After The Night



Sore hari setelah pulang syuting di salah satu TV swasta, Cathy dan anak-anak VJ lainnya sedang latihan untuk persiapan malam FFI lusa nanti.

“One… two… three… four… music!” seru Cathy. Dia adalah leader para VJ karena dia yang paling populer di antara mereka semua. Cathy terkenal akan kecantikan dan kepandaiannya, dia juga salah satu VJ terkaya dan kebetulan kakeknya adalah pemilik sebagian saham MTV.

Memiliki wajah cantik, bergelimangan harta, serta prestasi yang tak terhitung, tapi Cathy merasa masih belum puas. Kenapa? Karena sampai sekarang ia masih jomblo, belum memiliki seorang kekasih!  Sebenarnya sudah banyak laki-laki yang naksir, mulai dari artis pendatang baru hingga pengusaha terkenal, tetapi tidak ada satu pun yang ia terima, Cathy merasa kurang cocok dengan pria-pria tersebut. Sehingga hidupnya masih terasa sepi sampai sekarang.

“Stop, stop! Latihan kita sudahi sampai disini saja! Sekarang kalian sudah bisa pulang!” Cathy berkata pada teman-temannya.

“Emm, baik.” mereka pun pergi kecuali Marissa, Rianti, dan Cathy yang masih harus beres-beres peralatan.

“Cath, sebelum pulang, gimana kalo kita lihat band-band pengisi acara nanti? Siapa tahu ada vokalis yang ganteng, hihihi.” ajak Marissa.

“Benarkah? Aku mau lihat ah!” kata Rianti dengan semangat.

“Hmm, iya deh.” sahut Cathy malas.

Mereka pun menuju ke studio 9, disana sudah ramai dengan artis dan aktor  yang sedang melakukan gladi bersih. Di panggung utama, tampak sebuah band sedang check sound. Di sebelahnya, beberapa penari latar mengulang-ulang gerakan mereka agar bisa tampil memukau saat show lusa nanti.

“Permisi dong!” Marissa mencari jalan, dia mendesakkan tubuhnya yang sintal dan montok ke gerombolan artis yang menumpuk di kaki panggung. Cathy dan Rianti mengikutinya dari belakang.

“Oh, Cath, lihat! Si Bondan makin cute aja ya!” seru Rianti sambil menunjuk ke arah pemain bass yang ada di atas panggung.

“Gantengan juga Pasha Ungu!” kata Marissa tidak mau kalah.

“Hmm, siapa tuh yang menemani Pasha nyanyi?” tanya Cathy.

“Itu mah si Ridho, anaknya Bang Haji Rhoma Irama. Kenapa, Cath?” jawab Marissa.

“Gak apa-apa, nanya aja.”

“Ah, kamu tertarik sama dia ya? Nanti aku kenalin deh,” kata Marissa pada Cathy.

“Heh, siapa yang tertarik?” Cathy melotot, tapi tak urung mukanya tetap memerah juga.

“Dicoba aja dulu, siapa tahu dia cocok sama kamu! Lagian dia ganteng n keren kok.” saran Rianti.

“…” Cathy hanya diam sambil memikirkan sesuatu.

“Huaaa... bang Ridho! Bang Ridho! Abang keren banget deh!” teriak para artis pendatang baru ketika Ridho usai melantunkan tembang lagu Menunggu. Sementara itu, Cathy hanya tersenyum mendengar pernyataan dari gadis-gadis yang biasa main di FTV tersebut.

“Ih, Cath, kamu kelamaan mikir deh. Ntar Ridho keburu disamber tuh sama cewek-cewek centil!” kata Marissa.

“Iya-iya. Nanti habis latihan selesai aku samperin dia.” Cathy menjawab.

“Nah, gitu dong.” Marissa tersenyum puas.

Beberapa saat kemudian, check sound Sonet 2 band pun selesai. Ridho turun dari panggung dengan keringat membasahi wajahnya yang sedikit bercambang.

“Wow, Ridho, kamu makin hebat aja ya!” puji Rianti. ”Lagumu enak banget!”

“Hehehe, nggak juga kok. Lagunya jadi enak karena band pengiringnya juga hebat.” Ridho menunjuk teman-teman band-nya.

“Hai!” sapa Cathy, terlihat agak sedikit malu-malu.

“Hai juga.” Ridho menjawab sopan, dia sedikit tertegun menatap wajah cantik yang ada di depannya.

“Cathy tadi bilang kalau dia pengen kenalan sama kamu.” kata Marissa to the point.

“Yee, aku nggak bilang gitu kok.” bantah Cathy, makin terlihat malu. Wajahnya yang memerah makin membuatnya terlihat cantik.

“Hihihi, Cathy orangnya memang suka malu-malu.” tambah Rianti, sehingga membuat wajah Cathy tambah memerah.

“Haha, iya. Nggak apa-apa kok. Kenalkan, saya Ridho. Ini mbak Cathy kan?” kata Ridho sambil mengulurkan tangannya pada Cathy.

Cathy mengangguk. “Panggil Cathy aja, nggak usah pakai ’mbak’!” jawabnya dengan ekspresi dingin.

“Oh ya, Ridho. Nanti kamu ke malam FFI sama siapa?” tanya Marissa.

“Belum tahu. Kenapa, kamu mau pergi bersamaku?” goda Ridho dan langsung mendapat tatapan mematikan dari Marissa.

“Eh, tidak! Nanti aku kan mau pergi sama Daniel. Iya kan, Rianti?” kata Marissa sambil melirik ke arah Rianti.

“Iya, tentu saja!” Rianti tentu saja.

“Owh. Terus Rianti, kamu sama siapa?” tanya Ridho lagi.

“Ada deh! Iya kan, Marissa?” jawab Rianti sambil memberikan kedipan penuh arti pada Marissa.

“Iya, iya. Pasti, itu sangat pasti!” jawab Marissa dengan semangat.

“Nah, jadi berhubung aku dan Marissa sudah dapat temen buat ke acara besok lusa, gimana kalau kamu perginya sama Cathy aja?” tawar Rianti pada Ridho.

“Hmm, aku sih terserah Cathy-nya aja.” Ridho melirik wanita cantik blasteran Perancis, Manado dan Tionghoa yang ada di sebelah kirinya. Yang dilirik Cuma bersemu malu-malu.

“Gimana, Cath?” Marissa bertanya.

“…” Cathy hanya terdiam sementara yang lain menunggu jawaban darinya. “Baiklah, tapi aku tidak mau kamu jemput! Aku maunya kita ketemuan pas acaranya aja.” jawab Cathy pada akhirnya, melegakan semua orang.

“Ok deh. Kalo gitu kami pulang dulu ya? Sampai ketemu besok lusa. Bye!” Marissa melambaikan tangan dan segera menyeret dua temannya untuk pergi meninggalkan tempat itu, diiringi tatapan mata Ridho pada bokong indah mereka saat berjalan menjauh.

Di mobil, Marissa dan Rianti terus saling bercanda, mereka tampak gembira sekali, seperti tidak punya beban. Beda dengan Cathy yang pendiam, seperti ada yang dipikirkan. Cathy merasakan ada yang aneh ketika dia berada di dekat Ridho. Dia merasa jantungnya berdetak lebih cepat dan perasaan-perasaan aneh lain yang berkecamuk di dalam pikirannya.

“Ayolah, Cath, kau tidak mungkin jatuh cinta padanya!” gumam Cathy dalam hati.

***

Di malam FFI

“Ah, mana sih tuh Ridho kok nggak dateng-dateng juga?” kesal Cathy yang sudah menunggu hampir se jam.

“Sabar, mungkin lagi di jalan. Sebentar lagi sampai.” kata Marissa menenangkan. Dia sedang bergelayut manja di pundak Daniel sekarang, membiarkan bulatan payudaranya yang besar menempel di lengan laki-laki itu.

“Nah, itu dia datang!” seru Rianti, tangannya menunjuk tempat parkir.

Mata Cathy langsung tertuju pada Ridho Rhoma yang baru keluar dari mobilnya. Dia terlihat sangat tampan mengenakan setelan tuxedo formal, sangat cocok dengan Cathy yang terlihat cantik dengan dress malamnya yang elegan.

“Ah, anak band memang tidak pernah tepat waktu.” kesal Cathy, teringat dengan Enno ’Netral’, mantan pacarnya, yang juga sering telat seperti ini.

“Sudah nunggu lama ya? Maaf, tadi jalanan macet banget.” kata Ridho begitu sudah mendekat. Dia segera menyalami semua yang ada disitu, termasuk Cathy. Dia menggenggam tangan Cathy agak lebih lama dari yang lain, seperti ingin meresapi dan menghayati kehalusan jari-jarinya yang lentik.

”Ehm, Hmm,” Rianti berdehem, membuat Ridho segera melepas pegangan tangannya. Bersama Cathy, dia terlihat salah tingkah.

”Eh, maaf.” kata Ridho kikuk.

“Ya sudah, yang penting kan kamu sudah datang. Sayang, temenin aku ambil minum dong!” kata Marissa sambil menarik tangan Daniel Mananta menuju tempat minuman.

“Ayo, babe, antar aku ambil dompet di mobil ya!” pinta Rianti pada pasangannya. Tidak ada yang mengenalnya karena laki-laki itu berasal dari kalangan pengusaha, dan Rianti juga tidak mau repot-repot mengenalkannya. ”Biar jadi rahasia sampai kami nikah nanti.” begitu katanya.

“I-iya.” jawab pria berkaca mata itu. Mereka berempat pun pergi meninggalkan Ridho & Cathy berdua.

“Ehm, Cath, ayo kita masuk.” ajak Ridho.

“Boleh.” Cathy mengangguk.

Sambil melangkah, Ridho menarik tangannya agar badan mereka lebih mendekat. Cathy tidak keberatan. Selama acara berlangsung, dia juga tidak bisa konsentrasi. Siapa yang menang atau band apa yang tampil, Cathy tidak tahu. Cathy merasa wajahnya memanas karena jarak antara wajahnya dan wajah Ridho sangatlah dekat, bahkan iya dapat merasakan hembusan nafas hangat laki-laki itu menerpa wajahnya saat mereka bercakap-cakap. Suasana terasa sangat romantis tetapi juga kaku.

“Cath…” bisik Ridho lembut saat Wali tampil di atas panggung.

“Ya,” Cathy menyahut tanpa memalingkan muka, berusaha meredam gejolak batinnya yang terus bergemuruh sejak tadi.

“Emm, m-mau kah k-kau... m-menjadi... p-pacarku?” tanya Ridho gugup. Terlihat sekali kalau dia sudah melatih kalimat itu berkali-kali, tapi tetap gagal mengucapkannya dengan lancar.

”...” Cathy terdiam, tampak terlalu shock untuk menjawab.

“B-bagaimana, Cath. A-aku tidak ingin mendengar kata penolakan darimu.” kata Ridho lagi, mulai terlihat lebih percaya diri.

“A-apa?” Cathy masih bingung, tidak pernah menyangka Ridho akan menembaknya di pertemuan kedua mereka.

“Ya atau tidak?” Ridho kembali bertanya.

“…” Cathy merasa sangat bingung, harus menerimanya atau tidak. Jujur ia juga menyukai Ridho, tetapi ia juga masih galau mengingat percintaannya dengan Enno yang berakhir tragis.

”Ayo, Cath, katakan!” Ridho makin tak sabar. ”Aku sangat mencintaimu. Maukah kamu menjadi pacarku?”

Setelah berpikir beberapa lama, Cathy akhirnya menjawab. “Ba-baiklah, aku mau…” katanya sambil mengangguk.

“Benarkah, serius?” tanya Ridho penuh kegembiraan.

Cathy hanya  mengangguk sambil tersenyum, kemudian ia mendekatkan bibirnya ke mulut Ridho dan mengecup bibir tebal laki-laki itu sekilas. ”Itu sebagai tanda jadi hubungan kita.” bisiknya.

Ridho tersenyum gembira. “Tapi, kok cuman sebentar sih nyiumnya? Dikasih banyak juga nggak apa-apa.” sahutnya nakal.

“Hush, banyak orang!” ucap Cathy sambil memukul pelan pundak Ridho, laki-laki kelahiran Jakarta 14 Januari 1989 yang kini resmi jadi pacar barunya.

“Hehe, kita pulang yuk biar sekalian kuantar.” kata Ridho sambil menggandeng mesra tangan Cathy. Wartawan infotainment yang melihat  momen langka itu, segera membidikkan kameranya. Berita tentang hubungan mereka pasti akan ramai besok pagi.

“Ayo.” Cathy mengikuti Ridho menuju tempat parkir.

***

Di rumah Cathy Sharon

“Trims sudah nganterin aku. Mau mampir?” tawar gadis bernama lengkap Catherine Sharon Gasnier itu.

“Boleh, sekalian aku mau numpang pipis.” jawab Ridho. Mereka pun masuk ke dalam rumah. “Cath, kok sepi? Ortumu kemana?” tanya Ridho penasaran melihat keadaan rumah yang cukup hening.

“Mereka lagi di luar negeri. Oh ya, kamu mau pipis kan? Di kamarku aja ya, soalnya toilet di bawah lagi mampet.” jawab Cathy.

Ridho hanya mengangguk dan mengikuti gadis kelahiran Jakarta, 8 Oktober 1982 itu ke kamarnya. “Wow, kamarmu penuh dengan warna pink ya!” kaget Ridho, namun Cathy tidak menjawabnya. “Cath… Cathy… kamu ada dimana, sayang?” Ridho bingung karena tiba-tiba Cathy menghilang, padahal tadi dilihatnya gadis itu masuk ke ruangan ini.

Dia memandang sekeliling. Kamar Cathy terlihat cukup besar, sangat besar malah kalau dibanding kamar Ridho yang ada di rumah. Semuanya serba pink, mulai dari keramik lantai, kertas dinding, sprei tempat tidur, hingga hiasan dan pernak-pernik yang ada di lemari. Khas cewek lah pokoknya. Sebenarnya Ridho ingin menikmati suasana kamar itu lebih lama lagi sambil menunggu Cathy kembali, tapi karena dia sudah tidak tahan ingin pipis, akhirnya dia memutuskan untuk ke toilet dulu baru setelah itu mencari si pemilik kamar.

“Yang mana ya toilet nya?” Ridho memandangi deretan pintu yang ada di depannya. ”Ah, mungkin yang ini.” dilihatnya ada sepasang sendal karet di depannya.

Klek! Dia membuka pintu itu, dan... ”Auw!” Cathy yang sedang buang air kecil menjerit kaget.

Ridho segera mengalihkan pandangannya. “M-maaf, Cath, aku tidak tahu kalau kau ada di dalam.” dia segera menutup kembali pintu itu.

Ternyata Cathy juga sama-sama pengen pipis, jadi gadis itu masuk duluan ke dalam kamar mandi. Ridho sempat memergoki Cathy yang sedang membasuh selangkangannya. Bisa dilihatnya bokong dan paha Cathy yang bulat dan putih mulus. Ridho tegang. Dia mulai terangsang.

Tidak lama kemudian Cathy keluar hanya dengan mengenakan handuk, dress malam yang tadi dipakainya dia taruh di keranjang cucian. ”Kamu tidak apa-apa?” tanyanya saat melihat wajah Ridho yang pucat, dia lalu berjalan menghampiri pria itu.

“Ehm, m-maaf. A-aku tadi tidak sengaja.” gugup Ridho. Dia merasakan wajah nya memanas karena barusan melihat tubuh bawah Cathy yang telanjang  tanpa tertutup sehelai benang pun.

“Iya, nggak apa-apa. Salahku juga kenapa nggak ngunci pintunya tadi. Sudah ah, jangan malu gitu. Santai aja!” sahut Cathy dengan tatapan nakal.

“Ah, untuk apa juga aku malu?” Ridho tersenyum. ”Oh ya, Cath, biasanya kalau pacaran, aku selalu merayakannya.” ucap Ridho basa-basi.

“Maksud kamu apa?” tanya Cathy tidak mengerti.

“Ah, kau ini begitu polos ya?” ucap Ridho seraya menyeringai pada gadis itu. Lalu tanpa sungkan, ia mendekat dan langsung mencium bibir tipis Cathy dengan ganas, ia mengulum lembut bibir itu, serta sedikit menggigit lidahnya,  membuat Cathy mau tak mau harus membuka mulutnya, membiarkan lidah basah Ridho bermain di dalam rongga mulutnya.

“Ehmm… Ridho… s-sudah… ah!” desah Cathy sambil mendorong kepala Ridho menjauh. Ciuman mereka terlepas. Cathy menghela nafas cepat,  merasakan seperti ada yang hilang dari dirinya.

“Sayang, desahanmu sungguh membuatku bergairah.” Ridho yang melihat Cathy mulai takluk, kembali mencium lembut bibir gadis itu. Dan saat dirasanya Cathy tidak menolak, dia kembali melumatnya dengan ganas. Kali ini, tanpa sadar, Cathy mulai menikmati permainan Ridho pada bibirnya, dia bahkan mengalungkan tangannya ke leher pria itu agar ciuman mereka makin terasa nikmat.

“Ahh, Ridho!” rintih Cathy pelan saat ciuman Ridho mulai turun ke batang lehernya yang jenjang. Laki-laki itu terus menciumi leher Cathy hingga meninggalkan kissmark yang sangat banyak. Tangan Ridho juga sudah tidak tahan untuk tidak menggapai payudara Cathy yang terlihat menonjol dari balik balutan handuknya. Dia meremas-remasnya pelan, merasakan betapa empuk dan kenyalnya bukit bulat itu.

“Ah, Ridh, Ridho! H-hentikan… ehmm!” ucap Cathy di tengah desahannya.

“Come on, baby! I know u want it too.” jawab Ridho sambil mencucup leher Cathy semakin keras dan tangannya memijit payudara gadis itu semakin kuat.

“Ahhh… tidak!” Cathy semakin merintih. Meski ada sedikit rasa berat di hatinya, masa baru kenal sudah langsung ML? Tapi serangan dan serbuan Ridho membuat dia akhirnya menyerah perlahan-lahan.

Melihat mangsanya sudah pasrah, Ridho cepat membuka baju serta celananya, sedangkan handuk yang dikenakan Cathy ia tarik begitu saja hingga mereka sudah sama-sama telanjang sekarang.

“Aku mencintaimu, Cath!” seru Ridho sambil menciumi kembali bibir tipis Cathy.

”Aku juga mencintaimu, Dho!” balas Cathy mulai merespon permainan pemuda gemuk itu. Dia mengaitkan lidahnya dengan lidah Ridho untuk membiarkan air liur mereka saling bercampur dan bertukar.

Puas dengan bibir Cathy, Ridho menurunkan ciumannya. Dia mulai aktif menjelajahi leher jenjang Cathy yang sangat mulus, sementara tangannya asyik meremas-meremas dan menggerayangi payudara Cathy yang menggantung indah di depan dadanya. Ridho memainkan putingnya yang pink kemerahan, benda itu sudah terasa sedikit mengeras. Saat Ridho menghentikan pagutannya, semakin banyak kissmark yang tercipta di leher jenjang Cathy.

“Aduh, gimana nih, besok kan aku ada pemotretan.” Cathy memegangi lehernya yang berbelang-belang merah. Tangan Ridho yang asyik bermain-main di gundukan payudaranya, sama sekali tidak ia hiraukan.

”Gampang, nanti tinggal ditutup pake bedak.” jawab Ridho cuek, dengan ibu jari dan telunjuk, ia memilin-milin puting mungil Cathy sambil sesekali menarik-nariknya ke depan. Sementara bongkahannya yang padat dan putih mulus, ia remas-remas dengan penuh nafsu.

”Aghh,” Cathy merintih. Tubuh kurusnya melengkung dan semakin jatuh ke dalam pelukan sang kekasih.

“Saatnya memberikan kissmark di bagian lain.” bisik Ridho sambil mulai menurunkan kepala. Ia membuka bibirnya yang tebal, siap melahap dan melumat puting Cathy yang mencuat indah di puncak payudaranya.

“Ahh... Ridhoo! Ahh... s-sudah ah, geli!” desah Cathy saat Ridho mulai menghisap dan menjilati gundukan payudaranya. Terutama putingnya, saat lidah Ridho bergerak disana, Cathy langsung bergidik dan menjerit. Rasanya memang sangat nikmat, tapi sangat geli. Dia berusaha mendorong kepala Ridho agar menjauh, namun tidak bisa. Laki-laki itu sudah ketagihan dengan rasa payudaranya, Ridho terus menyusu dan mengenyotnya bagai bayi yang menetek pada ibunya. Terpaksa Cathy hanya bisa merem melek sambil meremasi rambut Ridho sebagai pelampiasan rasa  nikmatnya.

Sementara terus menikmati kemontokan dan kekenyalan payudara si VJ MTV, tangan Ridho perlahan turun ke bawah dan mulai mengelus-elus miss V Cathy yang sudah basah. Dia menggosokkan jari-jarinya pada clit Cathy yang terasa sedikit menonjol, membuat si empunya semakin menggeliat dan menggerang tak tertahankan. Terasa lubang sempit itu semakin banyak mengeluarkan cairan hangat hingga membasahi jari-jari Ridho.

“Ridh, kenapa berhenti? Kau lelah ya?” tanya Cathy saat melihat Ridho menarik tangannya. Setelah digerayangi tidak karuan, begitu jari-jari Ridho menghilang, vaginanya jadi terasa begitu kosong. Sangat tidak enak sekali rasanya.

”Eh, tentu saja belum dong, sayang. Ayo kita lanjutkan lagi!” seru Ridho yang terlihat sudah tidak bisa lagi menahan nafsunya. Miss V Cathy memang sudah basah, namun masih kurang. Kalau terus dirangsang pake tangan, bakalan lama jadinya. Harus pakai cara lain.

“Ah, kamu mau apa, Dho?!” seru Cathy saat Ridho mendorong tubuhnya hingga ia terduduk di ranjang.

”Aku ingin menikmati lubangmu yang sangat indah ini, sayang.” jawab Ridho sambil menguak paha mulus Cathy lebar-lebar hingga ia bisa melihat lubang vagina gadis itu yang sempit dan bersih. Sama sekali tidak ada bulu yang mengotori permukaannya, rupanya Cathy rajin merawat auratnya ini.

Tersenyum gembira, Ridho segera mendekatkan bibirnya. Ia hembuskan nafasnya yang hangat pada miss V itu hingga membuat Cathy menggelinjang kegelian. Ridho bisa melihat clit Cathy yang mungil kemerahan sedikit agak tersembunyi di balik bibir vaginanya yang kecoklatan. Benda itu tampak begitu menggairahkan. Tanpa membuang waktu, Ridho segera mencucup dan menghisapnya.

“Ridh, ahh…!” Cathy menjerit saat Ridho menggigit pelat clitnya, kemudian mengemut-emutnya seperti anak kecil yang makan permen gula. Lidahnya yang kasar keluar masuk dengan cepat di dalam lubangnya yang sempit, membuat cairan Cathy keluar lagi semakin banyak untuk yang kesekian kalinya.

“Punyamu sudah basah, sayang, tapi aku masih ingin sedikit bermain dengannya lebih lama.” goda Ridho. Dia menggigit clit Cathy dengan gigi depannya dan menggelitiknya dengan ujung lidah, membuat Cathy semakin menjerit dan merintih kegelian.

”Sekarang, rasakan yang ini.” Ridho memasukkan dua jarinya, dan mulai mengocok lubang vagina Cathy dengan lembut.

“Ahh... ahh... Ridho, sudah!” Cathy mendesah tak tahan. Tubuhnya makin bergetar dan menggelinjang. Dia menutup matanya dan menggeleng-geleng tak terkendali, membuat payudaranya yang bulat dan putih mulus bergoyang-goyang indah seiring gerakan tubuhnya. Sementara di bawah, jari Ridho terus keluar-masuk di dalam lubangnya, mengocok cepat disana, menggesek bibir kemaluannya hingga membuat selangkangannya semakin banjir dan lembab.

”Gimana, enak kan?” tanya Ridho sambil menyambar payudara Cathy yang sebelah kiri dan menjilati putingnya dengan rakus.

“Oughh... ini... nikmat sekali, Dho! Ahh...” Cathy menjeritkan jawabannya.

Sementara di luar, Julie yang juga baru pulang dari menghadiri FFI, berhenti di depan kamar Cathy saat telinganya tanpa sengaja menangkap suara-suara aneh dari dalam. “Ada apa ya di kamarnya Cathy? Kenapa dia seperti mendesah-desah begitu?” pikir gadis berumur 23 tahun itu. Karena penasaran, ia pun mendekatinya. Julie menempelkan telinganya di pintu kamar sang kakak.

“Ahh... Ridho! Geli…!” terdengar suara dari dalam.

“Itu memang benar-benar suara Cathy. Ridho? Geli? Apa maksudnya? Apa yang sedang ia lakukan?” tanya Julie dalam hati. Tok, Tok, Tok, ia mengetuk pintu kamar sang kakak. ”Kak, buka pintunya!” teriak Julie dari luar, tetapi tidak ada jawaban dari dalam, malah yang terdengar hanyalah desahan dan jeritan panjang Cathy yang semakin menggelora.

”Haduh, apa yang dia lakukan sih? Jangan-jangan…” penasaran, Julie segera membuka pintu yang tak terkunci itu.

Klek…!

“Ya Tuhan! Apa yang sedang kakak lakukan?” teriak Julie kaget, membuat Cathy dan pemuda yang sedang asyik menjilati vaginanya ikut kaget.

“J-Julie! I-ini ti-tidak seperti yang kau pikirkan.” kata Cathy gugup. Dia berusaha untuk menyingkirkan badan gemuk Ridho dari depan selangkangannya.

“Lalu apa! Beri aku penjelasan, Kak.” Julie menuntut, tak percaya kakak yang disayanginya akan berbuat mesum seperti ini. “Hei, kau! Cepat pergi dari sini!” jerit Julie sambil menatap tajam pemuda yang bersama sang kakak. Oh, ternyata Ridho Rhoma. Sebenarnya dia cukup tampan sih, tapi pria itu bukan tipenya.

“Halo, gadis manis.” sapa Ridho penuh percaya diri. “Daripada mengusirku, kenapa bukan kamu saja yang ikut gabung bersama kami?” tawarnya kurang ajar.

“Apa?!” Julie melotot. “Jangan belagu ya. Dasar! Kelakuan bapak anak sama saja!” makinya, mengingat perbuatan Rhoma Irama yang punyak banyak istri simpanan.

“Hehehe,” Ridho tertawa terkekeh. “Siapa saja pasti suka kok, bukan cuma aku. Tanya saja pada kakakmu, enak nggak tadi kukerjai.”

Julie melirik Cathy yang masih terduduk lemas di atas ranjang dengan kaki terbuka lebar, memperlihatkan lubang vaginanya yang sangat basah dan memerah. ”K-kakak?” dia menuntut jawaban.

”...” Cathy terdiam, tidak berani mengutarakan perasaannya yang sebenarnya.

”Ayolah, Cathy sayang. Katakan pada adikmu.” Ridho memeluk tubuh mulus Cathy dan meremas-remas payudara gadis itu perlahan-lahan.

”Hei, hentikan!” Julie menghardik, tidak rela kakak tercintanya direndahkan seperti itu. “Kak, ayo usir dia!” Julie memohon, sudah mulai ingin menangis melihat Cathy yang diam saja dari tadi.

Cathy menggeleng. ”Tidak, Julie. Memang sebaiknya kamu yang harus kesini. Cobalah, rasanya sungguh nikmat.” katanya.

”Kak, apa yang kau bicarakan?! Aku...” belum selesai Julie menjawab, tiba-tiba Ridho sudah menarik tangannya hingga ia jatuh ke atas ranjang. ”Auw!” Julie menjerit, tapi segera diputus oleh Ridho dengan ciumannya yang kasar dan panjang.

”Hmph!” Julie berusaha memberontak tapi tidak bisa. Tangannya sedang dipegangi oleh Cathy, dan bukan saja memegangi, Cathy juga mengikatnya... memakai tali BH.

”Kak, apa yang...” protes Julie saat Ridho melepas ciumannya. Tapi sekali lagi mulutnya terbungkam saat Cathy menyumpalkan celana dalam yang tadi ia pakai ke mulut manis sang adik.

”Hmph! Hmmphh!” sempurnalah sudah, Julie terikat erat dengan mulut tersumpal. Ia tidak lagi bisa berbuat sesuatu selain melihat apa yang dilakukan Ridho dan kakaknya yang kini sudah kembali berpelukan dan berciuman.

“Kau lihat aku dulu ya, Julie. Nanti akan tiba giliranmu.” kata Cathy genit.

Dengan amarah yang meluap-luap, Julie terpaksa memperhatikan apa yang dilakukan sang kakak. Ia tidak bisa mengalihkan pandagannya karena Cathy mengocok penis Ridho tepat di depan matanya. Mau memejamkan mata juga percuma, geraman dan desisan Ridho yang keenakan, mau tak mau membuat darah mudanya mendidih. Siapa sih yang tidak terangsang melihat liveshow sex seperti itu? Begitu juga Julie. Semarah-marahnya dia, meski tidak menginginkan, perlahan hasrat dan nafsu mulai menguasai. Membuat nafasnya semakin berat dan jantungnya berdetak semakin cepat.

”Ahhh... terus, Cath! Ya, begitu. Pegang juga telornya!” desah Ridho keenakan saat Cathy mengocok-ngocok penisnya dengan keras.

Julie yang melihatnya menjadi semakin terangsang. Tanpa sadar, putingnya mulai mengeras. Begitu juga dengan miss V-nya. Perlahan benda sempit itu melembab dan membasah begitu cepat. Ridho yang melihat perubahan pada diri gadis itu, perlahan mendekat. Dia mengulurkan tangan untuk menjamah payudara Julie yang masih tersembunyi di balik gaun malamnya. Ridho meremasnya dengan lembut. Terasa sangat empuk. Meski ukurannya tidak sebesar milik Cathy, tapi cukup mengganjal di dalam genggaman tangannya.

“Ahh.” Julie mendesah. Seharusnya dia menolak perbuatan pria itu. Tapi entahlah, bukannya marah, dia malah menikmatinya. Amarah yang tadi menyelimuti hatinya, kini hilang sudah. Berganti dengan hasrat dan gairah yang meledak-ledak, menuntut untuk dilampiaskan.

Mengetahui kalau Cathy sudah jatuh dalam genggamannya, Ridho perlahan melepas pengikat di kaki dan tangan gadis itu. Juga celana dalam yang mengganjal di mulutnya.

Plak! Tapi tanpa disangka, begitu bebas, Julie langsung menampar pipinya. ”Apa yang...” Ridho ingin protes, tapi mulutnya langsung disambar oleh Julie dan dilumat dengan rakus.

”Itu untuk perbuatanmu yang kurang ajar!” kata Julie. ”Dan ini...” dia mengulurkan tangan dan merebut penis besar Ridho dari sang kakak. ”... agar kamu tidak lupa dengan kami berdua.” dan bersama Cathy, dia menjilatinya.

“Oughh... ahh... ahh... kalau begini tiap hari, bisa mati keenakan nih aku! Ahh... terus!Terus!” desah Ridho sambil meremas-remas payudara Cathy dan Julie bergantian.

Cathy yang melihat sang adik masih berpakaian, segera melucutinya hingga Julie juga telanjang. Bertiga mereka berpelukan di atas ranjang, polos tanpa penutup layaknya bayi yang baru lahir.

“Ahh... lebih cepat! Kocok lebih cepat!” jerit Ridho dengan batang penis mulai berkedut-kedut.

Cathy tahu kalau Ridho sudah mau mencapai klimaks, tapi dia tetap membiarkan kemaluan pria itu tenggelam di dalam mulutnya. Bahkan dia menambah dengan mengemut twinballsnya, menghisap-hisapnya seperti yang tadi dilakukan Ridho pada lubang miss V-nya. Diserang gencar seperti itu membuat Ridho semakin tahan. Apalagi dalam pelukannya, Julie menyodorkan buah dadanya, menyusui Ridho seperti bayinya yang tersayang.

”Ughhh!” melenguh pelan, dia pun meledak.

Cathy merasakan sperma Ridho menyembur deras ke dalam mulutnya, dia segera menelan semuanya. Tapi karena begitu banyaknya hingga ada beberapa yang menetes keluar mengalir ke dagunya.

“Yeah, telan itu semua, baby!” kata Ridho penuh nafsu sambil menancapkan penisnya dalam-dalam ke rongga mulut sang kekasih.

“Akhh, Ridho! Ke-keluarkan…! A-aku tidak bisa bernafas!” lenguh Cathy dengan muka memerah.

Ridho segera mencabut penisnya, memperhatikan bagaimana batang coklat itu kini tampak begitu mengkilat, basah oleh cairan spermanya yang bercampur dengan air liur Cathy. Julie yang dari tadi menggelayut manja di pundaknya, segera turun untuk membersihkannya. Bersama sang kakak, dia menjilati batang penis Ridho bergantian.

”Ahh... kalian memang benar-benar luar biasa! Aku puas! Sangat puas!” dengus frontman Sonet 2 band itu. Dia menarik tubuh mulus Cathy dan Julie ke dalam pelukannya dan menciumi bibir mereka berdua bergantian. Sementara tangannya yang nakal membelai punggung, paha dan bokong mereka hingga tak terasa penisnya mulai menegang kembali.

Julie yang pertama kali mengetahui hal itu segera menurunkan badan dan mencaplok daging panjang itu dengan rakus. Dia mengemut dan mengulumnya penuh nafsu. ”Hei, sekarang giliranku!” Cathy memprotes, merasa lebih berhak memiliki tubuh Ridho lebih dulu.

”Eh, iya, kak. Maaf.” Julie pun beringsut, memberikan batang besar Ridho pada sang kakak.

Ridho yang mengetahui kekecewaan Julie, segera menyuruh artis pemeran Alexandria itu untuk jongkok di depan mukanya. ”Sini, biar kujilati vaginamu.” pintanya. Dan Julie dengan penuh semangat melakukannya. Dia segera bergeser ke depan, mengangkangi kepala Ridho dan menempatkan lubang vaginanya yang masih sangat sempit tepat di mulut laki-laki itu.

”Oughhh...” dan dia pun melenguh saat Ridho mulai menjilat dan menghisapnya.

Sementara di bawah, Cathy ikut-ikutan mengangkang. Tapi bedanya, dia mengangkangi penis besar Ridho yang teracung tegak ke atas tepat menuju lubang vaginanya. Perlahan-perlahan dia menggesek-gesekkan ujungnya yang tumpul ke bibir miss V-nya yang lembab membasah, berusaha untuk menemukan letak lubang peranakannya dan memasukkannya kesana.

“Ahh, Cath, ayo cepat masukkan! Jangan menggodaku lagi!” desah Ridho sambil meremas-remas payudara Julie keras-keras, sementara mulutnya terus melahap vagina gadis itu hingga membuat Julie merintih dan mengerang-erang keenakan.

Setelah lubangnya sudah ditemukan dan ujung penis Ridho sudah menyeruak masuk, Cathy pun mendorong batang besar itu kuat-kuat. Dia mendudukinya dengan bokongnya yang bulat dan menelannya hingga seluruhnya masuk ke dalam lubang vaginanya, mentok hingga ke dasar.

“Arghhhh…!” teriak mereka berbarengan. Ridho merasakan miss V Cathy begitu sempit, seperti menjepit dan memijit-mijit penisnya. Sementara Cathy karena gesekan penis Ridho pada dinding vaginanya yang begitu geli dan nikmat. Sedangkan Julie menjerit oleh gigitan Ridho pada bulatan clitorisnya.

Selanjutnya, tanpa membuang waktu, Cathy segera menggerakkan tubuhnya naik turun, menggenjot penis Ridho hingga lancar keluar masuk di dalam vaginanya.  Ridho yang merasa keenakan, sambil mendesis dan menggeram-geram, menjilati kemaluan Julie semakin rakus, membuat kekasih Moreno Soeprapto itu merintih semakin keras. Teriakan dan jeritan mereka silih berganti memenuhi ruang kamar itu.

“Ahh… ahh… ahh… lebih cepat, Cath! Genjot lebih kuat!” jerit Ridho memberi instruksi.

“Yeah, do u like it, baby?” tanya Cathy sambil meraih tangan Ridho, meminta laki-laki itu untuk meremas-remas payudaranya yang dari tadi nganggur.

“Yeah, of course! Really-really love it!” Ridho menjawab jujur.

Mendengar pernyataan itu, Cathy semakin mempercepat genjotannya, hingga tak lama kemudian, ia pun menjerit keras dengan tubuh menegang ke belakang. ”Oh, baby! I get it! Aku keluar, sayang! Aarrgghhhhh...” dari dalam liang kemaluannya, memancar cairan cinta yang sangat banyak. Saat Ridho mencabut penisnya, cairan itu pun tumpah ke atas ranjang, mengotori bantal dan sprei Cathy yang berwarna pink.

”Ah, kau hebat, sayang! Rasanya begitu nikmat!” ditopang oleh Julie, Cathy mencium bibir Ridho dengan lembut.

Melihat dua wanita cantik yang berangkulan di depannya, membuat Ridho makin tak tahan. ”Sudah ya, sayang. Sekarang giliran adikmu. Dia sudah dari tadi menunggu.”

Cathy yang mengerti segera bergeser ke samping, mempersilakan Julie untuk menggantikan tempatnya. ”Ayo, tidak usah sungkan.” bisiknya.

Julie tersenyum malu-malu. ”Tapi aku pengennya di bawah, boleh ya?” dia meminta.

As you wish, my lady.” sahut Ridho sambil bangkit dan langsung menerjang tubuh mulus Julie hingga gadis itu terjatuh telentang di ranjang.

”Auw!” Julie sedikit memekik kaget, tapi selanjutnya, sambil tertawa, dia segera membuka kakinya agar lubang vaginanya terbuka lebar karena tanpa membuang waktu, Ridho sudah menyodok-nyodokkan batang penisnya.

”Ughh, pelan-pelan, Dho!” pekik Julie saat Ridho mulai mendorong ujung penisnya untuk menerobos miss V-nya yang masih sangat sempit. Berbeda dengan pinya Cathy yang licin tanpa rambut, vagina Julie sedikit berbulu, tapi bulunya dicukur rapi sedemikian rupa sehingga terkesan eksotis dan elegant. Ridho suka saat melihatnya.

Dan ternyata bukan bentuknya saja yang bagus, rasanya juga luar biasa. Vagina Julie lebih sempit daripada punya Cathy. Begitu penis Ridho menerobos masuk dan sudah tenggelam seluruhnya, dia bisa merasakan miss V Julie seperti mencekik penisnya. Belum digerakkan saja rasanya sudah begitu nikmat, penis Ridho bagai diremas-remas dan dipijit-pijit oleh selubung daging hangat yang sangat licin dan basah.

“Ahh...” membuat laki-laki itu bergidik keenakan. ”Kau sudah siap?” tanya Ridho pada Julie.

Julie hanya bisa mengangguk, tidak sanggup untuk berkata apa-apa lagi.  Ketatnya penis Ridho yang menembus lubang kemaluannya membuatnya melayang. Ugh, punya Moreno aja tidak seperti ini! batin Julie dalam hati.

Perlahan-lahan, Ridho mulai menggenjot penisnya maju-mundur, mengocok vagina Julie yang sempit sambil tangannya meremas-remas payudara gadis itu. Keringat semakin membanjiri tubuh mereka berdua. ”Ahh... ahh.. uhh.. ughh...!” mendengar desahan dan teriakan Julie seiring sodokan penisnya membuat Ridho semakin bernafsu, ia pun makin mempercepat tempo goyangannya.

Julie mengimbangi dengan menggerakkan pinggulnya memutar, juga sesekali bergoyang atas bawah, menyambut tusukan Ridho yang semakin lama terasa semakin nikmat. Ia begitu meresapi setiap detik persetubuhan dengan laki-laki yang merupakan pacar kakaknya ini. Sudah cukup lama Julie tidak merasakan sensasi kenikmatan surgawi seperti saat ini, terhitung sejak Moreno sibuk membalap ke luar negeri, karena itulah ia sangat ingin di ujung percintaan ini, ia bisa mencapai klimaks yang luar biasa. Klimaks yang sungguh memuaskan yang biasa ia dapat dari Morena. Dan sepertinya Ridho sanggup memberikannya.

”Jepitan miss V-mu benar-benar luar biasa, Julie! Ooohh...” lenguh Ridho keenakan. Ia terus menggerakkan pinggulnya maju-mundur, menyetubuhi Julie dengan sepenuh hati, menikmati setiap relung vagina gadis cantik itu, juga tubuhnya yang montok dan hangat. Ridho menunduk untuk kembali mencium bibir basah Julie.

”Ughhh...!” Julie merintih merasakan penis besar Ridho yang semakin cepat mengaduk dan menghunjam ke liang vaginanya. Dia sudah tidak mendengar lagi apa yang dikatakan oleh laki-laki itu. Yang ada di pikirannya sekarang cuma bagaimana menjemput klimaksnya yang dia rasa sudah hampir tiba.
 
”Aghh... ahhh.. ahh...!” bergoyang semakin liar, Julie pun mengangkat pantatnya dan membuka lebar kedua kakinya. Dengan posisi seperti ini, orgasme yang dirasanya sudah berada di ujung akan semakin cepat ia capai.

Ridho yang mengetahui maksud Julie, ikut membantu dengan menyorongkan penisnya semakin cepat dan dalam. Dan setelah beberapa genjotan yang kasar dan brutal, mereka pun memekik berbarengan. ”Aarghhhh...!” cairan  kenikmatan mengalir deras dari dalam vagina sempit Julie yang kini sudah menebal dan memerah. Meski capek dan lelah, ia terlihat sangat puas.

Ridho yang merasa penisnya seperti dikempot dan dihisap-hisap saat Julie orgasme, menyusul tak lama kemudian. Merasa akan segera meledak, dia segera menarik penisnya dan menyemburkan spermanyanya beberapa kali ke dada, wajah dan mulut adik pacarnya itu. Julie yang sudah lemas dan kelelahan hanya bisa pasrah menerima semprotan demi semprotan pejuh dari Ridho. Dia terlalu lelah untuk menolak.

Setelah rasa nikmat itu berlalu, keduanya pun ambruk terlentang bersebelahan di atas ranjang dalam keadaan telanjang bulat. Julie perlahan berusaha mengatur nafasnya, membiarkan Ridho meraba dan meremas-remas payudaranya, bahkan dia tidak menolak saat laki-laki itu kembali menindih tubuhnya dan menciumi sekujur tubuh telanjangnya dengan penuh nafsu.

”Eh, sudah-sudah. Ayo mandi sana dulu!” ucap Cathy yang baru keluar dari kamar mandi. Tubuh telanjangnya terlihat segar. Air masih menetes-neets di sekujur kulitnya yang putih dan mulus. Memang selama Ridho main dengan Julie tadi, ia sedang mandi.

”Kamu benar-benar luar biasa, Julie!” bisik Ridho kepada Julie saat mereka beriringan menuju kamar mandi. Lain kali aku harus melakukan ini lagi dengannya, batinnya dalam hati.

“Iya, sama-sama.” balas Julie sambil tersenyum.

Di kamar mandi, mereka saling menyabuni. Sebenarnya nafsu Julie bangkit lagi saat itu, tapi Ridho sudah terlalu lelah untuk melayani. Penisnya sudah tidak mau lagi diajak kompromi, benda itu tidak mau tegang. Terpaksa Julie harus puas hanya dengan dioral dan dikocok saja.

Cathy yang merasa menunggu terlalu lama, ikut menyusul ke dalam. Begitu mengetahui apa yang dilakukan Ridho pada sang adik, ia pun menuntut hal yang sama. Bersebelahan dengan Julie, ia menikmati jilatan Ridho pada vaginanya.

Setelah mengantarkan kakak beradik yang cantil itu itu ke nikmatnya pintu orgasme, Ridho pun mengajak mereka balik ke kamar. Sprei sudah diganti baru oleh Cathy. Masih dengan tubuh telanjang, mereka berbaring bersisian di ranjang, dengan Ridho berada di tengah-tengah, diapit oleh Cathy di sebelah kiri dan Julie di sebelah kanan. Seperti sang ayah, Ridho merasa menjadi seorang Raja hari ini.

END

1 komentar: