selama semalam suntuk Pak Sarta menuntaskan nafsu seksualnya
pada Alya. Gadis kota yang cantik itu dibuatnya tidak lebih dari seorang
budak seksual yang harus selalu bersedia melakukan persetubuhan
dengannya. Entah sudah berapa kali Alya dipaksa melakukan hubungan
seksual oleh Pak Sarta. Alya tidak bisa menghitung lagi, tubuh dan
pikirannya sudah terlalu tersiksa untuk berpikir.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar