Bella, mahasisiwi fakultas kedokteran adalah mahasiswi yang paling
cerdas diantara keenam orang mahasiswi itu. Wajahnya bulat dan cantik
dengan rambut dipotong pendek. Kacamata kecil menghiasi wajahnya
membuatnya terlihat makin berwibawa. Dia juga yang terlihat paling
dewasa diantara kawan-kawannya.
Sebagai mahasiswi kedokteran, Bella bertugas untuk meningkatkan
kesadaran masyarakat tentang kesehatan. Dia juga sering bertugas di
puskesmas sebagai tenaga medis karena di desa itu tidak ada dokter
yang bertugas. Satu-satunya petugas kesehatan yang ada hanyalah mantri
kesehatan yang kemampuannya jelas kurang memadai.
Suatu ketika saat Bella sedang bertugas di puskesmas, tiba-tiba
datang seorang pria setengah baya yang terburu-buru menemuinya. Bella
mengenalnya, pria itu adalah Pak Hasan, salah satu kerabat dekat kepala
desa. Pak Hasan walaupun sudah tua, limapuluh tahun tapi terlihat masih
kuat dan kekar. Dulunya Pak Hasan adalah jawara desa yang sangat
ditakuti. Tampangnya seram, rambutnya yang penuh uban tumbuh tidak
teratur seolah tidak pernah tersentuh air, senada dengan kumis dan
janggut kambingnya yang juga tidak terawat, tampangnya semakin sangar
dengan sebuah bekas luka yang menoreh pipi kirinya, separti luka bekas
bacokan senjata tajam
“Pak Hasan… ada apa Pak?” Tany Bella dengan tergopoh-gopoh. Pak Hasan
yang terengah-engah tidak segera menjawab. Dia masih terbungkuk mencoba
mengatur nafasnya, sepertinya dia baru saja berlari mengelilingi desa.
“Eh.. tolong Neng Dokter.. ibunya.. anu.. maksud saya.. istri saya..”
Pak Hasan berujar terputus-putus di tengah nafasnya yang tidak teratur.
“Istri Bapak kenapa..?”
“Tidak tahu Neng Dokter.. tahu-tahu panasnya tinggi dan muntah-muntah.”
“Di mana sekarang istri Bapak?” Bella bertanya bingung. “Kenapa tidak dibawa ke sini..?”
“Di rumah Neng.. boro-boro dibawa ke sini, jalan saja susah, kalau
bisa Neng Dokter yang ke sana,” Pak Hasan menunjuk ke arah luar,
maksudnya mungkin menunjuk ke arah rumahnya.
“Iya Pak.. sebentar saya ambil tas dulu.” Bella segera menyambar tas
peralatannya, dan tanpa menunggu persetujuan, Pak Hasan menarik tangan
Bella, Bella mengikuti dengan langkah terseret.
“Aduh.. tunggu Pak.. jangan cepat-cepat,” Bella mengeluh, dia memakai
sepatu hak tinggi, tentu saja susah kalau diajak jalan cepat.
“Kalau tidak cepat nanti keburu hujan Neng,” Pak Hasan menunjuk ke
atas. Bella ikut menengok, langit terlihat suram karena tertutup mendung
tebal. Mereka segera mempercepat jalannya. Tapi perkiraan Pak Hasan
tepat, baru setengah perjalanan hujan sudah mulai turun dan makin lama
makin deras, membuat keduanya basah kuyup. Bella merasakan tetes air
sebesar kelereng seperti hempasan peluru yang menghajar tubuhnya.
Tubuhnya menggigil kedinginan sementara tidak ada tempat untuk berteduh.
Akhirnya mereka terpaksa berjalan di tengah badai.
Sampai di rumah Pak Hasan hujan belum reda sedikitpun, bahkan makin
deras. Bella merasa lega akhirnya bisa berteduh, baju yang dipakainya
sudah basah kuyup oleh air hujan menciptakan genangan kecil tiap kali
dia berhenti. Di teras rumah Pak Hasan ada dua orang pria yang
sepertinya juga sedang berteduh menghindari hujan yang kian menggila.
“Lho.. Parjo.. Somad.. kalian di sini..?” Pak Hasan mengenali mereka,
mereka adalah petugas Hansip desa yang sering ronda kalau malam hari.
“Eh iya Pak.. tadi barusan dari desa sebelah, baru sampai di tengah
prjalanan kehujanan,” ujar Parjo, pria bertubuh gemuk dengan rambut
botak di bagian depannya, menyeringai. Di sebelahnya, Somad yang
bertubuh pendek tapi gempal dengan rambut dipangkas pendek bak tentara,
juga menyeringai.
“Kok sama Neng Dokter ini Pak..?” Parjo bertanya dengan nada tertahan
seolah tidak ingin mencampuri urusan pribadi Pak Hasan. Sesekali
matanya melirik ke arah Bella. Tatapannya bagaikan srigala lapar yang
siap menerkam mangsanya. Bella mendadak merasa risih ditatap oleh Parjo
dan Somad, seolah kedua orang itu mampu melihat menembus pakaiannya.
“Istri saya sedang sakit.” Pak Hasan menjawab kalem. Parjo dan Somad
hanya menjawab dengan O panjang. Pak Hasan lalu menyuruh mereka masuk.
“Neng Dokter bajunya basah kan.. nanti pakai saja baju punya anak
saya.” Kata Pak Hasan. Dia masuk ke salah satu kamar dan tak lama
kemudian keluar lagi dengan membawa beberapa lembar pakaian.
“Eh.. “ Bella menatap Pak Hasan. “Boleh saya numpang ganti baju Pak?”
“Oh ya.. di situ saja..” Pak Hasan menunjuk ke arah kamar belakang yang sebagian dindingnya terbuat dari kayu triplek tipis.
Bella yang sudah kedinginan bergegas masuk ke dalam kamar itu dan
segera mengunci pintunya. Kamar itu tidak seberapa luas, hanya berukuran
dua kali tiga meter dan terkesan kosong, ada sebuah ranjang kayu usang
di dekat dinding sebelah kiri pintu dan sebuah lemari kayu yang juga
usang. Beberapa poster artis India tertempel di dinding secara acak dan
tidak teratur.
Bella untuk sesaat hanya berdiri seperti bengong. Dia kemudian
meletakkan baju pemberian Pak Hasan di atas ranjang. Kemudian dengan
gerakan perlahan dia mulai membuka satu persatu pakaiannya. Mula-mula
kausnya yang basah kuyup sehingga tubuh bagian atasnya sekarang hanya
berbalut Bra berwarna pink berenda. Tubuhnya jelas sekali terawat dengan
baik. Putih dan mulus. Payudaranya terlihat padat dan ketat di balik
mangkuk Branya. Lalu Bella mulai menurunkan celana panjangnya, sepasang
kaki yang jenjang dan mulus terlihat begitu elok dipandang, pahanya yang
padat dengan pinggul membulat berakhir pada pinggang yang ramping.
Sebuah celana dalam yang juga berwarna pink berenda melekat di bagian
segitiga selangkangannya. Pantatnya terlihat begitu padat, dan meskipun
masih berada di balik celana dalam, tidak dapat dipungkiri pantat itu
sangat bagus, padat dan mulus, semulus bagian tubuh Bella yang lain.
Bella kemudian menyeka seluruh tubuhnya dengan selembar handuk dengan
gerakan tenang seolah di rumah sendiri, bahkan Bella terdengar
bersenandung kecil. Tanpa disadarinya, ada sesuatu yang bergerak liar di
luar mengikuti setiap gerakannya dengan tatapan mata yang liar. Rupanya
di luar kamar, Parjo sedang berkasak-kusuk di dekat tembok kamar tempat
Bella berganti baju. Rupanya sejak dari awal Parjo bertemu Bella di
rumah Pak Hasan, Parjo mempunyai niat jahat pada Bella. Dia hafal seluk
beluk rumah Pak Hasan karena sering sekali menginap di situ. Dia tahu di
dinding kamar itu ada celah kecil yang tersembunyi jika diilihat dari
dalam, letaknya agak di bawah dekat dengan lemari. Parjo dengan nekat
mencoba melebarkan celah itu dengan menggunakan pisau hansip yang saat
itu dibawanya. Celah itu membuka cukup lebar untuk Parjo bisa mengintip
ke dalam. Dan Parjo dengan jelas bisa melihat apa yang terjadi di dalam,
dan dengan jelas pula dia bisa melihat kemulusan tubuh Bella yang hanya
berbalut celana dalam dan Bra.
Parjo meneguk ludahnya menyaksikan kemulusan dan kemolekan tubuh
Bella. Tubuhnya panas dingin dan gemetar menahan dorongan seksualnya
yang tiba-tiba bangkit saat menyaksikan tubuh yang nyaris telanjang itu.
“Apa yang..” Pak Hasan dan Somad yang tahu-tahu sudah ada di dekat
Parjo melongo tertegun menatap ulah Parjo. Parjo terkejut sesaat dan
beringsut mundur. “Ngapain kamu..?” Pak Hasan bertanya, tapi dengan
suara lirih. Parjo menunjuk ke arah celah yang dibuatnya. Pak Hasan lalu
ikut mengintip ke dalam. Seperti Parjo, diapun meneguk ludah
menyaksikan tubuh Bella yang mulus itu. Gairah kelelakiannya bangkit
seketika, nafasnya terengah-engah menahan gejolak liar dari dalam
tubuhnya.
“Mulus banget Pak…” Parjo berbisik. Pak Hasan hanya mengangguk tanpa
menggeser tubuhnya dari tempat mengintip itu. Dilihatnya Bella sedang
menimbang-nimbang apakah perlu melepaskan Bra dan celana dalamnya juga.
“Buka… ayo buka..” Pak Hasan bergumam lirih pada dirinya sendiri.
Tapi dia kecewa karena Bella memutuskan untuk tetap memakai pakaian
dalamnya dalam keadaan basah. Pak Hasan makin kecewa saat Bella memakai
baju pemberiannya, seolah menyesali keputusannya memberikan baju itu
pada Bella.
Ketika Bella keluar kamar, Pak Hasan dan Parjo bersikap seolah tidak
terjadi apa-apa, meskipun begitu Parjo tidak dapat menahan diri untuk
terus menatap tubuh Bella, terutama pada bagian payudara, selangkangan
dan pantatnya. Bella sendiri tidak tahu kalau beberapa saat yang lalu
tubuhnya dijadikan obyek wisata. Dia segera bergegas memeriksa keadaan
istri Pak Hasan yang sedang sakit, yang terbaring lemah di ranjang.
Bella kemudian memriksa kadaan istri Pak Hasan. Tanpa disadari oleh
Bella, Pak Hasan dan Parjo sedang berkasak-kusuk merencanakan sesuatu.
Bella lalu berdiri sambil menatap ke arah Pak Hasan.
“Dia nggak apa-apa, cuma terserang flu berat, sekarang sudah tidur.” Kata Bella lembut. “Dia cuma perlu istirahat.”
“Terima kasih Neng Dokter,” Pak Hasan mengucapkan terima kasihnya
sambil menyilakan Bella duduk di ruang tengah. Ada secangkir minuman di
tangan Pak Hasan.
“Silakan diminum dulu Neng,” Pak Hasan menyodorkan cangkir di
tangannya sambil tersenyum aneh. Bella menerimanya dengan canggung
sambil mengucapkan terima kasih. Bella perlahan meneguknya sedikit,
bukan teh, bukan pula kopi, cairan hangat yang mengalir di dalam
tenggorokannya terasa aneh, segar dan membangkitkan sesuatu dari dalam
dirinya, seperti kehangatan yang sulit dilukiskan.
“Minuman apa ini Pak..?” tanya Bella sambil menatap penuh tanda tanya.
“Oh.. itu minuman tradisional desa ini Neng, dibuat dari daun teh
liar dari hutan sini..” Pak Hasan menjawab ringan. “Habiskan Neng.”
Bella agak ragu untuk meneguknya lagi, tapi dia merasakan tubuhnya
yang tadi kedinginan mendadak menjadi hangat, maka Bella sedikit demi
sedikit meneguk minuman itu sampai habis.
Sesaat Bella merasakan tubuhnya hangat dengan kehangatan yang tidak
lazim. Seperti ada yang menyalakan api kecil di dalam tubuhnya,
kepalanya perlahan seperti berputar dan pandangannya mengabur membuat
keadaan di sekelilingnya menjadi berwarna abu-abu. Bella juga merasakan
dorongan aneh di dalam tubuhnya, seperti seekor kuda liar yang berusaha
mendesak keluar. Mendadak badannya menjadi terasa gelisah, keringat
mulai menetes dari tubuh Bella. Desakan asing dari dalam tubuhnya
membuat Bella seolah ingin secepatnya melepaskan seluruh pakaiannya dan
membuatnya seperti kehilangan kendali atas dirinya sendiri. Dalam
keadaan seperti itu Bella merasa tubuhnya seperti diangkat dan
dipindahkan dari ruangan tengah dan direbahkan ke sebuah tempat yang
lembut dan lebar. Setelah beberapa saat Bella kemudian benar-benar
hilang kesadaran.
Beberapa saat kemudian Bella terbangun dari tidurnya. Untuk beberapa
saat Bella merasakan keanehan yang terjadi pada dirinya, Dia sekarang
berada di sebuah kamar sempit dan terbaring di atas sebuah ranjang lebar
berbau melati. Samar-samar dilihatnya ada tiga orang yang berdiri di
dekatnya mengelilingi tubuhnya.
“Pak Hasan..” Bella mengejapkan matanya untuk melihat lebih jelas,
perlahan bayangan samar yang dilihatnya mulai menampakkan bentuk
aslinya, Pak Hasan, Parjo dan Somad berdiri mengelilinginya di pinggir
ranjang. Ketiganya hanya memakai celana kolor.
Bella berusaha bangun, tapi tubuhnya lemas sekali, pengaruh minunam yang diminumnya membuat sekujur badannya lemas.
“Sudah bangun Neng..” Pak Hasan berujar sambil tersenyum dengan
tatapan matanya memelototi Bella. Parjo dan Somad bahkan menatap Bella
tanpa berkedip sedikitpun sambil sesekali menguk ludahnya. Bella merasa
ada yang salah dengan tubuhnya melihat ketiga orang itu menatapnya. Dan
beberapa detik kemudian Bella baru sadar kalau dirinya terbaring di
atas ranjang dalam keadaan telanjang bulat, tanpa selembar benangpun
menutupi tubuhnya.
“Apa yang kalian lakukan pada saya..?” Bella menjerit, tapi suaranya
terdengar terlalu lemah, dia berusaha mundur dan bangkit, tapi tubuhnya
tidak bertenaga, dia hanya mampu menutupi payudaranya yang telanjang
sambil berusaha merapatkan kakinya.
“Hehehehe..” Pak Hasan tertawa pelan. “Belum ada sih Neng, soalnya kami baru saja selesai menelanjangi Neng Dokter.”
“Jangan Pak.. jangan.. jangan sakiti saya..” Bella mulai menangis
sambil berusaha berontak, meskipun dia terlalu lemah untuk itu, yang
dilakukannya hanya mengejang-ngejang di atas ranjang yang justru membuat
gerakan erotis karena dirinya dalam keadaan bugil.
“Oh.. tentu tidak Neng, Bapak hanya ingin senang-senang sedikit
saja,” kata Pak Hasan sambil menoleh ke arah Parjo dan Somad yang
menyeringai liar.
“Tidak apa-apa Neng.. Bapak hanya minta Neng melayani Bapak sebentar
saja, Bapak sudah lama tidak mendapat jatah dari istri Bapak.” Kata Pak
Hasan
“Jangan Pak.. jangan.. saya tidak mau..” Bella menangis sesenggukan sambil menggeleng ketakutan.
“Jangan nangis Neng, Bapak janji bakal muasin Neng Dokter juga, malah
mungkin Non yang ntar ketagihan” katanya setengah berbisik, hembusan
nafasnya terasa di telinganya. Bella merinding mendengar usapan itu,
sama sekali tidak disangkanya Pak Hasan tega melakukan hal ini padanya,
Bella memang sudah tidak perawan, tapi dia tidak mau dijadikan
pelampiasan nasu seorang tua bangka seperti Pak Hasan.
“Neng Dokter cantik sekali..” Pak Hasan menyeka air mata yang
membasahi pipi Bella lalu mengalihkan wajah cantik itu berhadapan dengan
wajah buruknya, dilumatnya bibirnya yang mungil itu dengan kasar,
sementara tangan kanannya meremas-remas payudaranya. Bella memejamkan
mata dan meronta berusaha melepaskan diri, namun tenaganya terlalu lemah
untuk melawan Pak Hasan, malah rontaan itu membuat Pak Hasan makin
bernafsu mengerjainya. Ketika tangan Pak Hasan mulai merogoh bagian
kewanitaannya, dia tersentak dan mulutnya sedikit membuka, saat itulah
lidah Pak Hasan menerobos masuk ke mulutnya dan melumatnya
habis-habisan, lidah Pak Hasan menyapu telak rongga mulutnya. Bella
merapatkan pahanya untuk mencegah tangan Pak Hasan masuk lebih jauh,
namun dengan begitu Pak Hasan malah senang bisa sekalian membelai paha
mulusnya sambil tangannya makin menuju ke selangkangan. Sekali lagi
tubuhnya tersentak seperti kesetrum karena jari Pak Hasan telah berhasil
mengelus belahan vaginanya. Desahan tertahan terdengar dari mulutnya.
Tangan Pak Hasan menyusup menyentuh permukaan kemaluan Bella yang
ditumbuhi bulu-bulu halus.
Bella mengejang sesaat ketika tangan itu menyentuh kemaluannya,
campuran antara sensasi yang ditimbulkan sentuhan tangan itu dan
pengaruh minuman yang tadi diminumnya membuat tubuhnya menegang sesaat.
Bella mulai merasakan getaran-getaran yang mengenai syaraf seksualnya,
tanpa sadar Bella mendesah.
“Ahhhhhh… ehsssss…. ohhhkkkhhhh…’ Bella merintih dan bergerak liar
merespon sentuhan Pak Hasan. Pak Hasan melihat reaksi itu semakin
bersemangat. Pak Hasan lalu berusaha membuka kedua belah paha Bella
lebar-lebar sambil terus menerus menciumi bibir Bella. Nafas gadis itu
semakin memburu dan wajahnya yang putih merona merah karena
rangsangan-rangsangan gencar Pak Hasan. Tangan Pak Hasan akhirnya
berhasil membuka paha Bella membuat vagina Bella sekarang terbuka lebar,
vagina itu terlihat bagus dengan ditumbuhi rambut halus dan rapi.
Parjo dan Somad yang melihat aksi Pak Hasan mengerjai Bella hanya bisa meneguk ludah sambil mengocok penis mereka sendiri.
“Ohh.. jangan lama-lama Pak.. kami juga kebelet..” Parjo mengerang pelan sambil meneguk ludah.
“Hehehe.. giliran kalian nanti ya..” Kata Pak Hasan. Kemudian Pak
Hasan mulai memainkan jari-jarinya di vagina Bella sambil terus menciumi
dan mengulum bibir Bella Lidah Bella yang berusaha menolak lidahnya
justru semakin membuatnya bernafsu mencumbunya. Beberapa saat lamanya
Pak Hasan terus menciumi bibirnya dan mengelus-elus bibir vaginanya.
Jari-jari Pak Hasan yang ditusuk-tusukkan ke vaginanya sadar atau tidak
telah membangkitkan libidonya. Menyadari perlawanan korbannya melemah,
Pak Hasan menyerang daerah lainnya, payudara Bella yang telanjang
perlahan mulai diremas oleh Pak Hasan. Bella berusaha menepis tangan Pak
Hasan dan menutupi dadanya dengan menyilangkan tangan, namun Pak Hasan
mencengkeram kedua pergelangan tangannya dan melebarkannya ke samping
badan. Dia memejamkan mata dan menangis, seorang bertampang buruk dan
seusia ayahnya meremas, menjilati dan mengenyot payudaranya.
Gadis itu menggeliat-geliat dengan suara-suara memelas minta
dilepaskan yang hanya ibarat menambah minyak dalam api birahi
pemerkosanya. Cukup lama Pak Hasan menyedoti payudara Bella sehingga
meninggalkan bekas cupangan memerah pada kulit putihnya dan jejak basah
karena ludah. Jilatannya menurun ke perutnya yang rata sambil tangannya
terus memainkan payudara Bella.
‘Tidak…jangan Pak, jangan !” ucap Bella memelas sambil merapatkan kedua belah paha ketika Pak Hasan mau menjilati vaginanya.
Pak Hasan hanya menyeringai lalu membuka paha Bella dengan setengah
paksa lalu membenamkan wajahnya pada vagina gadis itu. Tubuh Bella
menggelinjang begitu lidah Bella yang panas dan kasar itu menyapu bibir
kemaluannya, bagi Bella lidah itu adalah lidah pertama yang pernah
menyentuh daerah itu, tubuhnya menggelinjang dan darahnya berdesir
merasakan sensasinya. Pak Hasan berlutut di ranjang dan menaikkan kedua
paha Bella ke bahu kanan dan kirinya sehingga badan gadis itu setengah
terangkat dari ranjang, dengan begitu dia melumat vaginanya seperti
sedang makan semangka.
“Sudahhh Pak…ahh…aahh !” desah Bella memelas saat lidah Pak Hasan masuk mengaduk-aduk bagian dalam vaginanya.
Sekalipun hatinya menolak, tubuhnya tidak bisa menolak rangsangan
yang datangnya bertubi-tubi itu. Harga diri dan perasaan ngerinya
bercampur baur dengan birahi dan naluri seksual.
Sekitar seperempat jam Pak Hasan menikmati vagina Bella demikian
rupa, dengan lihainya dia menyedot dan menjilati klitoris gadis itu
menghanyutkannya dalam permainan liar ini.
“Eenngghh…aaahh !” Bella pun akhirnya mendesah panjang dengan tubuh
mengejang. dia menyedoti bibir vagina Bella sehingga tubuhnya makin
menggelinjang. Orgasme pertama begitu dahsyat baginya sehingga
membuatnya takluk pada pria itu. Parjo dan Somad yang melihat Bella
orgasme tertawa senang.
“Hehehehe.. ternyata konak juga, tadi nolak-nolak tuh.. dasar pelacur, dimana-mana sama saja..” Parjo berujar datar.
“Iya nih… tadi berlagak nggak mau, ternyata nyampe juga..” timpal Somad yang juga masih mengocok-ngocok penisnya sendiri.
“Nah.. kalau begitu Neng dokter sudah siap ya..” kata Pak Hasan.
Bella tahu maksud ‘siap’ yang dilontarkan Pak Hasan. Dirinya memang
terangsang hebat oleh perlakuan Pak Hasan, meskipun pikirannya menolak,
tapi tubuhnya tidak bisa berbohong. Bella yang sudah mulai kehilangan
akal sehatnya hanya terdiam. Diamnya Bella itu bagi Pak Hasan dan
kawan-kawannya dianggap sebagai lampu hijau dari Bella untuk
menidurinya. Perlahan Pak Hasan mulai menarik kedua belah kaki jenjang
Bella ke arah luar sehingga terpentang lebar membuat vaginanya terkuak.
Lalu perlahan Pak Hasan mulai menindih tubuh mulus Bella yang telanjang
bulat. Pak Hasan merasakan kenyalnya payudara Bella menekan dadanya
dengan lembut.
Perlahan-lahan, Pak Hasan lalu menaikkan kedua kaki Bella yang masih
mengangkang sehingga melingkari pinggulnya yang kekar. kedua pahanya
kini melingkari bagian perut Pak Hasan. Kemudian Pak Hasan
menggosok-gosokkan batang penisnya ke kemaluan Bella.membuatnya kegelian
merasakan kemaluan Pak Hasan yang menyentuh kemaluannya. Setelah penis
Pak Hasan mengeras sepenuhnya dan siap dipakai, dia lalu mengarahkan
kemaluannya yang panjang dan hitam legam itu ke arah bibir kemaluan
Bella. Siap untuk dibenamkan ke dalamnya. Merasa batang penisnya telah
siap lalu Pak Hasan mendorong pinggangnya maju mendesak pinggul Bella
membuat penisnya masuk ke dalam vagina Bella. Saat penis Pak Hasan
melesak ke dalam kemaluan Bella, spontan Bellapun mengejang. Jeritan
tertahan di tenggorokannya. Sebentar kemudian, ia pun meringis…. kedua
matanya terpejam menahan nyeri dan sakit pada rahimnya. Tak terasa air
matanya pun menetes…
“Aduuuh…….. Paak…!! Ampuuun…” jeritnya halus mengiba. Pak Hasan masih
mendorong penisnya untuk masuk terus hingga dasar kemaluan Bella. Bella
pun terus menangis dan air matanya menetes membasahi pipinya yang putih
saat itu. Tubuhnya pun terguncang-guncang di bawah tubuh kekar Pak
Hasan.
Mengetahui tangisan Bella saat menerima penisnya masuk, Pak Hasan
lalu memeluk Bella dengan ketat dengan posisi tetap di atas tubuh putih
Bella. Ia peluk Bella dan diciuminya bibir Bella seakan tidak ingin
terpisahkan. Pak Hasan ingin bibir mereka juga menyatu sama seperti
tubuh mereka yang telah menyatu saat itu.
Bella meronta mencoba mendorong tubuh Pak Hasan yang menindihnya tapi
dirinya terlalu lemah, rontaan Bella bukannya membuat Pak Hasan
bergeser justru membuatnya semakin bernafsu, sensasi yang didapatnya
saat vagina Bella mencengkeram penisnya benar-benar membuatnya merasa
nikmat. Pak Hasan tetap mendiamkan penisnya yang panjang dan besar itu
di dalam kemaluan Bella. Ia ingin mereguk kehangatan tubuh gadis cantik
itu dengan sempurna. Khususnya kehangatan yang berasal dari cengkeraman
vaginanya. Apalagi dinding-dinding kemaluan Bella terasa
berdenyut-denyut. meremas penis Pak Hasan yang keras. Ia pun menikmati
semua itu sambil terus mengulum bibir Bella dan menjilati bagian
belakang telinganya yang basah oleh keringat. Dari tengkuk Bella
jilatannya terus berpindah kearah bahu yang putih bersih hingga
menampakkan aliran merah darah dari urat-urat Bella. Nafsu Pak Hasan
terus terpacu karena wangi tubuh Bella yang juga masih tercium aroma
minyak wangi mahal yang telah bercampur dengan keringatnya saat itu.
Setelah puas di bahu, lalu ia turun ke arah payudara Bella yang bernomer
34B itu. Mulut Pak Hasan terus bermain-main dengan puting dan belahan
Payudara Bella. Jejak cupangan merah mulai banyak menghiasi kedua
payudara yang putih dan mulus itu.
Diperlakukan sebegitu rupa, pelan-pelan bertahanan Bella jebol,
tubuhnya sudah tidak mematuhi perintah otaknya yang menolak cumbuan Pak
Hasan, desakan luar biasa sebagai akibat pengaruh minuman yang diberikan
Pak Hasan benar-benar bagaikan kuda binal yang menghentak-hentak di
setiap ujung syaraf kenikmatan seksual Bella. Cengkeraman Bella pada
bahu Pak Hasan makin mengers dan tubuh Bella akhirnya mengejang keras
seperti dialiri listrik yang membuatnya terhentak. Wajah Bella merah
padam seperti menahan sesuatu yang inginn dilepaskan. Akhirnya diiringi
desahan lirih, Bella mencapai orgasme untuk yang kedua kalinya.
Pak Hasan menyadari Bella kembali dilanda orgasme, karena vagina
Bella dirasakan mencengkeram penisnye dengan kuat seperti cengkeraman
tangan baja. Pak Hsan kemudian mulai mengerakkan pantatnya maju mundur
untuk menggenjot kemaluannya ke dalam liang vagina Bella. Sedang kedua
tangannya memegangi pinggang Bella agar tetap di tempatnya. Bella
perlahan-lahan menikmati genjotan Pak Hasan yang kasar itu. sementara
kedua tangannya tergeletak ke samping sambil meremas-remas seprei yang
sudah tak jelas warnanya itu. itu yang terdengar hanya dengus nafas dan
erangan kedua orang yang sedang bersetubuh itu.
Selama setengah jam lamanya Pak Hasan menyetubuhi Bella, ditonton
oleh Parjo dan Somad yang sudah blingsatan setengah mati menahan gejolak
yang menggebu. Sungguh sebuah ketahanan yang luar biasa, terutama
mengingat umur Pak Hsan yang sdah tua, Sementara Bella semakin lama
makin menikmati persetubuhan itu. Tanpa sadar dia mulai mengimbangi
gerakan Pak Hasan, bahkan saat Pak Hasan berhenti menggenjot vaginanya,
Bella spontan menggerakkan pantatnya sendiri maju mundur. Respon yang
diberikan Bella membuat Pak Hasan makin bersemangat. Kemudian Pak Hasan
membuat gerakan memutar-mutarkan pantatnya sehingga penisnya seperti
mengaduk vagina Bella. Bella merasakan batang penisnya menyentuh seluruh
rongga vaginanya, terasa berputar putar, terasa sangat penuh, sampai
akhirnya Bella merasakan penis Pak Hasan berdenyut denyut di dalam
rongga vaginanya dan Bella sendiri sudah akan mencapai orgasme yang
ketiga kalinya. Tubuh Bella kembali mengejang, tanpa sadar Bella memeluk
badan Pak Hasan dan mencakari punggungnya dengan garukan keras.
“AHHHHHKKKKHHHHHHHHH………………….” Bella mengerang kuat, seluruh enersinya
tumpah keluar saat orgasme untuk ketiga kalinya, pada saat itulah Pak
Hasan mencapai puncaknya.
“AAAARRRRGGGGHHHHHH …..” Pak Hasan berteriak kuat-kuat sambil
menjambak rambut Bella, badannya melengkung ke atas sambil wajahnya
menunjukkan ekspresi puas luar biasa dan kemudian spermanya menyembur
bagitu banyak di dalam rongga rahim Bella. Akhirnya tubuh kedua insan
yang baru saja melakukan persenggamaan itu melemas kembali. Pak Hasan
selama beberapa menit membiarkan tubuhnya menindih tubuh putih mulus
Bella, mencoba merasakan sebanyak mungkin kenikmatan dari tubuh gadis
cantik dan terpelajar itu sepuas-puasnya sambil sesekali mulutnya
mencium dan mengulum bibir Bella. Bella kembali meneteskan air matanya,
tapi dia tidak dapat memungkiri kalau dirinya baru saja menerima
pengalaman seksual yang sangat luar biasa sehingga di dalam hatinya dia
ingin lagi dan lagi disetubuhi oleh mereka.
Pak Hasan akhirnya melepaskan penisnya dari jepitan vagina Bella. Dia
sendiri kemudian terkapar lemas di samping Bella sambil mengelus
rambut Bella.
“Sekarang giliran saya Pak..” suara Parjo yang bergetar membuat Pak Hasan tersadar. Dia lalu berdiri dan menjauh.
“Nah.. giliranmu sekarang Jo..” kata Pak Hasan. Parjo hanya tersenyum
liar sambil memandangi tubuh Bella yang basah oleh keringat. Parjo tipe
orang yang tidak sabaran, apalagi dia memang sudah sejak tadi
terangsang hebat melihat adegan persetubuhan Bella dengan Pak Hasan,
Parjo segera menarik tubuh bugil Bella yang tergolek lemas di atas
ranjang lalu dibalikkannya tubuh Bella sampai menelungkup.
“Saya mau nyoba gaya anjing boleh ya Neng..” Parjo berlagak sopan.
Lalu dengan kasar ditariknya pantat Bella sampai menungging membuat
Bella sekarang dalam posisi pantat lebih tinggi dari kepalanya. Parjo
kemudian berlutut tepat di belakang Bella sambil segera melepaskan
celananya, dan sebatang penis sepanjang 20 cm dengan diameter sekitar 4
cm segera mengacung keras. Parjo mengarahkan penisnya ke bibir vagina
Bella yang sudah basah oleh cairan lendir dan sperma Pak Hasan kemudian
Parjo segera menekankan penisnya ke dalam vagina Bella, Bella menjerit
kecil sambil mendongak, meskipun penis itu masuk tanpa perlawanan akibat
vaginanya yang sudah licin, tapi karena ukurannya yang besar membuat
Bella merasa kesakitan.
“Oookkkhhh….” Bella meringis menahan sakit pada vaginanya. Air
matanya sampai meleleh kembali di pipinya yang mulus. Sementara Parjo
memejamkan matanya merasakan sensasi jepitan vagina Bella pada penisnya.
Kemudian Parjo pelan-pelan mulai menggoyangkan pantatnya membuat
penisnya mendesak lebih dalam di dalam vagina Bella. Sentakan itu
membuat Bella mengejang sambil merintih.
“Akkhh… sakiit Paak.. aduuuhhh.. sakiit..” Bella merintih sambil menghiba.
“Sakit ya? Tenang saja Neng, sebentar lagi juga enak, tadi kan Neng
dokter seneng banget waktu digenjot sama Pak Hasan..” Parjo mengejek.
Sambil memegangi pantat Bella, Parjo mulai memaju-mundurkan pinggulnya
dengan frekuensi genjotan makin naik. Setiap pria itu menyentakkan
pinggulnya, Bella mendesah keras sampai suaranya terdengar keluar, dia
merasa perihpada vaginanya, namun juga ada rasa nikmat bercampur di
dalamnya, penis yang menyesaki liang kemaluan itu menggesek-gesek
klitorisnya yang tentu saja merangsang gairahnya. Parjo melenguh-lenguh
menikmati penisnya menggesek-gesek dinding vagina Bella yang masih
ketat. Bella sendiri mulai bangkit kembali gairah seksualnya. Dia
lama-lama bisa mengimbangi gerakan kasar Parjo. Pinggul Bella kini malah
ikut bergoyang mengimbangi sentakan-sentakan Parjo. Lama-lama Bella pun
tidak tahan lagi, tubuhnya menggelinjang karena klimaks.
“Ooohhhhhh……….” desahan panjang terdengar dari mulutnya, dia
merasakan mengeluarkan cairan dari vaginanya meleleh keluar dari
selangkangannya. Selama klimaksnya, Parjo tidak sedikitpun berhenti
maupun memperlambat genjotannya, sebaliknya dia semakin bersemangat
melihat gadis cantik itu telah takluk.
Setelah selama sekitar limabelas menit menggagahi Bella dengan gaya
anjing, rupanya Parjo kurang puas, dengan gerakan kasar dia mendorong
tubuh Bella membuat penisnya yang masih menancap di vagina Bella
terlepas dari jepitan vagina itu. Lalu Dipaksanya Bella duduk
berhadap-hadapan dengannya. Ditatapnya wajah Bella yang cantik itu,
wajah itu terlihat sangat memelaskan tapi tidak membuat Parjo merasa
iba, dia justru merasa kenikmatannya bertambah.
“Sekarang Neng dokter yang goyang ya..” kata Parjo. Bella hanya bisa
mengangguk, lalu mulai menggerakkan pantatnya maju mundur sambil
melingkarkan kaki mulusnya ke pinggang Parjo. Parjo mengimbanginya
dengan mencengkeram pantat Bella dan mendorong pantatnya maju mundur.
Sementara bibirnya sibuk menyusu pada payudara Bella sambil sesekali
mengulum dan menjilati puting payudara Bella. Selama beberapa menit
berikutnya yang terdengan hanyalah gesekan penis Parjo di dalam vagina
Bella diiringi dengan desahan erotis dari bibr Bella yang mungil,
sementara Parjo tanpa henti terus mengaduk-aduk vagina Bella membuat
Bella makin merasa nikmat, pelan-pelan birahi Bella kembali meninggi dan
akhirnya Bella bersedia mengimbangi setiap gerakan Parjo, membuat
mereka bisa berpadu dengan serasi dalam mencapai puncak kenikmatan
seksual.
Selang beberapa menit, Parjo perlahan merebahkan kembali tubuh mulus
Bella yang sekarang kembali basah oleh keringat membuat posisinya
kembali tertindih tubuh Parjo, tapi dengan kedua kaki masih melingkari
pinggul Parjo. Parjo tanpa berhenti terus menggenjotkan penisnya di
dalam vagina Bella, hal itu membuat Bella makin terhanyut, desahannya
makin menjadi-jadi, tubuhnya makin lama makin menegang, tangannya
mencngkeram kasur dengan sangat erat dan beberapa menit kemudian Bella
akhirnya tidak tahan lagi, orgasmenya meledak.
“OOOOHHHHH……………………..” Bella mengerang kuat-kuat sambil badannnya
melengkung membuat payudaranya mencuat menekan dada Parjo dengan lembut.
Parjo merasakan vagina Bella berdenyut-denyut, seolah menyempit dan
meremas penisnya dengan kekuatan cengkeraman tangan, sensasi itu membuat
Parjo megap-megap, dia tidak tahan lagi, sensasi dahsyat menghantam
sekujur tubuhnya seolah cakar harimau yang merobek tubuhnya dari dalam.
“AHHHHHKKHHHH…………….” Parjo tidak tahan lagi, dengan erangan keras dia
menyentakkan penisnya dengan keras ke dalam vagina Bella, lalu saat itu
juga spermanya menyembur dengan deras membanjiri rahim Bella. Tubuh
Parjo menegang sesaat sebelum melemas lagi. Parjo ambruk setelah
mendapat orgasme yang luar biasa. Belum pernah Parjo melakukan hubungan
seks senikmat ini, kenikmatan yang diperolehnya daripara pelacur yang
pernah digaulinya jelas tidak ada seujung kuku jika dibandingkan dengan
kenikmatan yang didapatkannya saat menggauli tubuh gadis secantik Bella.
“Ohhh… gila, enak banget memeknya Neng dokter..” kata Parjo lirih di
telinga Bella. Bella hanya diam saja meskipun air matanya meleleh
membasahi pipinya. Tapi meskipun sedih, Bella juga merasakan kenikmatan
yang tiada taranya saat digauli oleh Parjo. Pacarnya sekalipun belum
pernah memberikan kenikmatan begitu dahsyat seperti yang baru saja
dialaminya bersama Parjo dan Pak Hasan. Karena itu Bella diam saja
ketika dilihatnya Somad naik ke ranjang menggantikan posisi Parjo.
“Sekarang giliran saya Neng..” ujar Somad sambil cengar-cengir. Bella
hanya menatapnya dengan tatapan sayu. Somad untuk beberapa saat hanya
mengagumi tubuh telanjang Bella yang terlentang di hadapannya.
“Astaganaga, gila bodinya Neng dokter mantap banget nih, wah
beruntung banget nih kita, ” kata Somad, ” Lalu tanpa ba bi bu lagi
tubuh Bella langsung diterkamnya.
“Hmmphhh ungghhh pak… hmmph,” Bella merasa sangat sesak sekali,
karena selain tubuh Somad yang gempal itu, nafas dan bau badannya sangat
mengganggu, tapi Somad tidak mempedulikannya, Mulut Bella langsung
dijilatnya tanpa menghiraukan rintihan Bella, lidahnya mulai berhasil
menembus mulut Bella, dan selama beberapa saat keduanya saling bergulat
bibir dengan ganas.
Tiba–tiba tanpa peringatan Somad langsung menjambak rambut Bella membuat Bella kesakitan.
“AAhhh sakit pak.” Bella merintih, Somad justru menyeringai.
‘Keluarin lidahnya Neng dokter…” Somad memberi perintah, dan dalam
keadaan seperti itu Bella hanya pasrah, dijulurkannya lidahnya yang
berwarna pink. Somad tanpa pikir panjang langsung mengulum lidah Bella
tanpa merasa jijik sedikitpun. Lidah Bella bahkan di permainkan di
mulutnya Kemudian Somad mulai meremas remas payudara Bella, ia mainkan
puting susu Bella seperti orang ingin mencari gelombang radio, Somad
juga menjilat-jilati puting susu Bella dan dimainkan terus sehingga
puting susu Bella mengeras dan mengacung dengan indahnya, Bella kembali
menegang, birahinya seperti dibakar kembali, dan tanpa sadar Bella
kembali hanyut dalam permainan yang kali ini dilakukan oleh Somad. Bella
hanya mampu mengerang menahan gejolaknya yang kembali menggebu.
Melihat Bella yang sudah kembali terangsang, Somad segera melepaskan
celana kolornya, dan penisnya yang hitam legampun mengegang keras siap
untuk dihujamkan ke dalam vagina Bella. Somad kemudian mengatur posisi
kaki Bella supaya mengangkang lebar membuat vaginanya yang sudah basah
itu membuka lalu Maan mngatur posisi tubuhnya tepat di depan celah
kemaluan itu. Kemudian dengan gerakan pelan Somad menggesek-gesekkan
ujung kemaluannya di bibir vagina Bella, hal itu membuat Bella mengerang
lirih. Somad kemudian mendorong pantatnya maju dengan gerakan pelan,
membuat penisnya sdikit demi sedikit mendesak masuk ke dalam liang
vagina Bella. Bella merasakan vaginanya seperti melebar ketika menerima
penis Somad yang lebih besar dari penis Parjo, membuatnya meringis
kesakitan.
“Ahhh… sakiiitt.. sakit Pak…” Bella merintih lirih. Air matanya
kembali meleleh, dia berusaha melebarkan kakinya agar vaginanya bisa
menanpung penis Somad.
“Sakit ya Neng..? Bentar lagi juga enak.. tahan ya Neng..” Somad
berujar santai sambil menindih tubuh mulus Bella lalu mendekapnya dengan
kedua tangannya yang kekar. Kemudian dengan gerakan pelan Somad menarik
penisnya, membuat Bella sedikit bisa bernafas lega. Tapi sedetik
kemudian Somad kembali menusukkan penisnya ke dalam vagina Bella, kali
ini dengan sentakan kasar.
“Ahhhkk….!!” Bella merintih sambil menggeliat, membuat tubuhnya
melengkung dan tulang rusuknya seperti menjiplak di kulitnya. Tanpa
sadar Bella mencengkeram punggung Somad dengan kuat membuat goresan
kecil dengan kuku-kukunya. Tapi Somad tidak merasakan goresan kecil itu,
konsentrasinya sepenuhnya berpusat pada kemaluannya yang sudah bersatu
dengan kemaluan Bella. Sensasi luar biasa mengalir ke dalam setiap
pembuluh darahnya membuat darahnya seperti menggelegak. Somad lalu
mengulangi aksinya, meanirk penisnya pelan dan menghunjamkannya ke dalam
vagina Bella dengan kasar. Kembali Bella menjerit lirih menerima
perlakuan itu. Somad lalu mengulanginya lagi, membuat Bella kembali
menjerit. Dan selama sepuluh menit kemudian yang terdengar di kamar itu
adalah jeritan-jeritan lirih Bela ketika vaginanya digenjot oleh Somad
dengan kasar. Rupanya jeritan Bella yang sensual itu menjadi sensasi
tersendiri yang menambah kenikmatan Somad dalam melakukan persenggamaan
dengan Bella.
Bella sendiri meskipun merasa tersiksa, tapi mulai bisa menikmati
sensasi yang dihasilkan dari persetubuhannya dengan Somad. Pelan-pelan
rintihannya berubah dari rintihan kesakitan menjadi rintihan kenikmatan.
Bella perlahan juga mulai mengimbangi gerakan-gerakan Somad yang kasar
dengan gerakan pinggulnya. Sensasi yang dibuat oleh Somad pada diri
Bella membuat Bella tak berkutik lagi, lenguhan dari bibirnya yang
mungil makin menjadi-jadi seolah meracau. Karena itu Bella tidak menolak
ketika Somad memintanya berganti posisi. Somad yang masih mendekap
tubuh Bella yang mulus berguling sehingga sekarang posisinya terbalik,
tubuh mulus Bella yang telanjang sekarang berada di atas Somad. Somad
lalu meminta Bella untuk menggerakkan pantat sehingga penis Somad yang
masih mendekam di dalam vagina Bella kembali terkocok oleh jepitan
vaginanya. Bella melakukannya sambil terengah-engah, Somad meresponnya
dengan melumat bibir Bella yang megap-megap dengan rakus seolah berusaha
menelan bibir itu mentah-mentah. Selama sepuluh menit keduanya berada
dalam posisi berdekapan dan saling berpagutan bibir.
Masih tidak puas dengan gaya itu, Somad lalu bangkit dalam posisi
duduk tanpa melepaskan pelukannya dari tubuh Bella sehingga sekarang
keduanya saling menempel dalam posisi duduk di ranjang. Kaki Bella
sekarang melingkari pinggul Somad, lalu keduanya bergantian menggerakkan
pinggulnya membuat kemaluan mereka yang bersatu kembali terbenam dalam
sensasi seksual yang menggebu. Bella mendesah penuh kenikmatan
diperlakukan sedemikian rupa. Dan Somad membalas aksi Bella dengan
memagut bibirnya kemudian menelusuri leher dan belahan payudara Bella
dengan ciuman-ciuman, meninggalkan bekas kemerahan di bagian yang
diciuminya.
Setelah bebarapa menit Somad kembali kepada posisinya semula,
direbahkannya tubuh Bella dan ditindihnya kembali tubuh mulus itu. Somad
kemudian menggenjotkan penisnya lagi, kali ini gerakannya teratur,
membuat Bella serasa melayang ke angkasa oleh sensasi yang dihasilkan
genjotan Somad. Menit demi menit berlalu, Somad masih bersemangat
menggenjot Bella. Sementara Bella sendiri sudah mulai kehilangan
kendali diri, dia kini sudah tidak terlihat sebagai seseorang yang
sedang diperkosa lagi, melainkan nampak hanyut menikmati ulah Somad.
Bella merasakan ingin selamanya disetubuhi seperti ini, Bella tanpa
sadar memeluk Somad dan memberikan ciuman di mulutnya. Mereka
berpagutan sampai Bella mendesis panjang dengan tubuh mengejang,
tangannya mencengkeram erat-erat lengan kokoh Somad.
“Aaaaaahh…ooooohh !” desah Bella sambil memeluk Somad dengan kuat
saat penis Somad melesak ke dalam vaginanya, cairan yang sudah membanjir
dari vagina Bella menimbulkan bunyi berdecak setiap kali penis itu
menghujam. Suara desahan Bella membuatnya semakin bernafsu sehingga dia
meraih payudara Clara dan meremasnya kuat-kuat membuat Bella meringis
kesakitan bercampur nikmat. Bella merasa dirinya seperti mau meledak.
Tubuhnya bergetar dan kemudian mengejang kuat sekali.
“AHHKHHH….. OHHHHH…..” Lolongan kuat meluncur begitu saja dari bibir
mungil Bella, untuk kesekian kalinya Bella mengalami orgasme
gila-gilaan. Somad akhirnya menyerah, diapun kemudian melepaskan sensasi
yang sedari tadi ingin dilepaskannya.
“Ahhhhh….. “ Somad melenguh penuh kepuasan saat spermanya menyembur mengisi rahim Bella.
“Minggir Mad!” Terdengar suara Pak Hasan dan Parjo, Somad yang masih
dikuasasi sensasi orgasme gelagapan, dia menyingkir dan melihat Pak
Hasan dan Parjo tiba-tiba naik ke atas ranjang sambil berlutut tepat di
atas wajah Bella sambil mengocok penisnya. Lalu.
“Crtt…crt…crt….,” sperma kedua orang itu muncrat membasahi wajah
Bella. Rupanya selama mereka melihat Bella disetubuhi oleh Somad, mereka
kembali naik birahinya dan melakukan onani. Setelah puas menyemprotkan
spermanya di wajah Bella mereka terkapar di ranjang dengan nafas
terengah-engah. Dibiarkannya Bella ranjang itu, wajahnya tampak sedih
dan basah oleh keringat, air mata dan cairan sperma yang sangat banyak
melumuri wajahnya, dalam hatinya berkecamuk antara kepuasan yang
dialaminya dan rasa benci pada ketiga orang yang baru saja
memperkosanya.
Selama sehari semalam penuh, ketiga orang itu kembali menikmati
kemulusan tubuh Bella dengan berbagai macam cara. Bella dipaksa untuk
melakukan oral seks sambil mengocok penis yang lain, lalu dipaksa pula
untuk melayani tiga orang sekaligus. Ketiganya melakukan hal itu secara
bergantian membuat Bella berkali-kali orgasme. Bella juga dipaksa untuk
menari dalam keadaan telanjang bulat, lalu mereka menyuruhnya untuk
menjilati penis mereka satu-persatu sambil kemudian menyemprotkan
spermanya di wajah dan tubuh Bella. Baru keesokan paginya setelah
semalam suntuk menggarap tubuh Bella habis-habisan mereka mengantar
Bella pulang ke pondokan sambil disertai ancaman akan melakukan sesuatu
yang buruk jika Bella berani buka mulut tentang perlakuan mereka
semalam. Sementara Pak Hasan tidak lupa untuk berpesan agar Bella setiap
saat siap jika mereka ingin menikmati tubuhnya lagi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar