Catatan: sebelum membaca cerita ini, terutama bagi para mupengers pemula, silakan baca terlebih dulu serial Malapetaka KKN karya Harry Potter, terutama episode 6 yang berkaitan erat dengan cerita ini. Selamat menikmati (kok kaya tulisan di kotak makanan ya?)
 |
| Fanny |
Fanny
menemukan dirinya berada di tengah ranjang besar berlapis kain ungu
terang dengan keharuman yang luar biasa memabukkan asap berbau kemenyan
wangi yang berasal dari anglo tanah yang terpasang pada keempat penjuru
ranjang. Tubuhnya hanya dibalut sehelai kain putih tipis yang menutupi
dadanya dan bawahan yang juga dari bahan tipis yang memperlihatkan
lekuk-lekuk tubuhnya yang indah. Ia mengejap-ngejap matanya yang baru
terbuka untuk memperjelas pandangannya, telinganya menangkap suara
orang-orang berkomat-kamit seperti sedang melakukan ritual tertentu. Ia
terkesiap melihat ada tujuh pria berjubah putih berdiri mengelilingi
ranjang besar itu, kekagetannya bertambah saat melihat ke arah luar
pendopo, dimana sudah berkumpul banyak orang yang kesemuanya adalah
pria, semuanya bertelanjang dada, hanya memakai celana dalam panjang
diikat oleh sabuk kulit besar.
“Baiklah warga desa, upacara Dewi Kesuburan mulai!” salah seorang dari mereka yang berambut dan berjanggut putih.
“Terimalah persembahan kami! Terimalah persembahan kami!” orang-orang di luar sana berteriak bersahut-sahutan membuat bulu-bulu di tubuh Fanny merinding karena suasana yang seram ini.
Pria
tua berambut dan berjenggot putih itu naik ke ranjang dan
menghampirinya. Seringai mesum di wajahnya membuat Fanny menggeser
tubuhnya mundur-mundur.
“Jangan…jangan
sentuh saya!” mohonnya, “Aaahh!! Lepasin!” ia meronta ronta ketika
tangan kasar pria itu meraih pergelangan kakinya.
“Tidak, jangan…aaaahh!” jeritnya
Tangan
pria tua itu merenggut kain yang menutupi bawahannya sehingga paha
Fanny yang jenjang dan putih mulus langsung terekspos, demikian pula
bagian selangkangannya yang masih tertutup celana dalam merah. Keenam
pria lainnya juga ikut naik ke ranjang itu mengepungnya, mereka melepas
jubah masing-masing sehingga tinggal memakai celana dalam saja. Semuanya
berwajah seram sehingga gadis itu makin tercekam dibuatnya. Ia makin
menjerit dan meronta ketika tangan-tangan itu mulai menjarah tubuhnya,
menarik-narik penutup tubuhnya hingga terlepas semuanya. Kedua tangan
dan kakinya dipegangi sehingga ia tidak bisa menutupi tubuh
telanjangnya.
Ketujuh
pasang mata itu memandang nanar pada tubuhnya yang telanjang,
tangan-tangan kasar mereka mulai menggerayangi tubuhnya, beberapa juga
mulai menciumi dan menjilati tubuhnya. Posisi paling strategis dipegang
oleh si pria tua itu yang kini berlutut di antara kedua belah pahanya
sambil mengarahkan penisnya ke vagina gadis itu. Fanny tertegun melihat
penis itu yang masih bisa tegak berdiri walaupun pemiliknya sudah
berumur.
“Upacara segera dimulai..” kata pria berambut putih itu
“Aaahh…aahh!” erang Fanny ketika pria itu menekankan kepala penisnya pada vaginanya.
Fanny
terbangun dan mendapati dirinya terduduk di ranjangnya dengan nafas
terengah-engah. Ia menyadari bahwa tadi itu adalah mimpi buruk, mimpi
yang merupakan bayangan dari kejadian yang benar-benar dialaminya lima
tahun yang lalu ketika KKN di sebuah desa terpencil dimana ia dijadikan
‘Dewi Kesuburan’ yang tugasnya menerima benih dari para tetua desa atau
dengan kata lain yang lebih kasar menjadi objek pelampiasan nafsu mereka
dengan ditonton puluhan penduduk desa yang menonton dirinya digangbang
sambil mengocok-ngocok alat kelamin mereka. Ia memang telah mencoba
melupakan dan mengubur kejadian memalukan itu dalam-dalam terutama sejak
menikah tiga tahun yang lalu, bahkan kepada Andry, suaminya, pun ia
belum berani berterus terang mengenai hal ini. Mendapatkan suami yang
pengertian seperti Andry sudah lebih dari cukup bagi Fanny mengingat
dirinya telah ternoda, rasa syukurnya kian bertambah setelah lahirnya
seorang bayi lelaki yang lucu setahun dua bulan lalu. Ia ingin yang lalu
biarlah berlalu dan menempuh hari depan yang lebih cerah bersama suami
dan anaknya, namun sesekali bayangan pemerkosaan itu muncul lagi dalam
mimpinya seperti yang dialaminya malam ini. Ia menoleh ke samping
melihat Andry masih tertidur lelap. Dengan perlahan agar tidak
menimbulkan suara, ia bergerak turun dari ranjang dan membuka pintu
kamar pelan-pelan. Ditekannya kran dispenser di ruang makan hingga air
mengalir mengisi gelasnya. Setelah itu Fanny meminumnya hingga habis dan
merasa lega, ia menyeka dahinya yang sedikit berkeringat dengan
punggung tangan.
“Hhhaaahh!” Fanny tersentak kaget begitu berbalik dan melihat seseorang di belakangnya.
“Aduh…sori,
sori Fan, ga maksud ngagetin lu!” sahut Andry seraya meraih kedua
lengan istrinya itu, “kamu kenapa sayang? Kok sampe keringetan gini sih
kaya ngeliat hantu aja?” dengan lembut ia membelai leher wanita itu.
“Ah…cuma mimpi buruk aja, jadi kebangun terus nyari air” jawab Fanny yang mulai tenang.
Andry
mendekap tubuh istrinya itu dan membelai rambutnya dengan penuh kasih
sayang. Betapa Fanny merasa hangat dan aman dalam dekapan pria yang
dikasihinya ini, ia merasa sangat beruntung menikah dan mendapatkan anak
darinya. Dalam dekapan Andy, bayang-bayang mimpi buruk itu perlahan
sirna dari benaknya setidaknya untuk saat ini.
“Udah yuk, kita kembali ke kamar” Fanny melepaskan diri dari suaminya setelah sekitar lima menit berpelukan mesra.
Keduanya kembali ke ranjang, malam itu Fanny tertidur lelap dalam dekapan Andry. Kebahagiaan
perkawinannya selama tiga tahun seolah menutup dalam-dalam semua
kejadian masa lalu. Sekalipun telah melahirkan anak, wanita Indo-Itali
itu masih tetap memiliki pesonanya. Pasca melahirkan tubuhnya yang
hampir 170cm itu dengan cepat menyusut kembali dibantu dengan gym dan
obat-obatan tradisional. Kecantikan Euro-Asianya dengan mata hijau itu
tidak pudar sedikitpun, potongan rambutnya yang kini lebih pendek,
tinggal sebahu, membuatnya kelihatan lebih dewasa dan keibuan. Ia sangat
menyayangi suami dan anaknya serta tidak ingin kehilangan mereka.
Biarlah waktu yang mengubur masa lalunya, kini ia berkewajiban menjadi
istri dan ibu yang baik bagi keluarganya. Sebelum memejamkan mata, Fanny
pun berdoa dalam hati agar mimpi buruk tentang pemerkosaan itu tidak
muncul lagi mengganggunya.
#######################
Keesokan harinya, pukul 6.13
‘Ting!’
oven toaster itu berbunyi dan dua potong roti tawar mencuat dari
dalamnya. Fanny mengambil roti itu dan mengoleskan selai kacang.
Kemudian dipotong-potongnya dua potong roti yang telah ditumpuk itu dan
diletakkan di atas sebuah piring. Piring itu lalu diletakkannya di atas
baki bersama dengan segelas kopi susu yang masih panas.
“Iiihh! Apaan sih!?” Fanny kembali kaget ketika sebuah tangan melingkari pinggangnya dari belakang.
“Pagi say…gua laper nih, mana sarapannya?” sapa Andry sambil merapatkan tubuhnya ke tubuh istrinya.
“Ini baru aja beres!”
“Maksudnya
sarapan yang lain lagi say!” kata Andry menciumi leher jenjang
istrinya, mengendusinya seakan tak ingin melewati aroma perempuan yang
khas di pagi hari, “kamu cantik banget sayang, biar belum mandi belum
make up!” bisiknya merayu di telinga Fanny.
Wajah
Fanny merona kemerahan mendengar pujian suaminya itu. Ia mulai luruh
saat kecupan demi kecupan dirasakan pada lehernya. Sementara tangan pria
itu telah menyusup masuk ke balik dada gaun tidurnya yang berpotongan
rendah dan meremas payudaranya yang montok. Fanny menengokkan kepalanya
ke samping, saat itu Andry langsung memagut bibir istrinya yang cantik
itu. Tangan Andry menurunkan tali yang menyangga gaun malam itu pada
bahu kiri Fanny sementara tangannya yang lain meraba-raba bagian bawah
menyingkap gaun tidur istrinya. Dielusinya paha mulus itu hingga telapak
tangannya sampai di selangkangan istrinya yang masih tertutup celana
dalam.
“Eeemmhh!” Fanny mendesah pelan di tengah percumbuannya saat tangan suaminya mulai menyusup ke balik celana dalamnya.
Birahi telah mengepung dan mengikat mereka, tak akan pernah lepas sampai gairah terhempas. Fanny menggelinjang merasakan kenikmatan mulai terbangun di bawah sana.
Apalagi lalu jari suaminya semakin lama semakin memasuki gerbang
kewanitaannya. Ia merapatkan kedua pahanya, tak tahan mendapat perlakuan
seperti itu. Kemudian dengan cepat Andry membalikkan tubuh istrinya dan
mengangkatnya ke atas meja makan dari bahan kayu jati itu. Perempuan
itu pasrah dibaringkan di atas meja, dengan agak buru-buru ia
menyingkirkan piring dan benda-benda yang menghalangi tubuhnya.
Meja
itu memang cukup lebar menampung tubuh Fanny, walau kedua kakinya tetap
bergelantungan. Andry menarik lepas celana dalam istrinya dan
memposisikan diri di antara kedua belah paha istrinya. Jelas sekali
terlihat kewanitaan Fanny yang bulunya tercukur rapi dengan belahan di
tengahnya yang menggairahkan. Andry dengan segera memeloroti celana
boxernya dan mengeluarkan penisnya yang telah ereksi. Tak kalah agresif,
Fanny meraih penis suaminya yang baru keluar dari sarangnya dan
dibawanya mendekati bibir kewanitaannya.
“Masukin say!” pintanya dengan wajah memerah.
Tanpa
perlu diminta lagi, Andry pun mendorong pinggulnya dengan penuh
perasaan hingga penisnya amblas perlahan-lahan dalam vagina istrinya
yang cantik itu. Penisnya memang tidak besar, ukuran standar hanya 15cm
dengan diameter 3cm.
“Aaakkhhh…yaaahh eenaakk!!” Fanny mendesah lirih saat penis itu membelah bibir vaginanya dan menggesek dinding di dalamnya.
“Kamu tambah cantik kalau lagi horny gini sayang” pujinya memandangi istrinya yang tengah terangsang.
Tangannya
meraih payudara kiri Fanny yang telah terbuka dan meremasnya lembut,
jarinya memencet-mencet putingnya hingga mengeras. Tanpa membuang waktu
lagi, Andry pun mulai menggerak-gerakan pinggulnya, menghujam-hujamkan
kejantanannya. Ruang makan itu pun dipenuhi suara meja berderit,
guncangan benda-benda di atasnya, serta lenguhan persenggamaan. Andry
menyetubuhi Fanny dengan tempo yang cukup teratur sebentar cepat
sebentar pelan hingga akhirnya sepuluh menit kemudian berhasil mengantar
istrinya itu ke puncak kenikmatan. Fanny menjerit-jerit kecil merasakan
kenikmatan yang berlipat ganda karena saat itu Andry terus saja
menggenjot vaginanya dengan kecepatan meningkat. Perasaan itu membuat
Fanny menggelinjang dahsyat dan menyerah pada gelombang-gelombang besar
puncak birahinya.
“Sayang…oohkk…uugghh!“ Andry menyusulnya ke puncak dan menekankan penisnya dalam-dalam.
Fanny merasakan sperma suaminya yang hangat menyemprot di dalam vaginanya memberinya kenikmatan ekstra di penghujung orgasme.
“Cup…muuuahh…thanks banget honey!” Andry mendaratkan ciuman ringan ke bibir istrinya
Setelah
beberapa detik bercumbu-cumbu rayu sambil tertawa-tawa pasca orgasme,
Andry menegakkan tubuhnya dan menarik lepas penisnya yang telah
menyusut.
“Say…cleaning service ya!” pintanya dengan wajah kepingin pada istrinya.
Fanny
hanya tersenyum saja sambil menggeser tubuhnya turun dari meja dan
berlutut di depan suaminya. Namun baru saja ia meraih penis yang masih
berlumuran cairan sisa persetubuhannya tadi, tiba-tiba terdengar suara
tangisan bayi yang membuyarkan saat-saat penuh gairah keduanya.
“Herick bangun” kata Andry menatap istrinya.
Fanny
didorong naluri keibuannya segera membereskan pakaiannya dan mencuci
tangannya di wastafel dekat situ. Ia lupa belum memakai celana dalamnya
yang masih tergeletak di lantai dan buru-buru ke kamar. Digendongnya
anak laki-lakinya itu ke dalam dekapannya dengan penuh kasih sayang.
Tangis anak itu berangsur-angsur mereda melihat ayah ibunya masuk ke
kamar dan merasa hangat dalam dekapan ibunya.
“Cup…cup…Herrick, ini mama disini, mama disini ya!” Fanny mengelus-elus punggung anak itu menenangkannya.
Ia
lalu mengeluarkan payudaranya dari balik gaun tidurnya dan
mendekatkannya ke mulut anak itu yang lalu menyambut payudara ibunya itu
dan mengisapnya. Fanny tersenyum pada Andry.
“Mandi gih, terus cek lagi barang-barang, takutnya ada yang ketinggalan” suruh Fanny pada Andry yang akan pergi ke luar kota selama seminggu untuk menjalankan tugas perusahaan.
Seperti
itulah yang menjadi tugas sehari-hari Fanny yang kini telah menjadi ibu
rumah tangga. Gadis yang dulu menjadi idola kampus dan akrab dengan
kehidupan malam itu telah bermetamorfosis menjadi seorang wanita yang
keibuan. Ia rela memberi ASI dan mengurus anaknya sendiri, sejak
melahirkan ia hanya memperkerjakan suster selama tiga bulan pertama
untuk belajar cara-cara mengasuh bayi. Selanjutnya ia melakukannya
sendiri dengan harapan agar dekat dengan anaknya.
Siang
itu setelah makan siang Andry menenteng koper berukuran sedang dan tas
berisi laptopnya menuju ke taksi yang telah menunggunya di depan pagar
rumahnya. Fanny mengikutinya dari belakang sambil menggendong Herrick.
“Cepet pulang ya, we’ll miss you” kata Fanny
“Iya, cuma seminggu aja kok, baik-baik ya di rumah”
“Herrick, bye-bye to papa ya!” sahut Fanny pada anak di gendongannya itu sambil melambaikan tangan mungilnya pada ayahnya.
Andry
mencium kening istrinya dan pipi anaknya dengan lembut sebelum memasuki
taksi. Kendaraan itu pun akhirnya berjalan, Fanny menatapi taksi yang
membawa pergi suaminya itu hingga menghilang dari pandangan. Bagi
dirinya yang baru pertama kali ditinggal suami setelah punya anak,
sehari saja tanpa Andry sudah membuatnya rindu setengah mati, rindu akan
cinta dan belaiannya, sekarang ia harus melewati hari-hari tanpa
suaminya selama seminggu karena pria itu harus ke luar kota untuk urusan
bisnisnya. Memang ia senang juga karena karir suaminya semakin cerah
setelah naik jabatan sebulan yang lalu tapi di saat yang sama ia pun
khawatir pria itu akan sering bertugas ke luar dan meninggalkannya di
rumah dan terbukti kekhawatirannya itu menjadi kenyataan seperti
sekarang ini. Satu lagi yang menjadi beban pikirannya adalah tidak
adanya pembantu untuk mengurus urusan rumah tangga. Sejak ia memecat
pembantu rumah tangganya dua minggu lalu karena kedapatan mencuri
perhiasan, ia masih trauma dan belum berani mempekerjakan pembantu baru
hingga saat ini. Maka untuk itu ia menyewa seorang pembantu tidak tetap
yang datang seminggu dua kali untuk mengurus rumahnya sambil menunggu
pembantu tetap yang dirasanya cocok. Hari itu ia memulai hari pertamanya
hanya berdua dengan anaknya tanpa suami. Cukup berat memang, menyapu,
mencuci piring dan memasak harus dilakoninya sendiri, namun semua
terbayar ketika melihat Herrick tersenyum manis dan tertawa-tawa ketika
bermain dengannya. Sekitar jam tigaan, terdengar bunyi bel, ia bergegas
ke luar melihat siapa yang datang. Seorang petugas pos mengantarkan
sebuah amplop coklat untuknya. Fanny membuka amplop itu yang isinya
adalah sebuah kartu undangan pernikahan. Sebuah nama yang dikenalnya
tertera pada undangan itu, Dr. Bella Andriani. Bella, salah seorang
temannya ketika kuliah dulu dan juga sama-sama ikut KKN dulu. Senyum
manis mengembang di wajah wanita itu sebagai tanda turut berbahagia.
############################
Hari ketiga, pukul 11.10
“Yah beres akhirnya!” sorak Fanny dalam hati sambil menjemur pakaian terakhir di tempat jemuran di lantai paling atas rumahnya.
Hari
itu adalah hari Minggu, pekerjaan sudah tidak terlalu banyak karena
sebagian sudah diselesaikan oleh Mbak Nur yang kemarin datang. Ia masuk
ke dalam dan menekan tombol dispenser sehingga air mengalir mengisi
gelasnya. Diminumnya air itu sekali teguk untuk menghilangkan dahaganya.
Baru saja mau berjalan masuk ke kamar untuk melihat keadaan anaknya,
ponselnya berbunyi.
“Hai honey…gimana di sana?” sapa suara di seberang sana.
Selama
hampir setengah jam Fanny berbicara dengan Andry, sebelumnya ia sempat
melihat sebentar keadaan di dalam kamar dimana Herrick masih terlelap di
ranjangnya. Setelah menutup pembicaraan ia segera ke kamar, wajah polos
Herrick yang sedang tidur membuat hatinya bahagia, dielusnya kepala
anak itu dengan lembut dan diciumnya lembut pada keningnya. Ia baru
ingat harus menyiapkan makan siang untuk dirinya, maka mumpung Herrick
sedang tidur, ia pun ke dapur dan memanaskan makan siang di microwave.
Tiga menit kemudian, oven pun berbunyi, Fanny mengeluarkan lauk sisa
kemarin yang sudah hangat itu dan menyendoknya beberapa kali ke piring
nasinya. Ia baru menghabiskan setengah piring ketika bel berbunyi tanda
ada tamu.
“Siapa sih?” tanyanya dalam hati agak kesal karena terganggu makan siangnya.
Ia
menutup dulu piring makannya dengan tudung lalu ke depan membukakan
pintu. Di depan pagar sudah menunggu dua orang pria, yang satu berusia
awal 40an, berambut cepak dan berkumis tipis, sedangkan yang satunya
adalah seorang lagi bertubuh pendek…mungkin lebih tepatnya cebol,
tampangnya mirip dengan Ucok Baba, gaya rambutnya persis dengan temannya
yang lebih tinggi, tapi kumisnya sedikit lebih tebal. Sesaat Fanny
merasa jengah melihat kedua orang itu. Mereka memandanginya, yang saat
itu memakai kaos longgar dan celana pendek yang tidak bisa
menyembunyikan keindahan pahanya, dengan sorot mata menelanjangi seolah
ingin menerkamnya.
“Iya…ada perlu apa Pak?” tanyanya berusaha ramah
“Aahh…Ibu ini istrinya Pak Andry ya?” si kumis menyapa sambil tersenyum.
“Ya benar…kalian…”
“Kita dari tempat kerjanya Bapak, sekarang ini Ibu lagi di rumah sendirian kan? Ditinggal Bapak tugas ke daerah?” si cebol bertanya
 |
| Iqbal & Mansur |
Fanny
teringat lagi, ia memang pernah berpapasan dengan si pria yang lebih
tinggi ini waktu ke tempat kerja suaminya. Ia hanya tukang bersih-bersih
toilet di sana, waktu
itu pria ini masih memakai seragam petugas kebersihannya, ya Fanny ingat
benar. Kesan pertama sejak bertemu dengannya pun sudah tidak enak
karena pria itu memandanginya seperti menelanjangi. Lalu ada perlu apa
seorang petugas kebersihan datang menemuinya sekarang?.
“Iya…ada perlu apa ya? Saya sedang sibuk” Fanny menjawab cepat, berharap agar mereka segera pergi.
“Mungkin sebaiknya kita bicara di dalam aja Bu supaya lebih enak” kata si kumis.
“Gapapa kok Pak di sini aja, ada apa?”
“Hhhmmm….saya rasa sebaiknya masalah ini dibicarakan di dalam” si kumis dengan agak memaksa.
“Bener Bu soalnya ini berhubungan sama Ibu juga!” si cebol menimpali, “ga enak kan kalau orang denger tentang rahasia Ibu waktu KKN di desa **** dulu”
“Apa!
apa kamu bilang!? Siapa kalian sebenernya!?” Fanny sangat terperanjat
mendengar si cebol menyebut KKN di desa **** yang tidak lain adalah
peristiwa memalukan itu.
Kedua orang itu langsung menyeringai mesum sambil tertawa cengengesan melihat reaksi Fanny.
“Hehehe…dunia ini memang sempit kan
Bu…Fanny? Ibu mungkin ga kenal atau lupa ke kita, tapi kita inget sama
Ibu soalnya kita dulu ikut nontonin Ibu waktu dientotin para sesepuh
desa dulu, kita juga ikutan ngecrot di bodi Ibu kok” si kumis
cengengesan.
Betapa
Fanny merasa seperti disambar petir, ia tidak menyangka kalau kedua
orang ini adalah warga desa yang pernah mengikuti ritual Dewi Kesuburan
dulu, yang menontoninya ketika disetubuhi oleh para tetua desa. Mereka
kini menjadi pesuruh atau petugas kebersihan di perusahaan suaminya,
apakah Andry telah tahu semua ini dari mereka?
“Kurang ajar! Apa mau kalian?!” Fanny sangat marah dan hampir berteriak, “Pergi kalian! Pergi!” usirnya dengan emosi.
Ia
melihat reaksi yang sama pada kedua orang itu dengan para sesepuh desa
dulu ketika ia marah mengusir mereka. Keduanya juga hanya senyum-senyum
cengengesan.
“Baik Bu…gak usah marah-marah gitu, tenang, kalau didenger tetangga kan
gak enak!” sahut si pria jangkung dengan santai, “kita pergi deh…cuma
Ibu jangan kaget kalau nanti satu kantor tahu Ibu pernah dientot
rame-rame waktu upacara dulu, terus kalau Bapak tahu gimana yah
reaksinya?” sambungnya sambil tertawa sinis.
Perkataan
yang mengandung ancaman itu membuat Fanny menjadi ciut nyalinya dan
tubuhnya lemas, ia tidak sanggup membayangkan apa jadinya kalau Andry
tahu masalah ini, ia tidak ingin masa lalunya yang telah ia kubur
dalam-dalam merusak rumah tangganya.
“Tunggu…yang kalian mau uang kan?
Saya akan berikan, tapi tolong jangan ganggu saya!” tawarnya ketika si
jangkung meraih helmnya yang digantungkan pada stang motornya.
Kedua orang itu saling pandang dan kembali cengengesan, senyum mesum mereka membuat Fanny semakin muak.
“Bukan uang yang kita mau Bu, ga usah repot-repot, kita cuma ingin mengulang kembali ritual dulu itu, dulu kan
kita cuma bisa nonton sambil ngocok, masih kurang belum nyobain menu
utamanya!” kata si cebol, “tapi kalau Ibu kelihatannya keberatan, ya
udah…kita juga ga maksa kok hehehhee…!”
“Paling
orang-orang pada tau istrinya Pak Andry yang cantik itu pernah dipake
rame-rame” timpal si cebol sambil berbalik mengikuti temannya.
“Se…sebentar…baik,
kita bicarakan hal ini di…dalam!” panggil Fanny dengan suara parau
seraya membukakan gembok dan pintu gerbang.
Pikirannya
kalut dan tidak tahu harus berbuat apa lagi sehingga ia memutuskan
untuk memanggil mereka dan mengajaknya masuk ke dalam, dalam hatinya ia
masih berharap menemukan jalan keluar bernegosiasi dengan mereka walau
kemungkinan itu terbilang kecil. Kedua orang itu langsung menyeringai
puas penuh kemenangan, si jangkung segera menuntun motornya memasuki
pekarangan rumah Fanny.
“Wah…wah,
gak kerasa ibu sekarang sudah jadi punya keluarga tapi tetap aja
cantik” kata si jangkung melihat-lihat foto-foto keluarga Fanny di ruang
depan, “nah…gimana sekarang keputusannya Bu?” lanjutnya sambil seraya
dengan santai menjatuhkan diri ke sofa di ruang tamu.
“Tolong Pak…saya bisa bayar kalian, tapi tolong jangan begini” kata Fanny dengan suara memelas.
“Santai
aja Bu, kok di rumah sendiri berdiri kaya gitu sih, ayo sini dong…duduk
sini” perintahnya seraya menepuk tempat kosong di sebelahnya.
“Iya Bu, duduk aja dulu supaya kita bisa bicarakan lebih santai!” kata si cebol menimpali.
Dengan ragu-ragu, Fanny pun duduk di sebelah si jangkung yang lalu dengan kurang ajar memepetkan duduknya pada dirinya.
“Kenalin dulu Bu, nama saya Mansur, ini teman saya namanya Iqbal” katanya memperkenalkan diri dan temannya.
Jantung Fanny berdegup kencang menanti apa yang akan terjadi padanya. Ia mendengar Mansur berbisik di telinganya
“Boleh saya layani Ibu seperti waktu ritual Dewi Kesuburan dulu?”
Fanny
benar-benar merasa panas dan ingin menampar mereka karena merasa sangat
dilecehkan, tapi bisa-bisa mereka malah kalap atau kalau pun tidak
bisa-bisa menyebarkan skandal itu di kantor, maka ia pun meredam
amarahnya. Tak terasa ia menyilangkan kedua tangannya menutupi dadanya
yang sebenarnya masih tertutup kaos.
“Pak, jangan kurang ajar ya. Saya akan teriak!” Fanny mencoba menggertaknya ketika Mansur mendekap tubuhnya.
“Hehehe…masa
sih ibu mau teriak? Mau orang lain tau apa?” ejek Mansur yang makin
kurang ajar dengan menyusupkan tangannya ke ketiak kanan Fanny dan
meraih payudaranya.
“Udah
Bu jangan sok suci gitu…waktu di ritual dulu aja goyangnya liar gitu
kok!” sahut si cebol, Iqbal sambil membuka sepasang paha jenjang Fanny
dan mengambil posisi di antaranya, tinggi badannya nampak hanya sebatas
dada Fanny ketika duduk di sofa.
“Bajingan
kalian! Lepaskan....nggak!!” Fanny berontak dan berteriak, namun Mansur
makin memepetnya di ujung sofa dan Iqbal dari depan, ia
menggeleng-gelengkan wajahnya ketika Mansur hendak menciumnya, kakinya
juga menendang-nendang namun karena si cebol telah terlebih dulu
mengambil posisi di tengahnya, tendangannya itu hanya menendang angin,
malah si cebol dapat semakin merasakan kemulusan kulit pahanya.
“Lepasin aaaahh…mmmhh!” akhirnya Mansur berhasil melumat bibir Fanny dan meredam jeritannya, “eemm…mmmhh!”
Rontaan
Fanny semakin melemah karena kedua pria itu semakin mendesaknya di
sudut sofa, pergelangan tangan kirinya pun dipegangi oleh Mansur. Air
mata mulai menetes di sudut mata ibu satu anak itu, perkosaan lima
tahun lalu akan kembali terulang lagi padanya. Sementara si cebol
meraih payudara kirinya dan mulai meremas-remasnya, tangan satunya
mengelusi paha mulusnya. Dikerubuti dan dirangsang sedemikan rupa oleh
dua orang sekaligus, menyebabkan Fanny merasakan gejolak luar biasa dan
tak terkendali melanda tubuhnya. Tubuhnya berkelojotan dan mengejang
hebat, berulang kali ia terlonjak lonjak, kakinya melejang-lejang,
kenikmatan mulai menjalari seluruh tubuhnya hingga bergetar. Perasaan
Fanny makin tak karuan ketika tangan Mansur menyelinap dari bawah dan
menyingkap kaosnya, tangan itu langsung masuk ke dalam cup branya. Tanpa
disadarinya, mulutnya yang terkatup rapat mulai membuka dan membiarkan
lidah Mansur masuk dan menyapu rongga mulutnya.
“Mmmhhh…ccckkk…cckkhhh…ssslllrrpp!” desahan tertahan dan decak ludah terdengar dari mulut mereka yang saling berpagutan.
Iqbal
menjilati paha mulus Fanny dengan bernafsu, kumisnya yang lebat terasa
menggelitik di kulit paha wanita itu. Tangannya yang pendek itu
mengelus-elus selangkangan Fanny dari luar celananya. Dengan intensnya
rangsangan-rangsangan pada setiap bagian sensitif, Fanny semakin
terhanyut dalam birahi yang dahsyat.
Mansur
mengembangkan variasi remasan dan rabaan pada payudara Fanny yang
sensitif. Terkadang jarinya seakan memencet dan menarik putingnya dengan
kasar tapi terkadang berubah menjadi elusan dan pilinan lembut. Wanita
itu pun tak bisa mengelak dari gelombang sentuhan erotisnya. Pria itu
melepaskan ciumannya lalu bibirnya bergerak menelusuri leher jenjang
Fanny dan mencaplok payudaranya yang telah ia keluarkan dari cup bra
itu.
“Sssshh…tolong hentikan Pak!” desah Fanny ketika gigi Mansur menggigit lalu disusul hisapan pada payudaranya.
Dengan
gemas Mansur mengenyoti payudara Fanny sambil tangannya merayap
menggerayangi perutnya yang sudah kembali kencang pasca melahirkan.
Tiba-tiba Mansur melotot, ia merasakan ada cairan hangat menyemprot di
mulutnya.
“Mmmm...ada susunya…gurih, baru inget ibu kan
lagi masa menyusui hehehe!” kata Mansur melepaskan sejenak kenyotannya,
“Nih liat Bal, keluar susunya!” katanya pada temannya sambil meremas
puting itu agak keras hingga mengeluarkan cairan berwarna putih dari
ujungnya.
“Whuehehe…ini
baru asyik nih, bisa sambil minum!” sahut Iqbal sambil mengangkat kaos
Fanny yang sebelah kiri dan dengan terburu-buru menurunkan cup branya.
“Ooohh…jangan Pak…saya mohon!” Fanny terus memohon dengan air mata makin bercucuran.
Kini
Iqbal juga ikut melumat payudaranya, dihisapnya gunung kenyal itu
hingga mengeluarkan susu. Fanny kini serasa sedang menyusui dua bayi
besar, air susunya disedot oleh dua begundal ini, ia hanya bisa meringis
dan meremasi rambut mereka. Ia merasakan tangan si cebol menyusup masuk
lewat bagian atas celana pendeknya, dipegangnya tangan itu agar tidak
terus masuk, tapi penolakan itu tak banyak berarti karena Iqbal terus
memasukkan tangannya hingga menyentuh vaginanya.
“Aaahh….eeenngghh…jangan!”
desah Fanny ketika tangan berjari-jari pendek itu mulai meraba-raba
wilayah kewanitaannya, lebih jauh jarinya yang nakal telah menemukan
belahan vaginanya dan mulai mengelusi bibirnya.
“Oooggghhhhhhh!!”
Fanny melenguh panjang dengan kedua mata tertutup dan menengadahkan
kepalanya saat jari pria cebol itu menusuk dan masuk ke liang vaginanya.
Mansur
mengangkat lengan wanita cantik beranak satu itu dan melepaskan
kaosnya. Kaos itu dilemparnya ke belakang setelah lepas dari tubuh
pemakainya. Kemudian tangannya menuju ke punggung untuk melepas kait bra
Fanny. Pada saat yang sama, Iqbal melucuti bagian bawah. Ditariknya
celana pendek berserta celana dalam itu melolosi sepasang paha jenjang
ibu cantik itu. Dalam waktu singkat pakaian yang menutupi tubuh Fanny
terlepas semua, yang terakhir tersisa adalah bra putih yang telah
diturunkan cupnya serta terbuka kait di belakangnya. Ia menyilangkan
kedua tangan menutupi dada dan menutupi selangkangannya dengan telapak
tangan kanannya. Mata kedua pria bejat itu seperti mau copot memandangi
tubuh mulus Fanny. Iqbal langsung membuka lebar-lebar kedua paha wanita
itu hingga tampak bibir vagina Fanny telah terbuka dan sudah basah oleh
lendir vaginanya. Pria cebol itu berlutut dan menciumi vaginanya di
bagian tengahnya yang merah. Wajahnya tenggelam dalam kemaluan Fanny
mengisap-isap liang surgawinya. Mansur terlebih dulu melepaskan kemeja
lusuhnya dan celananya. Penisnya sudah mengacung tegak begitu keluar
dari celana dalamnya, ukurannya termasuk besar, kurang lebih 20cm,
dengan kepala merah bersunat. Kemudian ia menaikkan satu kakinya ke sofa
dan meraih kepala Fanny mendekatkannya pada senjatanya itu.
“Nggak Pak…nggak mau!” Fanny menggeleng dengan berlinang air mata ketika penis itu disodorkan di depan wajahnya.
“Ayo Bu, mainin, buka mulutnya…dulu sama Ki Wongso aja mau, atau mau saya main kasar?” ucapnya dengan nada mengancam.
Fanny
pun akhirnya meraih penis Mansur dengan tangan bergetar, bau benda itu
yang tidak sedap sudah terasa. Ia melihat ke atas di mana pria itu
sedang berkacak pinggang dengan senyum penuh kemenangan, muak dan marah
sekali rasanya, namun ia tidak punya pilihan lain. Maka ia pun mulai
menjulurkan lidahnya menjilati kepala penis yang mirip jamur itu.
Fanny
memaju mundurkan kepalanya melakukan gerakan memutar di kulup kepalanya
dan menjilati pangkal penis Mansur sampai ujung lubang kencingnya.
Penis itu pun basah oleh ludahnya. Rasa jijik dikesampingkannya agar
dapat memuaskan pria ini dengan harapan mereka segera melepaskannya.
Jari-jari kecil Iqbal membuka liang vagina Fanny dan mulai masuk ke
dalam, bukan hanya satu, tapi lima sekaligus. Ia kocok-kocokkan tanganya di sana.
Fanny yang awalnya merasa tadi merasa sakit perlahan-lahan mulai
merasakan kenikmatan, ia pun mulai menggerakkan pinggulnya sendiri.
“Enak kan Bu? Tuh sampe geliat-geliat gitu hehehe” ejek pria cebol itu melihat reaksi Fanny.
Meskipun
merasa malu dan terhina, Fanny tak bisa menyangkal bahwa dirinya memang
sangat terangsang oleh perlakuan mereka. Setelah benar-benar becek
Iqbal menarik keluar tangannya. Terdengar
bunyi ‘plop!’, ketika ia mengeluarkan seluruh tangannya yang berlumuran
cairan kewanitaan ibu cantik itu. Pria cebol itu menyeringai mesum
melihat telapak tangannya yang basah oleh lendir, dijilatinya cairan itu
dengan rakus. Setelah itu ia kembali membenamkan wajahnya pada
selangkangan Fanny. Diseruputnya cairan yang berlelehan di wilayah
segitiga itu seperti orang kelaparan. Kali ini hisapan-hisapannya
terhadap vagina Fanny makin kencang sehingga membuat tubuh wanita itu
menggeliat makin tak karuan, apalagi Iqbal juga memutar-mutar dua
jarinya pada liang kenikmatan itu. Lidah pria cebol itu mengais-ngais
makin dalam menjilati bibir vagina dan juga dinding di dalamnya, dengan
kedua jarinya ia membuka lebar-lebar bibir vagina wanita itu sehingga
bagian terkuak lebar dan klitorisnya terlihat. Fanny semakin larut
dengan jilatan Iqbal pada vaginanya, hal ini menyebabkan hisapannya pada
penis Mansur pun semakin bersemangat. Ia memaju-mundurkan sendiri
kepalanya dan menghisap benda itu tanpa harus dibimbing oleh pemiliknya.
Sepuluh menit kemudian tiba-tiba badan Fanny mengejang dahsyat,
tangannya meremas keras kepala Iqbal yang berambut tipis, ia mendorong
Mansur hingga penis pria itu terlepas dari mulutnya. Matanya
membeliak-beliak dan mulutnya mengap-mengap menandakan ia semakin
mendekati puncak kenikmatan.
“Aaaaaaahhhhh!!!”
teriak Fanny keras sambil mengeraskan pegangannya pada kepala Iqbal, ia
mengalami orgasme yang sangat dahsyat, kedua pahanya hingga badannya
mengejang keras selama beberapa menit.
Cairan hangat berwarna bening mengucur deras dari vaginanya dan langsung diseruput oleh Iqbal.
“Wuiihh…gurih banget Bu, Sur liat nih muncratnya banyak banget gile…hehehehe…asyik kan Bu?” ejek Iqbal
“Deras
banget tuh Bu, Ibu juga kayanya konak banget ya, awalnya aja malu-malu,
persis waktu di kampung waktu ritual dulu…dasar gatel!” timpal Mansur,
“sini Sur bagi dikit dong, gua juga mau ngerasain pejunya Bu Fanny!”
Mansur
buru-buru mengambil posisi di antara kedua paha wanita itu dan
menggeser temannya, lalu…happp….sssluurrppp….ssslllrrrp…hisapan dan
jilatan Mansur lebih ganas sehingga Fanny pun kembali menggelinjang
dibuatnya, orgasme yang didapatnya pun terasa semakin nikmat saja. Ia
harus mengakui bahwa yang seperti ini tidak pernah didapatnya bersama
suaminya tercinta. Terlihat wajahnya sedikit malu karena orgasme
disaksikan kedua pria bejat itu bahkan menikmatinya.
“Nah Bu…sekarang waktunya, siap ya!” kata si cebol Iqbal sambil membuka pakaiannya.
Fanny
sempat memperhatikan penis Iqbal setelah pria itu menurunkan celananya,
benda itu berukuran kurang lebih mirip penis suaminya, tergolong besar
untuk orang sekecil dirinya. Pria itu kini menghampirinya dan menarik
kedua pergelangan kakinya hingga posisinya terbaring telentang di sofa.
“Sur gua dulu ya, daritadi kan gua baru jilat-jilat memek aja!” sahut Iqbal yang naik ke sofa, membuka lebar kedua paha wanita itu dan berlutut di antaranya.
“Oke
gih, tapi cepetan Bal gua juga kepengen nih!” kata Mansur yang akhirnya
memilih untuk menjarah tubuh bagian atas Fanny dulu, diangkatnya
punggung wanita itu lalu ia menyelinap masuk mendudukkan diri di sofa
sehingga kini Fanny bersandar pada tubuh pria itu.
“Gimana Bu? Enak nggak?" tanya Mansur sambil menatapku.
Tentu
saja melotot kepadanya, tetapi Mansur nampaknya sudah mengerti ciri
wanita dilanda birahi, sebab meski mata Fanny melotot marah, vaginanya
yang sudah basah tak bisa menyembunyikan birahinya. Mansur pun
melanjutkan aktifitasnya dengan meremas kedua payudara wanita itu.
Fanny
kini hanya bisa menggeliat-geliat dengan suara memelas minta
dilepaskan, reaksi yang justru menambah minyak dalam api birahi kedua
pria bejat itu. Iqbal merasa sudah cukup menggesek-gesekkan penisnya
pada vagina wanita itu selama lima menitan, ia siap untuk menusukkan penisnya itu ke liang kenikmatan yang telah basah itu.
"Ouhhggff.. ah Paakk!!" desah Fanny saat pria cebol itu menghujamkan penisnya yang telah mengeras itu ke vaginanya.
"Ohh
Bu, uennaakk sekali memekmu nyahh.. .kaya perawan aja!!" ceracau Iqbal
yang mulai menggenjot tubuhnya dengan irama yang perlahan
Fanny
mengimbangi gerakan Iqbal, secara refleks ia juga turut menggerakkan
pinggulnya menyambut tusukan-tusukan penis si cebol. Ternyata pria cebol
ini cukup mampu membuat Fanny menggeliat-geliat kenikmatan dengan
genjotannya. Sementara Mansur yang memeluknya dari belakang aktif
menggerayangi kedua buah dadanya sambil menciumi pundak, leher, dan
telinganya. Menit demi menit berlalu, si cebol masih bersemangat
menggenjoti Fanny. Sementara Fanny sendiri sudah mulai kehilangan
kendali diri, ia kini sudah tidak terlihat sebagai seseorang yang sedang
diperkosa lagi, melainkan nampak hanyut menikmati ulah kedua pria bejat
itu. Tanpa dibimbing atau diperintah, tangannya bergerak meraih penis
Mansur dan mengocoknya perlahan. Ketika wajahnya menengok ke samping,
Mansur serta merta memagut bibirnya. Mereka pun terlibat permainan lidah
yang menggairahkan, Fanny pun tampaknya sangat menikmatinya, ia
memainkan lidahnya merespon gerakan lidah pria itu. Di tengah
percumbuannya dengan Mansur, Fanny membuka matanya dan menggerakkan bola
matanya ke arah Iqbal, dilihatnya wajah mesum pria itu sedang
menatapnya dengan takjub, segaris senyum menjijikkan terlihat pada
bibirnya.
“Asyik kan Bu!?” ejeknya, “numpang nyusu ya, haus nih, eeemmhh!” habis berkata pria itu langsung melumat payudara kanannya.
“Bal, ganti posisi dong, gua pengen disepongin nih!” sahut Mansur setelah sekitar 15 menit mereka dalam posisi demikian.
“Boleh…gua
turun ke bawah aja ya” kata Iqbal sambil mencabut penisnya yang masih
tegak, kemudian mengajak Fanny turun dari sofa, “yuk Bu…nungging aja
ngehadap sofa, biar kita bisa doggie!” perintahnya.
Fanny, yang merasa tanggung karena belum mendapat orgasme, mengikuti saja perintah mereka tanpa membantah.
“Sini, mainin kontol saya Bu!” Mansur menyuruh dengan gaya seorang bos, ia duduk bersandar di sofa dengan kaki membuka lebar dan penis mengacung tegak.
Walaupun
merasa dilecehkan, sisi liar dalam diri Fanny semakin tak terkendali,
ia pun merangkak mendekati selangkangan pria itu. Tangannya menggenggam
penis yang tegang itu lalu mulailah ia menyapukan lidahnya pada batang
itu. Sementara Iqbal menggosok-gosokkan kepala penisnya pada bibir
vagina wanita itu, bersiap untuk kembali memasukinya. Tubuh Fanny pun
bergetar saat si cebol itu menekan penisnya hingga melesak masuk ke
vaginanya. Tanpa menunggu lebih lama lagi, Iqbal menggerakkan penisnya
maju-mundur. Persetubuhan itu terlihat tidak seimbang dan lucu karena
tubuh Iqbal yang mini, tangannya tidak mampu menjangkau payudara Fanny,
sehingga ia hanya mampu menggerayangi pantat dan pahanya. Pria dengan
tubuh normal tentu harus berlutut bila ingin bersenggama dalam posisi
demikian, namun Iqbal dapat melakukannya sambil berdiri karena kedua
kakinya yang pendek.
"Arghh..
Ter.. Terushh buu.." mulut Mansur mengoceh tak karuan saat Fanny
memasukkan batang kemaluannya yang sangat panjang itu ke mulutnya.
Dengan
perasaan bercampur aduk Fanny mengulum dan menjilati penis pria itu
yang sebelumnya telah ia basahi dengan ludahnya. Penis itu termasuk
panjang hingga mulut Fanny tidak muat menampung benda itu seluruhnya.
Kepala penis itu bergetar setiap kali lidah wanita itu membelai
kepalanya terutama lubang kencingnya. Suara erangan tertahan terdengar
dari mulut Fanny yang tengah menikmati penis Iqbal yang mengaduk-aduk
vaginanya.
“Oooowww…aaahh!”
Fanny melepaskan penis Mansur dan mengerang keras ketika ia merasakan
otot-otot vaginanya berkontraksi semakin cepat, gelombang orgasme itu
akan segera menerpanya.
Iqbal pun semakin cepat memaju-mundurkan penisnya melihat reaksi Fanny yang demikian menggairahkan.
“Uuuhhh…mau keluar Bu…uuhh-uhh!” pria cebol itu pun mulai menceracau tak karuan.
Akhirnya
dengan sebuah lolongan panjang Fanny mencapai puncak kenikmatannya.
Kepalanya mendongak menikmati kenikmatan yang menjalar ke seluruh
tubuhnya. Sementara Iqbal terus menusuk-nusukkan penisnya ke vagina yang
makin becek itu hingga akhirnya ia pun menyusulnya ke puncak tak sampai
tiga menit setelahnya. Fanny memejamkan mata merasakan sperma Iqbal
yang hangat menyemprot dalam liang vaginanya, ia juga dapat merasakan
kedutan-kedutan penis itu yang masih dihimpit di antara dinding
vaginanya.
“Pheeww…bener-bener
uenak tenan…lu musti coba Sur, peret banget!” sahut Iqbal setelah
menuntaskan orgasmenya dan menarik lepas penisnya.
“Ayo sini Bu, sama saya sekarang!” pria itu menarik lengan Fanny hingga tubuhnya terangkat.
Fanny
masih lemas setelah orgasme begitu pasrah ketika Mansur menaikkannya ke
pangkuannya. Dengan mudah pria itu kembali mendekap dan melumat
bibirnya. Fanny hanya bisa menelan segala perasaan tak rela yang
dirasakannya, tapi sudah tak berdaya melawan. Mansur semakin bernafsu
mencumbuinya, diciuminya seluruh wajah ibu muda yang cantik itu,
mengecup kedua matanya, hidungnya, dagunya, kedua pipinya, dan akhirnya
kembali melumat bibir. Fanny memejamkan mata, berharap hari ini cepat
berakhir. Ia merasakan tangan pria itu mulai meraba selangkangannya,
jarinya menyusup masuk ke vaginanya.
“Saya masukin ya Bu!” pinta Mansur di dekat telinganya.
Fanny hanya mengangguk pasrah
“Ayo naikan dikit Bu!“ perintahnya sambil memegangi penisnya sudah mengacung tegak
Fanny
pun hanya dapat menurut, tangan Mansur sempat beberapa kali menggosok
permukaan vaginanya seperti memastikan sesuatu, terkadang
menyentil-nyentil klitorisnya membuat wanita itu mendesah nikmat. Hingga
akhirnya pria itu menyuruhnya menurunkan pinggulnya, ia dapat merasakan
bagaimana penis itu mulai menyeruak masuk dalam vaginanya membuatnya
mendesah tertahan saat inci demi inci benda itu memberikan kenikmatan
bercampur nyeri. Mansur juga turut mendesah menikmati bagaimana
vaginanya menjepit penisnya.
“Gila Bu…sempit amat, enak…kayak memek perawan!” komentar Mansur
”Suami Ibu kontolnya kecil ya? Masa udah kawin masih rapet gitu?!” Iqbal si cebol itu turut mengejeknya sambil cengengesan
Sementara
Fanny masih sedikit kaget dengan penis Mansur dalam vaginanya yang
demikian keras. Tak lama kemudian, Mansur pun menghentakkan pinggulnya
sehingga penisnya melesak masuk semakin dalam kemudian disusul hentakan
berikutnya…lagi dan lagi. Vagina Fanny yang sudah basah kuyup memberikan
keleluasaan pada pria itu untuk makin cepat menggenjotnya. Baru saja lima menit naik turun di pangkuan Mansur, telinga Fanny sekonyong-konyong menangkap suara tangisan bayi dari dalam kamar
“Herrick…!” ujarnya lirih, ia meronta dan melepaskan tangan Mansur yang mendekapnya, “tolong…saya mohon, anak saya bangun!”
Ia
mendorong dada Mansur lalu bangkit dari pangkuannya dan buru-buru
berlari kecil ke kamar tanpa sempat memakai apapun. Didapatinya buah
hatinya itu sedang menangis meraung-raung di ranjang bayi, nampaknya ia
lapar atau mencari orang tuanya.
“Herrick…mama di sini ya sayang, cup…cup…cup!” Fanny dengan lembut menggendong anak itu sambil ia sendiri masih agak sesegukan.
Ia
tahu bayinya itu mencari susu, maka tanpa memikirkan apapun lagi, ia
segera duduk di ranjang dan menyandarkan punggungnya pada sandaran lalu
menyodorkan payudara kanannya yang telah terbuka pada Herrick yang
langsung mengenyotnya dengan bersemangat. Fanny terisak menyadari
keadaannya sekarang ini yang penuh dilema, dipaksa melayani nafsu bejat
dua pria itu sambil menyusui anaknya, apalagi kini mereka juga
menyusulnya masuk ke kamar.
“Wah…wah
si ibu lagi nyusu nih…bener-bener ibu yang baik ya” kata Iqbal yang
naik ke ranjang dan duduk di sebelah kiri wanita itu.
“Anaknya lucu ya Bu, hehehe!” Mansur juga turut naik ke ranjang dan memegang paha Fanny yang sedang menyelonjor.
“Tolong…saya
mohon, apa kalian masih punya perasaan? Saya sedang menyusui anak saya”
Fanny mengiba sambil menangis dengan suara bergetar, ia berusaha
memelankan suaranya agar tidak mengganggu anaknya.
“Oohh...silakan Bu, silakan, Ibu nyusuin anak Ibu boleh kok, tapi kan bisa sambil main sama kita juga” kata Iqbal.
“Tapi…tapi…” Fanny tidak sempat menyelesaikan protesnya karena si cebol melumat bibirnya.
Tanpa sadar, Fanny menikmati percumbuannya dengan si cebol.
“Pak…nngghh!” desahnya di sela-sela cecaran bibir pria itu.
Mansur
ikut naik ke ranjang, ia menggeser kaki kiri wanita itu sehingga
membuka dan vaginanya terekspos. Diperlakukan seperti itu, Fanny hanya
pasrah saja menerima karena ia tidak ingin mengganggu anak dalam
dekapannya. Sambil terus menyusui, ia biarkan lidah Iqbal mengais-ngais
rongga mulutnya, bahkan ia sendiri secera refleks ikut memainkan
lidahnya, juga jari-jari Mansur yang mengorek dan bergerak keluar masuk
vaginanya. Lelehan air mata nampak mengalir di pipinya yang halus.
Sungguh ibu macam apa dirinya kini, di satu sisi melakukan kewajiban
seorang ibu, namun pada saat bersamaan juga melakukan perbuatan terkutuk
ini, demikian pergumulan yang berkecamuk dalam hatinya saat itu.
“Hehehe…bener-bener
becek, Ibu ini nakal ya ternyata diem-diem suka kita entotin” ejek
Mansur semakin mempercepat cucukan jarinya lalu menariknya lepas hingga
lendir kewanitaan wanita itu menjuntai antara jari pria itu dengan
vaginanya.
Fanny
bertahan sekuat tenaga menghadapi serbuan-serbuan erotis mereka agar
tidak membuat anak kesayangannya ini merasa tidak nyaman. Untuk itu ia
pun mau tak mau membiarkan dirinya dihanyutkan oleh arus birahi yang
dialirkan kedua pria ini, ia terpaksa menikmati perkosaan itu. Beberapa
saat kemudian, Herrick akhirnya melepas hisapannya terhadap payudara
ibunya. Merasa anaknya sudah cukup menyusu, Fanny pun pelan-pelan
kembali meletakkannya ke kasur. Kini barulah ia dapat dengan leluasa
menggeliat dan mendesah.
“Heheh…ayo
Bu, kita lanjut ya tadi!” sahut Mansur sambil menarik kedua pergelangan
kaki wanita itu dan memutar tubuhnya hingga berbaring menyamping.
Setelah
dinaikannya kaki kanan wanita itu ke bahunya yang lebar sementara
tangan yang satunya mengarahkan penisnya memasuki vaginanya yang telah
basah. Fanny mengerang lirih sambil meremas sprei saat penis pria itu
kembali menembus vaginanya. Mansur pun memulai gerakan menggenjotnya
dengan berpegangan pada paha kanan wanita itu. Bersenggama dengan posisi
demikian menyebabkan pahanya bergesekan dengan paha mulus Fanny
sehingga menambah nikmatnya sensasi kenikmatan.
“Ma…Ma…Mama!” tiba-tiba Herrick yang setengah tertidur kembali membuka mata dan memanggil-manggil mamanya.
Rasa
gundah dan risih segera memenuhi hati Fanny, bagaimana tidak, dirinya
mengalami perkosaan tepat di depan anaknya sendiri. Untungnya Herrick
masih batita dan belum bisa bicara dengan jelas. Dalam hati Fanny sangat
berharap anak itu juga belum mengerti tentang apa yang disaksikannya di
depan matanya sendiri. Anak itu berguling ke samping lalu mengangkat
tubuhnya dengan bertumpu pada telapak tangan dan lutut. Dalam keadaan
sedang disenggamai, Fanny tidak bisa berbuat banyak selain tersenyum
dipaksa pada anaknya yang menggumam “Ma…ma…ma” sambil tersenyum padanya.
“Asyik kan Bu, dientot di depan anak sendiri? Hehehe!” ejek Mansur sambil menyentak-nyentakkan pinggulnya lebih cepat.
Perkataan
itu membuat Fanny menjadi malu dan merasa kotor pada dirinya sendiri,
ia tidak mampu menjaga kehormatannya bahkan terhanyut dalam perkosaan
ini. Ia begitu malu kepada Herrick yang sejak tadi mengamatinya dengan
pandangan polos tanpa dosa seorang bayi. Namun di sisi lain ia
benar-benar tak kuasa lagi membendung gairah tabu yang semakin
mendominasi tubuhnya.
”Ooough…nghhh!!”
ia melenguh tertahan saat penis pria itu bergesekan dengan dinding
vaginanya dan menumbuk klitorisnya sehingga menyebabkan tubuhnya seperti
tersengat listrik.
“Jangan
liat Mama…ahhh…jangan mandang gitu sayang...sshh!” Fanny mendesah putus
asa tak ingin anaknya yang masih bayi itu menyaksikan keadaanya seperti
ini.
“Anak
manis…hehehe…liat tuh, mamamu lagi ngentot…itu namanya ngen…tot, ya!”
si cebol Iqbal menggoda anak itu sambil mengelus-elus rambutnya.
Anak itu tertawa pada Iqbal, ia begitu polos sampai tidak mengerti bahwa pria ini adalah pemerkosa ibunya.
“Liat
nih Dek, liat om muasin mama mu, gini caranya nih!” sahut Mansur sambil
melakukan hujaman keras pada vagina Fanny, “biarin Bu anaknya ngeliat,
biar dia belajar hehehe!” lanjutnya meremas payudara ibu cantik itu.
Sodokan Mansur yang ganas membuat tubuh Fanny tergoncang-goncang dan tak sanggup menahan erangannya.
“Maafin Mama…maaf…Mama terpaksa!” jerit Fanny dalam hati sambil melihat tatapan polos pada mata putranya itu.
Hempasan
gelombang birahi yang dahsyat itu menyebabkan Fanny akhirnya takluk dan
membiarkan gelombang itu mengombang-ambingkannya. Kini Mansur mengubah
sedikit posisi mereka, ia telentangkan tubuh telanjang wanita itu di
ranjang, lalu menindihnya sebelum dan melanjutkan genjotan.
“Akhh…Bu
Fanny…aku suka banget memekmu….akhhh!!” pria itu semakin meracau tak
karuan dan terus menghunjamkan batang penisnya yang besar itu
mengobrak-abrik vaginanya.
Entah beberapa lama, Fanny merasakan kalau pria itu semakin cepat saja
dalam memompa penisnya lalu ia mulai dapat merasakan kalau penisnya
sedang berkedut-kedut dalam vaginanya. Secara refleks Fanny pun
melingkarkan kakinya mendekap pinggang pria itu, tangannya juga
melingkari lehernya. Di tengah pergumulan hebat itu, sesekali bibir
mereka berpagutan. Hingga akhirnya tak lama kemudian, dirasakannya
cairan hangat tumpah mengisi dinding vaginanya. Tubuh Mansur mengejang
dan mulutnya melenguh puas, genjotannya semakin melemah sampai beberapa
detik ke depan lalu ambruk menindih tubuh Fanny.
“Mamamu udah ngecrot tuh hehehe…asyik kan
tuh?!” kata Iqbal pada si kecil Herrick sambil memain-mainkan tangannya
seperti bersorak, anak itu tentu tertawa-tawa saja diajak main seperti
itu.
Sekali
lagi perasaan malu dan bersalah menyerang ibu muda itu seiring
berakhirnya klimaks dan ketika melihat anaknya yang lucu itu menatapnya
dan tertawa-tawa. Entah akan seperti apa ia memandang ibunya kelak kalau
saja ia mengerti apa yang disaksikannya sekarang. Walau anak seusia
Herrick tidak mungkin mengerti hal-hal seperti itu namun perasaan itu
terus menyerang Fanny.
“Ayo Bu! Sekarang sini sama saya!” kata Iqbal seraya merebahkan diri di samping Fanny.
“Sana
Bu, layani teman saya!” Mansur mengangkat tubuhnya hingga penisnya yang
masih tertancap pada vagina wanita itu terlepas, “cepat Bu, bukan
bengong gitu!” lanjut pria itu setengah membentak melihatnya terdiam dan
ragu.
Fanny
pun dengan terpaksa menaiki tubuh Iqbal hingga posisi mereka woman on
top. Dengan menahan rasa malu yang amat sangat karena melakukan di depan
anaknya, ia mengarahkan penis Iqbal ke vaginanya. Ia tidak ingin
menatap Herrick yang sedang menyaksikannya namun mau tidak mau ia harus
sesekali harus melihat padanya guna memastikan apakah anak baik-baik
saja.
“Ehe..he…Mama…Mama!” Herrick merangkak mendekatinya dan mendekap pahanya.
Fanny
yang sedang naik turun di atas penis Iqbal pun merasa serbasalah. Ia
sedang di tengah lautan kenikmatan merasakan tusukan penis pria itu dan
tidak ingin menghentikannya dulu, dengan kata lain tanggung berhenti di
tengah-tengah, namun apakah ia harus terus melanjutkan perbuatan nista
ini dengan diamati dari jarak sangat dekat oleh anaknya ini? Kemudian ia
merasakan sebuah tangan kasar meraih payudaranya dari samping belakang.
Mansur yang gairahnya mulai naik lagi meremas lembut daging kenyal itu
dan menjatuhkan ciumannya ke pundak sang ibu muda
“Sayang…jangan sekarang hhssshh…sana
dulu sayang yah…aaahh!!” pintanya dengan suara lirih pada anak itu,
betapa malunya saat itu hingga wajahnya merona makin merah dibuatnya.
Di
sisi lain Fanny sendiri makin larut dalam kenikmatan. Ia sendiri tidak
mengerti kalau ternyata permainan seks kedua bajingan ini yang liar
malah semakin menyulut gairahnya. Tanpa sadar dirinya menjadi makin
liar. Pantatnya ia goyang-goyangkan dengan gerakan erotis, desah
kenikmatan tak berhenti terlontar dari mulutnya tanpa mampu ditahannya.
“Maaf
Dry…maafin mama ya Rick…aku udah nggak tahan lagi…sekali ini saja!”
jeritnya dalam hati dengan diliputi perasaan bersalah yang telah
demikian bercampur baur dengan gairah liarnya.
“Tolongg…tolong
letakkan dia…ssshh…di box…berikan botol susu di atas buffet itu…saya
mohon…supaya saya lebih aahh…konsen dengan kalian!” pinta Fanny dekat
wajah Mansur yang saat itu hendak menciumnya.
“Boleh
Bu…tapi janji ya habis ini harus lebih hot pelayanannya!” pria itu
ternyata cukup pengertian dan segera menggendong tubuh mungil Herrick
untuk dimasukkannya ke dalam baby box dekat ranjang tempat mereka
bersenggama.
Anak
itu diam saja tanpa merasa takut pada pria asing yang menggendongnya
itu, ia masih menatap bengong pada ibunya dengan ekspresi polos.
“Nih
minum…duduk manis ya liat mamamu kita entot hehehe!” kata Mansur
memberikan botol susu yang terisi setengahnya pada anak itu.
Herrick tersenyum dan meraih botol susu itu dan langsung memasukkan bagian karetnya ke mulut
“Susu…susu…minum!” celotehnya lucu.
Melihat
anaknya telah berada di balik teralis baby box yang aman, Fanny merasa
lega, namun tentunya itu belum berarti penderitaannya berakhir, ia masih
harus melayani kedua bajingan ini hingga tuntas. Namun kini ia dapat
lebih fokus memuaskan mereka, dengan menepis sejenak perasaan malu dan
bersalah, ia pun mulai memvariasi gerakannya naik-turunnya dengan
gerakan memutar yang membuat si cebol gelagapan. Diraihnya penis Mansur
yang telah berdiri di sampingnya lalu dibawanya mendekati mulut. Tanpa
malu-malu lagi, ia memasukkan penis yang telah tegang itu ke mulutnya.
Dikeluarkannya semua teknik felatio yang dikuasainya untuk memuaskan
pria ini. Penis itu dihisapnya walau terasa ada bau menyengat tapi ia
tidak peduli. Bukan hanya mulut dan lidahnya, tangannya pun turut aktif
mengocoki batang penis itu sampai pemiliknya merem-melek dibuatnya.
Penis itu diputar-putarnya ke kiri dan ke kanan di dalam mulutnya sambil
dihisapnya dalam-dalam, jurus yang mampu membuat suaminya ketagihan
dengan servis mulutnya. Fanny semakin cepat naik-turun di atas penis
Iqbal hingga tiba-tiba si cebol itu memegangi pinggangnya hingga
gerakannya terhenti, ternyata ia sudah mau klimaks dan meminta Fanny
untuk mengoralnya hingga keluar. Fanny pun segera menyingkirkan batang
kejantanan Mansur, ia berbaring telentang lalu meraih penis si cebol
yang berlutut di sampingnya. Sementara itu Mansur langsung berlutut di
antara kedua belah pahanya dan menusuk vagina wanita itu dengan
penisnya.
Dalam
tempo beberapa menit saja, muncratlah sperma Iqbal memenuhi rongga
mulut Fanny, sebagian besar tertelan dan sisanya meluber di sudut
bibirnya. Semprotan kedua muncrat mengenai seluruh wajahnya dan
semprotan ketiga sebagian berhasil ditangkapnya dalam mulutku, namun
sebagian sukses membasahi wajahnya juga.
“Ssshhh…dibersihin Bu…iyahh gitu uuuhh asoy!” desah Iqbal menikmati lidah Fanny menjilati sisa-sisa sperma pada penisnya.
Sejak
pertama kali menelan sperma salah satu mantan pacarnya waktu awal
kuliah dulu, Fanny sangat menikmati menelan cairan kental berwarna putih
susu itu, terlebih ketika ritual Dewi Kesuburan dulu di mana ia
disemprot berliter-liter sperma, tidak peduli di bawah pelecehan maupun
bukan. Setelah membersihkan penis pria cebol itu, jari lentiknya menyeka
sperma yang membasahi wajahnya dan dijilatinya setiap jari untuk
mendapatkan sperma yang tercecer itu. Fanny mengemut jari-jarinya
sendiri sambil mendesah menikmati sodokan-sodokan Mansur yang semakin
cepat. Sesuai dugaan, pria ini sebentar lagi pasti off, tidak lama
kemudian otot-otot penis pria itu makin tegang pertanda spermanya udah
di ujung penis. Fanny memandang ke bawah antara kedua kakinya yang
terpentang lebar dengan batang kemaluan yang besar dari pria itu
terbenam disela-sela rambut hitam kemaluannya, pandangannya terus
menyapu tubuh pria itu yang telah berkeringat dan otot-ototnya menegang.
Melihat pemandangan itu, tiba-tiba suatu perasaan kenikmatan yang
dahsyat melandanya, yang membuat tubuhnya bergetar hebat dan
mengantarnya ke orgasme yang dahsyat.
"Aaghh.. oohh... benar-benar nikmat..!" keluhnya.
Terasa badannya melayang-layang, sungguh suatu kenikmatan yang tidak terlukiskan.
"Aagghh..!"
gerakan Fanny yang liar pada saat mengalami orgasme itu agaknya membuat
Mansur merasa nikmat juga disebabkan otot-otot vagina Fanny
berdenyut-denyut dengan kuat meremasi penisnya.
“Aahhh…anjrit!!” Mansur mengerang panjang sambil menekan dalam-dalam penisnya.
Cairan
hangat terus keluar dari dalam penisnya membasahi rongga-rongga di
dalam vagina wanita itu. Tubuh Fanny meliuk-liuk dan bergetar dengan
hebat kedua kaki dilingkarkan erat erat pada pinggang pria itu.
Mansur
terus menekan batang kemaluannya sehingga klitoris Fanny ikut tertekan
dan hal ini makin memberikan kenikmatan ekstra, tubuh ibu muda itu
bergetar lagi merasakan rangsangan dahsyat tersebut. Setelah menuntaskan
hajatnya, Mansur mengeluarkan penisnya dari vagina Fanny dan rebah di
sebelah kanannya. Sementara itu Fanny terbaring lemas dengan kaki
terbuka lebar sehingga sperma yang tertumpah di vaginanya mengalir di
bibir-bibir vaginanya yang masih berdenyut-denyut, nafasnya yang
terengah-engah membuat payudaranya turut bergerak naik-turun. Si kecil
Herrick menyaksikan semua itu dari sudut kamar di dalam boks bayinya, ia
memandang dengan tatapan tidak berdosa tidak menyadari bahwa ibunya
sedang diperkosa. Fanny tidak tahu apakah ia harus menyesal atau merasa
puas karena terus terang ia baru saja mereguk kenikmatan seks yang luar
biasa walaupun itu dengan cara dilecehkan oleh dua orang petugas
kebersihan dari tempat kerja suaminya dan di hadapan anaknya sendiri.
Kedua pria bejat itu tertawa puas memandangi wanita cantik itu terkulai
lemas.
“Hari ini segini dulu Bu…besok kita dateng lagi ya kan Bapak juga belum pulang” kata Mansur.
“Iya harusnya ibu terima kasih ke kita yang bikin ibu ga kesepian hehehe!” timpal si cebol dengan nada melecehkan.
Fanny diam saja, ekspresi marah nampak pada wajahnya tapi
ia tak berani memandang pada mereka karena merasa malu dengan apa yang
baru saja dialaminya, ia juga masih terlalu lelah untuk bergerak dan
bersuara. Namun melihat mereka mulai beres-beres membuatnya sedikit
banyak merasa lega, pemerkosaan ini sudah berakhir, ya setidaknya untuk
hari ini. Setelah keduanya pergi, ia mencoba mengangkat badannya dengan
tenaga yang sudah terkumpul. Air matanya masih mengalir, selain merasa
sakit secara fisik, aku juga merasa sangat terhina dengan semprotan
sperma pada sekujur tubuhnya. Perlahan ia mencoba bangkit turun dari
ranjang, tapi ketika berdiri, kedua kakinya masih terasa gemetaran,
vagina pun masih terasa nyeri sehingga ia kembali rebahan di ranjang.
Kelihatannya perlu beristirahat barang sebentar lagi untuk memulihkan
kondisinya.
“Iya
Rick…sebentar ya, Mama istirahat dulu” sahutnya lemas sambil matanya
memandang anaknya di boks bayi yang berceloteh memanggilnya.
Seperti
yang telah diduga, hari itu bukanlah terakhir kalinya kedua pria bejat
itu melampiaskan nafsu binatangnya pada Fanny. Keesokan harinya setelah
jam kerja mereka datang lagi dan menagih jatah syahwat padanya. Di bawah
ancaman skandalnya akan disebarluaskan, Fanny pun tidak berdaya menolak
mereka, ia harus rela tubuhnya dijarah keduanya. Rupanya mereka tidak
menyia-nyiakan sedikitpun kesempatan ketika suaminya tidak ada untuk
memperkosa ibu muda itu di rumahnya sendiri dengan berbagai gaya
dan cara. Hari demi hari Fanny terus berharap suaminya cepat pulang
agar mereka tidak datang mengganggunya lagi. Hingga memasuki hari
keenam, pukul lima sore,
Fanny menanti dengan berdebar-debar kedatangan mereka, keduanya telah
memperingatkan jangan coba-coba menghindar kalau tidak mau lebih
dipersulit. Waktu telah menunjukkan hampir jam tujuh tapi mereka belum
datang juga. Ketika itu ia sedang menunggu sambil menonton TV di ruang
tengah bersama si kecil Herrick yang telah tertidur di pangkuannya. Ia
sengaja menidurkannya dulu anak itu agar tidak menyaksikannya diperkosa.
Tiba-tiba sebuah siaran berita di TV membuatnya tertegun.
“Kecelakaan
lalu lintas sore tadi pukul 17.42 WIB telah menewaskan dua orang
pengendara motor. Saksi mata menyebutkan bahwa sepeda motor itu mencoba
mendahului sebuah angkot, namun terserempet oleh sebuah Suzuki Carry
yang melaju kencang dari arah berlawanan hingga terjatuh lalu terlindas
sebuah sedan Inova yang datang dari belakang. Pengendara motor yang
diidentifikasi bernama Mansur tewas seketika di tempat dan temannya yang
dibonceng bernama Iqbal meninggal dalam perjalanan menuju rumah sakit
akibat luka-lukanya……”
Berita
ini membuat Fanny tertegun dan merasa lega, lokasi kecelakaan itu
terletak tidak jauh dari tempat tinggalnya, mereka pastilah hendak
mendatanginya ketika itu.
“Ini karma atas perbuatan kalian” Fanny berkata dalam hati sambil terus menyimak berita.
Perhatiannya
baru teralihkan saat Herrick mulai membuka matanya dan sedikit
merengek. Ia mematikan tombol off pada remote TV dan menggendong
putranya.
“Yuk kita tidur yang bener di kamar!” katanya lembut sambil membelai rambut anak itu.
Dibawanya
anak itu ke kamar dan disusui sambil berbaring hingga tertidur. Malam
ini Fanny sungguh puas dan plong karena akhirnya ia bisa terbebas dari
kedua pria mesum itu. Ia sendiri akhirnya mengantuk dan tertidur pulas
sambil memeluk buah hatinya.
############################
Keesokan harinya, pukul 14.22
Fanny
sudah mau tidur siang setelah mencuci piring dan peralatan makan. Hari
ini adalah hari yang dinantinya, Andry pulang tapi sayangnya pagi tadi
ia mendapat SMS bahwa pesawat di delay sehingga mungkin suaminya itu
sampai rumah petang atau mungkin malam. Hatinya terasa ringan karena
beban berat yang membelengunya selama beberapa hari terakhir ini lepas
sudah. Baru saja mau menuju ke kamar tiba-tiba terdengar suara gembok
gerbang depan dibuka, hatinya langsung waswas. Siapa gerangan?
Malingkah? Karena Andry baru akan pulang sore nanti. Sebelum langkahnya
sampai ke pintu depan untuk melihat, tiba-tiba pintu membuka,
cklik…brek! Saat itu, Fanny melihat pria yang dicintainya sekaligus
telah dikhianatinya selama kepergiannya, suaminya Andry. Betapa ia
merindukan kehadirannya sehingga ia tidak terbengong dan tidak bisa
berkata-kata selama beberapa saat, begitu pula Andry yang menatap
istrinya dalam-dalam dan menjatuhkan kopernya ke lantai.
“Say…” itu yang keluar dari mulut Fanny setelah saling tatap selama beberapa detik, “kamu bilang pulangnya telat kan?”
“Iya…gua
mau kasih surprise buat lu Fan, gua juga kangen banget sama lu!” kata
Andry sambil menghampiri istrinya yang cantik itu.
“Teganya
kamu…plak!” tiba-tiba Fanny menampar pipi suaminya itu, “tolong jangan
bohongin gua kaya gini lagi, gua bener-bener kangen sama kamu say!
Huhuhu….!” Ia langsung mendekap Andry dan menangis terisak-isak di
bahunya.
“Fan…kamu kenapa?” tanya Andry sedikit bingung dengan tingkah istrinya.
“Jangan
tinggalin gua lagi say…please jangan…huhuuu…gua bener-bener ga tahan
jauh dari lu….gua sayang banget!” Fanny memeluknya makin erat dan
menangis sejadi-jadinya.
Dengan
penuh kasih Andry mengelus-elus rambut dan punggung istrinya serta
melupakan rasa panas pada pipinya yang barusan ditampar. Ia menenangkan
Fanny yang menangis makin mengguguk. Setelah istrinya mulai tenang,
diangkatnya wajahnya dan ditatapnya dekat.
“Herrick mana say?” tanyanya lembut
“Tidur, udah setengah jam-an” jawab Fanny masih sedikit terisak.
Wajah Andry makin mendekat…dekat…hingga bibir mereka bertemu dan saling kulum melepas kerinduan dalam diri mereka.
Bulan bersinar penuh dan bunga plum bermekaran,
saat itulah cinta bergelora bagaikan gelombang di laut timur.
Perpisahan sehari bagaikan ribuan tahun,
saat bertemu jantung pun berpacu.
Sungguh kekuatan cinta adalah misteri yang abadi.
Di
ruang itu pula, kedua insan yang dimabuk cinta dan rindu itu sangat
bergairah. Mereka bercumbuan sambil melepas pakaian masing-masing dan
pasangannya. Dalam ketergesaan mereka bercinta dengan panasnya tanpa
sempat lagi menanyakan kabar masing-masing selama berpisah. Sebuah puisi
klasik China anonim berjudul “Lagu dari Negeri Selatan” sangat tepat menggambarkan percintaan itu.
Tubuh basah oleh keringat, mereka bermain awan dan hujan.*
Kakinya di pundak sang lelaki, alisnya mengernyit bergairah.
Liar seliar-liarnya, ia memekik dalam nikmat.
Lidahnya saat dirasakan pertama kali, bak madu atau gula,
yang rasanya lama tersisa.
Malam harinya, setelah si kecil tidur, mereka pun mandi bersama berendam di bathtub.
“Say...”
panggil Fanny mesra dalam dekapan suaminya, wajahnya menengok ke
belakang dan menatap wajah Andry, “kalau gua melakukan kesalahan dalam
hidup ini, apa lu masih sayang sama gua?”
Sambil
membelai buah dada istrinya dengan lembut, Andry menjawab, “Fan…kenapa
lu harus ngomong gitu, gua sayang lu bukan karena kecantikan lu semata,
tapi karena karakterlu yang kuat. Gua tau lu udah gak perawan waktu kita
merid dulu, tapi apa gua pernah ngungkit-ngungkit itu? Lu itu bagian
dari hidup gua Fan, gua sayang banget sama lu, sama Herrick juga, yang
lalu biarlah berlalu, ok” habis berkata Andry mengecup leher istrinya.
Tiba-tiba
terdengar ringtone SMS masuk dari ponsel. Andry meraih ponselnya yang
diletakkan di dekat bathtub dan melihat pesan yang masuk. Ia
mengernyitkan dahi sebentar lalu kembali menaruh ponsel itu.
“Siapa say? Bukan panggilan mendadak dari kantor kan?” tanya Fanny
“Nggak,
ini Pak Adi ngasih tau katanya dua petugas kebersihan di kantor
meninggal kecelakaan, di dekat rumah kita ya ternyata lokasinya,
ck..ck…nasib orang ga ada yang tau ya?”
“Kalau
itu tidak terjadi, mungkin malam ini kamu akan pulang dan menemukan
mereka sedang memperkosa istrimu” kata Fanny dalam hati yang diam-diam
merasa senang.
Fanny
hanya menghela nafas menanggapinya, tidak tahu harus berkata apa. Tak
lama kemudian mereka kembali terlibat percintaan sebentar di bathtub
sebelum akhirnya naik ke ranjang dan tidur berpelukan dengan mesra.
“Thanks
Dry…gua bersyukur banget gua yang kotor ini bisa dapetin lu” kata Fanny
dalam hati sambil mengecup pipi Andry yang telah terlelap duluan.
##########################
Sembilan hari kemudian
Di sebuah kompleks villa mewah di pinggiran kota, pukul 13.25
Hari
itu sedang digelar resepsi pernikahan di taman yang merupakan salah
satu fasilitas di kompleks villa elite itu. Acara yang berupa garden
party tersebut adalah pernikahan Dr. Bella, salah satu teman Fanny,
termasuk skala menengah, dihadiri sekitar 400 undangan lebih. Gaun
terusan selutut berwarna biru muda bermotif floral membalut tubuh
langsing Fanny. Gaun yang tanpa lengan itu memperlihatkan kulit
lengannya yang putih mulus dan potongan dadanya yang rendah berbentuk V
itu memperlihatkan sedikit belahan dadanya yang membuat setiap pria
tergiur dan membuat iri para wanita seusianya yang tidak menyangka ia
telah mempunyai anak. Fanny datang berdua dengan Andry sementara Herrick
dititipkan pada mertuanya atau orang tua Andry. Di tengah pesta
keduanya terlihat menyantap hidangan sambil mengobrol akrab dengan
beberapa undangan lain yang sebagian merupakan teman di masa kuliah
dulu. Sedang asyik bercengkerama Fanny mendapat SMS masuk di ponselnya.
Agak aneh, SMS itu dari Bella sang pengantin, yang memang lima
belas menit sebelumnya terlihat meninggalkan acara dengan wajah agak
muram, sepertinya ia tidak enak badan dan ingin istirahat sebentar di
kamarnya, sementara suaminya sibuk menyambut ucapan selamat undangan
yang menghampirinya. Bella memanggilnya untuk datang ke kamarnya dengan
alasan ingin ditemani sekalian curhat.
“Say…gua ke kamar pengantin di paviliun barat sebentar ya, gak tau kenapa Bella manggil nih mau curhat katanya, ya kita kan udah lama gak ketemu juga kali”
“Of
course say…have your time girls, gua disini aja kok ga kemana-mana”
Andry yang asyik terlibat pembicaraan seputar bisnis dengan beberapa
hadirin dengan mudah mengiyakannya.
Ia pun menyusuri koridor yang menuju tempat yang dimaksud, tempat itu terbilang indah dengan pilar-pilar yang berukiran gaya Yunani kuno dan tamannya yang asri, suami Bella tentulah termasuk golongan atas karena mampu membiayai pesta di tempat ini.
“Bu Fanny ya?” sebuah suara dari belakang sedikit membuatnya terkejut ketika sedang mencari yang mana kamar pengantin.
“Eeenngg…iya
bener…bapak…?” Fanny memandang heran pada pria gemuk yang rambut botak
di bagian depan yang tiba-tiba memanggilnya dari belakang.
“Hehe…saya Parjo, penjaga villa di sini, Ibu cari kamar penganten kan? Ayo saya anter, Bu Bella tadi udah pesan ke saya” ajaknya.
“Nah
ini Bu kamar pengantinnnya, Bu Bella di dalam kok!” kata pria itu
sesampainya di depan sebuah pintu berhiaskan kain-kain pink di sisinya.
“Bel…Bella…ini gua dateng nih!” Fanny mengetuk pintu dan memanggil ke dalam.
“Masuk aja Bu, ga dikunci kok, masih istirahat kali Bu Bella-nya” pria itu membukakan pintu yang ternyata tidak dikunci.
“Bel…Bell…lu disini?” panggilnya dengan setengah suara, ia tidak menyadari pria itu diam-diam mengunci pintu.
Samar-samar terdengar suara gumaman dan lenguhan pelan, arahnya dari dalam sana dimana terletak ranjang pengantin.
“Bel….are you okay?” tanya Fanny melangkah menuju sumber suara.
Betapa
terkejutnya ia ketika melihat di ranjang itu Bella yang masih memakai
gaun pengantinnya sedang duduk di tepi ranjang sambil mengisap penis
seorang pria setengah baya dengan rambut beruban agak berantakan dan
berkumis lebat. Mata Bella memandang sayu dengan penuh perasaan bersalah
padanya ketika Fanny masuk mendapatinya dalam keadaan seperti ini.
“Hahaha…Non Fanny, gak kerasa udah lebih dari lima tahun tapi tetap cantik aja…inget saya kan Non?” sapa pria itu, “Non berdua gak nyangka kan kita sekarang kerja di sini jadi penjaga, dunia ini sempit kan?”
“Tidak…tidak
mungkin!” Fanny menatap kaget seolah tak percaya, kakinya terasa lemas
sekali seolah tidak sanggup lagi untuk berdiri, tiba-tiba sebuah tangan
gempal mendekapnya dari belakang.
Ya…pria
setengah baya yang penisnya sedang dioral Bella itu adalah Pak Hasan,
jawara desa tempat Bella dan Fanny KKN waktu kuliah dulu, ia pernah
menggarap Bella dengan cara menjebaknya dan Fanny ketika ritual Dewi
Kesuburan. Sedangkan Parjo dulunya adalah hansip desa yang pernah ikutan
mengerjai Bella bersama Pak Hasan dulu. Merekalah yang memaksa Bella
memancing Fanny masuk ke kamar ini ketika melihatnya di antara para
undangan, Bella yang tidak berdaya menolak terpaksa menuruti saja
keinginan mereka.
#############################
Di kebun
Sebuah
SMS masuk ke ponsel Andry, ia melihat SMS itu datang dari istrinya
sendiri, Fanny. Isinya:”Say tunggu sebentar ya…gua masih di kamar Bella,
mungkin setengah jam lagi keluar bareng, ga usah cariin tar gua ke
tempat lu, I luv U” Dengan tersenyum kecil Andry memasukkan kembali
ponselnya ke saku bajunya sementara terlihat di seberang sana suami Bella juga sibuk mengobrol.
############################
Di kamar pengantin
“Hehehe…udah kan Bu ngabarin suaminya?” kata Parjo yang tinggal memakai pakaian atasnya.
Saat
itu ia tengah menggenjot Fanny dalam posisi doggie di atas sofa.
Pakaian Fany telah terbuka sana-sini, bagian bawahnya telah tersingkap
hingga pinggang dan celana dalamnya telah berada di lantai dan bagian
atasnya telah dipeloroti sehingga buah dadanya yang montok itu terlihat
berayun-ayun saat digenjot pria itu.
“Uuuu…yah…udah
Pak!” jawab Fanny sambil mengangguk lemah, ia meletakkan kembali
ponselnya di meja kecil sebelah sofa itu, lalu ia menyambut mulut pria
itu yang melumat bibirnya.
Sementara di ranjang pengantin sana, Bella sedang naik turun di atas pangkuan Pak Hasan, ia
masih memakai gaunnya hanya saja kembennya telah dibuka sehingga pria
itu dapat mengenyotinya sambil menikmati goyangan-goyangannya. Dibalik
rok gaun itu penis Pak Hasan sedang mengaduk-aduk vagina Bella. Tidak
seorangpun menyangka apa yang terjadi di balik kamar pengantin saat
sedang berlangsungnya perayaan di hari bahagia sang pengantin, termasuk
suami-suami para wanita malang itu.