After The Night



Sore hari setelah pulang syuting di salah satu TV swasta, Cathy dan anak-anak VJ lainnya sedang latihan untuk persiapan malam FFI lusa nanti.

“One… two… three… four… music!” seru Cathy. Dia adalah leader para VJ karena dia yang paling populer di antara mereka semua. Cathy terkenal akan kecantikan dan kepandaiannya, dia juga salah satu VJ terkaya dan kebetulan kakeknya adalah pemilik sebagian saham MTV.

Memiliki wajah cantik, bergelimangan harta, serta prestasi yang tak terhitung, tapi Cathy merasa masih belum puas. Kenapa? Karena sampai sekarang ia masih jomblo, belum memiliki seorang kekasih!  Sebenarnya sudah banyak laki-laki yang naksir, mulai dari artis pendatang baru hingga pengusaha terkenal, tetapi tidak ada satu pun yang ia terima, Cathy merasa kurang cocok dengan pria-pria tersebut. Sehingga hidupnya masih terasa sepi sampai sekarang.

“Stop, stop! Latihan kita sudahi sampai disini saja! Sekarang kalian sudah bisa pulang!” Cathy berkata pada teman-temannya.

“Emm, baik.” mereka pun pergi kecuali Marissa, Rianti, dan Cathy yang masih harus beres-beres peralatan.

“Cath, sebelum pulang, gimana kalo kita lihat band-band pengisi acara nanti? Siapa tahu ada vokalis yang ganteng, hihihi.” ajak Marissa.

“Benarkah? Aku mau lihat ah!” kata Rianti dengan semangat.

“Hmm, iya deh.” sahut Cathy malas.

Mereka pun menuju ke studio 9, disana sudah ramai dengan artis dan aktor  yang sedang melakukan gladi bersih. Di panggung utama, tampak sebuah band sedang check sound. Di sebelahnya, beberapa penari latar mengulang-ulang gerakan mereka agar bisa tampil memukau saat show lusa nanti.

“Permisi dong!” Marissa mencari jalan, dia mendesakkan tubuhnya yang sintal dan montok ke gerombolan artis yang menumpuk di kaki panggung. Cathy dan Rianti mengikutinya dari belakang.

“Oh, Cath, lihat! Si Bondan makin cute aja ya!” seru Rianti sambil menunjuk ke arah pemain bass yang ada di atas panggung.

“Gantengan juga Pasha Ungu!” kata Marissa tidak mau kalah.

“Hmm, siapa tuh yang menemani Pasha nyanyi?” tanya Cathy.

“Itu mah si Ridho, anaknya Bang Haji Rhoma Irama. Kenapa, Cath?” jawab Marissa.

“Gak apa-apa, nanya aja.”

“Ah, kamu tertarik sama dia ya? Nanti aku kenalin deh,” kata Marissa pada Cathy.

“Heh, siapa yang tertarik?” Cathy melotot, tapi tak urung mukanya tetap memerah juga.

“Dicoba aja dulu, siapa tahu dia cocok sama kamu! Lagian dia ganteng n keren kok.” saran Rianti.

“…” Cathy hanya diam sambil memikirkan sesuatu.

“Huaaa... bang Ridho! Bang Ridho! Abang keren banget deh!” teriak para artis pendatang baru ketika Ridho usai melantunkan tembang lagu Menunggu. Sementara itu, Cathy hanya tersenyum mendengar pernyataan dari gadis-gadis yang biasa main di FTV tersebut.

“Ih, Cath, kamu kelamaan mikir deh. Ntar Ridho keburu disamber tuh sama cewek-cewek centil!” kata Marissa.

“Iya-iya. Nanti habis latihan selesai aku samperin dia.” Cathy menjawab.

“Nah, gitu dong.” Marissa tersenyum puas.

Beberapa saat kemudian, check sound Sonet 2 band pun selesai. Ridho turun dari panggung dengan keringat membasahi wajahnya yang sedikit bercambang.

“Wow, Ridho, kamu makin hebat aja ya!” puji Rianti. ”Lagumu enak banget!”

“Hehehe, nggak juga kok. Lagunya jadi enak karena band pengiringnya juga hebat.” Ridho menunjuk teman-teman band-nya.

“Hai!” sapa Cathy, terlihat agak sedikit malu-malu.

“Hai juga.” Ridho menjawab sopan, dia sedikit tertegun menatap wajah cantik yang ada di depannya.

“Cathy tadi bilang kalau dia pengen kenalan sama kamu.” kata Marissa to the point.

“Yee, aku nggak bilang gitu kok.” bantah Cathy, makin terlihat malu. Wajahnya yang memerah makin membuatnya terlihat cantik.

“Hihihi, Cathy orangnya memang suka malu-malu.” tambah Rianti, sehingga membuat wajah Cathy tambah memerah.

“Haha, iya. Nggak apa-apa kok. Kenalkan, saya Ridho. Ini mbak Cathy kan?” kata Ridho sambil mengulurkan tangannya pada Cathy.

Cathy mengangguk. “Panggil Cathy aja, nggak usah pakai ’mbak’!” jawabnya dengan ekspresi dingin.

“Oh ya, Ridho. Nanti kamu ke malam FFI sama siapa?” tanya Marissa.

“Belum tahu. Kenapa, kamu mau pergi bersamaku?” goda Ridho dan langsung mendapat tatapan mematikan dari Marissa.

“Eh, tidak! Nanti aku kan mau pergi sama Daniel. Iya kan, Rianti?” kata Marissa sambil melirik ke arah Rianti.

“Iya, tentu saja!” Rianti tentu saja.

“Owh. Terus Rianti, kamu sama siapa?” tanya Ridho lagi.

“Ada deh! Iya kan, Marissa?” jawab Rianti sambil memberikan kedipan penuh arti pada Marissa.

“Iya, iya. Pasti, itu sangat pasti!” jawab Marissa dengan semangat.

“Nah, jadi berhubung aku dan Marissa sudah dapat temen buat ke acara besok lusa, gimana kalau kamu perginya sama Cathy aja?” tawar Rianti pada Ridho.

“Hmm, aku sih terserah Cathy-nya aja.” Ridho melirik wanita cantik blasteran Perancis, Manado dan Tionghoa yang ada di sebelah kirinya. Yang dilirik Cuma bersemu malu-malu.

“Gimana, Cath?” Marissa bertanya.

“…” Cathy hanya terdiam sementara yang lain menunggu jawaban darinya. “Baiklah, tapi aku tidak mau kamu jemput! Aku maunya kita ketemuan pas acaranya aja.” jawab Cathy pada akhirnya, melegakan semua orang.

“Ok deh. Kalo gitu kami pulang dulu ya? Sampai ketemu besok lusa. Bye!” Marissa melambaikan tangan dan segera menyeret dua temannya untuk pergi meninggalkan tempat itu, diiringi tatapan mata Ridho pada bokong indah mereka saat berjalan menjauh.

Di mobil, Marissa dan Rianti terus saling bercanda, mereka tampak gembira sekali, seperti tidak punya beban. Beda dengan Cathy yang pendiam, seperti ada yang dipikirkan. Cathy merasakan ada yang aneh ketika dia berada di dekat Ridho. Dia merasa jantungnya berdetak lebih cepat dan perasaan-perasaan aneh lain yang berkecamuk di dalam pikirannya.

“Ayolah, Cath, kau tidak mungkin jatuh cinta padanya!” gumam Cathy dalam hati.

***

Di malam FFI

“Ah, mana sih tuh Ridho kok nggak dateng-dateng juga?” kesal Cathy yang sudah menunggu hampir se jam.

“Sabar, mungkin lagi di jalan. Sebentar lagi sampai.” kata Marissa menenangkan. Dia sedang bergelayut manja di pundak Daniel sekarang, membiarkan bulatan payudaranya yang besar menempel di lengan laki-laki itu.

“Nah, itu dia datang!” seru Rianti, tangannya menunjuk tempat parkir.

Mata Cathy langsung tertuju pada Ridho Rhoma yang baru keluar dari mobilnya. Dia terlihat sangat tampan mengenakan setelan tuxedo formal, sangat cocok dengan Cathy yang terlihat cantik dengan dress malamnya yang elegan.

“Ah, anak band memang tidak pernah tepat waktu.” kesal Cathy, teringat dengan Enno ’Netral’, mantan pacarnya, yang juga sering telat seperti ini.

“Sudah nunggu lama ya? Maaf, tadi jalanan macet banget.” kata Ridho begitu sudah mendekat. Dia segera menyalami semua yang ada disitu, termasuk Cathy. Dia menggenggam tangan Cathy agak lebih lama dari yang lain, seperti ingin meresapi dan menghayati kehalusan jari-jarinya yang lentik.

”Ehm, Hmm,” Rianti berdehem, membuat Ridho segera melepas pegangan tangannya. Bersama Cathy, dia terlihat salah tingkah.

”Eh, maaf.” kata Ridho kikuk.

“Ya sudah, yang penting kan kamu sudah datang. Sayang, temenin aku ambil minum dong!” kata Marissa sambil menarik tangan Daniel Mananta menuju tempat minuman.

“Ayo, babe, antar aku ambil dompet di mobil ya!” pinta Rianti pada pasangannya. Tidak ada yang mengenalnya karena laki-laki itu berasal dari kalangan pengusaha, dan Rianti juga tidak mau repot-repot mengenalkannya. ”Biar jadi rahasia sampai kami nikah nanti.” begitu katanya.

“I-iya.” jawab pria berkaca mata itu. Mereka berempat pun pergi meninggalkan Ridho & Cathy berdua.

“Ehm, Cath, ayo kita masuk.” ajak Ridho.

“Boleh.” Cathy mengangguk.

Sambil melangkah, Ridho menarik tangannya agar badan mereka lebih mendekat. Cathy tidak keberatan. Selama acara berlangsung, dia juga tidak bisa konsentrasi. Siapa yang menang atau band apa yang tampil, Cathy tidak tahu. Cathy merasa wajahnya memanas karena jarak antara wajahnya dan wajah Ridho sangatlah dekat, bahkan iya dapat merasakan hembusan nafas hangat laki-laki itu menerpa wajahnya saat mereka bercakap-cakap. Suasana terasa sangat romantis tetapi juga kaku.

“Cath…” bisik Ridho lembut saat Wali tampil di atas panggung.

“Ya,” Cathy menyahut tanpa memalingkan muka, berusaha meredam gejolak batinnya yang terus bergemuruh sejak tadi.

“Emm, m-mau kah k-kau... m-menjadi... p-pacarku?” tanya Ridho gugup. Terlihat sekali kalau dia sudah melatih kalimat itu berkali-kali, tapi tetap gagal mengucapkannya dengan lancar.

”...” Cathy terdiam, tampak terlalu shock untuk menjawab.

“B-bagaimana, Cath. A-aku tidak ingin mendengar kata penolakan darimu.” kata Ridho lagi, mulai terlihat lebih percaya diri.

“A-apa?” Cathy masih bingung, tidak pernah menyangka Ridho akan menembaknya di pertemuan kedua mereka.

“Ya atau tidak?” Ridho kembali bertanya.

“…” Cathy merasa sangat bingung, harus menerimanya atau tidak. Jujur ia juga menyukai Ridho, tetapi ia juga masih galau mengingat percintaannya dengan Enno yang berakhir tragis.

”Ayo, Cath, katakan!” Ridho makin tak sabar. ”Aku sangat mencintaimu. Maukah kamu menjadi pacarku?”

Setelah berpikir beberapa lama, Cathy akhirnya menjawab. “Ba-baiklah, aku mau…” katanya sambil mengangguk.

“Benarkah, serius?” tanya Ridho penuh kegembiraan.

Cathy hanya  mengangguk sambil tersenyum, kemudian ia mendekatkan bibirnya ke mulut Ridho dan mengecup bibir tebal laki-laki itu sekilas. ”Itu sebagai tanda jadi hubungan kita.” bisiknya.

Ridho tersenyum gembira. “Tapi, kok cuman sebentar sih nyiumnya? Dikasih banyak juga nggak apa-apa.” sahutnya nakal.

“Hush, banyak orang!” ucap Cathy sambil memukul pelan pundak Ridho, laki-laki kelahiran Jakarta 14 Januari 1989 yang kini resmi jadi pacar barunya.

“Hehe, kita pulang yuk biar sekalian kuantar.” kata Ridho sambil menggandeng mesra tangan Cathy. Wartawan infotainment yang melihat  momen langka itu, segera membidikkan kameranya. Berita tentang hubungan mereka pasti akan ramai besok pagi.

“Ayo.” Cathy mengikuti Ridho menuju tempat parkir.

***

Di rumah Cathy Sharon

“Trims sudah nganterin aku. Mau mampir?” tawar gadis bernama lengkap Catherine Sharon Gasnier itu.

“Boleh, sekalian aku mau numpang pipis.” jawab Ridho. Mereka pun masuk ke dalam rumah. “Cath, kok sepi? Ortumu kemana?” tanya Ridho penasaran melihat keadaan rumah yang cukup hening.

“Mereka lagi di luar negeri. Oh ya, kamu mau pipis kan? Di kamarku aja ya, soalnya toilet di bawah lagi mampet.” jawab Cathy.

Ridho hanya mengangguk dan mengikuti gadis kelahiran Jakarta, 8 Oktober 1982 itu ke kamarnya. “Wow, kamarmu penuh dengan warna pink ya!” kaget Ridho, namun Cathy tidak menjawabnya. “Cath… Cathy… kamu ada dimana, sayang?” Ridho bingung karena tiba-tiba Cathy menghilang, padahal tadi dilihatnya gadis itu masuk ke ruangan ini.

Dia memandang sekeliling. Kamar Cathy terlihat cukup besar, sangat besar malah kalau dibanding kamar Ridho yang ada di rumah. Semuanya serba pink, mulai dari keramik lantai, kertas dinding, sprei tempat tidur, hingga hiasan dan pernak-pernik yang ada di lemari. Khas cewek lah pokoknya. Sebenarnya Ridho ingin menikmati suasana kamar itu lebih lama lagi sambil menunggu Cathy kembali, tapi karena dia sudah tidak tahan ingin pipis, akhirnya dia memutuskan untuk ke toilet dulu baru setelah itu mencari si pemilik kamar.

“Yang mana ya toilet nya?” Ridho memandangi deretan pintu yang ada di depannya. ”Ah, mungkin yang ini.” dilihatnya ada sepasang sendal karet di depannya.

Klek! Dia membuka pintu itu, dan... ”Auw!” Cathy yang sedang buang air kecil menjerit kaget.

Ridho segera mengalihkan pandangannya. “M-maaf, Cath, aku tidak tahu kalau kau ada di dalam.” dia segera menutup kembali pintu itu.

Ternyata Cathy juga sama-sama pengen pipis, jadi gadis itu masuk duluan ke dalam kamar mandi. Ridho sempat memergoki Cathy yang sedang membasuh selangkangannya. Bisa dilihatnya bokong dan paha Cathy yang bulat dan putih mulus. Ridho tegang. Dia mulai terangsang.

Tidak lama kemudian Cathy keluar hanya dengan mengenakan handuk, dress malam yang tadi dipakainya dia taruh di keranjang cucian. ”Kamu tidak apa-apa?” tanyanya saat melihat wajah Ridho yang pucat, dia lalu berjalan menghampiri pria itu.

“Ehm, m-maaf. A-aku tadi tidak sengaja.” gugup Ridho. Dia merasakan wajah nya memanas karena barusan melihat tubuh bawah Cathy yang telanjang  tanpa tertutup sehelai benang pun.

“Iya, nggak apa-apa. Salahku juga kenapa nggak ngunci pintunya tadi. Sudah ah, jangan malu gitu. Santai aja!” sahut Cathy dengan tatapan nakal.

“Ah, untuk apa juga aku malu?” Ridho tersenyum. ”Oh ya, Cath, biasanya kalau pacaran, aku selalu merayakannya.” ucap Ridho basa-basi.

“Maksud kamu apa?” tanya Cathy tidak mengerti.

“Ah, kau ini begitu polos ya?” ucap Ridho seraya menyeringai pada gadis itu. Lalu tanpa sungkan, ia mendekat dan langsung mencium bibir tipis Cathy dengan ganas, ia mengulum lembut bibir itu, serta sedikit menggigit lidahnya,  membuat Cathy mau tak mau harus membuka mulutnya, membiarkan lidah basah Ridho bermain di dalam rongga mulutnya.

“Ehmm… Ridho… s-sudah… ah!” desah Cathy sambil mendorong kepala Ridho menjauh. Ciuman mereka terlepas. Cathy menghela nafas cepat,  merasakan seperti ada yang hilang dari dirinya.

“Sayang, desahanmu sungguh membuatku bergairah.” Ridho yang melihat Cathy mulai takluk, kembali mencium lembut bibir gadis itu. Dan saat dirasanya Cathy tidak menolak, dia kembali melumatnya dengan ganas. Kali ini, tanpa sadar, Cathy mulai menikmati permainan Ridho pada bibirnya, dia bahkan mengalungkan tangannya ke leher pria itu agar ciuman mereka makin terasa nikmat.

“Ahh, Ridho!” rintih Cathy pelan saat ciuman Ridho mulai turun ke batang lehernya yang jenjang. Laki-laki itu terus menciumi leher Cathy hingga meninggalkan kissmark yang sangat banyak. Tangan Ridho juga sudah tidak tahan untuk tidak menggapai payudara Cathy yang terlihat menonjol dari balik balutan handuknya. Dia meremas-remasnya pelan, merasakan betapa empuk dan kenyalnya bukit bulat itu.

“Ah, Ridh, Ridho! H-hentikan… ehmm!” ucap Cathy di tengah desahannya.

“Come on, baby! I know u want it too.” jawab Ridho sambil mencucup leher Cathy semakin keras dan tangannya memijit payudara gadis itu semakin kuat.

“Ahhh… tidak!” Cathy semakin merintih. Meski ada sedikit rasa berat di hatinya, masa baru kenal sudah langsung ML? Tapi serangan dan serbuan Ridho membuat dia akhirnya menyerah perlahan-lahan.

Melihat mangsanya sudah pasrah, Ridho cepat membuka baju serta celananya, sedangkan handuk yang dikenakan Cathy ia tarik begitu saja hingga mereka sudah sama-sama telanjang sekarang.

“Aku mencintaimu, Cath!” seru Ridho sambil menciumi kembali bibir tipis Cathy.

”Aku juga mencintaimu, Dho!” balas Cathy mulai merespon permainan pemuda gemuk itu. Dia mengaitkan lidahnya dengan lidah Ridho untuk membiarkan air liur mereka saling bercampur dan bertukar.

Puas dengan bibir Cathy, Ridho menurunkan ciumannya. Dia mulai aktif menjelajahi leher jenjang Cathy yang sangat mulus, sementara tangannya asyik meremas-meremas dan menggerayangi payudara Cathy yang menggantung indah di depan dadanya. Ridho memainkan putingnya yang pink kemerahan, benda itu sudah terasa sedikit mengeras. Saat Ridho menghentikan pagutannya, semakin banyak kissmark yang tercipta di leher jenjang Cathy.

“Aduh, gimana nih, besok kan aku ada pemotretan.” Cathy memegangi lehernya yang berbelang-belang merah. Tangan Ridho yang asyik bermain-main di gundukan payudaranya, sama sekali tidak ia hiraukan.

”Gampang, nanti tinggal ditutup pake bedak.” jawab Ridho cuek, dengan ibu jari dan telunjuk, ia memilin-milin puting mungil Cathy sambil sesekali menarik-nariknya ke depan. Sementara bongkahannya yang padat dan putih mulus, ia remas-remas dengan penuh nafsu.

”Aghh,” Cathy merintih. Tubuh kurusnya melengkung dan semakin jatuh ke dalam pelukan sang kekasih.

“Saatnya memberikan kissmark di bagian lain.” bisik Ridho sambil mulai menurunkan kepala. Ia membuka bibirnya yang tebal, siap melahap dan melumat puting Cathy yang mencuat indah di puncak payudaranya.

“Ahh... Ridhoo! Ahh... s-sudah ah, geli!” desah Cathy saat Ridho mulai menghisap dan menjilati gundukan payudaranya. Terutama putingnya, saat lidah Ridho bergerak disana, Cathy langsung bergidik dan menjerit. Rasanya memang sangat nikmat, tapi sangat geli. Dia berusaha mendorong kepala Ridho agar menjauh, namun tidak bisa. Laki-laki itu sudah ketagihan dengan rasa payudaranya, Ridho terus menyusu dan mengenyotnya bagai bayi yang menetek pada ibunya. Terpaksa Cathy hanya bisa merem melek sambil meremasi rambut Ridho sebagai pelampiasan rasa  nikmatnya.

Sementara terus menikmati kemontokan dan kekenyalan payudara si VJ MTV, tangan Ridho perlahan turun ke bawah dan mulai mengelus-elus miss V Cathy yang sudah basah. Dia menggosokkan jari-jarinya pada clit Cathy yang terasa sedikit menonjol, membuat si empunya semakin menggeliat dan menggerang tak tertahankan. Terasa lubang sempit itu semakin banyak mengeluarkan cairan hangat hingga membasahi jari-jari Ridho.

“Ridh, kenapa berhenti? Kau lelah ya?” tanya Cathy saat melihat Ridho menarik tangannya. Setelah digerayangi tidak karuan, begitu jari-jari Ridho menghilang, vaginanya jadi terasa begitu kosong. Sangat tidak enak sekali rasanya.

”Eh, tentu saja belum dong, sayang. Ayo kita lanjutkan lagi!” seru Ridho yang terlihat sudah tidak bisa lagi menahan nafsunya. Miss V Cathy memang sudah basah, namun masih kurang. Kalau terus dirangsang pake tangan, bakalan lama jadinya. Harus pakai cara lain.

“Ah, kamu mau apa, Dho?!” seru Cathy saat Ridho mendorong tubuhnya hingga ia terduduk di ranjang.

”Aku ingin menikmati lubangmu yang sangat indah ini, sayang.” jawab Ridho sambil menguak paha mulus Cathy lebar-lebar hingga ia bisa melihat lubang vagina gadis itu yang sempit dan bersih. Sama sekali tidak ada bulu yang mengotori permukaannya, rupanya Cathy rajin merawat auratnya ini.

Tersenyum gembira, Ridho segera mendekatkan bibirnya. Ia hembuskan nafasnya yang hangat pada miss V itu hingga membuat Cathy menggelinjang kegelian. Ridho bisa melihat clit Cathy yang mungil kemerahan sedikit agak tersembunyi di balik bibir vaginanya yang kecoklatan. Benda itu tampak begitu menggairahkan. Tanpa membuang waktu, Ridho segera mencucup dan menghisapnya.

“Ridh, ahh…!” Cathy menjerit saat Ridho menggigit pelat clitnya, kemudian mengemut-emutnya seperti anak kecil yang makan permen gula. Lidahnya yang kasar keluar masuk dengan cepat di dalam lubangnya yang sempit, membuat cairan Cathy keluar lagi semakin banyak untuk yang kesekian kalinya.

“Punyamu sudah basah, sayang, tapi aku masih ingin sedikit bermain dengannya lebih lama.” goda Ridho. Dia menggigit clit Cathy dengan gigi depannya dan menggelitiknya dengan ujung lidah, membuat Cathy semakin menjerit dan merintih kegelian.

”Sekarang, rasakan yang ini.” Ridho memasukkan dua jarinya, dan mulai mengocok lubang vagina Cathy dengan lembut.

“Ahh... ahh... Ridho, sudah!” Cathy mendesah tak tahan. Tubuhnya makin bergetar dan menggelinjang. Dia menutup matanya dan menggeleng-geleng tak terkendali, membuat payudaranya yang bulat dan putih mulus bergoyang-goyang indah seiring gerakan tubuhnya. Sementara di bawah, jari Ridho terus keluar-masuk di dalam lubangnya, mengocok cepat disana, menggesek bibir kemaluannya hingga membuat selangkangannya semakin banjir dan lembab.

”Gimana, enak kan?” tanya Ridho sambil menyambar payudara Cathy yang sebelah kiri dan menjilati putingnya dengan rakus.

“Oughh... ini... nikmat sekali, Dho! Ahh...” Cathy menjeritkan jawabannya.

Sementara di luar, Julie yang juga baru pulang dari menghadiri FFI, berhenti di depan kamar Cathy saat telinganya tanpa sengaja menangkap suara-suara aneh dari dalam. “Ada apa ya di kamarnya Cathy? Kenapa dia seperti mendesah-desah begitu?” pikir gadis berumur 23 tahun itu. Karena penasaran, ia pun mendekatinya. Julie menempelkan telinganya di pintu kamar sang kakak.

“Ahh... Ridho! Geli…!” terdengar suara dari dalam.

“Itu memang benar-benar suara Cathy. Ridho? Geli? Apa maksudnya? Apa yang sedang ia lakukan?” tanya Julie dalam hati. Tok, Tok, Tok, ia mengetuk pintu kamar sang kakak. ”Kak, buka pintunya!” teriak Julie dari luar, tetapi tidak ada jawaban dari dalam, malah yang terdengar hanyalah desahan dan jeritan panjang Cathy yang semakin menggelora.

”Haduh, apa yang dia lakukan sih? Jangan-jangan…” penasaran, Julie segera membuka pintu yang tak terkunci itu.

Klek…!

“Ya Tuhan! Apa yang sedang kakak lakukan?” teriak Julie kaget, membuat Cathy dan pemuda yang sedang asyik menjilati vaginanya ikut kaget.

“J-Julie! I-ini ti-tidak seperti yang kau pikirkan.” kata Cathy gugup. Dia berusaha untuk menyingkirkan badan gemuk Ridho dari depan selangkangannya.

“Lalu apa! Beri aku penjelasan, Kak.” Julie menuntut, tak percaya kakak yang disayanginya akan berbuat mesum seperti ini. “Hei, kau! Cepat pergi dari sini!” jerit Julie sambil menatap tajam pemuda yang bersama sang kakak. Oh, ternyata Ridho Rhoma. Sebenarnya dia cukup tampan sih, tapi pria itu bukan tipenya.

“Halo, gadis manis.” sapa Ridho penuh percaya diri. “Daripada mengusirku, kenapa bukan kamu saja yang ikut gabung bersama kami?” tawarnya kurang ajar.

“Apa?!” Julie melotot. “Jangan belagu ya. Dasar! Kelakuan bapak anak sama saja!” makinya, mengingat perbuatan Rhoma Irama yang punyak banyak istri simpanan.

“Hehehe,” Ridho tertawa terkekeh. “Siapa saja pasti suka kok, bukan cuma aku. Tanya saja pada kakakmu, enak nggak tadi kukerjai.”

Julie melirik Cathy yang masih terduduk lemas di atas ranjang dengan kaki terbuka lebar, memperlihatkan lubang vaginanya yang sangat basah dan memerah. ”K-kakak?” dia menuntut jawaban.

”...” Cathy terdiam, tidak berani mengutarakan perasaannya yang sebenarnya.

”Ayolah, Cathy sayang. Katakan pada adikmu.” Ridho memeluk tubuh mulus Cathy dan meremas-remas payudara gadis itu perlahan-lahan.

”Hei, hentikan!” Julie menghardik, tidak rela kakak tercintanya direndahkan seperti itu. “Kak, ayo usir dia!” Julie memohon, sudah mulai ingin menangis melihat Cathy yang diam saja dari tadi.

Cathy menggeleng. ”Tidak, Julie. Memang sebaiknya kamu yang harus kesini. Cobalah, rasanya sungguh nikmat.” katanya.

”Kak, apa yang kau bicarakan?! Aku...” belum selesai Julie menjawab, tiba-tiba Ridho sudah menarik tangannya hingga ia jatuh ke atas ranjang. ”Auw!” Julie menjerit, tapi segera diputus oleh Ridho dengan ciumannya yang kasar dan panjang.

”Hmph!” Julie berusaha memberontak tapi tidak bisa. Tangannya sedang dipegangi oleh Cathy, dan bukan saja memegangi, Cathy juga mengikatnya... memakai tali BH.

”Kak, apa yang...” protes Julie saat Ridho melepas ciumannya. Tapi sekali lagi mulutnya terbungkam saat Cathy menyumpalkan celana dalam yang tadi ia pakai ke mulut manis sang adik.

”Hmph! Hmmphh!” sempurnalah sudah, Julie terikat erat dengan mulut tersumpal. Ia tidak lagi bisa berbuat sesuatu selain melihat apa yang dilakukan Ridho dan kakaknya yang kini sudah kembali berpelukan dan berciuman.

“Kau lihat aku dulu ya, Julie. Nanti akan tiba giliranmu.” kata Cathy genit.

Dengan amarah yang meluap-luap, Julie terpaksa memperhatikan apa yang dilakukan sang kakak. Ia tidak bisa mengalihkan pandagannya karena Cathy mengocok penis Ridho tepat di depan matanya. Mau memejamkan mata juga percuma, geraman dan desisan Ridho yang keenakan, mau tak mau membuat darah mudanya mendidih. Siapa sih yang tidak terangsang melihat liveshow sex seperti itu? Begitu juga Julie. Semarah-marahnya dia, meski tidak menginginkan, perlahan hasrat dan nafsu mulai menguasai. Membuat nafasnya semakin berat dan jantungnya berdetak semakin cepat.

”Ahhh... terus, Cath! Ya, begitu. Pegang juga telornya!” desah Ridho keenakan saat Cathy mengocok-ngocok penisnya dengan keras.

Julie yang melihatnya menjadi semakin terangsang. Tanpa sadar, putingnya mulai mengeras. Begitu juga dengan miss V-nya. Perlahan benda sempit itu melembab dan membasah begitu cepat. Ridho yang melihat perubahan pada diri gadis itu, perlahan mendekat. Dia mengulurkan tangan untuk menjamah payudara Julie yang masih tersembunyi di balik gaun malamnya. Ridho meremasnya dengan lembut. Terasa sangat empuk. Meski ukurannya tidak sebesar milik Cathy, tapi cukup mengganjal di dalam genggaman tangannya.

“Ahh.” Julie mendesah. Seharusnya dia menolak perbuatan pria itu. Tapi entahlah, bukannya marah, dia malah menikmatinya. Amarah yang tadi menyelimuti hatinya, kini hilang sudah. Berganti dengan hasrat dan gairah yang meledak-ledak, menuntut untuk dilampiaskan.

Mengetahui kalau Cathy sudah jatuh dalam genggamannya, Ridho perlahan melepas pengikat di kaki dan tangan gadis itu. Juga celana dalam yang mengganjal di mulutnya.

Plak! Tapi tanpa disangka, begitu bebas, Julie langsung menampar pipinya. ”Apa yang...” Ridho ingin protes, tapi mulutnya langsung disambar oleh Julie dan dilumat dengan rakus.

”Itu untuk perbuatanmu yang kurang ajar!” kata Julie. ”Dan ini...” dia mengulurkan tangan dan merebut penis besar Ridho dari sang kakak. ”... agar kamu tidak lupa dengan kami berdua.” dan bersama Cathy, dia menjilatinya.

“Oughh... ahh... ahh... kalau begini tiap hari, bisa mati keenakan nih aku! Ahh... terus!Terus!” desah Ridho sambil meremas-remas payudara Cathy dan Julie bergantian.

Cathy yang melihat sang adik masih berpakaian, segera melucutinya hingga Julie juga telanjang. Bertiga mereka berpelukan di atas ranjang, polos tanpa penutup layaknya bayi yang baru lahir.

“Ahh... lebih cepat! Kocok lebih cepat!” jerit Ridho dengan batang penis mulai berkedut-kedut.

Cathy tahu kalau Ridho sudah mau mencapai klimaks, tapi dia tetap membiarkan kemaluan pria itu tenggelam di dalam mulutnya. Bahkan dia menambah dengan mengemut twinballsnya, menghisap-hisapnya seperti yang tadi dilakukan Ridho pada lubang miss V-nya. Diserang gencar seperti itu membuat Ridho semakin tahan. Apalagi dalam pelukannya, Julie menyodorkan buah dadanya, menyusui Ridho seperti bayinya yang tersayang.

”Ughhh!” melenguh pelan, dia pun meledak.

Cathy merasakan sperma Ridho menyembur deras ke dalam mulutnya, dia segera menelan semuanya. Tapi karena begitu banyaknya hingga ada beberapa yang menetes keluar mengalir ke dagunya.

“Yeah, telan itu semua, baby!” kata Ridho penuh nafsu sambil menancapkan penisnya dalam-dalam ke rongga mulut sang kekasih.

“Akhh, Ridho! Ke-keluarkan…! A-aku tidak bisa bernafas!” lenguh Cathy dengan muka memerah.

Ridho segera mencabut penisnya, memperhatikan bagaimana batang coklat itu kini tampak begitu mengkilat, basah oleh cairan spermanya yang bercampur dengan air liur Cathy. Julie yang dari tadi menggelayut manja di pundaknya, segera turun untuk membersihkannya. Bersama sang kakak, dia menjilati batang penis Ridho bergantian.

”Ahh... kalian memang benar-benar luar biasa! Aku puas! Sangat puas!” dengus frontman Sonet 2 band itu. Dia menarik tubuh mulus Cathy dan Julie ke dalam pelukannya dan menciumi bibir mereka berdua bergantian. Sementara tangannya yang nakal membelai punggung, paha dan bokong mereka hingga tak terasa penisnya mulai menegang kembali.

Julie yang pertama kali mengetahui hal itu segera menurunkan badan dan mencaplok daging panjang itu dengan rakus. Dia mengemut dan mengulumnya penuh nafsu. ”Hei, sekarang giliranku!” Cathy memprotes, merasa lebih berhak memiliki tubuh Ridho lebih dulu.

”Eh, iya, kak. Maaf.” Julie pun beringsut, memberikan batang besar Ridho pada sang kakak.

Ridho yang mengetahui kekecewaan Julie, segera menyuruh artis pemeran Alexandria itu untuk jongkok di depan mukanya. ”Sini, biar kujilati vaginamu.” pintanya. Dan Julie dengan penuh semangat melakukannya. Dia segera bergeser ke depan, mengangkangi kepala Ridho dan menempatkan lubang vaginanya yang masih sangat sempit tepat di mulut laki-laki itu.

”Oughhh...” dan dia pun melenguh saat Ridho mulai menjilat dan menghisapnya.

Sementara di bawah, Cathy ikut-ikutan mengangkang. Tapi bedanya, dia mengangkangi penis besar Ridho yang teracung tegak ke atas tepat menuju lubang vaginanya. Perlahan-perlahan dia menggesek-gesekkan ujungnya yang tumpul ke bibir miss V-nya yang lembab membasah, berusaha untuk menemukan letak lubang peranakannya dan memasukkannya kesana.

“Ahh, Cath, ayo cepat masukkan! Jangan menggodaku lagi!” desah Ridho sambil meremas-remas payudara Julie keras-keras, sementara mulutnya terus melahap vagina gadis itu hingga membuat Julie merintih dan mengerang-erang keenakan.

Setelah lubangnya sudah ditemukan dan ujung penis Ridho sudah menyeruak masuk, Cathy pun mendorong batang besar itu kuat-kuat. Dia mendudukinya dengan bokongnya yang bulat dan menelannya hingga seluruhnya masuk ke dalam lubang vaginanya, mentok hingga ke dasar.

“Arghhhh…!” teriak mereka berbarengan. Ridho merasakan miss V Cathy begitu sempit, seperti menjepit dan memijit-mijit penisnya. Sementara Cathy karena gesekan penis Ridho pada dinding vaginanya yang begitu geli dan nikmat. Sedangkan Julie menjerit oleh gigitan Ridho pada bulatan clitorisnya.

Selanjutnya, tanpa membuang waktu, Cathy segera menggerakkan tubuhnya naik turun, menggenjot penis Ridho hingga lancar keluar masuk di dalam vaginanya.  Ridho yang merasa keenakan, sambil mendesis dan menggeram-geram, menjilati kemaluan Julie semakin rakus, membuat kekasih Moreno Soeprapto itu merintih semakin keras. Teriakan dan jeritan mereka silih berganti memenuhi ruang kamar itu.

“Ahh… ahh… ahh… lebih cepat, Cath! Genjot lebih kuat!” jerit Ridho memberi instruksi.

“Yeah, do u like it, baby?” tanya Cathy sambil meraih tangan Ridho, meminta laki-laki itu untuk meremas-remas payudaranya yang dari tadi nganggur.

“Yeah, of course! Really-really love it!” Ridho menjawab jujur.

Mendengar pernyataan itu, Cathy semakin mempercepat genjotannya, hingga tak lama kemudian, ia pun menjerit keras dengan tubuh menegang ke belakang. ”Oh, baby! I get it! Aku keluar, sayang! Aarrgghhhhh...” dari dalam liang kemaluannya, memancar cairan cinta yang sangat banyak. Saat Ridho mencabut penisnya, cairan itu pun tumpah ke atas ranjang, mengotori bantal dan sprei Cathy yang berwarna pink.

”Ah, kau hebat, sayang! Rasanya begitu nikmat!” ditopang oleh Julie, Cathy mencium bibir Ridho dengan lembut.

Melihat dua wanita cantik yang berangkulan di depannya, membuat Ridho makin tak tahan. ”Sudah ya, sayang. Sekarang giliran adikmu. Dia sudah dari tadi menunggu.”

Cathy yang mengerti segera bergeser ke samping, mempersilakan Julie untuk menggantikan tempatnya. ”Ayo, tidak usah sungkan.” bisiknya.

Julie tersenyum malu-malu. ”Tapi aku pengennya di bawah, boleh ya?” dia meminta.

As you wish, my lady.” sahut Ridho sambil bangkit dan langsung menerjang tubuh mulus Julie hingga gadis itu terjatuh telentang di ranjang.

”Auw!” Julie sedikit memekik kaget, tapi selanjutnya, sambil tertawa, dia segera membuka kakinya agar lubang vaginanya terbuka lebar karena tanpa membuang waktu, Ridho sudah menyodok-nyodokkan batang penisnya.

”Ughh, pelan-pelan, Dho!” pekik Julie saat Ridho mulai mendorong ujung penisnya untuk menerobos miss V-nya yang masih sangat sempit. Berbeda dengan pinya Cathy yang licin tanpa rambut, vagina Julie sedikit berbulu, tapi bulunya dicukur rapi sedemikian rupa sehingga terkesan eksotis dan elegant. Ridho suka saat melihatnya.

Dan ternyata bukan bentuknya saja yang bagus, rasanya juga luar biasa. Vagina Julie lebih sempit daripada punya Cathy. Begitu penis Ridho menerobos masuk dan sudah tenggelam seluruhnya, dia bisa merasakan miss V Julie seperti mencekik penisnya. Belum digerakkan saja rasanya sudah begitu nikmat, penis Ridho bagai diremas-remas dan dipijit-pijit oleh selubung daging hangat yang sangat licin dan basah.

“Ahh...” membuat laki-laki itu bergidik keenakan. ”Kau sudah siap?” tanya Ridho pada Julie.

Julie hanya bisa mengangguk, tidak sanggup untuk berkata apa-apa lagi.  Ketatnya penis Ridho yang menembus lubang kemaluannya membuatnya melayang. Ugh, punya Moreno aja tidak seperti ini! batin Julie dalam hati.

Perlahan-lahan, Ridho mulai menggenjot penisnya maju-mundur, mengocok vagina Julie yang sempit sambil tangannya meremas-remas payudara gadis itu. Keringat semakin membanjiri tubuh mereka berdua. ”Ahh... ahh.. uhh.. ughh...!” mendengar desahan dan teriakan Julie seiring sodokan penisnya membuat Ridho semakin bernafsu, ia pun makin mempercepat tempo goyangannya.

Julie mengimbangi dengan menggerakkan pinggulnya memutar, juga sesekali bergoyang atas bawah, menyambut tusukan Ridho yang semakin lama terasa semakin nikmat. Ia begitu meresapi setiap detik persetubuhan dengan laki-laki yang merupakan pacar kakaknya ini. Sudah cukup lama Julie tidak merasakan sensasi kenikmatan surgawi seperti saat ini, terhitung sejak Moreno sibuk membalap ke luar negeri, karena itulah ia sangat ingin di ujung percintaan ini, ia bisa mencapai klimaks yang luar biasa. Klimaks yang sungguh memuaskan yang biasa ia dapat dari Morena. Dan sepertinya Ridho sanggup memberikannya.

”Jepitan miss V-mu benar-benar luar biasa, Julie! Ooohh...” lenguh Ridho keenakan. Ia terus menggerakkan pinggulnya maju-mundur, menyetubuhi Julie dengan sepenuh hati, menikmati setiap relung vagina gadis cantik itu, juga tubuhnya yang montok dan hangat. Ridho menunduk untuk kembali mencium bibir basah Julie.

”Ughhh...!” Julie merintih merasakan penis besar Ridho yang semakin cepat mengaduk dan menghunjam ke liang vaginanya. Dia sudah tidak mendengar lagi apa yang dikatakan oleh laki-laki itu. Yang ada di pikirannya sekarang cuma bagaimana menjemput klimaksnya yang dia rasa sudah hampir tiba.
 
”Aghh... ahhh.. ahh...!” bergoyang semakin liar, Julie pun mengangkat pantatnya dan membuka lebar kedua kakinya. Dengan posisi seperti ini, orgasme yang dirasanya sudah berada di ujung akan semakin cepat ia capai.

Ridho yang mengetahui maksud Julie, ikut membantu dengan menyorongkan penisnya semakin cepat dan dalam. Dan setelah beberapa genjotan yang kasar dan brutal, mereka pun memekik berbarengan. ”Aarghhhh...!” cairan  kenikmatan mengalir deras dari dalam vagina sempit Julie yang kini sudah menebal dan memerah. Meski capek dan lelah, ia terlihat sangat puas.

Ridho yang merasa penisnya seperti dikempot dan dihisap-hisap saat Julie orgasme, menyusul tak lama kemudian. Merasa akan segera meledak, dia segera menarik penisnya dan menyemburkan spermanyanya beberapa kali ke dada, wajah dan mulut adik pacarnya itu. Julie yang sudah lemas dan kelelahan hanya bisa pasrah menerima semprotan demi semprotan pejuh dari Ridho. Dia terlalu lelah untuk menolak.

Setelah rasa nikmat itu berlalu, keduanya pun ambruk terlentang bersebelahan di atas ranjang dalam keadaan telanjang bulat. Julie perlahan berusaha mengatur nafasnya, membiarkan Ridho meraba dan meremas-remas payudaranya, bahkan dia tidak menolak saat laki-laki itu kembali menindih tubuhnya dan menciumi sekujur tubuh telanjangnya dengan penuh nafsu.

”Eh, sudah-sudah. Ayo mandi sana dulu!” ucap Cathy yang baru keluar dari kamar mandi. Tubuh telanjangnya terlihat segar. Air masih menetes-neets di sekujur kulitnya yang putih dan mulus. Memang selama Ridho main dengan Julie tadi, ia sedang mandi.

”Kamu benar-benar luar biasa, Julie!” bisik Ridho kepada Julie saat mereka beriringan menuju kamar mandi. Lain kali aku harus melakukan ini lagi dengannya, batinnya dalam hati.

“Iya, sama-sama.” balas Julie sambil tersenyum.

Di kamar mandi, mereka saling menyabuni. Sebenarnya nafsu Julie bangkit lagi saat itu, tapi Ridho sudah terlalu lelah untuk melayani. Penisnya sudah tidak mau lagi diajak kompromi, benda itu tidak mau tegang. Terpaksa Julie harus puas hanya dengan dioral dan dikocok saja.

Cathy yang merasa menunggu terlalu lama, ikut menyusul ke dalam. Begitu mengetahui apa yang dilakukan Ridho pada sang adik, ia pun menuntut hal yang sama. Bersebelahan dengan Julie, ia menikmati jilatan Ridho pada vaginanya.

Setelah mengantarkan kakak beradik yang cantil itu itu ke nikmatnya pintu orgasme, Ridho pun mengajak mereka balik ke kamar. Sprei sudah diganti baru oleh Cathy. Masih dengan tubuh telanjang, mereka berbaring bersisian di ranjang, dengan Ridho berada di tengah-tengah, diapit oleh Cathy di sebelah kiri dan Julie di sebelah kanan. Seperti sang ayah, Ridho merasa menjadi seorang Raja hari ini.

END

Bleach - Tarot



Angin bertiup kencang malam ini, seolah semakin meniup dalam kegalauan hati seorang gadis berambut hijau panjang yang tengah menyusuri jalanan gelap dan basah. Neliel Tu Oderschvank. Gadis itu berjalan pelan, menembus hujan deras yang turun saat ini, seolah semakin menusuk luka dalam hatinya. Padahal tubuhnya sudah bergetar hebat karena kedinginan, tapi ia tetap bertahan. Pikirnya, lebih dingin dan sakit hatinya daripada tubuhnya saat ini.

Akhirnya gadis itu terhenti di depan sebuah rumah—yang cukup besar—dan memencet bel di depan gerbangnya. Satu kali. Tak ada respon dari si empu rumah, gadis itu merapatkan tangan di depan dadanya—kedinginan. Dua kali. Tedengar suara pintu yang digeser di dalam, gadis itu hanya memandang pagar di depannya dengan tatapan kosong. Tak lama kemudian, seorang pemuda berambut biru terang keluar.

"Nel?" mata birunya membulat sempurna.

***

Grimmjow mengocok kartu di depannya perlahan sambil memperhatikan gadis di hadapannya. Neliel tengah duduk di sofa, memakai jaket tebal berwarna biru muda sambil merendam kakinya ke dalam ember yang berisi air hangat. Grimmjow mulai menyebar teratur kartu—yang barusan ia kocok—di atas meja.

"Dia menyakitimu lagi?" tanya Grimmjow.

Neliel menggeleng. Grimmjow mengambil tiga kartu dihadapannya secara acak, sekali lagi sambil memperhatikan gadis berambut hijau itu. Tadi Grimmjow sendiri yang membimbing Neliel masuk ke dalam rumahnya, Grimmjow juga yang memberikan pakaian ganti dan jaketnya untuk menghangatkan Neliel. Pemuda itu membuka kartu paling kiri, paling pertama. Death.

"Dia menyakitimu," pertanyaan Grimmjow berubah jadi pernyataan.

Neliel menggigit bibir bawahnya, lalu menunduk, memandang kakinya. Ia tidak salah datang ke sini, karena mungkin ini adalah satu-satunya tempat ia akan diterima saat seperti ini, saat ia dicampakkan oleh tunangannya sendiri, Nnoitra Jiruga. Grimmjow membuka kartu kedua. The Lovers.

"Nel," panggil Grimmjow.

"Dia bilang, aku tidak hamil karena aku tidak becus."

"Nel?" alis Grimmjow bertaut.

"Mungkin aku mandul, atau memang aku tidak mampu."

"Neliel Tu Oderschvank!"

"Grimm, kau tak usah menghibur—hmmp!" karena sibuk memperhatikan ke bawah, Neliel tak sadar kalau sedari tadi Grimmjow sudah mendekatinya.

Grimmjow mencium bibir Neliel lembut—awalnya, tapi lama kelamaan ciuman itu semakin mengganas. Neliel sama sekali tak melawan, hanya menempelkan tangannya ke dada bidang Grimmjow yang masih di tutupi kemeja putihnya.

"Nel," bisik Grimmjow setelah melepaskan ciumannya dan mengecup telinga Neliel lembut.

"Grimm, jangan..." desah Neliel.

"Kenapa?"

"Aku sudah bertunangan," jawab Neliel, tetapi tangannya tak beranjak dari dada Grimmjow.

"Apa tunanganmu memperlakukanmu selembut ini?" tanya Grimmjow sambil meremas lembut buah dada Neliel yang tertutupi oleh kemeja Grimmjow—yang tadi dipinjam.

"Ssh, ahh... Tidak, dia selalu memaksa," desah Neliel lagi.

"Apa tunanganmu akan membuatmu tersenyum?" Grimmjow memberikan kiss mark di leher Neliel.

"Asshh... Tidak, tidak. Grimmjow, jangan..." kali ini Neliel mendorong pelan tubuh Grimmjow.

Grimmjow tersenyum menyeringai, lalu kembali berjalan ke deretan kartu yang tadi ia pegang. Tinggal kartu terakhir yang belum ia buka. Grimmjow membuka kartu itu, lalu tersenyum. Victory.

"Siapa yang kau ramal?" tanya Neliel.

"Kau."

"Apa kata kartunya?"

"The Lovers. Kau tahu apa arti kartu ini, Neliel? Kebahagiaan," jawab Grimmjow sambil memperlihatkan kartu kedua, lalu mendekati Neliel lagi.

"Tapi, aku tidak merasa bahagia," keluh Neliel.

"Hm?" Grimmjow mengecup bibir Neliel lagi, sebenarnya Neliel ingin melawan, namun tangan kekar Grimmjow telah menahan tangannya.

Grimmjow menggigit lembut bibir Neliel, membuat Neliel mendesah, lalu membuka mulutnya. Grimmjow pun semakin liar, memainkan lidahnya di dalam mulut Neliel, mengabsen satu persatu gigi-gigi Neliel. Lidah mereka saling bertemu, bertukar saliva. Akhirnya, ciuman itu terhenti saat keduanya membutuhkan pasokan udara.

"Grimmjow. Jangan..." lagi-lagi Neliel menolak.

"Aku akan membahagiakanmu, dan membuatmu mengandung anakku."

"Grimmjow? Ssshhh..."

Grimmjow menciumi setiap jengkal dari leher Neliel, perlahan-lahan turun menuju dada gadis itu. Memberikan kiss mark disana sini, Grimmjow menggigit, lalu menjilatnya kembali dengan lembut. Grimmjow pun perlahan membuka satu persatu kancing kemeja yang dikenakan oleh Neliel, lalu benar-benar membuka semuanya, dan melemparkan kemeja itu ke sudut sofa. Saat yang sama, Neliel menyingkirkan ember berisi air hangat di kakinya.

Bra Neliel masih basah. Pasti tadi gadis itu tidak menggantinya—karena memang tidak ada lagi. Grimmjow memeluk Neliel, lalu membuka pengait bra itu pelan-pelan, dan tentu saja melepas bra gadis itu. Tentu saja langsung terlihat kedua payudara Neliel yang menantang, namun terlihat menyedihkan dengan cakaran di atasnya.

"Dia benar-benar menyakitimu, Nel. Ini bukan kiss mark, tapi cakaran."

"Ia bilang, dadaku terlihat lebih indah dengan luka darinya," jawab Neliel sambil menangis.

"Tidak, Nel, harusnya bukan begini saat bercinta, kau juga seharusnya merasakan kenikmatannya."

Belum keluar sepatah kata pun jawaban dari Neliel, Grimmjow sudah melahap puting kanan Neliel dan mempermainkan payudara kirinya. Tentu saja membuat Neliel bereaksi dengan cara meremas rambut biru muda Grimmjow.

"Ssh... Ahh... Grimmy..." Neliel mendesah hebat.

Grimmjow malah tersenyum menyeringai dan semakin cepat mempermainkan puting kanan Neliel dengan lidahnya, dan memijat puting kiri Neliel dengan telunjuk dan jempolnya. Tentu saja setelahnya payudara Neliel mengeras dan gadis itu semakin mendesah hebat.

"Ahh, Grimmy... Ssshh... Ahhh..." Neliel semakin keras meremas rambut Grimmjow.

Grimmjow menghentikan permainannya, lalu memandang wajah Neliel yang sepertinya sudah terangsang dengan sentuhannya. Grimmjow mengecup bibir Neliel lagi, sementara tangan kanannya tetap meremas payudara Neliel, tangan kirinya bergerilya menuju ke celana yang digunakan oleh Neliel, perlahan membuka retsletingnya. Neliel terus mendesah, namun tiba-tiba Grimmjow benar-benar menghentikan aksinya. Sepertinya bukan di waktu yang tepat, ketika tubuh keduanya sudah semakin memanas dan sudah bertukar peluh, Grimmjow malah berhenti.

"Kenapa berhenti?" tanya Neliel polos.

"Di awal tadi, kau bilang 'jangan', kan? Aku tak ingin memaksakan jika kau tak mau melakukannya."

"Grimmjow, kumohon..."

Grimmjow tersenyum menyeringai lagi, lalu membuka kancing kemejanya satu persatu. Ia menyelimuti bagian atas tubuh Neliel, lalu beranjak menuju ke meja tempat tadi ia meletakkan kartu.

"Walaupun kartu masa lalumu adalah Death, anggap saja dia telah mati. Nnoitra, dia tak pernah membahagiakanmu," Grimmjow meletakkan kartu itu lagi.

Neliel memandang pria bermata biru itu dengan lembut, setidaknya wajah Grimmjow cukup menenangkan hatinya yang sedang galau. Pemuda itu mendekati Neliel lagi, sepertinya ia suka sekali mempermainkan gadis itu. Neliel tersenyum tipis, membiarkan Grimmjow melanjutkan aksinya. Pemuda berambut biru itu makin senang, dibukanya pelan celana jeans yang digunakan oleh Neliel, lalu melemparnya ke sudut sofa, bersama kemeja yang tadi digunakan Neliel. Saat ini yang digunakan gadis itu hanya celana dalam berenda dengan warna hijau tosca.

"Kau curang," kata Nel.

"Kenapa?"

"Kau masih memakai celanamu."

"Oh, baiklah kalau kau meminta, Nel-hime."

Grimmjow membuka celananya, dan kini ia hanya memakai celana dalam berwarna coklat susu. Neliel hanya tersenyum geli melihat 'adik kecil' Grimmjow sudah menegak sempurna.

"Kukira sejak tadi ia biasa saja," goda Neliel.

"Tch, aku tak mungkin tahan mendengar desahanmu."

"Baiklah, ini saatnya aku memuaskanmu."

Neliel berjongkok diantara kedua kaki Grimmjow, lalu membuka celana dalam pria itu. Neliel langsung mengulum penis Grimmjow dan membuat pemuda itu mendesah pelan, merasakan kenikmatannya. Sesekali ia menekan-nekan kepala Neliel, berharap gadis itu dapat mengulum batangnya lebih dalam lagi.

"Hnn... Nheell... Ssshhh... Cukuphh..." Grimmjow menjauhkan wajah Neliel dari 'adik kecil'nya.

Gantian Neliel yang tersenyum menyeringai, gadis itu seolah sudah terbiasa melakukan hal tadi. "Buat aku mengandung anakmu, Grimmjow."

Grimmjow hanya menghela nafas panjang, lalu kembali mengulum payudara Neliel. Kali ini dengan tangan kanannya yang bergerilya menuju ke celana dalam Neliel, lalu membukanya. Jari Grimmjow masuk ke dalam vagina Neliel, pertama satu, lalu lama kelamaan tiga jari masuk ke dalam sana.

"Sssh... Nggghhh... Ahhh... Ghriiim..."

"It's show time! Tenang, Nel."

Grimmjow menjilati setiap jengkal dari payudara Neliel, lalu ke perut gadis itu, membuat Neliel menggelinjang geli karenanya. Grimmjow memberikan kiss mark di pinggang Neliel, lalu ciumannya semakin turun ke paha, dan lama-lama menuju ke vagina gadis itu.

Grimmjow memasukkan lidahnya ke sana, mempermainkan clistoris milik Neliel, tentu saja desahan gadis itu semakin keras dan menggoda. Ya, seperti nyanyian melodi indah yang mengalun di telinga Grimmjow.

"Ngghh... Ahhh! Ghriimmm... Oh!"

Cairan bening dan lengket keluar dari dalam vagina Neliel, ya, gadis itu telah mencapai klimaks. Grimmjow tersenyum puas, dan menelan semua cairan itu. Baginya, itu manis.

"Nel, kumasukkan sekarang, ya?"

Neliel tak menjawab, tapi wajahnya menunjukkan kalau ia setuju. Grimmjow pun perlahan memasukkan penisnya ke dalam vagina Neliel yang sudah basah karena cairannya sendiri. Sempit. Tapi Grimmjow tetap berusaha memasukinya.

"Ng..." Neliel menggigit bibir bawahnya.

"Tenang sayang, ini takkan menyakitimu. Kau sudah biasa melakukannya, bukan?"

"Sssh... Hhh..." Neliel mengangguk pelan.

Grimmjow memasukkan batangnya lebih dalam lagi ke dalam vagina Neliel, lalu menghentaknya. Tentu saja Grimmjow tahu kalau Neliel sudah tidak 'virgin' lagi, ini karena tunangannya sering sekali memaksanya untuk bercinta.
Neliel mencoba menyesuaikan ukuran penis Grimmjow di dalam vaginanya. Setelah dirasa sudah, ia mulai menggerak-gerakkan pinggulnya, tanda siap untuk digenjot Grimmjow.

"Nel, aku tahu ini salah—"

"Hhh, aku tahu, Grimmhh..."

"—tapi kau adalah dosa termanisku."

Grimmjow mulai memaju mundurkan pinggulnya, membuat gadis di hadapannya mendesah semakin hebat dan kencang, tangannya nyaris mencakar punggung Grimmjow. Neliel menutup matanya untuk merasakan kenikmatan bercinta yang tidak pernah ia rasakan dari Nnoitra.

"Oh... Ahhh... Ahhh... Ssshhh..."

"Buka matamu, Nel. Jangan ditutup. Nggghh..." Grimmjow turut mendesah pelan.

Neliel menurut dan membuka matanya kembali. Grimmjow mencoba membuat Neliel mendesah semakin keras dengan mengulum kembali puting kiri Neliel, sementara kedua tangannya menumpu di samping gadis itu.

"Ahhh... Grimmhh! Ohh... Aku sampai..."

"Aku belum," Grimmjow tersenyum mengejek sambil menggigit pelan leher Neliel, membuat kiss mark di sana.

"Grimmhhh... Ngghhh..."

Grimmjow akhirnya merasa liang kewanitaan Neliel semakin menjepitnya, lalu ia menghentakkan sekali 'adik kecil'nya untuk semakin ke dalam dan mengeluarkan jutaan spermanya disana.

"Ngghhh..." keduanya mendesah bersamaan.

Alhasil, Grimmjow ambruk di atas tubuh Neliel. Pemuda itu mencium telinga kanan Neliel—yang terdekat, lalu berbisik, "Aishiteru, Nel."

"Grimm..."

"Aku sudah punya tunangan," ejek Grimmjow.

"Gomen."

Grimmjow mencoba sekuat tenaga untuk bangun, lalu perlahan mencabut penisnya dari vagina Neliel. Neliel mendesah pelan, lalu memperhatikan pria yang baru saja bercinta dengannya, kali ini Grimmjow kembali berkutat dengan kartunya.

"Pilihlah aku dan kau akan mendapat ini. Victory. Kartu kebahagiaan," ucap Grimmjow lesu sambil merapikan kartunya.

"Kau bisa apa, Grimmjow? Apa kau bisa melunasi hutang-hutang ayahku pada Nnoitra?"

"Nel..."

"Atau apa kau bisa menjamin kehidupanku di masa datang?"

"Neliel!"

"Kehidupanmu sama seperti ramalanmu! Tidak selalu pasti dan—hmmmp!"

Kali ini Grimmjow seakan menerjang tubuh Neliel hingga gadis itu kembali terlentang di atas sofa. Grimmjow kembali mengulum bibir Neliel yang sudah memerah karena perlakuannya tadi.

"Grimm!" Neliel mencoba mendorong pelan Grimmjow.

Neliel tahu, kali ini Grimmjow melakukannya bukan dengan cinta, tapi penuh dengan amarah. Grimmjow pun melepaskan ciumannya dengan Neliel, lalu memukul kencang sandaran sofa di dekatnya.

"Nel, aku kecewa mendengar itu. Kau! Apa Nnoitra membuatmu jadi gila harta?"

"Grimm..."

"Aku hanya peramal, Grimmjow Jeagerjaques. Tapi aku peramal terkenal!"

"Grimmjow. Aku..."

"Nel, aku tahu aku salah mencintaimu. Aku tahu meski ia menyakitimu, tapi kau terlanjur jatuh cinta padanya."

"Grimmjow..." Neliel memeluk pemuda di depannya dengan erat.

"Nel, kalau kau tak mau..."

"Aishiteru. Aishiteru, Grimmjow..." air mata Neliel perlahan meleleh.

"Kalau begitu tetaplah disampingku."

Neliel mengangguk pelan, lalu mengecup lembut telinga Grimmjow. Selanjutnya kecupan itu berlanjut dengan gigitan kecil di leher Grimmjow. Malam itu pun berlalu dengan desahan-desahan yang kembali terdengar.

***

Neliel membuka matanya tatkala fajar mulai menyingsing dan sinar matahari mulai melalui kisi kisi jendela. Tubuhnya sudah tertutupi oleh selimut putih tipis di atas sofa. Neliel menggeliat, lalu mengerjapkan matanya, di depannya ada Grimmjow yang sudah berpakaian kembali, sedang duduk sambil menekan tombol handphone.

"Sudah bangun?" tanya pria itu.

"Nghh," Neliel mengangguk kecil.

"Ada yang tahu tentang perbuatan kita semalam," Grimmjow menunjukkan kartu The Tower yang ada di tangan kirinya sambil tersenyum sendu.

"Jadi?"

"Ya, mungkin aku akan merebutmu dengan cara apapun."

Grimmjow meletakkan handphonenya di atas meja dekat sofa, lalu beranjak menuju dapur.

From : Ulquiorra
Baiklah. Kita siapkan semuanya dalam waktu singkat. Jaga Nel dalam waktu 1x24 jam. Kami akan datang tepat waktu.

Dan masalah baru dimulai...

***

Grimmjow memasakkan sepiring nasi goreng untuk sarapan Neliel. Gadis berambut hijau panjang itu baru saja selesai mandi pagi. Ini bukan kali pertama Neliel bertandang ke rumahnya. Sejak Neliel bertunangan dengan Nnoitra dan tinggal dengan tunangannya itu, Neliel jadi sering ke rumahnya. Awalnya Neliel hanya mencurahkan isi hatinya pada Grimmjow, atau hanya datang untuk bersembunyi selama beberapa hari, tapi kejadian semalam tak pernah terbesit di benak Grimmjow.

Ia tahu Neliel sudah menjadi milik orang lain, ia tahu jelas itu. Masalahnya, Grimmjow sudah terlanjur jatuh cinta pada gadis itu jauh sebelum Neliel akhirnya 'terpaksa' bertunangan dengan Nnoitra. Grimmjow hanya bisa menghela nafas jika mengingat kebodohannya dan keraguan hatinya akan Neliel.

"Kau tidak makan?" tanya Neliel saat melihat Grimmjow yang sibuk dengan kartunya di meja makan.

"Tidak lapar."

"Makanlah sedikit, nanti kau sakit, loh," terang Neliel.

"Memangnya kau perduli kalau aku sakit?" tanya Grimmjow ketus

"Grimmjow..."

"Bercanda. Aku sudah kenyang," jawab Grimmjow sambil mengacak rambut Neliel.

Neliel hanya bisa cemberut, sementara Grimmjow kembali berkutat dengan kartunya. Ia membuka kartu pertama, The Tower. Lagi-lagi kartu ini yang keluar, sepertinya ia harus menuruti kata-kata Ulquiorra untuk menjaga Neliel. Memang, dari awalnya, ia yang membuat masalah, bercinta dengan Neliel, gadis yang sudah memiliki tunangan—yang menurut Grimmjow adalah orang freak.

Grimmjow membuka kartu kedua, namun tidak lebih baik, The Moon. Rintangan. Grimmjow menghela nafas panjang, membayangkan apa yang akan dilakukan Nnoitra untuk menghukumnya. Neliel baru menghabiskan separuh nasi gorengnya ketika akhirnya gadis itu meletakkan alat makannya, lalu meringis.

"Kenapa?" tanya Grimmjow.

"Sakit," keluh Neliel sambil memegangi pipinya.

"Coba buka mulutmu," pinta Grimmjow.

Neliel menurut, lalu membuka mulutnya lebar. Grimmjow dapat melihat jelas luka di dinding bagian dalam mulut Neliel. Entah mengapa tadi malam ia tidak melihatnya, apalagi merasakannya. Atau, apa mungkin ia sendiri yang membuat luka itu?

"Luka? Apa aku yang membuatnya, Nel?"

"Bukan, tapi Nnoitra."

"Ya, aku tak heran."

"Ng..." Neliel menunduk.

"Sudahlah. Ngomong-ngomong, aku jadi memikirkan kata-katamu kemarin. Kalian baru bertunangan, kan? Kenapa ia ingin kau hamil?"

"Itu..." Neliel malah semakin menundukkan kepalanya.

Grimmjow hanya menghela nafas, lalu membuka kartu terakhir dari deretan kartunya. Wheel Of Fortune. Kartu keberuntungan yang tak terduga. Grimmjow tersenyum menyeringai, lalu mengalihkan pandangannya pada Neliel—yang masih tertunduk. Saat itu, muncul pikiran jahilnya, pemuda itu mengecup pipi Neliel cepat.

"Grimm," pipi Neliel memerah.

"Habisnya kau suka sekali murung. Aku tanya juga tidak menjawab."

"Nnoitra ingin aku hamil karena katanya, perempuan akan lebih cantik ketika mengandung."

"Sebentar," alis Grimmjow bertaut, "Alasannya tidak masuk akal?"

"Awalnya juga aku berpikir begitu, tapi dia merebut kehormatanku malam itu."

"Kau... ng, diperkosa?"

"Ya, boleh dibilang begitu."

"Kapan?"

"Malam ketiga saat aku datang ke sini, aku sudah tidak suci lagi."

Grimmjow mengingat-ingat malam itu, malam ketiga ketika Neliel datang ke rumahnya. Oh ya, pemuda itu ingat saat itu, Neliel datang ke rumahnya dengan pakaian lusuh dan acak-acakkan. Grimmjow hanya menolong Neliel dengan mengobati luka-luka di sekujur tubuh gadis itu dan membiarkannya bermalam di rumahnya selama yang Neliel mau.

"Tapi saat itu kau hanya bilang kalau kau dipukuli?"

"Apa aku tak boleh berbohong untuk melindunginya?"

"Oh. Baiklah," tanggap Grimmjow sambil merapikan kartu tarotnya.

"Grimm..."

Ingatan Neliel kembali ke hari itu, hari dimana kehormatannya sebagai seorang gadis terambil.

***

Flashback

Neliel baru saja pulang kuliah ketika matahari mulai beranjak turun dan sore mulai menjelang. Rumahnya—dan Nnoitra—sepi sekali, seperti tidak ada orang. Neliel hanya tersenyum tipis, itu artinya hari ini ia akan beristirahat sebentar dari penderitaan. Gadis itu mulai berjalan menuju ke kamarnya—lantai bawah, paling dekat dengan tangga.

Dugaan Neliel salah besar, ternyata Nnoitra sudah berada di dalam kamarnya, sedang duduk di pinggir tempat tidurnya. Pria berambut hitam panjang itu hanya tersenyum menyeringai kala Neliel datang dan kini tengah berdiri di depan pintu kamar. Neliel memberengut ketakutan sambil memeluk buku tebal yang sedang ia pegang.

"Kenapa?" tanya Nnoitra.

"A-Apa?" tanya Neliel balik, terbata karena ketakutan.

"Kenapa pulang terlambat?" Nnoitra kini mendekati tunangannya.

"A-Ada tambahan t-tadi," keringat dingin sudah mulai keluar dari pori-pori Neliel.

"Tambahan?" Nnoitra memegang dagu Neliel.

"I-Iya."

"KAU TAHU KALAU AKU TAK SUKA ALASAN APAPUN!" amarah Nnoitra meledak dan menjambak rambut Neliel.

"Akh! M-Maaf," Neliel kesakitan.

"KAU INGAT PERATURAN RUMAH INI, NELIEL? KAU TIDAK BOLEH PULANG TERLAMBAT! INGAT?" Nnoitra sama sekali tidak mengecilkan volume suaranya, malah jambakannya di rambut Neliel semakin erat.

"Akh! S-Sakit, Nnoitra-sama," mata Neliel mulai berkaca-kaca.

"GADIS SAMPAH!" Nnoitra memukul Neliel—tepat di wajah.

Neliel ambruk ke lantai, buku yang dipegangnya tadi saja terpental jauh entah ke mana. Sudut bibirnya mengeluarkan sedikit darah, tapi Nnoitra tidak peduli, ia malah semakin senang. Pemuda itu menjambak rambut Neliel lagi, memaksa agar Neliel kembali berdiri.

"A-Ampun, Nnoitra-sama... Akh!" Neliel meringis kesakitan.

"Ampun? Oh, baiklah, Neliel. Aku akan mengampunimu dengan satu syarat."

"Ya?" Neliel bersyukur ketika Nnoitra akhirnya melepas jambakan di rambut hijaunya.

"Kau harus mengandung anakku."

"Apa?" Neliel terkejut bukan main. Nnoitra baru menjadi tunangannya satu bulan, tapi sudah berani meminta macam-macam.

"Kau tidak tuli, kan?"

"M-Maaf, Nnoitra-sama. Tapi kenapa?"

"Kenapa? Akan kujawab itu nanti," Nnoitra mulai mendorong tubuh Neliel ke atas tempat tidur.

"Nnoitra-sama, ja—hmph"

Nnoitra mulai mencium bibir Neliel dengan paksa, tentu saja Neliel sekuat tenaga menahan diri agar tidak membuka mulutnya. Nnoitra tidak menyerah, tangannya mulai bergerilya menuju ke dada Neliel, lalu meremasnya kencang, membuat tunangannya itu memekik dan—mau tak mau—membuka mulutnya.

Nnoitra puas, lidahnya mulai menjelajahi rongga mulut Neliel, satu persatu ia absen gigi-gigi Neliel, lalu merangsang lidah Neliel agar bergerak. Neliel hanya bisa pasrah mendapat perlakuan itu dari Nnoitra, melawan pun percuma, meski pria yang sedang menahannya ini lebih kurus darinya, tapi Neliel tidak lebih kuat dari Nnoitra.

Nnoitra akhirnya melepaskan ciumannya kala kehabisan pasokan udara. Meski nafasnya masih terengah-engah, Nnoitra mulai menjelajahi rahang Neliel dengan lidahnya, tak lupa membuat kiss mark di sana sini, daerah rahang, juga lehernya.

"Nghh..." desah Neliel tertahan, ia menggigit bibir bawahnya.

Nnoitra sepertinya kurang puas dengan suara desahan Neliel yang tertahan itu. Pria itu pun mulai menjelajahi setiap jengkal dari tubuh Neliel, semakin ke bawah. Lidahnya mulai menemukan buah dada Neliel yang masih tertutupi kaus putih gadis itu.

"Pengganggu," Nnoitra merobek baju Neliel, lalu melepas bra gadis itu—tentu saja dengan paksa.

"N-Nnoitra-sama ja—akh!" Neliel tak bisa menahan jeritannya ketika Nnoitra mencakar bagian atas buah dadanya.

"Kau berisik!"

"Sssh... Sakit," Neliel hanya bisa menangis, bukan saja dadanya yang perih, tapi juga hatinya.

"Dadamu tampak lebih indah dengan luka ini. Lagipula, aku tak perduli denganmu. Puaskan aku!"

Nnoitra mulai membuka celana panjangnya dengan tangan kanan, sementara tangan kirinya mulai mempermainkan buah dada Neliel.

"Nghh... Mmm..." Neliel sekuat tenaga menahan desahannya, semakin kuat juga ia menggigit bibir bawahnya hingga tampak berdarah.

Setelah berhasil membuka celananya, Nnoitra mengarahkan penisnya ke mulut Neliel. Neliel semakin merapatkan mulutnya, membuat Nnoitra kesal, lalu lagi-lagi meremas kencang payudara tunangannya.

"Ak—hmbb."

Neliel nyaris tersedak karena Nnoitra memasukkan penisnya begitu dalam. Pria itu mulai memaju mundurkan pinggulnya, sesekali menekan-nekan kepala Neliel untuk semakin mengulum penisnya. Neliel merasa dinding dalam mulutnya terluka—sakit sekali—dan kembali menangis.

"Ohh, lakukan dengan benar Neliel. Nghh..." Nnoitra mendesah.

Neliel hanya pasrah saat lengannya dipegang Nnoitra, dan pria itu mengarahkan tangan tunangannya ke sisa penisnya yang tidak dapat masuk ke mulut Neliel. Neliel refleks menggenggam 'benda asing' yang tersentuh olehnya.

"Sssh... Bukan begitu, bodoh! Nghh..."

Nnoitra membimbing tangan Neliel untuk memijat penisnya itu, tentu saja setelah Nnoitra mengeluarkannya dari mulut Neliel.

"Nghhh... Ahhh... Beginhii..."

Neliel hanya bisa terdiam melihat Nnoitra yang sepertinya sudah berada di ambang kenikmatan. Nnoitra akhirnya melepaskan tangan gadis itu, lalu membuka paksa celana Neliel.

"Nnoitra-sama."

"DIAM! Bicara lagi selain mendesah, kubunuh kau!"

Neliel akhirnya diam seribu bahasa, bahkan ketika Nnoitra benar-benar sudah membuat mereka berdua tidak menggunakan apapun, polos. Nnoitra tersenyum, lalu mengarahkan wajahnya ke vagina Neliel—yang sudah basah—lalu memainkan lidahnya di sana.

"Akh! Ahh..." Neliel menggelinjang geli menerima rangsangan itu.

"Nikmat bukan, Neliel? Tapi aku takkan membuatnya nikmat, kau yang harus memuaskan aku, bukan sebaliknya."

Nnoitra mengarahkan penisnya ke belahan payudara Neliel, lalu menggeseknya pelan.Neliel berulang kali menahan desahannya, bahkan sampai darah benar-benar mengalir dari bibir bawahnya.

"Oh... Ahh, Neliel," Nnoitra mendesah.

"Ng... Mmm..."

Setelah dirasa cukup karena ada cairan yang memaksa untuk keluar, Nnoitra cepat-cepat memasukkan penisnya ke dalam vagina Neliel. Sempit. Ini pertama kalinya Neliel bercinta dengan dirinya.

"Ss-Ssakit, Nnoitra-sama. Sungguh."

"Aku tahu! Ini adalah pertama kali kau melakukannya. Diam!"

"Nghh... Sakith..."

"Neliel, alasanku hanya satu. Perempuan yang sedang mengandung itu terlihat lebih cantik, apalagi jika itu adalah anakku."

Nnoitra tetap memaksakan penisnya untuk masuk terus ke dalam vagina Neliel, dan selaput itu sobek. Selaput darah milik Neliel. Saat itu juga Neliel kehilangan kehormatannya dengan cara yang amat menyakitkan.

***

"Hei," Grimmjow mengecup pipi Neliel lagi.

"Grimmjow!" Neliel berkacak pinggang.

"Hahaha... Kau suka sekali melamun, ya?" Grimmjow terkekeh.

"Huh!"

"Hei, Nel. Bagaimana kalau kita jalan-jalan?"

"Jalan-jalan?" Neliel seakan tak percaya dengan usulan Grimmjow.

"Iya. Jalan-jalan. Kau sudah lama tidak keluar, kan? Bagaimana?"

"Oh, baiklah," jawab Neliel lesu.

"Jawab yang betul. Mau ku cium lagi, nih?" Grimmjow tersenyum menyeringai.

"TIDAK!" sergah Neliel cepat.

Grimmjow tertawa lepas, lalu mengacak rambut hijau Neliel dengan lembut. Neliel hanya memegang lengan kekar Grimmjow, lalu menjauhkan dari kepalanya. Grimmjow malah tampak senang, lalu balik memegang lengan Neliel dan mengecupnya.

***

"Grimmjow, lihat! Lucu sekali, kan?"

Entah sudah toko ke berapa yang disinggahi Neliel, di setiap toko, mata Neliel selalu tertuju pada satu barang dan mengatakan itu 'lucu'. Oh, baiklah, itu kan memang naluri belanja dari seorang wanita, tapi Grimmjow sungguh salut pada Neliel. Mereka berangkat ke mall pukul sebelas pagi, dan hingga jam di tangan Grimmjow menunjukkan angka empat, Neliel sama sekali tak kelihatan lelah.

"Grimmjow! Kok tidak menjawab?" Neliel mendengus sebal.

"Iya, iya. Lucu."

"Huh!"

"Nel, sudah yuk! Aku lapar!"

"Lapar? Oh iya ya! Kau kan belum makan dari pagi."

"Ya, ya. Ayo kita makan, Nel-hime."

"Hihihi..." Neliel tersenyum, lalu menarik lengan Grimmjow keluar dari toko yang mereka singgahi tadi.

Grimmjow hanya dapat mengikuti tarikan lengan Neliel dengan pasrah. Neliel tersenyum ceria sekali hari ini, dan Grimmjow sudah tak pernah melihatnya sejak Neliel bertunangan dengan Nnoitra. Laki-laki itu telah merenggut semuanya dari Neliel. Kebahagiaan, senyum Neliel, hari-hari indahnya, bahkan hingga kehormatan Neliel. Melihat Neliel yang tengah ceria, muncul ide nakal Grimmjow, pemuda itu sengaja pasang tampang murung.

"Grimm kenapa?" tanya Neliel.

"Tidak."

"Grimm ngambek, ya? Atau capek?" Neliel malah semakin serius memperhatikan wajah Grimmjow, membuat pemuda itu gemas.

"Tidak, Nel," Grimmjow membuang pandangannya.

"Kalau begitu, ayo senyum!" diluar dugaan, Neliel mencubit pipi Grimmjow.

"Aduh, aduh. Sakit, tahu!"

"Habis kau cemberut terus."

"Boleh kalau mau melihat aku tersenyum. Tapi ada syaratnya!"

"Apa?"

"Kau tak boleh menolak loh!"

"Eh? Memang apa?"

"Pokoknya janji dulu!"

"Ng? Ya sudah. Iya, deh!"

"Cium aku," bisik Grimmjow nakal.

"GRIMMJOW!"

Gadis berambut hijau panjang itu pun memukul-mukul tubuh Grimmjow dengan semangat. Pemuda berambut biru disebelahnya pun hanya tertawa sambil meringis pelan, dan berusaha menghindari pukulan Neliel.

"Hei, hei, sudah dong. Sakit nih!" protes Grimmjow.

"Habisnya kau jahil!"

"Pokoknya ku tagih, ya! Aku sudah tertawa, nih."

"Tidak mau!" Neliel melipat tangan di depan dadanya.

"Hihihi... Ayo kita, makan," Grimmjow merangkul bahu Neliel dan mengecup rambut gadis itu.

Sejak pertama mereka saling mengenal di bangku SMA dulu, Neliel memang menganggap Grimmjow sebagai sahabat baik sekaligus kakak baginya. Sahabat baik yang selalu ada untuknya, tertawa bersama saat senang, dan membuatnya lega saat sedih. Kakak yang baik, selalu melindunginya kapan pun Neliel butuh, meski kadang membuat sebal.

"Master Jeagerjaques!" seorang remaja wanita histeris begitu melihat Grimmjow.

"Ng? Maaf?"

"Master! Apa boleh aku minta foto bersama? Aku sangat suka ramalan Master Jeagerjaques di majalah," gadis lain yang melihat Grimmjow langsung menghampiri.

"Ah? Hanya foto? Baiklah..."

"Ahh! Aku juga mau!"

Beberapa menit kemudian, Grimmjow sudah dikerubungi oleh fans girlnya. Neliel hanya bisa menjauh beberapa langkah, lalu menunggu Grimmjow selesai dengan urusan fansnya. Melihat ketenaran Grimmjow sekarang, Neliel bersyukur bahwa pria itu masih mau menerimanya di rumah, dan bahkan mendengar keluh kesahnya kapan pun itu.

"Ng, maaf ya, semua. Saya masih ada urusan," ujar Grimmjow, lalu menarik lengan Neliel lembut.

"Grimm..."

"Shht, aku lapar, nih!"

"Hihihi... Enak ya, punya banyak fans?"

"Kau cemburu, eh?"

"Tidak!"

"Bilang saja kalau cemburu."

"Huh!"

Grimmjow hanya menyeringai nakal sambil mempercepat langkahnya, berharap tak ada seorang wartawan pun yang melihat ia dengan Neliel. Masalahnya, bukan karena gosip untuknya, tapi keselamatan Neliel di tangan Nnoitra.

***

Pukul tujuh tepat, mobil Grimmjow sudah terpakir rapi di garasi pemuda itu. Neliel dan Grimmjow turun bersamaan dari dalam mobil. Neliel tampak lelah sekali, gadis itu meregangkan badannya, lalu berjalan ke arah Grimmjow.

"Masuklah, Nel."

"Aku tak mau sendirian."

"Huh, kau ini, sudah seperti ibu hamil yang inginnya diperhatikan terus."

"Siapa tahu?" Neliel menjulurkan lidahnya.

"Jangan menggoda, mungkin aku tak tahan dengan godaanmu."

Neliel memukul lengan Grimmjow, yang disambut senyum menyeringai Grimmjow. Selanjutnya, mereka berdua masuk ke dalam rumah Grimmjow. Neliel duduk di sofa, sementara Grimmjow beranjak ke arah kamar.

"Grimm," suara Neliel menahan langkah Grimmjow.

"Ada apa?"

"Aku senang sekali hari ini, rasanya nggak ingin berakhir. Tapi, Nnoitra-sama..." Neliel menundukkan kepalanya.

"Tenanglah, lebih baik sekarang kau—"

"GRIMMJOW! KELUAR KAU! NELIEL! WANITA JALANG!"

"—sembunyi, Neliel."

Grimmjow menarik lengan Neliel menuju ke sebuah lemari kecil dekat kamar. Grimmjow membuka lemari itu—yang ternyata masih ada ruangan rahasia di dalamnya. Neliel lagi-lagi hanya menurut dan bersembunyi di sana.

"Aku janji, kau tak akan merasakan sakit lagi," Grimmjow mengecup lembut bibir Neliel.

"Hati-hati, Grimmjow."

"Percayalah padaku."

Grimmjow menutup ruangan itu dengan cepat, lalu buru-buru mengunci pintu lemari itu. Lemari itu mudah di dobrak, tapi ruangan di dalamnya tak mudah di temukan.

BRAK!

Terdengar suara keras dari depan. Entah apa yang dilakukan oleh Nnoitra dan kawanannya—mungkin mendobrak pagar rumah Grimmjow. Pemuda berambut biru itu hanya tersenyum, lalu mengambil seperangkat kartu tarot yang ia letakkan di atas meja, dan mengocoknya.

"GRIMMJOW!" terlihat sekali kalau Nnoitra sangat murka, ia membawa sepasukan algojo.

"Kau berisik, Nnoitra."

"Mana Neliel?" Nnoitra mulai menurunkan volume suaranya.

"Kenapa tanya padaku?"

"Kutanya sekali lagi, mana Neliel?"

"Dia sudah pergi."

"BOHONG! CARI DIA!" perintah Nnoitra pada algojonya.

Grimmjow mulai mengambil kartu yang barusan ia kocok, tiga buah. Sudah terlihat emosi ketakutan campur marah di wajahnya, namun ia berusaha untuk tetap tenang sambil membuka satu persatu kartu yang barusan ia pilih.

"Nnoitra-sama, ini baju Neliel."

"Nah, kau mau mengelak apalagi, Grimmjow?" Nnoitra tersenyum penuh kemenangan.

"Dia sudah pergi."

"JANGAN BOHONG! NELIEL MEMANG KE SINI, TAPI IA BELUM KELUAR, BODOH! JANGAN BOHONGI AKU!"

"Cari saja kalau kau bisa!"

Nnoitra geram sekali, ia menggertakan giginya, mengepalkan tangannya, lalu memberi kode agar para algojonya memukuli Grimmjow.

BRUK! PRANG!

Meja makan yang digunakan Grimmjow tadi dijatuhkan oleh seorang algojo, tentu saja piring makan Neliel tadi ikut jatuh. Sekarang kedua tangan Grimmjow dipegangi oleh dua orang algojo bertubuh kekar.

"Kesempatan terakhir, Jeagerjaques. Dimana Neliel?"

"Kubilang, dia sudah pergi!"

"Pukul dia, kalau perlu, bunuh dia!" perintah Nnoitra, sungguh murka.

Tentu saja beberapa detik kemudian, Grimmjow sudah menerima pukulan dari seorang algojo—yang sangat ia kenali—bernama Barragan Luisenbarg. Barragan adalah bawahan Ulquiorra tadinya, namun ia berkhianat dan menjadi bawahan Nnoitra. Tunggu, Ulquiorra? Ia bukan siapa-siapa, hanya teman baik Grimmjow yang merupakan kepala mafia.

"Hanya 12 jam Grimmjow? Well, well, Barragan. Sudah nakal kau, rupanya," suara itu, tak asing lagi. Dia!

***

"Hanya 12 jam Grimmjow? Well, well, Barragan. Sudah nakal kau, rupanya."
Suara seorang pemuda menghentikan aktifitas Barragan yang baru saja menghajar bagian perut Grimmjow dan membuat ia muntah darah. Suara itu, Grimmjow jelas sekali mengenalnya. Itu adalah suara milik seorang pemuda berambut kuning panjang. Tentu saja ia tidak sendiri, ada seorang pria bermata hijau yang sedikit lebih pendek dari pemuda berambut kuning itu—sikapnya tenang sekali.

"Hirako-sama? Schiffer-sama?" Barragan terkejut melihat kedatangan tamu tak diundang itu.

"Masih ingat padaku rupanya. Bagaimana jika aku ingatkan kembali akan luka diwajahmu itu?" pria bernama Hirako Shinji itu mengambil pisau kecil dari dalam sakunya.

"SIAPA KALIAN?" bentak Nnoitra geram pada dua tamu itu, Grimmjow—yang masih dipegangi—malah tertawa menyeringai.

"Hei, bisakah kau tenang sedikit?" protes Shinji.

"DIAM! KALIAN! TANGKAP MEREKA!" perintah Nnoitra pada sisa kawanan algojonya.

Alhasil, tiga orang—yang tersisa—berusaha menangkap Shinji dan Ulquiorra. Sayangnya, menangkap kedua pria itu tak semudah menangkap kucing-kucing yang penurut. Ulquiorra licin seperti belut, ia dengan mudah mengecoh ketiga algojo Nnoitra. Shinji pun sama, mudah berkelit, bahkan terpaksa menggunakan tendangannya.

"Kau pikir, semudah itu menangkap wakil dari Ulquiorra Schiffer sepertiku? Oh, jangan bercanda," Shinji menjulurkan lidahnya saat berhasil mendarat di sofa.

"BODOH! MENANGKAP MEREKA SAJA, KALIAN TIDAK BECUS!" Nnoitra semakin geram.

"Ayolah, bukan salah mereka, kok. Aku tahu siapa saja mereka. Barragan Luisenbarg, Zommari Leroux, Kensei Muguruma, ahh, halo, Yammy Rialgo! Itu Hachigen Ushouda dan Marechiyo Oomaeda," Shinji mengabsen satu persatu algojo suruhan Nnoitra.

"Kau!"

"Ah? Apa kau sendiri tidak mengenal mereka?"

"H-Hirako-sama," seorang algojo bernama Yammy—yang memegangi Grimmjow—tampak ketakutan.

"Tenang, tenang, kalau kau melepaskan si rambut biru itu, aku takkan menyentuhmu seujung kuku pun."

"Percuma banyak bicara, Shinji," Ulquiorra akhirnya angkat bicara.

"Oh iya, aku hanya menyelamatkan klien saja."

"Hhh, Grimmjow. Bersyukurlah kau sempat menghubungiku," Ulquiorra mendekati Barragan.

"Bisa cepat, Ulqui? Rasanya aku ingin muntah darah lagi karena dipukul barusan."

"Baiklah," Ulquiorra melirik Shinji.

Shinji hanya menunjukkan ekspresi bosan, lalu mereka berdua memulai perlawanan mereka. Ulquiorra mulai memelintir tangan Barragan dan menendang kaki pria besar itu, sementara Shinji mulai dengan menendang perut Oomaeda. Grimmjow yang saat itu dipegangi oleh Oomaeda dan Yammy langsung jatuh ke lantai. Tepat seperti yang ia katakan, selanjutnya, pria berambut biru itu muntah darah lagi.

"Ups, maaf, Grimmy. Bukankah kami agak terlambat?"

Lagi. Setelah Ulquiorra dan Shinji, datang Szayel dan Yylfordt—kakak beradik yang juga bawahan Ulquiorra—untuk membantu. Baiklah, anggap saja ini adalah surat kematian untuk Nnoitra, karena yang turun tangan langsung adalah petinggi-petinggi di kalangan mafia. Bukan melebih-lebihkan, memang kenyataan, pria-pria berbadan kecil itu sanggup mengalahkan para algojo suruhan Nnoitra.

Shinji, dengan wajah santai dan cenderung mengejek, menghadapi dua lawan sekaligus.Ulquiorra, dengan tenang dan tidak banyak gerakan, melumpuhkan dua lawan. Yylfordt dan Szayel? Oh, baiklah, masing-masing menghadapi satu lawan, tapi tetap saja mereka berdua terlihat hebat. Melumpuhkan enam algojo berbadan besar bukanlah hal yang begitu sulit. Nnoitra yang terpojok memutuskan untuk kabur, namun...

"Bergerak sedikit, kubunuh kau," Grimmjow menodongkan pisau ke leher pria kurus itu.

"Tch!"

"Well, well, ternyata Grimmy sudah mulai berani, ya? Habisi saja!" seru Shinji setelah menghabisi dua algojo.

"Apa maumu, heh?" Nnoitra terdengar menantang.

"Aku ingin kau merasakan apa yang Neliel rasakan."

"Ap—akh!"

Grimmjow menjambak rambut Nnoitra, lalu menusuk kaki kanan pria itu. Tentu saja darah langsung mengalir deras dari kaki pemuda itu. Ulquiorra hanya menatap Grimmjow tanpa ekspresi, begitu pun Shinji. Szayel lebih tertarik dengan tarot Grimmjow yang tergeletak di atas meja, sementara Yylfordt mencari Neliel dan menyuruh gadis itu keluar.

"Ahh, gadis manis. Bagaimana kalau kau ikut menyiksa?" tawar Yylfordt.

"N-Nnoitra-sama?" Neliel tertegun melihat pemandangan di depannya.

"Ne—Akh!"

Grimmjow menusuk kaki kiri Nnoitra, dan sekarang pria berambut hitam itu jatuh tersungkur. Neliel hanya terpekik, semua rasa bercampur dalam hatinya, sakit, kasihan, dan lega.

"Nel, apa perlu ku bunuh orang ini?" tanya Grimmjow.

"Grimm..." ujar Neliel lirih.

"Neliel! Tolong!" jerit Nnoitra.

"Pengecut, rupanya. Minta tolong pada seorang perempuan. Cih!" ejek Szayel.

"Kumohon, Grimm—" mata Neliel berkaca-kaca.

"Nel? Kenapa?" Grimmjow terlihat bingung.

"—lakukan sesukamu," Neliel tersenyum.

"Baiklah," Grimmjow tersenyum menyeringai.

Jleb. Pisau Grimmjow tepat menusuk dada Nnoitra, membuat Nnoitra berteriak kencang karena kesakitan. Neliel hanya bersembunyi di balik punggung Yylfordt, menangis lega. Sreet. Pisau itu melukai pipi Nnoitra, perlahan bergeser dan membuatnya berdarah.

"Arrghh!" Nnoitra memekik kesakitan, nafasnya sudah memburu.

"KENAPA KAU SAKITI NEL? BAGAIMANA JIKA KAU RASAKAN SAKIT YANG NEL RASAKAN?" Grimmjow terlihat kesal, tatapannya menakutkan.

Grimmjow menusukkan pisau itu ke badan Nnoitra bertubi-tubi, lagi dan lagi. Di mata Grimmjow, Nnoitra hanya sebuah boneka yang ia gunakan untuk pelampiasan kekesalannya saja.

"Argh! Akhh!"

Suara pekikan Nnoitra malah makin membuat Grimmjow senang. Tusukan terakhir Grimmjow tepat mengenai perut laki-laki itu, dan dengan sengaja Grimmjow tidak mencabutnya kembali.

"Kau merebut segalanya dari Nel! Kau harus membayar dengan nyawamu," Grimmjow membersihkan darah di wajahnya.

"Boleh kubereskan?" tanya Shinji semangat.

"Biarkan saja ia mati menderita begitu," Grimmjow menghampiri Neliel dan memeluk gadis itu.

"Manisnya," Yylfordt berjalan menghampiri adiknya—yang masih asik dengan kartu tarot.

"Maaf membuatmu takut."

"Grimm," Neliel menangis sejadinya di pelukan Grimmjow.

"Bagaimana jika racun ini kusuntikkan?" tawar Szayel sambil menunjukkan cairan dalam botol kecil.

"Racun baru, eh?" tanya Shinji.

"Ya. Boleh?"

"Terserah. Buat ia lebih menderita."

"Kau takkan menyesal, Grimmy," Szayel memasukkan cairan itu ke dalam suntikkan.

"Argh! Jangan!" Nnoitra berusaha menghindar.

"Takkan sakit, kok. Sedikit," Szayel tersenyum menyeringai.

"Grimm," Neliel semakin membenamkan kepalanya.

"Aarggghh!"

"Shhtt..." Grimmjow membelai rambut Neliel lembut, lalu mengecupnya, membuat darah di tangan Grimmjow menempel di sana.

Entah racun apa yang dimasukkan oleh Szayel, namun memang membuat pria itu benar-benar menderita sebelum kematiannya. Kejang, lalu bola matanya menjadi begitu putih. Semua penderitaan Neliel yang dibuat oleh Nnoitra pun terasa berakhir ketika laki-laki itu akhirnya meninggal.

"Selesai, Nel."

"Grimm," Neliel masih gemetar.

"Ssshht..."

"Biar kami yang selesaikan semuanya, Grimm," kata Ulquiorra.

"Ya."

"Larilah! Shinji, tolong mereka!" perintah Ulquiorra.

"Ya, ya. Ayo!"

Grimmjow membimbing Neliel yang masih gemetar untuk mengikuti Shinji. Pria berambut biru itu hanya sempat mengambil kartu tarotnya, lalu segera ke depan rumah. Shinji pun sudah bersiap dengan mobil sedan hitamnya, lalu, Grimmjow dan Neliel masuk ke dalam mobil itu.

"Kita ke mana, Shinji?" tanya Grimmjow saat mobil mulai berjalan.

"Yah, tentu saja jauh dari sini. Repot juga ya membawa peramal terkenal," ejek Shinji.

"Hahaha... Sudahlah."

"Yah, setidaknya nona manis di sana tidak terluka lagi," Shinji melirik Neliel dari kaca di tengah mobil.

"Shinji!" tegur Grimmjow, memberikan deathglarenya.

"Woo, dia siapamu, Grimm? Kekasih? Aku tak yakin pengecut sepertimu bisa mendapatkan nona cantik itu."

"Yah, mungkin," Grimmjow menjulurkan lidah.

Neliel hanya tersenyum tipis, lalu menyandarkan kepalanya ke dada bidang Grimmjow. Pria itu hanya menghela nafas, lalu membelai rambut Neliel.

"Hei, hei, aku iri, nih! Bayaranku tidak termasuk menjadi penonton loh!"

"Aku saja tak membayarmu, Hirako-sama."

"Oh, sudahlah. Ramal saja apa yang terjadi selanjutnya, Jeagerjaques-sama."

Grimmjow hanya tertawa lepas, lalu mengambil kartu tarot di dalam saku celananya. Neliel merebutnya, lalu mengocok tumpukan kartu itu, yang disambut senyuman Grimmjow.

"Mau jadi peramal juga, Nel?"

"Tidak juga."

"Kalau begitu, cukup mengocoknya."

Grimmjow menyebar teratur kartu—yang barusan dikocok Neliel—di sampingnya. Selanjutnya, ia memilih tiga kartu dan mulai merapikan sisanya. Grimmjow membuka kartu itu satu demi satu, lalu tersenyum saat melihatnya.

"Apa kata kartu itu?"

"Kartu pertama, Ten Of Swords. Keterpurukanmu akan segera berakhir, Nel."

"Lalu?"

"Kartu kedua, Le Soleil. Akulah teman yang akan membahagiakanmu."

"Dan kartu terakhir?"

"Kartu terakhir, Ten Of Cups. Kebahagiaan yang dari awal aku janjikan, pasti ku tepati," Grimmjow meletakkan kartunya kembali.

"Grimm..."

"Will you marry me?"

"Oh, Kami-sama... Neliel, terima saja lah lamaran orang itu!" seru Shinji yang mulai tak tahan dengan adegan romantis itu.

"Carilah pasangan, Hirako-sama! Kau berisik!" protes Grimmjow.

"Oh, baik baik, Jeagerjaques-sama, aku takkan mengganggu lagi. Tapi, izinkan aku untuk agak mengebut, bagaimana?"

"Pegangan, Nel. Dia gila," Grimmjow memeluk Neliel dengan erat.

Shinji tersenyum menyeringai, lalu mulai menaikkan kecepatan mobil yang dibawanya.Jam menunjukkan pukul sepuluh malam saat itu, dan kota Karakura sudah mulai sepi. Memang ada beberapa kendaraan yang berlalu, namun—seperti kata Grimmjow—Shinji memang gila kalau sudah mengebut.

"Grimm," Neliel menggenggam baju Grimmjow.

"Tak apa, kita aman."

"Aku takut..."

"Nel, kau aman di dekatku. Aku janji, tapi ku mohon kau juga berjanji selalu di sisiku."

"Ya, lindungi aku, Grimm..."

"Berjanjilah."

"Aku janji akan selalu ada di sisimu," Neliel memejamkan matanya ketika Shinji menambah kecepatan.

"Be my wife."

"Grimm! Kau sama tidak romantisnya dengan Shinji," omel Neliel.

"Ya, nona. Romantis itu memuakkan," sambar Shinji.

"Aishiteru," Grimmjow memeluk Neliel dan menenangkan gadis itu.

"Aishiteru yo," Neliel tampak lebih tenang dari pada tadi.

"Woo hoo! Grimm, selamat datang ke dunia biasamu. Selamat tinggal master Jeagerjaques! Selamat datang, Grimmjow!" ujar Shinji.

"Ya, selamat datang."

Grimmjow memandang ke luar jendela mobil, kota Karakura, tempatnya dikenal oleh orang banyak. Tempat ia dielu-elukan dan bahkan diidolakan oleh banyak fans. Sekarang, itu tidak penting lagi, yang terpenting, Neliel ada di sampingnya. Bagi Grimmjow, itu sudah lebih dari cukup.

***

Five month later...

Minggu pagi, Neliel baru saja terbangun dari tidurnya ketika ia melihat tempat tidur disampingnya sudah kosong. Ia mengelus perutnya yang semakin membuncit itu, lalu mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar. Ya, Grimmjow tidak ada di dalam kamar itu. Wanita berambut hijau panjang itu akhirnya memutuskan untuk beranjak dari tempat tidur, tepat ketika pintu kamar terbuka.

"Sudah bangun, sayang? Selamat pagi," sapa pria berambut biru yang baru saja masuk—Grimmjow.

"Pagi. Ukh," Neliel memegangi perutnya yang agak sakit, terduduk di pinggir tempat tidur.

"Kenapa?"

"Nggak, cuma bayi kita nendang perutku," Neliel mengelus perutnya.

"Bayinya nakal, ya?" goda Grimmjow sambil berlutut di dekat Neliel.

"Sayang..."

"Hihihi... Iya, iya. Bercanda."

"Aku bahagia bisa mengandung anak kamu."

"Aku bahagia, bisa punya kamu, dan—"

"Dan?"

"—anak kita."

"Ya. Terima kasih, sayang."

"Harusnya aku yang berterima kasih, dan maaf, karena aku, kita harus tinggal di tempat seperti ini."

"Dibahas lagi, deh," Neliel mencubit pipi Grimmjow.

"Hmm..." Grimmjow mengecup perut Neliel, lalu menempelkan telinganya di sana, "Selamat pagi anakku."

Hening. Tak ada jawaban, hanya, Grimmjow dapat merasakan tendangan dari kaki-kaki kecil di dalam sana. Sejak lima bulan lalu, Ulquiorra memberinya rumah di pinggir kota Hueco Mundo, sebut saja Las Noches. Karirnya sebagai peramal pun sudah Grimmjow tinggalkan, dan namanya perlahan mulai dilupakan, bahkan tenggelam. Kasus besar tentang pembunuhan Nnoitra Jiruga juga tidak berkembang besar di media karena Ulquiorra. Ya, teman baiknya sejak SMA itu memang selalu mengerjakan semuanya dengan rapi. Grimmjow sekarang menikmati kehidupannya sebagai orang biasa yang bekerja di sebuah perusahaan kecil di Las Noches. Semuanya kembali seperti dulu, saat Grimmjow belum terkenal.

"Nel."

"Hmm? Rasanya sudah lama kamu nggak manggil nama aku, Grimm."

"Yah, aku hanya iseng saja."

"Iseng atau ada maunya?" Neliel memegang kedua belah pipi suaminya.

"Gitu sih sebenernya," Grimmjow tersenyum menyeringai, mulai mengecup tangan Neliel.

"Hmm? Bahaya nggak ya untuk si kecil?" Neliel tampak cemas.

"Nggak, kok. Aku nggak akan menyakiti anakku," Grimmjow mulai menyibakkan rambut di bahu Neliel.

"Emmhh," desah Neliel saat Grimmjow mulai memberi kiss mark di leher Neliel.

Grimmjow berhenti mengecup leher istrinya, lalu beralih mencium ke bibir mungil Neliel. Tangannya tidak diam, mulai meremas lembut dada Neliel yang masih di tutupi oleh baju tidurnya. Ciuman pasangan itu terhenti kala keduanya membutuhkan pasokan udara.

"Ukurannya lebih besar dari lima bulan lalu, Nel," goda Grimmjow.

"Grimm," Neliel memelototi suaminya.

"Hihihi... Biar kau yang diatas, Nel. Repot juga karena perutmu sudah membesar."

Neliel mengangguk, lalu melepaskan pakaiannya, begitu pula yang dilakukan oleh Grimmjow. Pria berambut biru itu pun mulai merebahkan tubuhnya ke atas tempat tidur. Selanjutnya, Grimmjow membimbing Neliel untuk berjongkok di atasnya—dengan kedua tangan berada di dada bidang Grimmjow—, lalu mulai memasukkan penisnya ke dalam vagina Neliel.

"Ssh... Sakit."

"Baru lima bulan, tapi kenapa sempit sekali jadinya, ya?"

"Grimmhh... Ssshh..." Neliel mendesah hebat kala penis Grimmjow sudah masuk seluruhnya.

"Tenang, ya," Grimmjow mulai membimbing Neliel untuk menaik turunkan pinggulnya.

"Ooh... Nghhh..."

Keduanya bergantian mendesah, merasakan kenikmatan yang selama lima bulan ini mereka tunda. Neliel menaik turunkan pinggulnya berirama, membuat payudaranya bergoyang dan menggoda untuk Grimmjow. Kini, pria berambut biru itu mulai meremas payudara wanita yang sedang bercinta dengannya.

"Nghh... Grimmhhh..."

Desahan Neliel bagai pemacu semangat untuk Grimmjow, ia semakin senang mempermainkan payudara istrinya itu, dan mulai melahapnya. Neliel mendesah semakin kuat dan meremas dada bidang Grimmjow.

"Grimmhhh, aku... sampai..."

"Nel..."

Keduanya klimaks bersamaan, dan dengan cepat, Grimmjow mengubah posisi mereka. Untungnya ia sempat mencabut penisnya, dan memindahkan tubuh Neliel ke sampingnya sebelum akhirnya kehabisan tenaga. Neliel mengatur nafasnya, lalu merebahkan kepalanya ke dada Grimmjow. Grimmjow membelai rambut hijau panjang istrinya itu.

"Terima kasih, sayang..."

"Ya. Terima kasih juga sempat menjaga bayi kita," Neliel tersenyum.

"Aihiteru, sayangku, Nel," Grimmjow mengecup rambut istrinya.

"Aishiteru yo."

***

Karakura Airport, 10.00

"Selamat datang, Tesla-sama," seorang wanita berkuncir dua menyambut seorang pria berambut blonde.

"Ah yaa, Loly. Terima kasih."

"Tesla-sama, ke mana tujuan anda?"

"Oh ya, tentu saja mencari pembunuh kakakku. Grimmjow Jeagerjaques. Si keparat itu."

END